Generation 7 Elemen

Generation 7 Elemen
(1) Azaela


__ADS_3

Ketakutan terbesarku telah datang


aku kira ini memang salahku, namun berulang kali aku mengatakannya itu terasa sangat sia-sia.


yang ku tahu aku hanya akan bertarung, dan terus bertarung hingga tetes darah terakhir ini.


Shaining....


Tunggulah aku kak...


aku berjanji akan menyelamatkan mu darinya, dan aku berjanji akan melindungi bumi dan inti kristal hingga tetes darah terakhir ku...


_Azaela


___________


Azaela___


Hai semuanya perkenalkan namaku adalah Azaela, biasa di panggil Zae oleh semua orang. Hari ini adalah hari dimana Kakakku shaining tengah berlatih bersama Alexander.


Di siang hari yang panas ini, masih saja mereka berdua latihan. Mungkin sudah hampir 3 jam sejak tadi mereka berlatih di lapangan kerajaan, memang betul yah jika laki-laki sedang di tantang oleh sesama laki-laki mereka akan menunjukkan skill mereka masing-masing untuk menunjukkan kehebatan mereka.


Padahal menurutku itu sangat tidak berguna. Ya, mungkin bagi mereka menunjukkan skill mereka akan terlihat keren, tapi menurutku itu sangatlah norak.


"Apakah hanya itu kemampuan bermain mu Shaining!!!!!." Teriak Alex dari kejauhan.


"Hei, aku ini belum selesai. Toh ini baru permulaannya saja!!!!." Teriak Shaining tak kalah kerasnya.


Sudah hampir 3 jam mereka berlatih adu Cosmo, dan kak Shaining mengatakan ini baru permulaannya saja !. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan ini.


Aku hanya mematutkan wajah melihat mereka, hingga waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa sudah hampir 4 jam mereka latihan.


Sudah cukup ! ini membuat ku muak, aku lelah jika harus menunggu mereka di atas pohon apel ini. Ya Walaupun aku tak akan kelaparan karena ada apel merah disini, tapi sama sajalah karena pantat ku ini sudah sangat pegal duduk di dahan pohon apel ini.


"Sudah cukup !!!!!!." Teriakku menghentikan aktivitas mereka, seketika mereka berhenti setelah aku berteriak-teriak seperti pengeras suara.


Huufftt...


Hampir saja aku kehilangan suaraku jika harus berteriak-teriak seperti tadi, belum lagi dengan luasnya lapangan di sebelah istana matahari ini yang melebihi luas lapangan sepak bola.


"Sepertinya ada yang sedang marah..." Ledek Shaining sambil berjalan ke arahku.


Aku masih dengan raut wajah datarku. " Sudah hampir 4 jam kalian latihan, tidak kasihan kah kalian padaku yang sudah lama duduk di dahan pohon apel ini." Ucapku memelas.


Dan yah, mereka berdua hanya tertawa melihat ku seperti itu. Apakah ada yang lucu dari kata-kata ku, seharusnya mereka ini kan kasihan padaku karena aku telah menunggu lama demi mereka. Tapi nyatanya mereka hanya tertawa.

__ADS_1


"Jahat." Ucapku ketus.


Shaining ikut memanjat pohon apel, dan duduk di sebelah ku. "Kau itu memang lucu yah, kenapa kau harus duduk di sini Zae.... sedangkan kau juga bisa duduk di bawah sana." Ucapnya sambil menunjukkan tempat duduk yang berada di sebelah lapang, yang pastinya posisi tempat duduk itu sangatlah panas.


"Panas." Ucapku datar.


"Kau ini sudah berumur 17 tahun Zae, seharusnya kau ikut berlatih bersama kakak, dan Alex." Nasihat kakak seperti ibu-ibu kompleks di bumi.


"Hm." Hanya itulah jawaban yang ku berikan, karena aku masih berada di mode kesal.


"Ini sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita makan saja dulu." Ucap Alex mengajak aku, dan Shaining makan bersam.


Apakah mereka tidak melihat jam, bahkan ini bukan waktunya untuk makan siang, melainkan makan sore. Pasalnya ini sudah pukul 2 sore !.


"Panglima Alex yang terhormat !!!!....


apakah kau tidak tahu jika ini sudah pukul 2 sore !, yang berarti jam makan siang telah terlewat 2 jam yang lalu." Ucapku kesal dan sedikit membentak.


Ku lihat Alex menenggak salivanya dengan wajah bersalah yang ia tunjukkan. Aku tahu, dia merasa sangat bersalah karena telah membuatku menunggu begitu lama. Belum lagi dengan keadaan pantatku yang sudah sangat pegal karena terlalu lama duduk diatas dahan pohon apel ini.


"Aku turun." Ucapku memberi isyarat agar Alex minggir, namun sepertinya ia enggan minggir. Baiklah, karena aku tidak ingin berdebat lagi dengannya aku pun lantas turun dan di tangkap oleh Alex.


Aku pikir mereka berdua akan sangat bau, apalagi saat keringat mereka yang mengalir sebesar biji jagung di dahi, leher, dan pelipis mereka berdua. Nyatanya mereka masih wangi, ya wangi maskulin khas laki-laki.


Hari dimana dalam hidupku...


hari dimana semua pertualangan ini akan di mulai.


walaupun harus nyawa sebagai taruhannya.


Aku tidak peduli !.


karena bagiku, keselamatan seluruh alam semesta lah yang sekarang ku jaga


_Alexander


__________


Alexander___


Aku berjalan menuju tempat makan bersama Zae, dan Shaining. yap kami akan makan siang bersam, maksudku makan sore lebih tepatnya.


Aku masih merasa tidak enak dengan Zae, karena aku sekarang dia harus makan siangnya telat. Ya aku bisa merasakannya, pasti sangat lapar. Tapi untunglah dia menunggu di dahan pohon apel yang tengah rindang berbuah, aku jadi tak terlalu takut jika dia benar-benar kelaparan diatas. Karena pada akhirnya dia akan makan apel untuk mengganjal perutnya.


"Selamat makan." Ucap Zae penuh semangat, persis seperti anak kecil yang tengah di beri eskrim oleh orang tuanya.

__ADS_1


Lucu memang melihat tingkah Zae yang seperti anak kecil, tanpa ku sadari aku terus saja menatap Zae. Entah kenapa dia seperti tengah menghipnotis ku, padahal dia sedang makan.


Dakk....


Aku terkejut bukan main karena kaki ku yang sengaja di tendang oleh Shaining, sialan memang dia.


Dengan terpaksa aku pun melihat ke arahnya.


Aku mendongakkan kepala memberi isyarat. "Ada apa."


Dan ya kalia pasti tahu bagaimana tingkahnya sekarang, sebagai seorang kakak yang posesifnya minta ampun.


Shaining mengangkat jari telunjuknya dan jari tengah hingga membentuk huruf V, lalu mengarahkannya pada mata miliknya lalu berbalik mengarah padaku. Yang artinya. "Aku selalu mengawasi mu." Begitulah bahasa isyaratnya.


Aku hanya menganggukkan kepala sekilas lalu melanjutkan makan ku yang sempat tertunda tadi.


Setelah selesai makan...


"Ikutlah denganku." Ucap Shaining padaku sedikit berbisik. Agaknya dia tidak ingin jika Zae mendengarnya.


Aku hanya menurut saja ketika Shaining mengajakku ke taman belakang.


"Ada apa." Tanyaku berterus terang padanya.


Dia hanya menatapku dengan raut wajah yang tak bisa ku baca, ada apa yah. Apakah gara-gara aku yang tengah menatapnya tadi.


"Apakah kau ini...." Ucapnya menggantung.


Inilah yang tak ku sukai, jika bicara dengan shaining selalu saja dia menggantung Kalimatnya.


"Ada apa." Ucapku datar.


"Apakah kau ini..." Ucapnya yang di gantung lagi.


Sungguh dari dulu hingga sekarang, Shaining selalu saja membuat ku kesal dengan Kalimatnya yang selalu di gntung.


"Apakah kau menyukai Zae." Ucapnya berusaha menebak pikiranku.


_


_


_


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2