Guru Ganteng Itu Jodohku

Guru Ganteng Itu Jodohku
Ide


__ADS_3

Suasana rumah Rani begitu sepi. Orang tuanya tadi berpamitan untuk mengurus berkas-berkas untuk perjalanan ke luar negri. Dia pun segera pergi kekamarnya sambil memikirkan ide dari Naura, Lina dan Putri.


Idenya:"Loh ngambek aja, mogok makan atau ngancam kabur. Mama dan papa loh pasti luluh kalau lo ngancam kek gitu. "


Ngambek, mogok makan ataupun ngancam kabur itu bukan lah hal yang biasa Rani lakukan. Lagipula kalau kabur pun Rani tidak memiliki uang dan akan hidup miskin. demi hidupnya. Rani harus menuruti orang tuanya.


Bisa aja membatalkan pernikahan ini tetapi kunci nya ada pada Theo, jika dia menolak pernikahan ini maka pernikahan ini tidak akan terjadi.malah sebaliknya, Dia hanya setuju setuju saja.


"seumur hidup papa dan mama sudah memberikan segalanya yang Rani mau. Papa dan mama tidak pernah menuntut Rani menjadi anak yang sempurna. Tidak pernah protes dengan nilai Rani. Tapi kali ini Papa dan mama mohon sekali agar Rani mau nurut Papa dan mama nya agar Rani mau menikahi Theo. Ini semua demi kebaikanmu, nak. "


Kebaikan lagi, kebaikan lagi.Rani berbaring ke atas ranjang. Mata nya memejam dengan posisi lengan menutup matanya. Ucapan Naura, Lina, Putri, sang ayah dan Theo menggema di telinganya seolah berperang. Rani rasanya ingin teriak karena Kesalnya.


Baru saja Rani tenang sedikit, tiba tiba ponselnya berdering. Dengan malas dia bangkit dan mengambil ponselnya. Gadis itu segera mengangkatnya dan menempelkannya ke telinganya.


"halo ini sapa? "tanya Rani.

__ADS_1


" turun sekarang! "perintah suara dari telponnya.


Jelas dari suara nya itu adalah suara Theo. Bukannya menurut, Rani turun dari ranjangnya. Lalu pergi ke balkon kamarnya. Dia melihat kebawah dan menemukan Theo berdiri di depan gerbangnya.


" saya baru sampai rumah loh, pak. Bahkan saya belum berbaring di ranjang saya, belum ganti baju, belum mandi, belum... "Ucap Rani yang belum selesai menjelaskan.


"terserah, pokoknya kamu turun sekarang! " Ucap Theo memotong pembicaraan Rani yang belum selesai berbicara.


Theo pun langsung mematikan telponnya. Dasar tukang perintah, Tukang ngatur, sok ganteng. Gadis itu berjalan dengan menghentakkan kakinya. Apa sih mau guru olahraga ini!.


"tante sama om gak ada dirumah, kan? Makanya saya panggil kamu. " Jawab Theo.


"Cih, sok alim"ucap Rani dengan kesal. "terus bapak mau ngapain? Bicara di telpon kan bisa. " Ucap Rani.


"kamu pikir ini keinginan saya? " Jawab Theo. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "saya juga baru sampai rumah, saya tidak sempat istirahat tapi bunda sudah nyuruh saya buat nganterin ini ke kamu. " ucap Theo.

__ADS_1


Seraya mengambil kotak yang Theo berikan, Rani mengganguk-angguk. Seketika perutnya berbunyi karena lapar.sejak beberapa hari yang lalu Rani memang belum merasakan makanan rumahan lagi karena pembantu nya sudah dipulangkan. Sedangkan mama, tidak bisa memasak karena hasilnya gosong. Jadi setiap hari Rani hanya memesan makanan cepat saji melalui delivery.


"makasih, pak" Ucap Rani. "silakan pulang, pak" lanjutnya.


"kamu ngusir saya? " Tanya Theo.


"ya, kan bapak mau pulang, ngak ada yang perlu dibahas lagi kan?. " Jawab Rani.


"kamu--"


Mereka pun bertengkar. Ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang Rani. Mata gadis itu melotot, dia sangat mengenali siapa pemilik mobil yang berhenti di depan gerbangnya. Refleks Rani menarik tangan Theo hingga lelaki itu turun dari motor.


"eh, eh mau kemana? " Tanya Theo ketika Rani terus menyeretnya masuk ke rumah.


Ketika sampai di depan pintu, Rani kembali berbalik. Jika motor Theo ada disini Naura dan Lina pasti akan mengenalinya. "didepan ada Naura sama Lina mending motor bapak, bapak simpan di garasi.terus nanti masuk kerumah lewat tangga. " jelas Rani seraya mendorong Theo. Gadis itu pun segera berlari ke gerbang.

__ADS_1


__ADS_2