
Rani terkejut. Ada apa ini? Theo yang menyebalkan ini membantunya alih-alih melaporkannya pada sang mama? Rani menoleh dan beradu pandang dengan Theo. Sedetik kemudian, Rani melihat ujung bibir Theo tersenyum sinis. Entah kenapa apa yang dipikirkan Theo saat ini.
***
Suasana di rumah Rani begitu ramai. Pesta ulang tahunnya yang ke 17 sekaligus acara pernikahannya yang hanya dihadiri oleh keluarga inti. Mama dan Papa Rani tidak punya sanak saudara sehingga kebanyakan yang datang adalah keluarga dari pihak Theo. Mama Theo begitu antusias memperkenalkan Rani sebagai calon mantu kepada saudara-saudaranya.
Mengenakan gaun putih yang panjangnya menjunai, aura dewasa pada Rani terpancar. Dia sama sekali tidak terlihat seperti anak SMA. Rani hanya bisa terdiam. Ketika Theo selesai mengucapkan janji, memasangkan cincin di jari, lalu mencium kening Rani. Demi Tuhan, ini pertama kalinya Rani dicium oleh laki-laki.
"akhirnya, Rani jadi anak bunda juga" Ucap mama nya Theo seraya memeluk Rani.
Acaranya dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan-makan. Rani berdiri di sebelah Theo seraya memakan kue.
Perasaannya kacau, dirinya merasa terjebak di antara orang-orang dewasa.
__ADS_1
"masih kecil udah nikah, apa jangan jangan sudah hamil? Terus Theo disuruh bertanggung jawab?
"anak jaman sekarang ya, ngeri deh. Mamanya Theo kok mau nikahin Theo sama anak ingusan kayak gitu. "
Rani merasa tersinggung, ia refleks menoleh ketika mendengar seseorang membicarakannya. Enak saja hamil, disentuh laki laki saja tidak pernah. gadis itu merasa ingin memberi pelajaran kepada tante-tante kurang ajar itu. Tapi tiba-tiba Theo memegang pergelangan tangan Rani.
"Gak usah bikin keributan! " tegur Theo.
"Tapi mereka ngomong yang gak bener pak! "jawab Rani.
Jawaban Theo membuat Rani kesal. Dia menggentak kakinya, pergi meninggalkan Theo menuju halaman belakang rumahnya. Matahari bersinar terik ketika Rani melangkah ke tengah, tanah berumput. Dia duduk di ayunan, lalu melihat pemandangan disekitar. Mulai besok, Rani akan kehilangan tempat ini, tempat yang biasa dia gunakan untuk menghabiskan waktu dengan Mama dan papanya. Biasanya ketika weekend, papanya selalu jalan-jalan keluar. Mereka hanya duduk di gazebo. Biasanya, percakapan hanya didominasi oleh Rani yang menceritakan tentang hari-harinya di sekolah. Namun, mulai besok Rani bingung harus menceritakan hari-harinya di sekolah kepada siapa.
" Ran"panggil mamanya Rani.
__ADS_1
Rani langsung menoleh saat sang mama memanggilnya. Dia kesal, selain karena dipaksa nikah dengan Theo. Sore nanti mereka akan pergi ke luar negri. Orang tuanya sama sekali tidak punya keinginan untuk menemani Rani meniup lilin.
"anak mama ngapain disini? " Tanya mamanya Rani seraya mengusap kepala Rani.
"cari udara segar" jawab Rani. "soalnya didalam panas. "
Mama Rani menghela napas, kemudian duduk di sisi lain ayunan. Mama Rani meraih tangan Rani. "maafin mama, ya, nak, hanya ini yang bisa mama lakukan, demi--"
"demi kebaikan Rani"Sambar Rani. "iya Rani tau. "
"Ran, marah sama mama? " tanya mama Rani.
Rani menggelengkan kepalanya. Rasanya, percuma juga marah dengan orang tuanya. Hidup Rani memang seperti ini. Dia tidak ingin diusir dan menjadi gelandangan di luar sana.
__ADS_1
"Ran, gak marah kok, ma"jelas Rani.
" mama janji akan selalu kasik kabar. Pokoknya mama dan papa gak akan benar benar ninggalin Ran, Rani baik-baik disini ya sama Theo. "ucap mamanya Rani.