Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang

Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang
Suami Pelunas Hutang 21


__ADS_3

Setelah menikah Watik langsung di boyong ke rumah Danu. Sarti tentu setuju-setuju saja. Melihat putri sulungnya bisa menikah merupakan kebahagiaan dan kebanggaan buatnya. Apalagi Watik dinikahi oleh pria kaya di daerah itu.


" Ya pergilah nduk. Ikutlah kemana suamimu tinggal."


Watik segera mengambil tas yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Tak lupa uang yang akan diberikan kepada Ratih untuk membayar hutang ia berikan kepada Hari.


" Berikan ini kepada Ratih lalu berpisahlah dengan dia. Bukannya kamu ingin menikahi Cita? Maka lakukanlah itu."


Hari hanya menatap amplop coklat yang Watik berita kepada dirinya. Ia rasa apa yang diucapkan Ratih beberapa hari yang lalu ada benarnya bahwa dirinya adalah sebatas suami pelunas hutang.


Hari merasa harga dirinya sungguh tidak ada sekarang. Sadarkah dia? Entahlah tapi yang jelas ia mengakui bahwa dirinya bukanlah suami yang layak dipanggil suami.


Dengan senyum begitu lebar Watik bersama Mira dan Danu turun dari mobil. Mira langsung menggandeng Watik untuk menuju ke kamar miliknya. Sebuah kamar yang tempatnya jauh berada di belakang rumah besar tersebut.


Watik jelas bingung, ini tidak seperti yang dia bayangkan. Dalam pikirannya ia akan berada di sebuah kamar yang berada di depan. Paling tidak di sebelah kamar utama.


Watik semakin terkejut saat ia masuk ke kamar yang ditunjuk Mira. Kamar tersebut ialah kamar kecil yang hanya berukuran 2x2 meter. Di sana tidak ada banyak barang kecuali sebuah kasur dan lemari. Kasurnya pun tidak berada di dipan melainkan hanya dilantai.


"Mbak, apa aku harus tidur di sini?" tanya Watik memberanikan diri.


" Iya, mulai sekarang ini akan jadi kamar mu. Jika waktunya kamu melayani Mas Danu kamu akan ku panggil nanti. Tapi jika tidak kamu cukup untu berada di sini. Bersihkan tubuhmu dan juga riasanmu lalu ganti bajumu dengan ini."


Mira memberikan sebuah paper bag. Watik terhenyak, tatapan mata Mira berubah. Tidak lagi ramah seperti sebelumnya. Kata-kata yang dilontarkan Mira juga begitu tajam. Watik bahkan langsung menciut di depan istri pertama Danu tersebut.


Mira langsung meninggalkan Watik dan watik hanya bisa menatap Mira yang pergi menjauh dnegan banyak tanya dan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan.


" Apa ini? Lingerie, aku harus memakai baju kurang bahan dan tipis ini?"


Watik merasa sangat takut sekarang. Ia mempunyai pemikiran bahwa hidupnya tidak akan mudah. Sesaat dia menyesali keputusannya menikah dnegan Danu. Bisa Watik lihat dari sikap Mira yang jelas langsung berubah.


Tidak ingin membuat Mira menunggu, Watik langsung bergegas mandi. Ia lalu memakai lingerie berwarna nude itu dan duduk di atas kasur. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya tapi ia tahu bahwa siang ini juga dia pasti akan diminta melayani Danu.

__ADS_1


" Apa aku dinikahi hanya untuk menjadi pemuas ranjang Danu. Laah memangnya Mira tidak bisa melakukannya?" gumam Watik lirih. Dan benar saja seseorang membuka pintu kamarnya. Danu muncul dari balik pintu tersebut. Dengan tatapan yang tidak bisa Watik tahu maknanya.


" Cih, wanita murahan. Harga mu hanya 100 juta rupanya. Bangun dan ikuti aku," ucap Danu kasar membuat Watik terkejut dan hampir saja menangis.


" Bahkan Tuan Danu juga berubah sikapnya, ada apa ini?" batin Watik penuh kebingungan.


Watik berjalan mengekor hingga Danu membuka sebuah pintu kamar. Kamar itu jelas sangat berbeda dengan kamar yang ia tempati. Kamar tersebut lebih luas dan lebih bagus mirip dengan kamar sebuah hote. Setidaknya itulah penilaian Watik.


Danu meminta Watik untuk duduk di atas kasur. Kemudian pria itu terlihat meminum sesuatu. Tak berselang lama, Danu berubah. Ia menjadi begitu agresif.


Watik terkejut saat Danu langsung meraup bibirnya dan mencium nya dengan brutal. Meskipun Watik permah melakukan itu dengan kekasihnya duku tapi Danu sungguh berbeda.


" Mas sakit," ucap Watik saat Danu menyesap dadanya. Danu bahkan sudah menarik lingerie yang dipakai Watik sehingga saat ini Watik sudah polos.


Seakan tidak mendengar apa yang Watik katakan, Danu terus melakukan aksinya. Ia juga sudah menarik penutup kain terkahir milik Watik pun dengan pakaiannya sendiri.


Kini keduanya sama-sama polos. Danu langsung membuka kaki Watik lebar-lebar dna mengarahkan miliknya di sana. Tidak ada kelembutan sama sekali yang dirasakan oleh Watik dari setiap perlakuan Danu. Bahkan saat benda tumpul itu menerobos miliknya itu sungguh merasa menyakitkan.


" Cih jalaang, sudah kuduga kamu adalah wanita murahan. Dan itu terbukti kamu sudah tidak lagi perawan."


Danu berlagak tuli dengan rintihan Watik, dia terus memacu tubuhnya diatas tubuh istri keduanya itu dengan begitu cepat. Hingga sebuah pelepasan ia lakukan dan benih-benih itu menyembur di rahim Watik.


Danu mencabut miliknya dnegan cepat dan langsung bangkit lalu mengenakan kembali pakaiannya. Brak ... Pria itu pergi dari kamar itu meninggalkan Watik yang masih terlentang dengan rasa sakit.


" Apa ini, mengapa aku diginiin. Mengapa aku dianggap sebagai pelaccur. Setelah selesai memuaskan hasrat lalu ditinggalkan."


Watik menangis, ia tergugu di sana. Sebuah neraka jelas ia masuki saat ini. Dan yang pasti ia tidak akan bisa keluar dari tempat itu.


🍀🍀🍀


Seperti yang dipesan oleh sang kakak, Hari kembali ke rumah Ratih karena ingin mengembalikan uang milik Ratih.

__ADS_1


Tapi saat Hari masuk ke rumah ia sama sekali tidka menemui Ratih. Sudah dua hari ternyata Ratih tidak pulang. Ia tahu itu dati tetangga.


" Kemana dia pergi, dia kan nggak punya saudara di kota ini."


Baru Hari bermonolog seperti itu tidka lama sebuah mobil berhenti di depan rumah. Hari langsung membalikkan badannya dan melihat siapa yang datang. Seorang pria paruh baya keluar dari sana. Pria itu membukakan pintu dan keluar Ratih yang dibantu seorang wanita.


" Hati-hati nduk."


" Terima Kasih buk, pak, sudah banyak membantu saya. Sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada ibu dna bapak."


Hari kemudian berjalan mendekat ke arah Ratih. Ia tentu bingung dengan apa yang ia lihat. Ada apa dan siapa kedua irang patuh baya itu. Alam tetapi tatapan mata Ratih yang menyiratkan benci dna marah kepadanya membuat Hari mengetahui sesuatu, pasti ada yang terjadi dengan Ratih.


" Tih, ada apa?"


" Talak aku sekarang. Aku sungguh tidka bisa hidup denganmu. Menjalani pernikahan bersamamu bagaikan neraka bagiku. Talak aku, biar Bu Fitri dan Pak Barja jadi saksinya."


Hari seketika terdiam. Ia sangat ingin berpisah dengan Ratih tapi saat melihat Ratih menatapnya dengan benci rasanya ia pun ikut sakit.


" Apa sungguh ingin berpisah denganku?" tanya Hari memastikan kembali.


" Ya sangat, karena tidak ada lagi yang kita bisa pertahankan. Dan asal kamu tahu karena ulahmu kemarin satu hal yang kuinginkan pergi. Anakku, calon bayiku sudah tidak ada lagi dalam perutku dan semua karena kau!"


Duaaar


Seperti disambar petir di siang hari, Hari sungguh sangat terkejut dengan apa yang Ratih katakan. Jika Hari tidka salah mengambil kesimpulan, maka artinya Ratih keguguran. Ia memang pernah mengatakan tidak menginginkan anaknya itu. Bahkan dengan tega ia mencaci janin dalam perut Ratih tapi saat mengetahui bahwa Ratih keguguran sungguh dia merasa ada yang hilang di sana.


" Tidka usah sok peduli. Lekas talak aku, dna besok aku akan mengurus perceraian kita."


" Haaah, baiklah. Hari ini juga aku menjatuhkan talak satu padamu. Mulai hari ini kita bukan lagi suami istri, haram bagimu tubuhmu."


Air mata Ratih luruh, bukan sedih tapi lega. Ia sungguh lega saat ini. Fitri, ibu dari Raka itu memeluk ratih dengan erat.

__ADS_1


" Aku akan mengambil barang-barang milikku dan pergi saat ini juga. Ini, ada titipan dari mbak Watik. Mungkin ini terlambat, tapi, aku minta maaf."


TBC


__ADS_2