
Di tempat yang berbeda, tepatnya di kediaman Danu, Watik tengah meringkuk kesakitan. Dia merasakan sakit diarea inti miliknya. Badan Watik demam dan tubuhnya menggigil hebat.
Sarti jelas bingung dan tidak tahu apa yang saat ini terjadi. Beberapa hari yang lalu saat meninggalkan rumah Watik jelas sehat dan tidak ada tanda-tanda sakit sedikitpun. Namu, saat ini yang Sarti lihat Watik begitu kesakitan, wajahnya pucat.
" Ayo kita minta Tuan Danu membawamu ke dokter Wat," ucap Sarti seraya mengganti kompres yang ada di kening Watik.
" Ndak usah buk, Watik malu kalau sampai di rumah sakit nanti. Bum yang saki anu ku buk. Di sana sakit dan terlihat bengkak."
Sarti tentu terkejut mendengar penuturan putri sulungnya itu. Ia kemudian langsung menyibakkan selimut. Watik ternyata tidka mengenakan apapun di bagian bawah tubuhnya. Dengan menggunakan senter ponsel, Sarti melihat bagian inti milik Watik.
Keterkejutan Sarti bertambah saat melihat ****.* milik Watik bengkak dan lecet. Wanita paruh baya itu merasa begitu nyeri melihat apa yang terjadi pada putrinya.
" Mengapa bisa begini Wat. Mengapa sampai lecet begitu? Ini harus dibawa ke rumah sakit. Harus segera diobati."
Watik menggeleng. Ia tentu tidak berani meminta itu kepada Danu maupun Mira. Danu mau menghentikan aksinya saja sudah bagus.
" Apa dia bermain kasar Wat."
" Iya bu, Mas Danu sangat kasar. Dia bahkan sama sekali tidka melakukan pemanasan. Main masuk aja, padahal aku belum siap. Dna akhirnya aku selalu takut kalau Mas Danu menggaulii ku buk."
Sarti menghela nafasnya yang teramat berat. Sejenak sungguh prihatin dengan nasib Watik. Sarti berpikir untuk mengajukan cerai saja.
__ADS_1
" Bagaimana kalau kamu minta cerai?"
" Kita harus balikin uang 100 juta yang dia berikan bu. Ditambah semua barang juga harus kembali."
Sarti langsung terduduk lemas. Bagaimana mereka bisa mengembalikan uang itu sedangkan sudah dipakai dan sebagian sudah untuk membayar hutang. Watik seketika menangis, meratapi nasibnya yang sungguh sial. Berharap mendapatkan pria kaya namun rupanya dia hanya dijadikan budak nafsuu dan mesin pembuat anak. Ingin protes tentu saja tidak bisa. Hidupnya berada digenggaman Danu dan Mira. Sepasang suami istri itu memang sudah merencanakan semuanya dari awal. Pantas saja Mira begitu berbesar hati di madu, semua karena untuk mendapatkan anak.
🍀🍀🍀
Pagi harinya Hari yang hendak berangkat ke tempat kerja harus urung. Semua itu karena datangnya dua orang petugas polisi yang membawa surat pemanggilan pemeriksaan. Awalnya Hari bingung tapi saat membaca isi surat itu dia pun mengerti.
" Baik pak saya akan ke sana. Saya akan berganti pakaian dulu."
Hari melenggang masuk, apapun itu dia harus hadapi karena memnag semua adalah perbuatannya.
Selesai mengganti bajunya Hari langsung bergegas pergi. Tak lupa dirinya mengunci pintu. Saat mau menaiki motor Hari dibuat terkejut dengan Cita yang memeluknya dari belakang.
" Mau apa Cit, jangan begitu. Nggak enak dilihat tetangga."
Cita melepaskan belitan tangannya di perut Hari. Dia sedikit kesal saat Hari berkata begitu.
" Tck, ngeselin. Oh iya mau kemana? Nggak kerja?"
__ADS_1
" Aku mau ke kantor polisi. Aku dapat surat panggilan tadi. Ini kasus ku dengan Ratih."
Cita tentu kaget, ia pun langsung berpikiran kemana-mana. Satu hal yang ia simpulkan bahwa mungkin saja Hari Kan dipenjara. Cita pun diam dan membiarkan Hari pergi.
" Tidak, jika Mas Hari ditangkap maka bagaimana dengan hidupku. Benar, sudah benar aku akan menikah dengan Bang Ridwan. Tentu dia lebih bisa diandalkan."
Tampaknya Cita telah memantapkan hatinya untuk menikah dengan Ridwan. Jika kemarin dia masih ragu amka sekarang tidak. Hal yang membuatnya mantap menikah dnegan Ridwan ya tentu karena ia yakin Hari tidak akan selamat dari hukuman kurungan.
Hari memarkirkan motornya di halaman kantor polisi. Sejujurnya dia takut tapi tentu ini harus dihadapi.
" Saudara Hari, mari ikut saya."
Hari mengikuti seorang polisi. Dalam ruangan itu pemeriksaan dilakukan. Ia mendapat banyak pertanyaan dari pihak polisi. Sekitar 2 jam Hari ada di dalam tuangan itu.
" Baiklah Pak Hari, kami akan menjadwalkan untuk pemeriksaan kedua. Saat itu saya akan meminta istri Nada juga hadir di sini. Kalian akan melakukan mediasi nanti."
" Baik pak terimakasih."
Hari melenggang pergi, sebuah pemikiran masuk ke kepalanya. Akankah Ratih mau menemuinya kembali setelah apa yang sudah ia perbuat kepada hidup wanita itu?
TBC
__ADS_1
Hay pembaca ku ... Pelunas hutang akan aku kelarin. Karena ternyata dia lulus kontrak. Padahal retensi nggak dapat. Hahaha ya sudah nggak apa, paling sekitar 5-6 bab lagi tamat. Terimakasih, kalau karya ini memang tidak suka di skip tidak apa-apa kok. Terimakasih semua pembacakuuuu....