Generation 7 Elemen

Generation 7 Elemen
(3) Pelatihan 2


__ADS_3

"Hiyaaaaaa...." Teriakku saat aku mulai berlari hendak menghampiri kakek.


Wushh...


Tanpa ku sadari kakek sudah menghindar dari serangan ku.


Ah sial !.


Rupanya aku masih kalah dalam hal kecepatan. Baiklah sekarang aku harus lebih cepat dari kakek guru ku ini.


Cling


Aku mengambil pedang yang ada di pinggir lapangan,dan dengan lihainya aku mengayunkan pedang itu untuk menyerang kakek guruku. Namun itu tidak mudah, pasalnya aku masih kalah dalam bermain pedang.


Aku kehabisan keseimbangan tubuhku, aku mulai goyah di buatnya. Aku hanya berfikir saja, kakek itu sudah sangat tua tapi dengan lihainya di mengimbangi pertandingan ini bersamaku. Sungguh jiwa mudaku terasa di jatuhkan karena tak pandai melawan kekuatan sang kakek.


Jleb


__________


Shaining___


Jleb


Tiba-tiba saja tenggorokan ku terasa tercekat di buatnya. Hampir saja Zae tertusuk pedang oleh kakek guru jika dia tidak segera menghindar, dan untung saja pedang itu tertusuk ke arah papan yang berada tepat di belakang oleh Zae.


Aku menghembuskan nafasku panjang. Dan sekarang aku melihat dengan jelas bagaimana aura Cosmo dari Zae yang mulai melemah. Kebiasaan anak itu, jika sedang bertanding selalu saja dia mementingkan kekuatan raganya di banding batinnya. Padahal kekuatan batin itu lebih penting untuk membantu pertandingan ini.


Aku ingin berteriak memanggil Zae, dan mengingatkannya untuk memperkuat aura Cosmo- nya. Namun gerakan ku di hentikan oleh Alex yang langsung menahan ku dengan tangannya.


"Kenapa ?." Tanyaku datar.


"Jangan ganggu, kakek guru ingin melihat sejauh mana Zae bisa bertanding tanpa campur tangan orang lain." Ucapnya memberiku peringatan.


Aku hanya patuh dengan perkataan Alex, mungkin ada benarnya juga.


Aku pun kembali duduk dan menikmati pertandingan ini. Sudah ku lihat berkali-kali Zae selalu jatuh, namun dengan sigapnya dia pun berdiri.


Zae memang tak ingin kalah rupanya, dia selalu saja berani membalas setiap pukulan yang di berikan oleh kakek guru.


Brukk


Zae tersungkur di atas tanah, dia nampak kelelahan dan nampak putus asa. Tapi entah dari mana dia bisa...


Ya dia bisa...


Dia bisa mengeluarkan aura Cosmo cahaya yang begitu terang sekali. Ku lihat Zae juga mulai bangun dari tanah, ku lihat wajah Zae dengan intens dari sini. Dan benar saja, Zae tengah memfokuskan Cosmo elemennya ke inti terdalam, dan inti itulah yang akan membuka Indra ke 7 dari dirinya.

__ADS_1


Cosmonya semakin besar, dan rasanya mataku bisa saja buta jika aku terlalu lama melihatnya. Ku tutup mataku, namun ku pertajam pendengaran ku.


"Aaaaaaaaaaa....." Ucap Zae berteriak seirama dengan Cosmonya yang mulai bertambah semakin banyak.


Ku rasa dia sudah mulai merasakan di dunia fantasinya.


Ku buka mataku yang sudah merasakan jika aura Cosmo Zae sudah tidak sekuat tadi.


Betapa terkejutnya aku setelah melihatnya. Apa ini, apakah ini busur panah milik Zae berwarna emas putih yang sangat mengkilap.


Dengan Cosmo nya Zae melayang ke udara, dan di gunakanlah busur panah itu. Setelah Zae menarik tali busur itu, dengan ajaibnya busur itu langsung mengeluarkan anak panahnya sendiri yang langsung muncul di saat Zae menarik tali busur itu.


Aku tercekat melihatnya, aku merasa terharu saat tahu jika Zae berhasil membuka Indra ke 7 nya.


Namun aku lebih tercekat saat busur milik Zae memfokuskan sasarannya pada kakek guru, sedangkan kakek guru hanya tersenyum tipis, sangat...tipis.


Dan...


Ctak


___________


Azaela___


Jleb


Belum sempat aku menyeimbangkan kesadaran ku sepenuhnya, kakek guru sudah lebih dulu memberiku pukulan mentah di perut. Bisa kalain rasakan seperti apa sakitnya, apalagi yang kena pukulan itu adalah seorang perempuan.


Belum sempat aku menyeimbangkan tubuhku. tiba-tiba saja kakek guru kembali memukulku, sekarang bagian punggung ku lah yang harus merasakannya. Sungguh sakit, rasanya semua tulang ku kini berasa remuk semua di buatnya.


Hingga aku tersungkur di tanah, merasakan betapa sakitnya bogeman mentah itu. Sedetik kemudian terlintas sebuah ingatan di kepalaku yang tengah berputar-putar.


Iya !


Tentu saja, ini adalah pelajaran yang telah di ajarkan oleh kakek guru 1 bulan yang lalu.


"Disaat rasa ke egoisan datang...


tak tahu dia adalah musuh atau lawan.


disaat pancaran aura mu telah membara..


pusatkan lah perhatian mu pada Indra ke 7..


bukalah mata batin ke 7 mu...


maka terbanglah kau ke atas angkasa dan ambillah jubah emasmu di rasi bintang."

__ADS_1


Baiklah aku akan menjadi egois untuk sekarang, itu pun demi sebatang coklat yang kakek guru bawa dari bumi tadi.


"Disaat rasa keegoisan datang...


tak tahu dia musuh atau lawan."


Ucapku membatin, dan menghayati setiap kata-katanya.


"Disaat pancaran aura mu telah membara..


pusatkan lah perhatian mu pada Indra ke 7.."


Dan tepat pada saat aku menghayati bagain ini, aku merasakan aura cosmo ku yang mulai membara. Aku dapat merasakannya, Cosmo ini begitu kuat bahkan aku pun belum pernah mengeluarkannya sebesar ini selama hidupku.


"Bukalah mata batin ke 7 mu...


maka terbanglah kau ke atas angkasa dan ambillah jubah emasmu di rasi bintang."


Dan tepat pada saat aku mengatakannya tiba-tiba saja dengan sendirinya tubuhku mengeluarkan Cosmo yang begitu besar, bahkan aku bisa merasakannya. Sungguh ini sangat membuatku hampir kewalahan.


Demi sebatang coklat dan demi jubah emas dari rasi bintang, aku harus bisa melakukannya. Dengan segala kekuatan yang ku punya, aku berusaha memfokuskan semuanya menjadi 1 dan terfokus pada Indra ke tujuhku.


Tiba-tiba saja aku merasakan sakit kepala yang begitu berat, aku merasakan badanku yang terasa hampir terbakar, dan aku pun merasakan badanku yang begitu ringan. Ya rasanya aku seperti tengah melayang.


"Aaaaaaaa...." Teriakku saat merasakan kekuatan Cosmo ku yang begitu besar.


Aku merasa tidak bisa mengendalikannya. Rasanya begitu sulit, namun aku tidak boleh menyerah. Aku harus lebih kuat dari sebelumnya.


Dengan penuh keyakinan, dan ke optimisan ku aku berhasil mengendalikan elemen ku ini.


Aku bisa merasakan ketenangan batin dan supranatural yang begitu damai, dan tenang. Ku pejamkan mataku untuk menikmati ketenangan jiwa ini.


Setelah ku membuka mata, betapa terkejutnya diriku berada di luar angkasa. Benarkah ini yang namanya jagad raya.


Dari sini aku dapat melihat bermacam-macam rasi bintang dari berbagai konstelasi. Dan tujuan ku berada pada rasi bintang yang berada di depanku. Aku tidak tahu apa nama rasi bintangnya, maklum saja soalnya jika aku sedang di terangkan tentang materi aku lebih memilih menikmati berfantasi di duniaku sendiri.


Dan seketika itu, rasi bintang yang ada di depanku ini mengeluarkan senjata yang begitu indah. Yap, busur panah dengan warna emas putih yang begitu silau dan mengkilap. Sungguh aku sangat menyukainya.


Tanpa ragu aku pun mengambil busur panah itu, dan seketika pula aku kembali kedalam lapangan pertandingan. Aku pun masih memegang busur panah yang ku ambil tadi.


Dan tanpa ampun aku mulai menggunakan busur panah ini, ku arahkan kepada kakek guru.


Dan...


Ctak


____________

__ADS_1


__ADS_2