
H-1 menuju pernikahan Cita dan Ridwan, sebuah gedung yang Ridwan sewa tentu sudah siap. Awalnya dekorasi dan rias pengantin diserahkan oleh Cita namun beberapa hari sebelum acara, Ridwan mengatakan kepada Cita untuk membatalkan semuanya karena dia sudah menyiapkannya.
Cita tentu bersorak senang. Akhirnya Ridwan ikut andil dalam acara pernikahan mereka berdua.
" Aku pikir Bang Ridwan berubah, ternyata tidak. Nyatanya tidak, bang Ridwan malah menyiapkan segala sesuatu nya."
Saat ini Cita sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya. Bapak dan ibu Cita tentu senang sebentar lagi putrinya akan menikah. Terlebih Ghofar, ayah dari Ridwan merupakan seorang yang terpandang.
Cita yang sedang berada di kamar sedang membuka beberapa lingerie yang akan ia gunakan untuk malam pertama mereka nanti. Ya, Cita sengaja membelinya 3 hari lalu. Ia akan melakukan yang terbaik untuk Ridwan nanti.
" Hoeek ... kok perut aku eneg banget ya. Perasaan nggak salah makan juga. Hoeeeek ... ."
Cita berlari ke kamar mandi. Perutnya seperti di aduk-aduk saat ini. tapi herannya tidak ada yang keluar dari sana. hanya cairan bening saja.
" Ini kenapa. Apa aku amsuk angin. tapi aku nggak pernah keluar malam, apa lagi sekarang aku nggak kerja. Sebentar."
Cita kembali berlari masuk ke kamar. ia melihat kalender di ponselnya, sebuah kalender yang biasa ia gunakan untuk menandai hari menstruasi nya.
" Tidak, aku sudah telat hampir seminggu. Seharusnya minggu lalu aku haid. Tapi aku belum juga haid hingga hari ini."
Cita jelas panik. Ia meraih kunci motonya dan juga jaket. Cita menuju apotek terdekat untuk mencari alat tes kehamilan. Pikiran Cita sungguh salut. Ia berharap dugaannya salah dan ini hanya masuk angin biasa
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan,Cita bergegas untuk pulang. Ia kembali masuk ke kamar dan langsung ke kamara mandi.
__ADS_1
" Pleaseee... ku mohon, jangan sampe aku hamil. Tidak aku tidak boleh hamil. bagaimana kalau aku beneran hamil."
Cita terus memohon agar apa yang ia pikirkan tidak benar. Beberapa saat berlalu, lambat laun garis samar itu begitu jelas doi sana. Garis dua dalam alat tes kehamilan itu terlihat begitu jelas. Cita langsung jatuh lemas di lantai kamar mandi.
" Tidak, aku bisa menyembunyikan ini, Bang Ridwan dan keluarganya tidak boleh tahu."
Drtzzzzz
Cita terkejut saat ponselnya berbunyi. Nama Ridwan terpampang di layar pipih itu. Cita mengatur nafasnya sebelum menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan telepon Ridwan.
" Ya Bang ada apa?"
" Besok datang jam 7 ya semua sudah ku siapkan. kamu dan kedua orang tua mu tinggal datang saja."
Cita bernafas lega. Tinggal besok dan semuanya pasti akan aman. Ia yakin kehamilannya tidak akan diketahui. ia hanya perlu menahan rasa mual nya agar tidak dicurigai.
🍀🍀🍀
Raka bersama kedua orang tuanya berada doi rumah ratih. Gugatan yang lakukan Ratih berhasil. Keputusan cerai sudah dijatuhkan dari pengadilan. Kini status ratih sudah lagi sendiri dan ia tidak punya lagi hubungan dengan Hari. Ratib benar-benar lega.
" mungkin ini sedikit ironi nduk, tapi selamat akhirnya kamu berhasil cerai juga dengan pria itu," ucap Fitri.
" He he he, terima kasih bu. tapi memang iya. Saya sungguh bahagia dengan keputusan ini."
__ADS_1
Ratih tersenyum, senyum yang membuat rak sungguh tidak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang duduk di depannya itu.
" Ekheeem ... ." Barja mengeluarkan suara untuk menyadarkan Raka. Pria itu pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" oh iya Tih, apa rencanamu setelah ini?"
" Healing mas hahaha. Yang jelas aku sekarang mau buka orderan dulu untuk usaha catering dan kembali lagi aktif di toko. Toko sudah lama banget aku tinggalin."
Jawaban Ratih membuat Raka langsung lemas. Meskipun tidak jelas bahwa Ratih ingin menikmati kesendirian setelah bercerita, tapi jelas sekali itu tersirat dari kata-kata yang Ratih ucapkan.
" Sabaaaaar, ditunggu saja sambil terus berjuang. Kalau jodoh tidak akan kembali," bisik Fitri tepat ditelinga putra nya.
Keempat orang tersebut kembali bercengkrama. Bisa Raka lihat, Ratih benar-benar bisa lepas saat berbicara dan tertawa.
" Oh iya, besok ikut kami ke sebuah acara. Tapi akau harap kamu tidak terkejut nanti Tih," ucap Raka tiba-tiba.
" Acara apa mas?"
" Ikut saja besok, acaranya MAs Ridwan."
Ratih sedikit bingung, tapi ia hanya mengangguk setuju dengan ajakan dari Raka.
TBC
__ADS_1