
Namja bertubuh tinggi itu terdiam. Menimbang sesuatu. "Baiklah" Kata nya. Sedangkan Hanan menahan senyumannya. "Dan aku tau. Tentu itu bukan semata karna kamu tidak ingin di ganggu bukan?" Lanjut namja itu menghampiri Hanan.
"Kau pintar" Kata Hanan. "Untuk saat ini. Hanya sampai tidak perlu di ganggu."
"Hanya tidak mengganggu." ulang Vernon. "Baiklah. Tapi aku akan tetap bersama mu. Memastikan semua aman" lanjut Vernon. "Lalu?"
"Lalu tunggu saja" kata Hanan dengan santai.
Vernon menatap Hanan dengan serius. "Apa? Membunuh seseorang?" Tanya nya dengan serius.
Hanan menatap Vernon dengan serius juga. Dan memangkas jarak di antara mereka. Mendekatkan wajah nya pada kuping Vernon dan berbisik. "Lakukan itu pada mu" Kata nya dan meninggalkan namja yang terdiam itu sendirian.
Vernon masih terdiam di tempat, lalu menyunggingkan satu sudut bibir nya mengingat tatapan tajam milik Hanan tadi yang sungguh menakutkan. Seolah benar dia akan memintanya membunuh.
...
Lomon menatap yeoja di hadapan nya itu yang sedang menulis. Lalu memegang kembali dada sebelah kiri nya. Memastikan apa yang terjadi. "Hanan-ah" Panggil Lomon. Hanan memalingkan wajah nya pada Lomon yang memanggil nya.
"Wae?" Tanya nya dengan wajah polos.
Deg-
Nafas Lomon tiba-tiba terhenti begitu saja ketika Hanan menatap nya dengan wajah polos dan kerdipan mata lucu. Apalagi tepat saat itu sinar matahari menyinari bagian belakang Hanan.
"Yak! Lomon-ah. Gwancahana?" Tanya Hanan menggoyangkan tangan Lomon ketika melihat wajah Lomon memerah padam.
Bukan bernafas. Justru paru-paru nya semakin tidak bisa di ajak kompromi. Dirinya seperti lupa cara bagaimana bernafas. Lalu segera dia berlari ke luar kelas dengan wajah merah padam menahan nafas.
"Waeyo?" Tanya Mark melihat Lomon berlalu begitu saja. Hanan mengangkat bahu nya bingung.
Hahh.. Lomon segera memaksa paru-paru nya bernafas. Dan berhasil. Akhirnya baik otak dan paru-paru nya kembali berfungsi dengan baik. Lomon mengambil nafas dalam-dalam sambil mengatur nafas nya sambil berlutut. "Shibbal" Gumam nya pada dirinya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya sebuah suara. Mendengar sebuah suara Lomon segera berdiri. Melihat Hanan sudah berdiri di sebelah nya. "Gwanchana? Kamu sakit?" Tanya Hanan dan mengecek suhu tubuh Lomon dengan menaruh tangannya di kening Lomon.
Lagi. Nyaris saja namja bernama Park Solomon itu tidak bisa bernafas. Namun kali ini dia segera mengatasi itu dengan cepat. Namum, detak jantung nya tidak bisa di atasi nya dengan baik. Otak nya juga. Dia hanya berdiam diri mematung.
Hanan mengecek suhu tubuh nya dengan tangan satu nya lagi. Lalu menatap Lomon tepat kemanik mata nya. Melihat itu, refleks Lomon melepaskan tangan Hanan dari kening nya.
"Oh, mian" Kata Hanan merasa tidak enak atas tindakan lancang nya. "Aku hanya mencoba mengukur suhu tubuh ku. Karna biasa nya eomma melakukan itu padaku" Kata Hanan.
"Aku baik-baik saja" Kata Lomon dengan dingin.
"Benarkah?" Tanya ulang Hanan. "Kau berkeringat sangat banyak" Kata Hanan melihat keringat di kening Lomon. "Sebaiknya kamu beristirahat di klinik" Saran Hanan.
Lomon menghapus keringat di kening nya. Dan merutuki diri nya.
"Maaf jika tadi membuat mu tidak nyaman" Kata Hanan merasa tidak enak. "Sebaik nya kamu ke klinik dan istirahat. Aku akan memanggil Mark untuk menemani" Kata Hanan masih dengan perasaan tidak enak karna tindakan nya tadi yang membuat Lomon tidak nyaman.
"Ah. Mianhe Hanan-ah" Kata Lomon sadar jika tindakannya tadi menyinggung yeoja itu. "Aku tidak bermaksud seperti itu"
"Gwanchana" Jawab Hanan dengan senyumannya. "Aku akan panggil kan Mark" Kata Hanan akan masuk kembali ke kelas.
"Tidak usah" Jawab Lomon cepat. "Jika tidak keberatan. Mau temani aku?" Tanya Lomon dengan ragu. Bagaimana tidak. Barusan saja dia melakukan hal bodoh yang membuat rasa tidak nyaman, tapi detik selanjutnya meminta menemani.
Hanan menatap namja di hadapannya itu. Lalu menyunggingkan senyuman nya. "Tentu saja" Jawab nya. Dan mereka pun berjalan menelusuri koridor bersama. "Kamu yakin baik-baik saja?"
"Sepertinnya aku baik-baik saja" Jawab Lomon.
"Mari beristirahat sebentar. Kita lihat apa baik-baik saja atau tidak setelah beristirahat" Kata Hanan ketika mereka sampai di ruang klinik sekolah. Hanan membuka selimut di atas kasur dan membiarkan Lomon tertidur dan membantu menutupi tubuh namja itu dengan selimut. "Istirahat lah. Aku akan kembali ke kelas dan memanggil Sofia. Takut jika kamu membutuhkan sesuatu"
"Kamu tidak ingin menemani?"
"Hah?" Kata Hanan. "Bukan tidak mau. Hanya saja aku takut kamu merasa tidak nyaman dan terganggu." Jelas Hanan. "Dan seperti nya kamu tidak terlalu nyaman dengan ku. Mungkin dengan Sofia atau Mark bisa lebih nyaman"
Lomon menatap yeoja di hadapanya itu yang terlihat gelisah. "Aku yang tidak nyaman atau kamu yang merasa tidak nyaman?" Tanya Lomon. Entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja.
"Aku? Tidak. Aku tidak masalah. Aku dengan senang hati akan membantu. Apalagi jika itu adalah temanku" Jelas Hanan cepat sebelum terjadi kesalahpahaman.
"Teman" Gumam Lomon mengulang ucapan Hanan tadi dengan senyuman skeptis. "Aku-" kata-kata Lomon terhenti ketika mendnegar suara pintu terbuka dan sebuah suara nyaring.
"Yak! Park Solomon. Kamu kenapa?" Tanya Sofia segera menghampiri Lomon dan mengecek keadaan namja itu. "Bagaimana mungkin kamu bisa sakit? Bahkan biasa nya kamu lebih kuat dari babi" Kata Sofia.
"Kamu fikir aku super hero" Kata Lomon. "Aku baik-baik saja"
Bukk-
Suara pintu di buka lagi dengan keras. Terlihat seorang namja bertubuh tinggi berdiri disana. Lalu berjalan ke arah Hanan dengan cepat. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya nya. "Bagaimana bisa kami sakit? Tadi masih tidak apa-apa" Cerocos Vernon pada Hanan dan mengecek tubuh yeoja dihadapannya yang lebih kecil dari nya. "Yak! Kamu minggir. Kenapa kamu yang tertidur disana bukan Hanan" Kata Vernon pada Lomon.
"Yak! Vernon-ah. Kau sudah gila?" Omel Sofia menarik selimut Lomon yang di tarik Vernon.
Tuk-
Sebuah sentilan melandas dikening namja tampan itu. "Kau pabbo, heo?" Omel Hanan.
"Wae?" Kata nya sambil mengusap kening nya yang sakit. "Kata mereka kamu sakit" Kata Vernon menunjuk Yeri dan Mark yang baru tiba.
"Yak!! Chew Vernon" Omel Yeri. "Aku baru berbicara sebentar kamu sudah pergi. Aku hanya bilang jika Hanan di klinik sekolah dan kamu sudah pergi"
Vernon melihat ke arah Hanan yang menatap nya dengan tajam.
"Cih.. Dasar pabbo" Omel Sofia menggeser Vernon. "Kamu memang tidak pernah mendengar. Selalu mengambil kesimpulan sendiri" Lanjut Sofia. Sedangkan namja itu hanya terdiam.
"Kajja" Ajak Hanan menarik Vernon. Vernon pun mau tidak mau mengikuti Hanan. Sepanjang jalan mereka hanya saling terdiam. Vernon pun memilih diam ketika melihat yeoja di sebelah nya dalam mode tidak ingin di ganggu.
Vernon memberikan sebuah minuman. Setelah keluar dari klinik dan mereka menuju bangku taman. Dan sejak tadi Hanan hanya terdiam. "Waeyo?" Kata Vernon membuka minuman untuk Hanan dan duduk disebelah Hanan. Yeoja itu masih terdiam. "Baiklah jika tidak mau cerita" Vernon meminum minuman nya.
Hanan menatap namja di sebelah nya itu. "Kamu menyukai ku?"
"Pufffttt-" Vernon mengeluarkan seluruh isi mulut nya mendengar pertanyaan Hanan barusan.
"Yak! Kau jorok" Omel Hanan sambil mengelap tangannya yang terkena percikan air dari mulut Vernon.
"Kau gila? Menanyakan hal bodoh itu?" Omel nya mengelap bibir nya. "Atau kamu ingin membunuh ku?"
"Seperti nya lebih baik begitu" Kata Hanan datar.
Drett-drett-
Hanan meraih ponsel nya. "Nde" Jawab Hanan. "Baiklah." Kata Hanan segera bangun dari tempat nya.
"Oy.. Odiga?" Tanya Vernon. Hanan hanya melambaikan tangannya dan bergegas pergi. Vernon menggelengkan kepalamya. "Dasar yeoja aneh"
.
__ADS_1
.
.
"Good morning" Sapa Hanan pada wanita yang nampak cantik dengan gaun selutut nya sedang menyiapkan sarapan dan mencium nya.
"Good morning sayang" Sapa Eomma Choi. "Mau roti atau cereal?"
"Roti saja. Aku sedang tidak enak perut" Jawab Hanan duduk di bangku meja makan.
"Wae? Kamu sakit?" Kata Eomma segera mengecek keadaan anak bungsu nya. "Apa kita kerumah sakit saja?"
"Gwanchana Eomma" Kata Hanan menenangkan yeoja yang masih cantik di usia nya yang hampir setengah abad itu. "Aku akan baik-baik saja nanti"
"Jeongmal?"
"Hemm" Jawab Hanan dengan senyuman.
"Baiklah. Jika sampai siang tidak membaik. Kita segera ke Rumah Sakit"
"Nde" Jawab Hanan. Hanan mengitari pandangannya ke sekitar rumah. "Aku fikir ada Siwon Oppa"
"Siwon?" Kata Eomma sambil merapihkan barang-barang nya. "Dia sudah berangkat pagi tadi. Ada meeting pagi sebelum pergi syuting" Jelas Eomma. "Oh" Kata Eomma Choi melihat naskah milik anak nya tertinggal.
"Punya Siwon Oppa?"
"Dia pasti melupakannya karna terlalu terburu-buru. Dasar anak ini" Omel Eomma Choi sambil mencoba menghubungi Siwon. "Kemana dia? Mengapa tidak di angkat?"
"Mungkin Oppa masih meeting" Kata Hanan.
"Aishh.. Bagaimana dia akan syuting jika naskah nya tertinggal" Omel Eomma mematikan panggilannya.
"Hanan-ah. Bisa kah kamu menolong eomma? Hari ini Eomma ada meeting pagi. Jika mampir ke kantor Oppa mu tidak akan cukup"
"Baiklah" Jawab Hanan sambil melahap roti nya. "Lagi pula Agency dan sekolah jalan yang searah" Kata Hanan. "Benarkan Kangin Ahjussi?"
"Benar" Jawab Kangin.
"Gomawoyo chagiya" Kata Eomma mencium kening Hanan.
"Kajja" Kata Hanan membawa naskah Oppa nya. Dan memberikan sepotong roti pada Kangin "Jangan lupa sarapan" Kata Hanan sambil berlalu. Sedangkan Eomma hanya menggeleng kepala nya melihat tingkah anak perempuannya itu.
...
Kangin membuka kan pintu mobil sesampainya di sebuah gedung tinggi berwarna abu-abu dengan logo perusahan berwarna pink. Lalu mempersilakan yeoja itu keluar. "Sudah bisa hubungin Prince Manager?" Tanya Hanan pada Kangin.
"Belum" Jawab Kangin.
"Apa kita masuk saja?" Hanan berjalan lebih dulu di ikuti Kangin. Segera Kangin memberikan tanda pengenal nya pada penjaga sebelum memasuki pintu akses.
"Oh, Yongson Oppa" Panggil Hanan ketika melihat namja bertubuh tinggi itu di depan lift.
"Oh, Hanan-ssi" Kata nya. "Annyeonghaseyo"
"Anyeong" Sapa Hanan.
"Kamu mau bertemu Siwon?"
"Hem" Jawab Hanan. "Oppa bersama Siwon Oppa hari ini?"
"Ahh" Jawab Hanan.
"Tumben sekali Nona Muda Choi mampir ke perusahan" Goda Yongson.
"Apa tidak boleh?"
"Hey, aku tidak bilang tidak boleh"
Hanan tertawa. "Ini Oppa meninggalkan naskah nya." Kata Hanan memperlihatkan naskah milik Siwon.
"Aishh.. Siwon ini" Omel Yongson. "Jika Prince sunbaenim tau dia akan marah-marah" Kata Yongson keluar lift ketika pintu lift sudah terbuka. "Siwon seperti nya ada di ruang meeting. Biar aku antar"
"Gwanchana Oppa. Aku sendiri saja. Oppa pasti masih sangat sibuk"
"Tidak apa. Hanya mengantar. Nanti jika sajangnim tau, Oppa bisa di pecat" Canda Yongson.
"Yak, Oppa" Omel Hanan dengan wajah cemberut lalu tertawa. "Gwanchana. Aku bisa sendiri"
"Baiklah. Ruangan di pojok sana. Pasti banyak staf disana"
"Okay" Kata Hanan.
"Sampai jumpa Hanan-ssi"
"Sampai jumpa Yongson Oppa" Kata Hanan dan berjalan menuju ruang rapat.
"Baby Kyu-kyu" Kata Siwon pada Kyuhyun menggoda namja manis itu sambil merangkul Kyuhyun di depannya dengan gemas.
"Hyung" Omel Kyuhyun sambil melirik Siwon dengan kesal.
"Wae? Aku hanya merindukan kekasih ku yang menggemaskan ini." Kata Siwon merajuk sambil mencubit pipi Kyuhyun. "Oh. Seperti nya berat badan mu menurun?" Siwon segera mengecek tubuh sexy kekasih nya itu dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kau diet?"
"Anni" Jawab Kyuhyun.
"Mengapa berat badan mu turun?"
"Yak! Hyung, kamu menggoda ku?" Omel Kyuhyun sadar jika Siwon sedang menggoda nya.
Plak-
Sebuah kertas di gulung melandas di punggung Siwon. "Kalian merusak kesucian mataku" Omel Heechul.
"Bilang saja kau sirik Hyung" Kata Kyuhyun.
"Aku sangat merindukan mu" Kata Siwon memeluk Kyuhyun yang sedang membaca pesan dengan posesif.
Kangin melirik ke arah yeoja yang terdiam mematung di depannya. Lalu melihat ke arah lain tempat beberapa namja sedang berkumpul. Kangin menyentuh dengan amat sangat perlahan pundak Hanan. Walau sangat amat pelan saja, Hanan masih terkejut.
"Oh" Kata Hanan melihat ke arah Kangin dan segera membelakangi hal yang tadi di lihat nya. Lalu memberikan senyuman.
Kangin mengajak Hanan ke balik tembok yang tidak jauh dari sana. Dia tau, ini bukan saat yang tepat jika Siwon bertemu dengan adik dan kekasih nya. Kangin masih terdiam melihat Hanan. Menunggu reaksi Nona muda nya itu, namun tidak ada respon apapun. Kangin meraih naskah yang sejak tadi di peluk Hanan dengan hati-hati. Lalu mengajak yeoja itu segera pergi.
Hanan masih terdiam sepanjang perjalan turun. Dia tidak pernah menyangka melihat dengan mata kepala sendiri Oppa nya bersikap manis selain dengan diri nya. Bukan Hanan tidak tau hubungan Siwon dengan Kyuhyun. Hanya saja memang Oppa nya tidak secara langsung memperkenalkan Kyuhyun sebagai kekasih nya. Jika menentang, saat ini Hanan tidak akan berada di Korea karna permintaan Haraboeji yang ingin menjodohkan Siwon dengan cucu relasi nya, atau menyuruh Hanan kembali ke Korea.
__ADS_1
"Maaf, boleh saya titipkan ini untuk Choi Siwon" Kata Kangin memberikan naskah milik Siwon yang sejak tadi di pegang Hanan dengan hati-hati. Kangin melirik Hanan sesekali. Memastikan keadaan Nona muda nya yang masih terdiam seribu bahasa.
"Ah. Choi Siwon sajangnim"
"Benar." Jawab Kangin. "Tolong berikan ini pada nya. Ku dengar dia sedang ada rapat di atas. Dan barang nya tadi tertinggal"
"Baiklah. Nanti saya sampaikan" Kata yeoja itu.
"Kamsahamnida" Kata Kangin dan segera menghampiri Hanan. "Kajja" Ajak nya menggandeng Hanan. Sedangkan Hanan masih diam saja. Sesekali Kangin melirik ke spion mobil nya melihat lagi keadaan Hanan yang masih terdiam. "Gwanchana?" Tanya Kangin dengan hati-hati.
"Oh.." Hanan menatap Kangin dari spion. Lalu memberikan senyumannya. "Gwanchana" Jawab nya. Lagi, dengan sebuah senyuman. Yang Kangin yakini itu hanya senyuman kapitalis milik nya. Senyumam yang di lakukan ketika pemotretan atau sekedar basa basi. "Oppa" Panggil Hanan.
"Nde"
"Boleh aku tidak pergi ke sekolah?" Pinta nya menatap Kangin dengan tatapan menahan tangis.
Kamgin terdiam sebentar dan menimbang. "Tentu saja" Jawab Kangin.
"Kamsahamnida"
...
"Oh, Hanan tidak masuk?" Tanya Yeri melihat bangku Hanan kosong. Lomon memperhatikan bangku depan nya yang kosong. "Apa dia tidak memberi kabar?"
"Tidak padaku" Jawab Mark.
"Nado" Jawab Lomon masih memperhatikan bangku milik Hanan di depannya.
"Ayo kembali ke tempat kalian" Kata ssaem. "Ibu akan mengabsen dahulu"
Yeri mengangkat tangannya. "Ssaem. Seperti nya Hanan tidak masuk"
"Oh, Choi Hanan? Dia tidak bisa masuk hari ini karna sedang sakit" Jawab ssaem. "Baiklah. Buka halaman-"
Lomon meraih ponsel nya. Membuka kontak milik Hanan.
Gwanchana?
Lomon mengirim pesan pada Hanan. Namun masih tidak ada jawaban.
Bel tanda pelajaran berakhir. Yeri segera menghampiri Mark dan Lomon. "Kemana Hanan? Kenapa dia tidak memberi kabar? Ponsel nya pun tidak aktif" Kata Yeri.
Lomon mengecek pesan nya untuk Hanan yang masih belum terkirim.
"Apa kita kerumah nya saja?"
"Kau tau rumah Hanan?" Tanya Mark.
"Anni" Jawab Yeri dengan nada sedih. "Bagaimana bisa dia tidak memberi kabar jika sakit" Gerutu Yeri. "Dan bagaimana bisa kita tidak pernah tau rumah nya"
"Ada apa?" Tanya Sofia yang baru ikut bergabung.
"Hanan tidak masuk karna sakit. Tapi kita tidak bisa menghubunginya atau pun tau rumah nya" Jelas Yeri.
"Sakit apa uri Hanan?"
"Entah lah. Tadi coba di hubungi tapi tidak aktif"
"Sofia, apa Vernon tau rumah Hanan?" Tanya Yeri.
"Vernon?"
"Hem" Jawab Yeri. "Seperti nya mereka dekat"
"Coba aku tanya" Kata Sofia dan meraih ponsel nya. "Oddiga? Kamu tau rumah Hanan?" Tanya Sofia. "Jawab saja." Kata Sofia. "Hem.. Arraso. Tidak ada. Bye" Sofia mematikan ponsel nya.
"Bagaimana?"
"Dia tidak tahu" Kata Sofia. "Sebaik nya kita tunggu kabar Hanan saja. Mungkin saat ini dia sedang istirahat"
...
"Kamu yakin tidak apa-apa?" Tanya Kangin untuk kesekian kalinya meyakinkan.
"Nde Ahjussi" Kata Hanan pada namja disebelah nya itu. "Aku hanya malas pergi kesekolah"
"Baiklah" Jawab Kangin.
"Ahjussi"
"Nde"
"Aku sangat haus. Bolehkah aku membeli minuman dan beberapa camilan?"
"Tentu. Mau aku belikan?" Tanya Kangin yang mendapatkan anggukan dari Hanan.
"Nde." Jawab nya dengan riang. "Kamsahamnida"
Kangin memarkirkan mobil nya di depan minimarket. "Tunggu disini" kata Kangin pada Hanan yang duduk di dekat minimarket.
"Tunggu disini" katanya penuh penekanan.
"Arra" Kata Hanan mengangguk paham. Lalu Kangin Ahjussi berjalan menuju minimarket. Beberapa kali Kangin melihat ke arah Hanan memastikan Nona muda nya. Setelah meyakinkan Kangin, dan Kangin masuk kedalam minimarket, Hanan meraih tas dan jaket nya di dalam mobil. "Mianhe Ahjussi" Kata Hanan.
Kangin mengecek kembali belanjaan nya setelah selesai. Takut jika ada yang tertinggal. Lalu segera tatapan nya terarah ke tempat dia tadi meninggal kan Hanan. Betapa terkejut nya dia melihatHanan yang tadi sedang duduk tidak ada disana. Kangin segera berlari menghampiri tempatnya duduk. Namun nihil. Dia segera munuju mobil nya. Dan disana juga tidak ada. "Shibbal" Runtuk Kangin kesal.
Drett-drett-
Kangin segera meraih ponsel nya ketika nama orang yang dicari nya tertera disana. "Oddiga?" kata Kangin marah.
"Mianhe Ahjussi" Kaya Hanan di sebrang sana. "Aku sangat amat butuh waktu sendiri kali ini"
"Kamu tidak bisa Hanan-ah. Itu terlalu berbahaya" Kata Kangin segera mengitari pandangannya ke seluruh penjuru mencari sosok Hanan. "Kamu dimana? Biar Ahjussi kesana"
"Aku? Di sebrang jalan" Kata Hanan dan melambaikan tangan nya pada Kangin ketika mata mereka bertemu.
"Hanan-ah. Kamu mau kemana? Kamu jangan bertindak aneh-aneh" Kata Kangin panik dan segera ingin menghampiri Hanan yang berada di dalam bus.
"Mian." Lirih Hanan. "Aku tidak akan berbuat aneh. Aku hanya butuh waktu sendiri sebentar saja. Bisa beri aku waktu itu?" Pinta Hanan.
"Aku tetap akan menemani" kata Kangin berjalan memenghampiri.
"Anni. Jika Ahjussi menemani, aku tidak bisaa berfikir jernih. Aku pasti akan pulang dengan selamat. Mianhe Ahjussi. Jeongmal Mianhe" Kata Hanan menutup telfonnya.
__ADS_1
"HANAN-AH. HANAN-SSI." Panggil Kangin pada telfon. Dan melihat bus yang di naikin Hanan sudah jalan. Kangin segera berlari dan mencoba menyebrang jalan. Namun jalan padat sangat sulit di sebrang begitu saja. "CHOI HANAN" Teriak Kangin. "YAKKK..!!!" Runtuk nya mengusap wajahnnya dengan kasar. Dan segera Kangin masuk kedalam mobil nya.