
"apa dia tidak bersama tante?" tanya wulan setelah menyalami om dan tantenya, serta ketiga anak tante tika.
"dia siapa. ?" tante tika balik bertanya dengan kening mengerut sembari memandang ke arah suaminya adi. Tapi suaminya pun yang di pandang hanya bisa mengangkat kedua bahunya sambil menggandeng anak bungsu, yang bernama berli benar berlian yang baru berumur dua setengah tahun.
"kak, surya. "
"Ooow, surya?" gumam tika
Wulan mengangguk,
"tadi siang sewaktu hendak berangkat kerja, dia sempat mampir ke rumah tante dan menanyakan apakah tante dan om adi, akan kesini. ?"
"berangkat kerja.. " ulang wulan.
"ya, kenapa?"
"ah, eh enggak terus??"
"ya, tante katakan akan kesini. Bahkan tante tanya padanya. Apakah dia mau ikut bersama kami? Dia bilang tidak. Ya akhirnya tante tinggal dan tadi pula tante lihat kos-kosannya tertutup sepertinya dia belum pulang. "
Semakin gelisah saja wulan mendengar penuturan tantenya. Jika benar surya belum pulang. Lalu kemana dia? Apakah dia lupa sehingga dia masih bekerja sampai jam segini? Atau. Telah terjadi sesuatu padanya? Ya allah. Kuharap jangan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan padanya lindungilah dia ya allah
Karna jam sudah menunjukan angka 7:30 maka sesuai dengan jadwal. Acara pun di mulai. Dengan hati gelisah dan sedih karna sampai sekarang surya belum juga hadir. Akhirnya wulan pun masuk kedalam rumah
Acara pertama adalah sambutan dari pihak keluarga, dalam hal ini oleh ayah wulan dilimpahkan ke pada adi suami dari adiknya
"pertama-tama, kami salaku tuan rumah. Dengan penuh rasa hormat mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran bapak-bapak dan adik-adik semua yang telah berkenan hadir ke acara ini puja dan puji syukur tak lupa kamu panjatkan ke hadirat allah SWT. Yang telah memberikan rahmat hidayah dan kenikmatan pada kita semua. Berupa nikmat sehat dan nikmat hidup yang lainnya. Sholawatdan salam tidak lupa pula kami sampaikan untuk junjungan kita nabi besar muhammad SAW... "
Semua yang ada di rumah itu, mendengarkan sambutan om adi yang mewakili tuan rumah. Namun tidak begitu dengan wulan. Tak satu kata pun yang di ucapkan oleh om. Nya masuk ketelinganya, hatinya. Semakin gelisah karna surya belum juga datang.
Bahkan sampai acara selametan selesai, dan para tetangga yang di undang mulai pergi meninggalkan rumah wulan. Karna akan di teruskan dengan perayaan ulang tahun, cowok itu masih juga belum datang. Semua semakin membuat wulan tambah gelisah. Ingin rasanya dia pergi mencari cowok itu. Namun manalah mungkin hal itu dilakukannya? Apa nanti kata teman-temannya dan juga om serta tantenya? Masa seorang gadis mencari cowok disaat pestanya berlanjut? Dengan memendam perasaan sedih dan kesal wulan pun akhirnya berusaha untuk menjalani waktu yang terus berputar. Acara ulang tahun di buka dengan menyalakan lilin, yang di ikuti dengan pemadaman lampu ruang tengah dan tuang tamu yang di jadikan tempat berlangsungnya acara tersebut. kemudian mereka bernyanyi lagu tiup lilinnya yang di nyanyikan oleh seluruh teman dan keluarganya. Belum juga wulan meniup lilin tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucapkan sebuah puisi
Dunia terus berputar
membuat kita sedikit gusar
Tapi tak usah risau
Selama kita berjalan bersama
Selama itu juga kita bisa lewati bersama
Ada saatnya kita istirahat sejenak dari rutinitas
Untuk sekedar menikamati hidup sedikit saja
__ADS_1
Karna ini adalah hari ulang tahunmu
Nikmatilah momen ini
Kita ukir cerita kita bersama
Dengan potongan kue mungil penuh makna
Selalu ada perasaan dan kesan di hari ulang tahunmu
ini akan lebih dari itu semua
Hari lahirmu adalah keberuntunganku
Karna sejak itu kita di takdirkan untuk menyatu
"kak, surya.... !" gumam wulan mengenli suara itu. Namun karna gelap keadaanya, sehingga dia tidak tahu dimana cowok tampan yang telah membuat hatinya sedari tadi gelisah.
Wulan mengedarkan pandangan matanya kesekeliling, berusaha mencari keberadaan surya. Namun karna keadaan sekeliling gelapa, dan hanya lilin di atas cakenya saja yang menyala. Membuat wulan tak bisa melihat jauh sekelilingnya. Sehingga dia pun tak tahu dimana surya berada tapi begitu, hatinya yang semula gelisah kini jadi tenang dan senang, sebab akhirnya cowok yang di nanti hadir di malam penuh arti ini. Ternyata sudah datang, entah sejak kapan dan apa yang terjadi sebenarnya siapa yang mengatur dan di rencanakan oleh seseorang. Dia yakin surya, sebenarnya sudah datang kerumahnya jauh sebelum acara di mulai. Tapi kenapa dia tidak melihat?? Kenapa dia tak tahu? Bersembunyikah cowok itu, tapi dimana? Sejuta tanya mendera hati wulan, namun segera tertepiskan oleh rasa bahagia yang tak terkira. Karna cowok yang di harapkan kehadirannya telah hadir meski penuh misteri.
suara surya kembali menggema, kembali membacakan sebuah kata-kata yang khusus di tujukan untuk wulan
Sungguh akan betapa sayangnya
Jika keindahan yang ada
Hanya satu kunci yang akan membentengi keindahanmu
Iman, takwa serta senantiasa ingat pada sang pencipta
Tiuplah lilin itu
Tetapkan lah dalam hatimu
Bahwa api semangatmu akan tetap menyala sepanjang masa.
Wulan tertegun. Dia masih ingin berusaha mencari pemilik suara itu, namun ayah dan ibunya telag menyuruh tiup lilinnya, diikuti dengan lagu sehingga akhirnya wulan pun menurut meniup lilinnya.
Begitu lilin padam lampu di ruangan itu pun kembali menyala, sehingga suasana yang semula gelap, kembali terang benderang ayah dan ibu wulan langsung memberikan ucapan selamat diiringi dengan ciuman kasih sayang di kedua pipi serta kening gadis jelita yang hendak menginjak, dewasa itu namun wulan bagai tak peduli, matanya kembali berusaha mencari, tetapi yang di carinya tetap tak ditemukannya?
"apakah aku berhayal?" gumamnya.
"ada apa, sayang?" tanya sang ibu.
"tadi wulan mendengar suara kak surya. Dia kan yang mendeklamasikan puisi? Dimana dia, bu?"
__ADS_1
"aku disini, " sahut surya yang entah bagaimana, tahu-tahu sudah berada di ambang pintu masuk.
"kak, surya.... "
Surya tersenyum sembari melangkah memasuki rumah itu dengan kedua tangan terembunyi di belakang tu*uhnya, menghampiri wulan yang masih berdiri terpaku di depan meja. Kemudian begitu sampai di depan wulan, surya pun mengeluarkan kedua tangannya, dimana kado kecil dan sekuntum bunga mawar merah berada. Pertama diberikan sekuntum bunga merah itu pada wulan sembari berkata.
"kamu kini ibarat bunga mawar merah ini. Wulan"
"Liiiihhh..... !!" sungut wulan sembari menerima bunga itu.
"nah, kini terimalah kado dariku. Jangan di lihat dari isinya, tetapi nilailah dari ketulusan dan kesungguhan si pemberinya. "
"makasih. Kenapa baru datang? Bikin wulan cemas saja... "
"kata siapa aku baru datang?"
"buktinya?"
"aku sudah datang sejak tadi. "
"Bo'ong.... "
"tanya saja sama tante tika"
"apa.?!" wulan memandang ke arah tantenya.
"benar, surya memang sudah datang sebelum kami datang. "
"teganya, tante mempermainkan wulan. "
"bukan mempermainkan tante, cuma ingin memberikan kejutan saja. "
"dan tante, yang mengatur semua ini kan termasuk yang membuatkan puisi untuk di deklamasikan kak surya, kan?" tuduh wulan
"kalau puisi tante akui yang membuat tapu kalau mengenai yang mengatur semua ini. Bukantante sendiri tetapi ayah serta ibumu juga terlibat kalau tidak, mana mungkin surya bisa sembunyi. "
Wulan sebenarnya kesal kepada orang tua dan tantenya namun karna orang yang diharpkannya telah tiba. Danmalam itu dia sedang bahagia. Akhirnya wulan hanya menggerutu kecil...
Next...
Salam dari wulan...
__ADS_1