
Author___
Pagi hari yang begitu cerah, nampak sang mentari masih malu-malu untuk menampakkan dirinya.
Di tengah lapangan latihan kerajaan, seorang gadis cantik dan menawan nampak sangat berwibawa dengan adanya busur dan anak panah di tangannya. Siapa lagi dia jika bukan Azaela.
Pagi-pagi buta dimana semua orang masih terlelap dalam tidurnya, Zae malah melakukan pemanasan untuk berlatih busur panah.
Dia sengaja melakukannya pagi-pagi karena dia ingat jika sang guru akan datang ke istana nanti siang. Guru yang telah mengajari seluruh generasi dari 7 elemen, hingga sampailah pada generasi ke 7 dimana Zae adalah generasi ke 7 dari 7 elemen yang ada.
Ctak
Zae berhasil memanah apel yang ada di atas kepala orang-orangan kayu. Jaraknya pun di katakan tidak dekat, karena jarak antara Zae dan orang-orangan kayu itu berada 500 m.
Ctak
"Lumayan lah untuk pemanasannya." Ucap Zae sedikit sombong.
Kebiasaan Zae memang sedikit sombong, tapi kesombongannya akan hilang jika sang guru ada. Alasannya simpel saja, sang guru tidak pernah mengajarkan semua muridnya untuk sombong, dan jika ada yang sombong maka bersiaplah mendapatkan hukumannya dari sang guru.
"Sudah bangun rupanya." Ucap suara bariton itu.
Karena refleks, Zae yang akan memanah apel yang ada di atas kepala orang-orangan kayu tadi lantas memutar arahnya menghadap seseorang yang tadi bicara.
Dengan cepat anak panah itu langsung bergerak cepat ke arah sosok pria itu.
Klik
Laki-laki itu menjentikkan jarinya, dan dengan cepat seketika waktu berhenti. Rasanya seperti berada di keadaan slow motion, ya semacam itulah rasanya ketika Alex menjentikkan jarinya.
Krak
Alex mematahkan anak panah itu, dan
Klik
Alex menormalkan kembali keadaan sekitar, saat tadinya berasa seperti berada di slow motion kini telah kembali lagi normal.
"Kau itu masih sukar terkejut rupanya." Tanyanya datar.
"Kau lah yang salah, untung saja kau ini pengendali elemen waktu." Ucap Zae yang nampak kesal karena latihannya telah di ganggu.
"Paman menyuruhmu sarapan bersama." Ucapnya.
"Tumben, apakah ayah sedang tidak sibuk." Tanya Zae yang masih heran, pasalnya ayahnya itu jarang meluangkan waktunya untuk bersama anak-anaknya karena tugas kerajaan yang begitu padat.
"Baiklah." Ucap Zae singkat.
_____________
Azaela___
Sekarang aku sudah berada di ruang makan kerajaan bersama Kak Shaining, Alex, Ayah, dan jangan lupakan juga disini ada paman Rocky.
Kalian bertanya-tanya siapa paman Rocky ?.
Paman Rocky adalah sahabat baik ayahku, dia adalah generasi ke 6 dari 7 elemen berbeda. Elemennya sama dengan Alex, yaitu waktu.
__ADS_1
Bukan hanya itu saja, paman Rocky adalah orang yang pandai dalam mengatur sebuah strategi pertempurannya di medan perang, tak salah jika ia di lantik sebagai panglima terbesar di kerajaan matahari, dan jabatan itu pun turun ke anaknya siapa lagi jika bukan Alex.
Oke kita balik ke cerita !.
"Jadi, bagaimana dengan latihan mu Zae..." Tanya ayah setelah acara makan pagi ini selesai.
"Lumaya juga." Ucapku santai.
..."Lalu, bagaimana dengan kalian berdua." Ucapnya yang di tunjukkan kepada Shaining, dan Alex....
"Kami ada peningkatan ayah..paman.." Ucap mereka bersamaan.
"Baguslah kalau begitu. Sebentar lagi guru akan datang, kalian harus menjaga sopan santun kalian. Paham !." Ucapnya tegas.
"Kami paham." Ucap kami bersamaan.
Yaa...
Dan hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi kami nanti, guru selalu datang 1 bulan sekali disini.
Jika misal hari ini kita di beri materi maka dalam 1 bulan itu kita semua harus mati-matian berusaha untuk menguasai materi itu. Jika sudah 1 bulan sejak di berinya materi, maka guru akan datang kesini untuk melihat skill terbaru kami. Ya seperti itulah cara mengajarnya guru.
__________
Sekarang kami sedang berada di lapangan kerajaan, menunggu kedatangan guru tercinta kami datang.
Ku rasa sudah menjadi kebiasaan bagi guru jika datang ke acara pelatihan dengan sangat terlambat. Aku sudah lelah menunggu sejak 2 jam yang lalu, belum lagi harus melakukan pelatihan lebih dari 4 jam.
Di tengah-tengah keheningan di lapangan kerajaan, tiba-tiba saja angin berhembus sangat kencang hingga membuat debu-debu pasir bertebangan. Jika di khayal bisa di samakan denga film Coboy akan bertengkar dengan musuh bebuyutannya di gurun pasir.
Sudah bisa ku tebak, ini pasti ulah guru.
"Salam guru." Ucap kak Shaining dan Alex bersamaan saat guru telah sampai di depan kami. Berbeda denganku yang masih kesal dengannya.
"Zae, beri salam pada guru." Ucap kak Shaining memaksa ku untuk memberi salam pada guru.
"Salam guru." Ucapku datar, dan tidak bersemangat sama sekali.
"Hahaha....Rupanya kau ini marah pada kakek yah." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kakek guru lah yang membuatku marah." Ucapku mulus seperti jalan tol.
"Baiklah-baiklah...kakek guru minta maaf, ini hadiah untukmu." Ucapnya semabari menyodorkan sebatang coklat.
"Waah...coklat silper quin." Ucapku senang.
"Haaah...SILPER QUIN..." Ucap Shaining bingung.
"Iya silper quin, tuh yang kakek pegang." Ucapku semangat sambil menunjukkan coklat batangan yang masih di pegang oleh kakek.
"Itu Silverqueen Zae." Ucap Shaining kesal. Dan aku hanya nyengir kuda melihatnya.
Lihat saja, dia sangat lucu jika wajahnya sedang mematut seperti itu.
Aku pun berusaha mengambil coklat batangan yang ada di tangan kakek, namun aku tak kunjung mendapatkannya. Aku memiliki firasat buruk saat ini...
pasti...
__ADS_1
"Kakek akan memberikannya padamu, jika..." Ucapnya menggantung.
"Kau bisa mengalahkan kakek dalam pelatihan hari ini." Lanjutnya dengan seringaian yang menakutkan.
Sudah ku duga bukan, pasti akan terjadi sesuatu yang buruk padaku hari ini.
Oh ayolah, demi gunung Mimi peri pun aku rela meruntuhkannya asalkan aku berhasil mendapatkan coklat batangan itu.
"Baiklah." Ucapku yakin.
"Jadi, kita akan mulai pelatihannya sekarang. One by One." Ucapnya.
"Ronde pertama oleh Zae, dan kakek." Ucap kakek sambil menyimpan kembali coklat itu di balik jubahnya.
Menyebalkan memang.
"PERTANDINGAN DI MULAI !!!!." Teriak salah satu kepala perajurit istana yang tengah menjadi wasitnya.
Huufftt...
Aku mengatur nafasku dengan sangat pelan dan teratur, aku melakukannya agar aku bisa bertanding dengan benar dan seimbang.
"Kau siap." Ucapnya dari jarak 10 meter di depan ku.
"Aku siap." Ucapku datar.
"Kau masih ingat dengan materi 1 bulan yang lalu Zae." Tanya kakek.
"Tentu saja." ucapku santai.
"Benarkah." ucap kakek guru, sepertinya dia masih tidak percaya dengan yang ku katakan.
"Disaat rasa ke egoisan datang...
tak tahu dia adalah musuh atau lawan.
disaat pancaran aura mu telah membara..
pusatkan lah perhatian mu pada Indra ke 7..
bukalah mata batin ke 7 mu...
maka terbanglah kau ke atas angkasa dan ambillah jubah emasmu di rasi bintang."
Jelasku panjang lebar mengingat kata-kata kakek guru.
Dan nice, kakek tersenyum senang ke arahku. Rupanya yang ku katakan benar. Kak Shaining, dan Alex pun bertepuk tangan untukku.
Tak ingin membuang waktu lama lagi, aku pun mulai mengeluarkan aura Cosmo ku, dan aku pun kembali memfokuskannya pada elemen itu agar aku dapat menggunakannya.
"Hiyaaaaaa....."
_
_
_
__ADS_1
Bersambung...