Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang

Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang
Suami Peluna Hutang 23


__ADS_3

Hari termenung di teras rumahnya. Ia tidak ingin berangkat kerja sama sekali. Rasanya otaknya sedang tidak sinkron jika harus mengoperasikan mesin di tempat kerjanya.


" Kamu ngak kerja Har. Bukannya shift malam?" tanya Sarti kepada sang putra.


" Males buk, pikiranku lagi nggak tahu kemana. Nanti malah ndak konsen, kan bahaya," jawab Hari asal.


Sarti hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bukankan kemarin putranya itu ngotot sekali ingin bercerai dnegan Ratih, tapi setelah menalak Ratih, Hari seperti menyesal.


" Kapan kamu akan menikahi Cita?"


" Entahlah buk, Cita sudah bertunangan dan mungkin sebentar lagi akan menikah. Apakah aku masih punya kesempatan atau tidak aku jelas tidak tahu."


Lagi-lagi Sarti merasa heran. Hari benar-benar tidak seperti beberapa waktu lalu. Dilihatnya, Hari sangat tidak bersemangat membicarakan soal Cita.


Tidak mau ambil pusing, Sarti memilih masuk ke dalam rumah. Anak-anaknya sudah besar pasti sudah bisa memutuskan apa yang akan dia jalani di dalam hidupnya.


" Ada apa denganku. Mengapa aku jadi kepikiran Ratih ya. Laku siapa tadi dua orang tua yang bersama Ratih aku sama sekali tidak mengenalnya."


Hari bergumam, ia pun akhirnya memilih untuk masuk ke rumah lalu masuk ke kamarnya. Kamar yang sekitar sebulan lebih ia tinggalkan itu kini ia tempati kembali. Hari membuang nafasnya kasar. Ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya diatas kasur.


Drtzzz


Ponselnya bergetar, Hari melihat sekilas siapa yang menghubunginya. Ternyata itu Cita, tapi entah mengapa Hari enggan menjawabnya. Ia memilih mengaktifkan mode hening lalu meletakkan kembali ponselnya.


Di seberang sana tepatnya di kost-an Cita berdecak kesal saat panggilannya tidak dijawab. Sebuah pikiran melayang kemana-mana.


" Apa Mas Hari sedang sibuk dengan istrinya? Apa dia sedang mengelus-elus perut istrinya itu? Arghh tidak. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi."

__ADS_1


Cita seperti kebakaran jenggot, ia membayangkan Hari bermesraan dnegan Ratih. Sehingga membuat ia terbakar cemburu. Malam itu juga Cita mengendarai motornya dan menuju ke kediaman Ratih. Sepanjang jalan pikirannya tertuju kepada Hari. Sungguh aneh, dia padahal sudah setuju menikah dnegan Ridwan tapi wanita itu masih mengharapkan Hari di sisi nya.


Cita akhirnya sampai di dekat rumah Ratih. Ia melihat tidak ada motor Hari di sana. Saat mau turun dilihatnya seorang pria yang bukan Hari.


" Itu cowok bukan Mas Hari, apa saudara Ratih. Dan itu ada ibu-ibu juga. Berarti Mas Hari tidak ada di sini, lalu kemana dia. Di rumah, sepertinya iya."


Brummm


Cita menyalakan motornya kembali. Kali ini tujuannya adalah rumah Hari. Entah apa yang dipikirkan wanita itu karena tidak biasanya ia mencari Hari sampai segitunya.


Rumah Hari terlihat sepi. Padahal ini baru jam 19.00. Cita memarkirkan motornya lalu turun dna mengetuk pintu rumah Hari.


Tok tok tok


Suara langkah kaki mendekat ke arah pintu lalu terdengar bunyi kunci yang diputar.


" Oh, Cit, ada apa?" Rupanya Sarti yang keluar membuka pintu. Cita sedikit melongok ke dalam.


" Mas Hari buk, apa Mas Hari di sini?"


Sarti mengangguk lalu meminta Cita untuk masuk. Wanita paruh baya itu langsung meminta Cita untuk ke kamar karena Hari memang berada di kamar. Cita mengangguk, ia bernafas lega karena Hari tidak di rumah bersama Ratih seperti yang ia pikirkan.


" Mas ... "


Cita memanggil Hari dengan suara manja dan sambil mengusap punggung pria itu. Ya, Hari tidur tengkurap tanpa mengenakan baju. Tentu saja hal itu membuat hasrat Cita naik. Sebenarnya ia mencari Hari karena memang ingin.


" Sayang," panggil Cita lagi saat Hari tidak menunjukkan respon sama sekali. Akhirnya pada panggilan ketiga Hari menggeliat. Ia sedikit terkejut saat melihat Cita berada di kamarnya.

__ADS_1


" Ueeehmm Cit, kamu di sini? Sejak kapan?"


Cita merangsek naik ke atas sambil membuka kancing bajunya satu demi satu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Tentu saja Hari terkejut. Bukannya mendapat jawaban malah mendapat suguhan bukit kembar sintal yang terekspose jelas di depan matanya. Cita sudah membuka semua pakaian bagian atas yang melekat di tubuhnya.


" Mas, aku kangen."


Jika biasanya Hari langsung menyerang Cita saat posisi Cita sudah seperti itu tapi kali ini tidak. Hari malah mengambil selimut lalu menutupkan kepada tubuh Cita. Terang saja Cita terkejut atas ulah Hari tersebut.


" Kenapa mas? Mas nggak mau lagi? Apa mas sudah dapat dari Ratih sehingga sudah tidak menyukai milikku?"


" Bukan begitu, aku hanya sedang tidak ingin. lagian Aku dan Ratih tidak pernah melakukan hubungan setelah malam pertama kami. Dan aku sudah menjatuhkan talak untuk dia juga."


Cita tersenyum lebar mengetahui fakta tersebut. Sungguh rasanya ia ingin bersorak saat ini. Jika ini adalah rumahnya pasti ia sudah melakukannya.


Cita kembali membuka selimut yang menutupi tubuh bagian atasnya. kini dia mulai melepas celana miliknya sehingga tubuhnya benar-benar polos. Dengan percaya diri Cita berjalan ke depan Hari lalu duduk dipangkuan pria itu. Cita meraba dada Hari, tangannya bergerak terus kebawah hingga menemukan apa yang dia cari.


" Mas, please aku mau," cercau Cita sambil mengusap dan memijit pelan benda milik Hari.


Sebagai pria normal jelas Hari langsung terangsangg dengan ulah Cita. Ia pun menjatuhkan tubuh Cita ke atas tempat tidur dan membuka kaki Cita dengan lebar. Tanpa melakukan pemanasan, Hari langsung mengarahkan miliknya ke milik Cita.


Sebuah teriakan keluar dari bibir Cita yang langsung dibungkam oleh bibir Hari. Hari memacu tubuhnya dia tas tubuh Cita, dan ia pun mendapatkan pelepasan. Kali ini dia tak lagi mengeluarkan benihnya di luar. Dengan sadar dan yakin Hari menyemburkan benihnya di dalam tubuh Cita.


" Mas, mengapa tidak lembut seperti biasanya. Dan apa tadi kamu menembaknya di dalam?"


" Iya, apakah kamu keberatan? bukankah aku sudah berpisah dengan Ratih, maka putuskan hubunganmu dengan Ridwan. Seperti itu bukan kesepakatan kita."


Hari langsung bangkit dari atas tubuh Cita lalu memakai pakaiannya kembali. Cita terdiam, kini dia merasa gamang. Apakah dia harus memutuskan hubungannya dengan Ridwan saat persiapan pernikahan mereka sudah berjalan 50%.

__ADS_1


TBC


__ADS_2