Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang

Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang
Suami Pelunas Hutang 26


__ADS_3

Malam itu sepulang dari rumah Ridwan, Fitri dengan diantar oleh putra dan suaminya langsung bergegas menuju ke rumah Ratih. perasaan Fitri sungguh tidak enak meninggalkan Ratih sendirian di rumah. Ia jelas tidak bisa menitipkan Ratih pada siapapun karena Ratih tidak memiliki sanak saudara.


Dengan sedikit agak keras fitri langsung menerobos rumah ratih. ia memanggil Ratih berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari wanita tersebut.


" Dimana Ratih? Ka, bantu ibu nyari Ratih. Coba lihat dihalaman belakang!"


Raka mengangguk patuh, ia kemudian berlari ke halaman belakang. Namun, di sana tidak ada Ratih. Sedangkan Fitri masuk ke kamar. Di sana juga tidak ada. Wanita paruh baya itu merasa semakin gelisah dan tentunya khawatir.


" Buk, coba kamar mandi," usul Barja kepada sang istri untuk memeriksa kamar mandi.


Ceklek .... Ceklek


Fitri menggerak-gerakkan handle pintu kamar mandi. Ia mencoba membukanya tapi tidak bisa.


" Pak, ini sepertinya dikunci dari dalam. Ratih bisa jadi di dalam pak. Coba cari kunci serep," ucap Fitri panik.


Fitri semakin khawatir. Pikiran buruk memenuhi kepalanya saat ini. Barja berusaha mencari tapi tak kunjung juga di dapat. Raka yang datang pun menanyakan apakah Ratih sudah ditemukan atau belum. Fitri membuat kode bahwa Ratih di dalam. Tanpa berpikir panjang Raka berusaha mendobrak pintu kamar mandi tersebut.


" Ratih, apa kamu bia mendengar ku!"


Raka mencoba berteriak memanggil Ratih tapi tidak ada jawaban dari sana. Ia pun semakin kuat menggunakan tenaganya. Pada percobaan ketiga dan juga dibantu Barja, akhirnya pintu kamar mandi itu terbuka.


Braaakkk!!!!


" Astagfirullah Ratih!!"

__ADS_1


Fitri berteriak histeris melihat Ratih yang terduduk di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Bibir wanita itu bahkan sudah sedikit biru karena kedinginan.


Raka langsung mematikan shower yang masih menyala. Badan Ratih sangat panas. Fitri menangis melihat keadaan Ratih yang sungguh memprihatinkan.


Raka berlari keluar mengambil handuk. Pria itu kemudian kembali masuk dan mengangkat tubuh Ratih lalu membawanya ke kamar.


" Buk, gantikan baju Ratih lalu kita bawa dia ke rumah sakit."


Sakit hati Raka melihat keadaan Ratih yang seperti itu. Fitri mengangguk. Ibu dari Raka itu menghapus air matanya lalu melakukan permintaan sang putra.


Raka dan Barja segera keluar agar Fitri bisa segera mengganti pakaian Ratih.


" Nduk, sing kuat yo (nak, yang kuat ya)."


" Pak buk, Ratih mau ikut bapak sama ibu aja. Pak, buk, Ratih nggak bisa hidup sendiri."


Fitri selesai mengganti pakaian Ratih.ia lalu memanggil Raka untuk mengangkat tubuh Ratih ke mobil. Barja rupanya sudah siap di kursi kemudi.


Beruntung keluarga Raka sungguh baik. Sebuah pikiran muncul di benak Fitri, ia ingin mengangkat Ratih menjadi putrinya. Hal itu ia langsung sampaikan kepada putra dan suaminya.


" Pak, Ka, bagaimana kalau Ratih ibuk angkat jadi anak."


" Tidak!"


Penolakan keras dilakukan oleh Raka. Fitri tentu heran, ia tahu Raka begitu peduli dengan Ratih. tapi mengapa Raka tidak setuju dengan apa yang menjadi ide Fitri.

__ADS_1


Ingin bertanya lebih lanjut apa alasan Raka menolak tapi Fitri urung. Mereka sudah sampai di depan pintu IGD rumah sakit setempat. Dengan cekatan Raka kembali mengangkat tubuh Ratih yang masih belum sadarkan diri itu ke dalam. Beberapa tenaga medis menjemput Ratih dengan menggunakan brankar.


" Tih, aku mohon yang kuat. Aku yakin kamu wanita kuat. Jangan menyerah, kamu pasti mendapatkan kebahagiaan stelah badai yang kamu rasakan."


Raka berdoa tulus untuk Ratih. spontan dia mencium kening Ratih dengan lembut. Pemandangan tersebut tentunya tidak lepas dari pengelihatan Fitri dan Barja. Kedua orang tua itu saling pandang.


" Aku sekarang paham mengapa Raka tidak setuju aku mengangkat Ratih sebagai anak. Tapi ini tidak bisa, kalau Raka memang menyukai Ratih setidaknya surat cerai harus turun dulu dari pengadilan dan perlu diingat, Ratih memiliki masa iddah."


" Aku setuju dengan ibu, nanti kita bicara baik-baik dengan anak itu. bapak juga tidak mau Raka hanya karena kasihan saja kepada Ratih."


Barja dan Fitri membuang nafasnya kasar. Saat ini bukanlah waktu yang terpaut bagi mereka membicarakan hal ini. Lihatlah, Raka tetap berdiri di depan pintu ruang penanganan menunggu dokter yang saat ini sedang memeriksa Ratih.


Fitri berdiri lalu menghampiri sang putra. Di usapnya lembut punggung Raka sembari berkata," Duduklah. Tunggu Ratih di kursi tunggu. Ibu yakin Ratih adalah wanita yang kuat."


Raka mengangguk patuh. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Terlihat Raka begitu khawatir. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu, menunggu.


" Le, apa kamu beneran menyukai Ratih?"


Bukan Fitri yang bertanya tetapi Barja. Rupanya pria paruh baya itu sudah tidak sabar ingin menanyakan hal tersebut kepada sang putra.


" Entahlah pak, melihat Ratih aku hanya ingin melindunginya. Aku ingin membuatnya tersenyum. hatiku ikut sakit sat melihat dia begitu menderita. Mungkin lucu, baru beberapakali bertemu tapi aku sungguh merasakan hal tersebut.


Fitri dan Barja saling melempar senyum. Mereka menemukan jawaban dari pertanyaan mereka dan mereka juga yakin Raka memiliki rasa terhadap Ratih.


" Jika begitu, maka lakukan apa yang ingin kamu lakukan."

__ADS_1


TBC


__ADS_2