
Setelah aku selesai bersiap-siap, aku segera turun ke bawah untuk sarapan bersama semua orang dan tentunya termasuk kakek guru. Pagi ini sarapan begitu sangat tenang tanpa adanya sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut mereka. Baru saja senang karena tidak ada yang bertanya, tiba-tiba saja ayah bertanya padaku setelah kami semua selesai sarapan.
"Zae, bagaimana caranya kau bisa menyelamatkan Han di hutan ilusi?." Tanya ayahku sambil menatap manik mataku tajam.
Aku yang mendapat tatapan tajam dari ayah langsung saja tersedak sisa makanan yang belum selesai ku telan, dengan cepat Alex yang ada di sampingku pun memberikan segelas air kepadaku.
Pelan-pelan aku meminum minuman yang di sodorkan pada Alex tadi, dan seketika tenggorokan ku mulai merasa lebih enak lagi.
"Jadi..." Ucap ayah menggantung. Sengaja ingin mendengarkan apa yang akan ku jelaskan.
"Aku..." Ucapku yang langsung terpotong. Syukurlah ada seorang petinggi kerajaan yang datang menghadap kepada ayah.
"Hormat hamba yang mulia." Ucapnya memberi hormat pada ayah.
"Ada apa Jim." Ucap ayah penuh kewibawaan. Ya begitulah ayah, jika di hadapan keluarganya maka sikapnya akan berbeda 90° di bandingkan sedang berhadapan dengan para petinggi kerajaan.
"Hamba mohon maaf sebelumnya yang mulia, karena hamba telah lancang menganggu acara sarapan yang mulai." Ucapnya.
"Hamba ingin memberikan kabar gembira, bahwa Raja Angel dari kerajaan es mengundang yang mulia dan keluarga untuk menerima jamuan pesta dari kerajaan es, untuk menyambut kembalinya pangeran Han." Ucapnya yang kini kembali membuatku tersedak yang kedua kalinya.
Benar saja saat aku mendengar bahwa raja es mengundang kerajaan matahari untuk pergi ke pesta penyambutan pangeran Han, aku langsung menunjukkan reaksi keterkejutan ku dan itu membuat tanda tanya besar pada semua orang yang ada di meja makan.
"Baiklah kau boleh pergi." Ucap ayahku, dan petinggi kerajaan itu pun lantas segera pergi dari hadapan ayah.
Kali ini aku benar-benar merasa tak aman, apalagi tatapan ayah yang masih tajamnya ia arahkan padaku. Sungguh siapapun tolonglah aku dari tatapan maut ayahku...
_____________
Han____
Malam ini begitu indah bagiku. Entah karena apa tapi diriku merasakan rasa yang tak biasa, diriku merasakan bahwa aku seperti merindukan seseorang. Ya! tepat sekali, aku tengah merindukan dia. Seseorang yang telah menolongku, dan seseorang yang telah berani memberikan tanda di leherku ini. Aku berjanji suatu saat nanti saat aku bertemu lagi dengannya, aku pastikan akan memberinya tanda serupa denganku.
Di tengah lamunanku, aku tidak menyadari bahwa sudah ada ayah dan ibu yang sedari tadi memperhatikan ku menatap bintang, dan bulan. Saat aku tersadar barulah aku menyapa mereka dengan senyuman indah ku.
"Sedang apa kau nak, ini sudah malam sebaiknya kau tidurlah." Ucap ibu penuh kasih, sedangkan aku hanya mengangguk dan tersenyum manis kepadanya.
"Tidurlah Han, karena besok adalah hari yang begitu sibuk bagimu." Ucap ayah serius. Aku yang mendengarkannya langsung mengernyitkan keningku tanda aku tak paham.
"Maksud ayah." Tanyaku penasaran.
"Besok akan ada pesta penyambutan untuk mu Han, dan ayah akan mengundang kerajaan terdekat untuk ikut meramaikannya."
Saat aku mendengar bahwa ayah akan mengundang beberapa kerajaan terdekat, aku begitu senang karena sekian lama tak pernah kembali aku jadi merindukan teman-teman masa kecilku. Contohnya adalah Ling-Ling dari kerajaan kipas besi.
__ADS_1
Tapi ada satu seorang gadis yang ingin ku temui, tapi aku tak tahu siapa sebenarnya gadis itu. Karena yang aku tahu hanyalah namanya saja Zae.
Keesokan paginya...
"Bagaimana ayah, tentang undangannya?." Tanyaku penasaran.
"Sudah ayah kirimkan, dan ayah juga mengirimkan undangan ini kepada kerajaan matahari." Ucap ayah dengan senyuman.
"Kerajaan matahari?." Ucapku mengulang perkataan ayah.
"Iya, kami ini adalah sahabat baik waktu sekolah dulu."
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda aku paham. Aneh saja, sedari dulu ayah tak pernah bercerita tentang kerajaan matahari. Dan ayah baru menceritakannya sekarang.
"Kau akan bertemu seseorang yang kau rindukan nanti..." Ucap ayah menggantung.
"Jika kau beruntung..." Lanjutnya.
Seketika aku pun terkesiap dengan apa yang ayah katakan, bertemu seseorang yang aku rindukan ????, jika aku beruntung...
Memang siapa?.
Apakah...
____________
Author____
"Jadi Zae..." Ucap Surya menggantung. Dirinya masih sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi di hutan ilusi, hingga banyak berita yang menyebar bahwa hutan ilusi telah berubah menjadi taman hutan yang indah.
Sedangkan Zae yang terus di tatap intens oleh Surya, dan Shaining pun hanya bisa mengalihkan pandangannya, yang penting tidak memandang wajah mereka berdua yang penuh tatapan tajam.
Sedangkan Alex, dan kakek guru hanya mencoba menahan tawa mereka. Mereka berdua tahu jika sekarang Zae tengah dalam masalah besar. Pergi, dan pulang tanpa ijin dan pamit.
"Jelaskan semuanya Zae...." Ucap Shaining tak sabar ingin mendengarkan cerita dari Zae. Lagi dan lagi Zae sampai kesusahan ingin menceritakannya.
"Sebenarnya..." Ucap Zae menggantung.
1 menit
5 menit
"Sebenarnya..."
__ADS_1
1 menit
"Sebenarnya..."
"Sebenarnya apa Zae!." Bentak Shaining kesal. Dia sudah tidak sabar ingin mendengarkan cerita dari Zae, tapi Zae terus saja mengundur-undur ceritanya.
"Huufftt... sebenarnya aku memang sengaja ingin mencari Han di hutan ilusi, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin mencarinya. Mungkin karena satu alasan, dan alasannya adalah dia seorang pangeran dari kerajaan es, dan dia memiliki tanggung jawab untuk melindungi inti kristal bukan. Makannya aku mencari dia.
Dan untuk masalah hutan ilusi yang telah berubah, itu juga karena aku. Aku telah menggunakan busur panah dari Indra ke 6 ku, tadinya aku menggunakan itu untuk membunuh monster di hutan ilusi itu. Nampaknya ini berdampak juga pada hutan ilusi." Jelas Zae panjang lebar.
Semuanya pun mengangguk tanda paham dengan cerita Zae.
"Jadi seperti itu... Lalu apakah kau melakukan sesuatu, yang seharusnya tidak kau lakukan dengan Han??." Tanya Shaining.
"Te..Ten... tentu saja tidak kak." Jawab Zae tergagap. Hal inilah yang membuat Shaining masih tidak percaya pada Zae.
"Benarkah...."
"Iya kak..."
"Baiklah kalau begitu, untuk saat ini aku percaya. Tapi jika kau berbohong..." Ucap Shaining menggantung.
"Aku selalu mengawasi mu..." Ucapnya kemudian.
Setelah acara sarapan yang penuh dengan tatapan tajam, Zae memilih untuk kembali pergi ke perpustakaan kerajaan. Dia ingin mencari buku tentang kultivasi , dan buku sejarah tentang generasi dari pemilik 7 elemen berbeda.
Sesampainya Zae di perpustakaan dengan cepat ia mencari kedua buku itu, tak lupa Zae juga mengembalikan kembali 2 buku yang ia pinjam di perpustakaan beberapa hari yang lalu.
"Apalagi yang ingin kau cari Zae...."
_
_
_
Bersambung...
Cuap-cuap author...
Hai readers..
nggak bosen-bosennya author ingetin kalian semua buat nggak lupa untuk kasih like, komen, rate 5, and favorit dari cerita author yaa..
__ADS_1
karena 1 like, 1 komen, 1 rate, dan favorit dari kalian tuh berharga banget buat author...