
"Hutan ilusi." Sentak semuanya terkejut, kecuali Zae dan kakek guru.
"Memang ada apa dengan hutan ilusi." Tanya Zae datar.
"Hutan itu adalah hutan terlarang, seseorang yang masuk kedalam sana tidak pernah bisa kembali lagi." Ucapku memberi penjelasan pada Zae.
"Hahaha...memangnya sudah ada kejadian itu." Tanya Zae sambil terus tertawa.
"Sudah." Jawab Shaining datar.
Kami tahu siapa yang hilang di hutan ilusi itu, seseorang yang sangat penting. Dan seseorang yang memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk melindungi inti kristal.
_________
Azaela___
"Sudah." Ucap kak Shaining datar.
Aku melihat raut wajah kak Shaining, dan Alex yang seketika langsung datar tanpa ekspresi di kala aku menanyakan seseorang yang telah hilang di hutan ilusi. Sedangkan kakek nampak cuek dengan keadaan sekarang.
Hal ini membuat ku penasaran, siapa gerangan yang telah hilang di hutan ilusi.
"Siapa dia." Tanyaku lirih.
"Pangeran Han, dari kerajaan es." Ucap kakek mulus, semulus jalan tol.
*Pangeran Han...
Aku baru pertama kali mendengar nama ini, jika kak Shaining, dan Alex tahu. Sudah seha*rusnya aku pun tahu..
Batinku.
"Kenapa aku baru tahu." Ucapku masih bingung dengan ceritanya pangeran Han.
Entah mengapa aku jadi penasaran setengah mati setelah mendengar kabar pangeran Han yang hilang di hutan ilusi, rasanya ada sesuatu yang harus ku lakukan.
"Jika boleh tahu, kapan pangeran Han hilang di hutan ilusi kek." Tanyaku sedikit menekan.
"2 tahun yang lalu..." Ucap kakek guru datar.
"Berapa umurnya kek ?, apakah..." Ucapku yang langsung terpotong oleh kak Shaining.
"Untuk apa kau menanyakan umur hah...
apakah kau ingin menikah dengannya.." Ucap kak Shaining datar.
Yang benar saja, tiba-tiba mood mereka berubah secepat itu. Yang tadinya tersenyum, tertawa, dan wajah kesal yang tengah mengomeli aku kini telah berubah menjadi datar seutuhnya.
Aku mengedikan bahu, lalu pergi begitu saja tanpa melakukan salam hormat sama sekali.
Sekarang tujuan utamaku adalah perpustakaan, aku ingin mencari tahu tentang kerajaan es. Elemen es, elemen yang paling langka di bumi. Ya seperti itulah yang ku tahu tentang elemen es.
"Salam tuan putri."
"Salam tuan putri."
"Salam tuan putri."
__ADS_1
Itulah yang mereka katakan jika aku sedang lewat, dan aku hanya membalasnya dengan senyum manis ku. Walaupun aku tidak suka jika setiap lewat di beri salam hormat, tapi mau bagaimana lagi karena sudah kodrat ku.
Akhirnya sampai...
Perpustakaan yang begitu besar, lalu bagaimana aku menemukannya ?.
Bodoh !
Kenapa aku tidak tanyakan saja pada perpustakawan disini saja yah. Huh, untung saja aku ingat.
"Permisi, apakah aku bisa meminta bantuan mu." Ucapku lirih.
Sedangkan perpustakawan itu menatap ku lekat -lekat yang jelas sudah membuatku risih di buatnya.
"Tentu tuan putri." Ucapnya lalu tersenyum ramah. Nenek yang baik.
"Apakah kau tahu, dimana letak buku tentang kerajaan es, dan tentang hutan ilusi." Tanyaku to the poin.
Nenek itu mengernyitkan alisnya, rasanya dia sedikit heran dengan yang ku cari.
"Tentu saja ada. Sebentar biar saya ambilkan." Ucapnya lalu berdiri dari tempat duduknya.
Aku tak bisa diam sebelum buku itu di temukan, dengan semangat 45 aku mengikuti arah nenek itu berjalan. Hingga tak terasa sudah hampir 10 menit aku mengikuti nenek tua ini.
"Tuan putri, ini bukunya." Ucapnya memberi 2 buku tebal itu.
Aku rasa membutuhkan waktu 1 hari penuh untuk membacanya, aku bisa membacanya sampai 1 hari pun tak masalah. Yang menjadi masalahnya adalah pasti mereka akan curiga denganku.
"Apakah kau pernah membaca buku ini sebelumnya ?." Tanyaku.
"Sudah tuan putri." Ucapnya penuh hormat.
"Bisakah kau menceritakannya padaku."
"Tentu tuan putri."
"Kisah ini bermula pada saat pangeran kerajaan es ikut berburu bersama pamannya." Ucapnya memulai cerita.
Flashback...
Pangeran Han___
Hai semuanya perkenalkan aku Han, si pangeran tampan dari kerajaan es. Sekarang umurku 15 tahun.
Hari ini aku akan ikut bersama pamanku berburu. Walaupun umurku masih terdengar cukup sangat muda untuk melakukan berburu, aku sangat menyukainya karena bagiku itu adalah hal yang sangat menyenangkan.
"Ayah, ibu, aku pamit berangkat berburu ya.." Ucapku senang.
Ayah dan ibu mengangguk memberi isyarat jika aku boleh pergi.
"Cepatlah pulang, dan hati-hati di jalan. Dan kak, tolong jaga Han." Ucap ibuku sedikit resah.
Setiap ibu pasti akan selalu resah jika sang anak akan pergi, dan itu pasti akan selalu terjadi. Aku mendekat ke arah ibu, dan memegang tangannya lalu menciumnya. Aku selalu melakukan ini agar ibuku sedikit merasa lebih baik, dan cara itu pun selalu berhasil ku lakukan.
"Ibu tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja." Ucapku mencoba menenangkan ibu.
Ibuku tersenyum manis padaku, lalu mencium keningku lembut. Dapat ku rasakan kecupan di keningku yang begitu hangat dan lembut.
__ADS_1
"Aku pamit." Ucapku lalu pergi meninggalkan kerajaan es.
Aku membawa busur panah beserta anak panahnya, aku lalu menunggang kuda putihku.
"Sudah siap Han." Tanya paman.
"Sudah." Ucapku senang.
Kami pun memulai perjalanan kami menyusuri hutan, hingga tidak terasa sudah 2 jam aku dan paman di dalam hutan, dan sudah selama ini kami tidak menemukan satu pun binatang buruan.
"Sebaiknya kita pulang saja Han, hari semakin sore." Ucap paman mengajakku pulang.
"Baiklah." Ucapku menuruti perintah paman.
Aku dan paman kembali lagi ke kerajaan es, di tengah-tengah lapangan aku mendengar sesuatu.
Kresek
Kresek
kresek
Aku tahu, ini adalah suara rusa.
Dengan cepat aku pun mengikuti arah suara itu berasal, dan ketemu...
Aku menemukannya.
Dengan kecepatan maksimal aku menggerakkan kuda yang ku tunggangi dengan cepat, hingga tanpa sadar aku sudah ada di tengah-tengah hutan yang begitu gelap.
Hutan apakah ini ?.
Aku tidak memperdulikannya lagi, karena yang ku perdulikan adalah rusa tadi. Hingga tanpa ku ketahu aku telah sampai di hutan yang begitu gelap. Lebih gelap dari hutan tadi.
Dimanakah aku sekarang ?.
Aku bahkan lupa jalan keluarnya..
Seseorang tolong lah aku!.
Flashback end....
"Seperti itulah cerita hilangnya pangeran Han." Ucap nenek itu menutup ceritanya.
Sedangkan aku masih melongo di buatnya, ternyata seperti itu ceritanya. Aku baru tahu.
"Terima kasih nek." Ucapku seraya tersenyum manis ke arahnya.
Dengan lari secepat kilat aku pun kembali ke kamarku.
"Aku harus menolongnya." Ucapku bergumam.
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...