Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang

Hanya Sebatas Suami Pelunas Hutang
Suami Pelunas Hutang 25


__ADS_3

Malam itu Ridwan menghubungi Cita, ia ingin bertemu dnegan wanita itu. Cita yang saat ini berada di rumah Hari pun bergegas untuk kembali ke kontrakan. Tapi sepertinya tidak sempat.


" Bang Ridwan, kita ketemu aja di lokasi ya. Abang nggak usah jemput aku," ucap Cita. Tentu dia tidak ingin ketahuan oleh Ridwan. Awalnya ia senang Hari sudah menjatuhkan talak kepada Ratih dengan begitu ia bisa kembali pada pria tersebut. Namun rupanya kini dia tidak berpikir begitu. Cita tetap ingin menikahi Ridwan terlebih Ridwan memiliki status sosial yang tinggi yang dapat menunjang kehidupannya kelak.


" Baik sayang, aku tunggu di tempat makan yang biasa kita datangi," jawab Ridwan. Sebenarnya ia sungguh ingin muntah saat mengatakan hal tersebut. Tapi, ini harus dilakukan agar rencana yang ia susun berhasil.


Farah, ibu dari Ridwan mengerutkan kedua alisnya mendengar ucapan sang putra sulung. Ia tidak mengerti sama sekali apa yang sedang direncanakan oleh Ridwan.


" Katanya tadi pernikahan tidak akan terjadi, tapi kenapa kamu mau nemuin wanita itu bahkan bunda dengan kamu memanggilnya sayang."


" Bund, ini namanya akting. Harus senatural mungkin. Sudah jangan ikut memikirkan hal ini. Oh iya bund, besok rencana Ridwan mau jenguk Ratih, apa ibu mau ikut?"


Farah mengangguk, ia juga ingin tahu kondisi Ratih. Fitri sudah cerita banyak sola Ratih maka dari itu Farah pun ingin bisa bertemu. Dari cerita Ridwan, Ratih sungguh wanita yang baik.


" Ikut, bunda ingin tahu bagaimana Ratih hidup dnegan begitu kuat sudah menghadapi banyak cobaan. Sungguh berat apa yang dia alami. Semoga mental health nya selalu terjaga," ucap Farah tulus. Ia tentu bisa memahami bahwa kejadian yang menimpa Ratih itu bisa saja merusak kesehatan mentalnya. Saat ini Ratih bahkan tidak memiliki sandaran. Beruntung Fitri ada di sana untuk menemani.


" Baiklah kalau begitu bund, aku harus pergi untuk menemui Cita."


Farah mengangguk, ia sungguh tidak menyangka bahwa pernikahan yang diharapkan harus bubar. Tapi Farah bersyukur, semua itu diperlihatkan oleh Tuhan sekarang. Dari pada hal tersebut terungkap setelah Ridwan menikah. Ia sungguh berterimakasih dan bersyukur putra sulungnya itu masih dilindungi dari orang-oran yang bisa dikatakan licik.


Kali ini Ridwan tidak menggunakan mobilnya. Ia memilih mengendarai motor. Lagi pula dia tidak harus menjemput Cita di kostnya. Satu hal yang ia syukuri sebenarnya.

__ADS_1


Saat memarkirkan motonya, bisa Ridwan lihat Cita sudah berada di sana. Pria itu mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Rasanya begitu malas dan enggan sebenarnya Ridwan menemui Cita. Bayangan percintaan Cita dan hari membuat pria itu muak. Tapi ini memang harus dilakukan, ia kan membalas rasa sakit hatinya dan tentunya rasa sakit hati Ratih kepada dua orang tersebut.


" Hay Ta, apakah sudah lama menunggu. Maaf ya," sapa Ridwan dengan nada bicara yang ia buat senetral mungkin.


" nggak kok bang, aku baru saja sampai juga," jawab cita tak kalah lembutnya. Namun itu sekarang tidak berarti lagi untuk Ridwan. Mata Ridwan memicing saat melihat sesuatu di leher Cita. Meskipun kerah kemeja Cita lumayan tinggi tapi Ridwan masih bisa melihat kiss mark yang ada di sana.


" Murahan!" gumam Ridwan lirih dan sama sekali Cita tidak mendengarnya. Ia lalu memanggil seorang waiters untuk memesan makanan.


" Oh iya Ta,untuk pernikahan kita, kita adakan di gedung X saja ya. di rumahku ternyata tidak boleh menggunakan jalan."


" Ikut pengaturan abang saja. Dimana pun tempatnya yang penting menikah dengan abang aku mau-mau saja."


Ridwan rasanya sungguh ingin muntah saat mendengar ucapan dari Cita. Sungguh munafik, itulah yang saat ini ada di dalam pikiran Ridwan mengenai Cita.


" Oke kalau gitu, untuk gaun pengantin pilihlah yang kamu suka aku akan ikut saja. Nanti tinggal kabari aja oke."


" Baik bang, aku sudah punya pilihan. Nanti aku akan mengabari bang. Thanks untuk makan malamnya bang."


Cita menaiki motornya dan berlalu dari tempat parkir restoran tersebut pun dengan Ridwan tapi Ridwan tidak pulang ke rumah. Ia berinisiatif untuk mengikuti Cita. Dan benar saja, wanita itu tidak mengendarai motor ke arah kost nya melainkan ke arah lain. Ridwan dengan jarak aman terus mengikuti Cita.


" Apa dia pulang ke rumah mantan suami Ratih?"

__ADS_1


Dugaan Ridwan terbukti saat Cita berhenti di depan sebuah rumah. Di depan rumah tersebut seorang pria berdiri menyambut Cita dnegan sebuah ciuman.


" Dasar jalangg, dua orang itu benar-benar tidak tertolong."


Ridwan tidak segera pergi. Ia bahkan memarkirkan motornya lalu berjalan pelan dan mengendap ke arah rumah Hari.


" Ibu kemana mas?" tanya Cita kepada Hari.


" Ke rumah mbak Watik. Tadi Bu Mira yang menghubungi ibu ke sana. katanya Mbak Watik sakit," jawab Hari.


Tidak menunggu lama, Cita mulai meraup bibir Hari dan menciumnya dengan menggebu. Wanita itu bahkan mulai melepaskan pakaiannya satu persatu.


" Hei, apa ini. Apa mau melakukannya di sini hmm?"


" Mumpung ibu nggak ada mas, siapa tahu sensasinya berbeda. Kita bisa melakukannya dengan banyak gaya."


Hari jelas senang dengan ulah nakal Cita. Itulah yang hari sukai dengan Cita. Wanita itu selalu mencari cara baru dalam setiap mereka berhubungan.


Di luar rumah, Ridwan rasanya ingin muntah melihat kelakuan dua orang itu. Perutnya seakan diaduk-aduk. Tapi Ridwan harus menahan hal tersebut. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam.


" Sungguh sangat menjijikkan. Tapi ini akan jadi kejutan yang indah nanti."

__ADS_1


TBC


__ADS_2