
Azaela___
Aku menilik seluruh isi hutan namun nihil, aku tidak pun menemukan pangeran Han. Bahkan aku sudah kembali ke tempat tadi, namun aku pun tak menemukan dia karena yang ada disana hanyalah bebatuan yang terkena obat karena ulahku tadi.
Aku sudah benar-benar lelah karena hampir seluruh hutan aku mencarinya, karena aku sudah lelah maka hal nekat sekali pun akan ku lakukan supaya manusia yang tengah ku cari itu muncul.
"Pangeran Han...." Teriakku keras. Namun nihil aku tidak pun menemukan keberadaannya.
"Pangeran Ha... " Ucapku langsung terpotong ketika ada tangan seseorang yang membekap mulutku.
Hmmm...hmmm...
Teriakku meronta-ronta saat bekapan mulut itu tidak kunjung lepas, entah siapa yang membawaku dengan cepat ia membawaku ke atas pohon.
"Jangan berisik." Ucap suara bas khas pria.
Aku pun menganggukan kepalaku, dan dia langsung membuka bekapan tangannya dari mulutku.
"Jangan bersuara." Ucapnya lalu telunjuknya mengarah kebawah, dan di bawah sana dapat ku lihat ada monster mengerikan yang begitu menakutkan.
Aku mati-matian menahan nafasku agar tidak terdengar oleh monster itu, karena yang ku tahu tentang monster itu 1 tarikan nafas pun dapat ia dengar.
Aku merasa tengah berada di ruang angkasa lepas, kini wajahku terlihat sangat pucat pasi. Jika di lihat memang mirip dengan orang yang ke takutan, tapi yang sesungguhnya aku tengah kehabisan nafas.
Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan ini, dan ku lihat monster itupun masih berada tepat di bawah sana. Ku mohon cepatlah pergi dari situ!.
Srek
Cup
Mataku melebar saat orang aneh ini memberi nafas buatan padaku, aku ingin sekali melepaskannya namun aku juga butuh oksigen untuk bernafas sekarang.
Setelah dirasa aku bisa bernafas lagi, aku langsung menarik diriku dari pria misterius ini.
Huufftt...
Akhirnya monster itu pergi juga, aku bernafas lega dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Sungguh beban kehidupan ku serasa ikut pergi dengan hembusan nafas ini.
"Kau mencari ku..." Ucap suara bas itu lirih di telinga ku. Hingga aku dapat merasakan hembusan nafas miliknya.
"Tentu." Jawabku datar.
Sejujurnya aku ini malu jika harus melihat langsung wajah pria ini, apalagi jika disaat pertemuan pertama kami. Aku memanahnya tanpa ampun, dan tadi disaat dia memberiku nafas buatan.
"Alasannya..." Ucapnya lirih di telingaku.
"Alasannya..."
__________
Author___
Di kerajaan matahari terdapat Shaining yang terus berdoa, dan menunggu kedatangan Zae yang tak kunjung kembali.
Shaining sangat mencemaskan adiknya itu, namun apalah daya disaat dia ingin membantunya sang kakek malah melarang semua orang istana untuk menyusulnya di hutan ilusi.Dan tentu saja usulan itu terima oleh Surya.
Sedangkan Alex yang melihat sahabatnya itu gelisah hanya bisa menemaninya saja tanpa berani berucap.
Back ke Zae___
Zae bersama Han masih asik termenung di atas dahan pohon yang mereka tempati bersama. Mereka masih merenungi kejadian demi kejadian yang mereka alami, dari yang tanpa sengaja Zae memanah lengan kiri Han, dan kebodohannya dalam tidak menyadari jika yang ia tolong adalah Han sendiri.
Sedangkan Han pun sama, dirinya masih terasa canggung kepada Zae karena masalah tadi yang tanpa sengaja mencium bibir Zae untuk memberinya nafas buatan.
Sekarang Han sedang bingung. Pasalnya sudah hampir 2 tahun ia menghilang di hutan ilusi, namun belum ada 1 pun orang yang mencarinya. Sedangkan gadis yang baru ia kenal malah dengan sengaja memasuki hutan ilusi ini untuk mencarinya.
Sebenarnya siapa gadis ini sebenarnya ?.
Dan apa alasannya ?.
Kini Han memilih berbicara, dari pada diam yang tidak akan pernah mendapat jawabannya dari semua pertanyaan.
__ADS_1
"Kau mencari ku..." Tanya Han lirih di tepat di telinga kanan Zae.
"Tentu." Jawabnya datar.
"Alasannya..." Ucapnya lirih.
"Alasannya..." Ucap Zae yang sengaja menggantung kalimatnya.
Han masih bersabar menunggu jawaban yang keluar dari mulut Zae.
"Kau adalah pangeran es. Kau adalah putra mahkota dari kerajaan es, yang berarti tanggung jawab untuk melindungi inti kristal ada di tanganmu selanjutnya." Ucap Zae menjelaskan alasannya.
Sedangkan Han hanya tertegun mendengar alasan Zae. Bagaimana dia bisa tahu siapa dirinya, dan siapa Zae sebenarnya.
"Siapa kau sebenarnya." Tanya Han tegas. Kali ini dirinya bertanya sungguh-sungguh.
"Zae." Ucapnya singkat.
Tapi entah mengapa Han masih tidak percaya jika dia orang biasa, karena gerakan memanah Zae begitu mirip dengan yang Guru Baladewa ajarkan pada klan- nya.
"Apakah kau murid dari guru Baladewa ?." Tanya Han pelan.
Sedangkan Zae nampak terkesiap karena ucapannya Han. Memang benar jika ia adalah murid dari kakek guru, tapi Zae mencoba menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik elemen cahaya, dan sebagai murid dari kakek guru.
"Bukan." Ucap Zae datar.
Lagi dan lagi, Han tidak percaya dengan yang Zae katakan. Pasalnya kilatan kecepatan memanah milik Zae mirip persis seperti yang di ajarkan oleh guru baladewa 2 tahun yang lalu.
"Benarkah." Tanya Han memastikan.
"Hmm." Hanya deham saja yang Zae berikan.
"Apakah kau keturunan bangsawan, atau kau salah satu dari ke 7 klan elemen berbeda." Tanya Han beruntun pada Zae.
Zae sudah sangat di buat muak oleh Han hingga dirinya lebih baik melihat keadaan sekitar dan turun dari atas dahan pohon. Dan Han pun masih bertanya ini itu pada Zae, hingga saat Zae memberikan tatapan mautnya barulah Han diam.
Ini lebih baik. Batin Zae tenang saat pangeran Han sudah tidak bersuara lagi.
Dengan cepat Han langsung menerima uluran tangan itu, dan mereka pun memilih berjalan kembali mencari jalan keluarnya.
1 jam kemudian...
Mereka mulai nampak kelelahan karena perjalanan panjang ini yang tiada hentinya. Sedangkan mereka berdua masih saja belum bisa menemukan yang mana jalan keluarnya.
"Kau lapar." Tanya Zae pada Han, dan langsung di balas dengan anggukan semangat olehnya.
Untung saja bawa roti 3 tadi, jadi sekarang masih ada 2. Batin Zae senang.
Dengan cepat Zae memberikan 1 bungkus roti, dan 1 botol air mineral kepada Han. Pria itu memakannya dengan sangat rakus, dan Zae pun memaklumi itu karena bagaimanapun juga Han berubah karena keadaan.
"Mau tambah lagi." Tawar Zae pada Han, dan Han pun mengangguk semangat lalu kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Zae hanya makan 1 buah apel saja, baginya ini pun sudah lebih dari cukup untuk menggantikan perutnya.
"Kita lanjut." Ajak Zae saat makanan milik Han telah habis.
"Lanjut." Ucapnya kini lebih semangat.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya bersama, hingga tanpa mereka sadari suatu bahaya tengah mengincar nyawa mereka.
____________
Di sisi lain...
Kerajaan es
Sudah hampir 2 tahun ini Han masih belum di temukan. Hati sang ratu begitu hancur ketika pertama kali ia mendengar kabar bahwa putra tersayangnya telah menghilang.
Banyak para orang yang mengatakan jika pangeran Han bisa saja tersesat ke hutan ilusi, bahkan bisa saja pangeran Han dimakan oleh binatang buas di dalam hutan. Itulah yang dikatakan oleh banyak orang.
Sedangkan di kamar pangeran Han, Ratu masih saja menangis sambil memeluk baju milik Han. Raja sendiri yang melihat itupun tak kalah sedihnya, namun rasa sedih itu tak pernah ia tunjukkan kepada istri dan ratu tersayangnya. Karena jika ia ikut menangis, lalu siapa yang akan menjadi tempat bersandar mereka.
"Tenang lah Ratuku, Han pasti akan kembali." Ucap Raja mencoba menenangkan hati sang Ratu.
__ADS_1
"Tenang bagaimana ! Han masuk kedalam hutan ilusi, dan besar kemungkinan dia tidak akan pernah kembali lagi yang mulia." Ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Percayalah padaku Ratu, Han pasti akan kembali. Jika aku percaya, maka kau pun harus percaya." Ucap Raja tegas. Setelah mengatakan itu sang Raja langsung melenggang pergi meninggalkan Ratu sendirian yang masih menangis tersedu-sedu.
Kembali ke hutan ilusi.
Zae dan Han sudah benar-benar lelah, sudah hampir berjam-jam mereka hanya berkeliling-keliling hutan ilusi, namun tak ada pun jalan keluarnya.
Kresek
kresek
Apalagi itu. Batin Zae kesal.
"Sepertinya dia sudah tahu, jika disini ada manusia." Ucap Han datar.
Zae yang mendengar itu pun mulai was-was dengan keadaan sekitar. Dia mulai menyiapkan busur, dan anak panahnya dan memulai aba-aba untuk menyerang jika monster itu mendekat.
Kresek
Ctak
Tak main-main Zae langsung saja membidik monster itu, saat 1 monster berhasil Zae lumpuhkan segerombolan monster lainnya pun datang. Rasanya monster itu seperti memiliki kekuatan batin yang begitu kuat antara monster satu dengan yang lainnya.
Aarrrgghh...
Para monster itu mulai meraung-raung tidak jelas, sedangkan Zae dan Han sudah sangat was-was. Kini Zae sudah tidak bisa lagi menahan aura Cosmo nya untuk tidak keluar. Dengan ketenangan batin, dan ketenangan jiwa yang murni Zae mulai mengeluarkan Cosmonya.
Lama-kelamaan Cosmo yang di keluarkan oleh Zae pun membesar, sedangkan Han yang melihat itupun sampai kesusahan ingin menelan saliva-nya.
Apakah Zae dari klan cahaya, pewaris terakhir dari elemen cahaya yang legendaris. Batin Han tak percaya.
Fokus Zae, ayo kau pasti bisa menggunakan baju zirah perak mu. Batin Zae yang masih fokus.
Haaaaaaa....
Teriak Zae keras saat dirinya menggunakan Cosmo yang begitu besar dan kuat.
Sedangkan di kerajaan matahari.
"Zae..." Sentak Shaining saat tahu jika yang ia rasakan adalah aura Cosmo milik Zae yang begitu besar.
Dengan cepat Shaining keluar dari dalam kamarnya namun sudah lebih dulu di hadang oleh kakek guru.
"Jangan mengganggu konsentrasi Zae." Ucap kakek guru datar.
Lagi dan lagi Shaining harus mengalah pada kakek gurunya.
Sedangkan di kerajaan es.
"Seiya." Ucap raja es terkejut.
"Apakah ini benar-benar Seiya, apakah kau telah kembali." Ucap raja es meyakinkan dirinya.
"Apakah kau telah kembali kawan, aku sangat merindukanmu." Ucapnya kembali sambil meneteskan air matanya."
_
_
_
Bersambung...
_________
Cuap-cuap author...
Hai readers..
jangan lupa like, komen, vote, sama kasih rate 5 ya buat cerita ku. Supaya aku lebih semangat lagi nulisnya.
__ADS_1
😘😘🤗