
Raka meminta persetujuan Ratih untuk mengurus semua proses perceraian ke pengadilan Agama. Setelah beberapa hari akhirnya Ratih mulai kembali sehat. Setiap hari Fitri selalu memberi Ratih semangat sehingga perlahan Ratih menerima takdir yang saat ini menimpanya.
Ratih juga setuju saat Raka mengajukan diri mewakilinya mengurus perceraian. Pria itu mengatakan kepada Ratih bahwa semuanya akan lebih mudah terlebih Hari juga sudah menjatuhkan talak.
" Baiklah kalau begitu, adakah tuntutan yang kamu inginkan?" tanya Raka sebelum ia pergi dari rumah Ratih.
" Tidak ada mas, bisa lepas dari pernikahan ini sudah cukup bagiku," jawab Ratih masih dengan nada sendu.
Raka mengangguk, ia pun segera pergi dari rumah Ratih setelah berpamitan kepada ibunya. Fitri masih tetap berada di rumah Ratih untuk menemani.
" Maafkan saya ya bu, ibu jadi repot begini. Kalau ibu mau pulang saya sudah tidak apa-apa kok. Kasihan bapak bu."
Ratih sungguh merasa tidak enak. Banyaknya bantuan yang ia terim dari Raka dan keluarganya, entah bagaimana ia akan membalasnya.
Tangan Fitri meraih kepala Ratih dan mengusapnya dengan lembut."Jangan merasa tidak enak, ibu seneng bisa bantu. Kamu mengingatkan ibu kepada Raya, anak ibu yang gagal ibu besarkan. Dia meninggal di kandungan saat usia 7 bulan."
Ratih tentu terkejut mendengar ucapan Fitri. 7 bulan? Berarti tubuh bayi sudah terbentuk sempurna bahkan jika lahir pun sudah bisa digendong. Tatapan Ratih sendu ke arah Fitri. Itu jelas lebih menyakitkan dari pada apa yang dia alami.
" Maaf bu, saya tidak~"
" Tidak apa nak, ini sebagai sharing saja. Hidupmu insyaAllah masih panjang maka jangan kamu berhenti di sini untuk terus menangisi yang sudah terjadi. Kamu masih bisa memiliki anak jika kembali menikah."
Ratih hanya diam. Menikah? Entahlah. Dia merasa belum siap untuk itu. Apalagi kejadian Hari begitu membekas di hatinya. Rasa sakit itu masih begitu nyata.
Sebuah hal yang saat ini terbesit dalam pikiran Ratih yakni mengembalikan lagi dirinya menjadi seperti yang dulu. Mandiri dan hidup sendiri. Ya, dia lebih bahagia saat sendiri. Meski kadang sepi menggelayut namun itu tidak jadi soal.
__ADS_1
Tok ... Tok ... Tok ...
Pintu rumah Ratih di ketuk. Ia bergegas keluar dari rumah. Ternyata dua orang petugas kepolisian yang datang. Sebuah surat diberikan salah satu polisi kepadanya. Ratih membukanya dnegan cepat. Sebuah hembusan nafas Ratih keluarkan.
" Apakah saya boleh untuk tidak menghadiri mediasi ini. Lagi pula, saya dan saudara Hari sudah berpisah. Dia sudah menjatuhkan talak pada saya. Jadi agaknya mediasi di kantor polisi tidak di butuhkan."
Ratih sungguh enggan menemui Hari. Ia rasa urusan dirinya dan mantan suaminya itu sudah usai. Terserah mau apa kelanjutan laporannya Ratih tidak peduli. Saat ini baginya bisa lepas dari Hari dna keluarganya sudah lebih dari cukup.
" Baiklah kalau begitu. Lalu bagaimana dengan laporan Anda Bu Ratih."
Ratih terdiam, dia juga tidak tahu bagaimana kelanjutannya.
" Biar nanti pengacara Ratih yang memberi keterangan pak polisi." Fitri dari dalam rumah keluar dan berdiri di samping Ratih. Polisi itu paham lalu pamit untuk undur diri.
" Bu, kalau ibu mau pulang dulu Ratih tidak apa-apa. Ratih sudah baik-baik saja bu. Insya Allah Ratih tidak akan berbuat nekat. Kasihan bapak kalau ditinggal lama-lama."
Fitri diam sejenak. Ia mencoba mencari tahu kebenaran omongan Ratih melalui sorot mata wanita itu. Sebuah kesungguhan ada di sana. Fitri pun mengangguk, " Baiklah kalau begitu. Simpan nomor ibu. Jangan sungkan untuk menghubungi cerita saja jika ingin bercerita. Anggap aku ini ibu mu sendiri."
" Terimakasih banyak buk."
Ratih menghambur ke pelukan Fitri. Ia merasa begitu nyaman di sana. Satu hal yang sudah lama tidak ia rasakan adalah pelukan seorang ibu.
🍀🍀🍀
Di tempat lain tepatnya di sebuah butik yang sekaligus sanggar rias, seorang wanita tengah memilih gaun apa yang pas untuk dia kenakan. Rencananya ia akan berganti pakaian dua kali saat acara pernikahan nanti. Kebaya untuk akad dan gaun untuk resepsi.
__ADS_1
" Bagaimana mbak Cita, ini koleksi terbaru kami. Baru saja diangkat dari penjahit. Masih beneran baru dan mbak Cita adalah orang pertama yang akan memakainya.'
Sang pemilik butik terlihat merekomendasikan apa yang dia miliki kepada calon pengantin. Ya, tanpa didampingi oleh calon suaminya Cita memilih baju dan rias sendiri untuk acara pernikahannya.
" Apakah boleh di coba?" tanya Cita.
" Tentu saja boleh."
Cita diantar ke ruang ganti. Ia mencoba dua baju pilihannya sekaligus lalu meminta tolong kepada karyawan butik unyuk mengambil gambar.
Tring
Rupanya foto itu ia kirimkan ke pada Ridwan. Dengan membubuhkan kata-kata manis, Cita yakin Ridwan akan menyukainya. Namun, setelah beberapa saat berlalu Cita sama sekali tidak menerima balasan dark Ridwan.
" Huuft tidak dibalas," keluh Cita lirih.
" Bagaimana Mbak Cita, apakah mau yang ini saja apa yang lain?"
" Yang ini aja mbak. Untuk DP nya nanti saya akan bilang kepada calon suami saya untuk transfer."
Dirasa cukup, Cita segera pergi dari tempat itu. Ia agak merasa sedikit aneh dengan sikap Ridwan akhir-akhir ini. Biasanya calon suaminya itu akan rutin menanyakan kegiatannya tapi ini tidak. Bahkan chat nya sering kali tidak dibalas.
" Apa mas Ridwan sangat sibuk sehingga dia mengabaikan pesanku. Padahal hanya tinggal hitungan hari kita menikah."
TBC
__ADS_1