
Ratih menangis, air matanya masih susah untuk di bendung. Bukan menangisi perpisahannya dengan Hari tapi menangisi Janin yang tidak bisa diselamatkan. Rasanya separuh dunianya hilang. Kemarin dia berusaha kuat karena ada kehidupan di dalam rahimnya tapi kini semuanya hilang.
" Nduk istigfar, sudah cukup kamu menangisinya. Ingat nduk Allah tidak menyukai yang berlebihan. Kita boleh kehilangan tapi tidak boleh menyalahkan takdir yang ditentukan."
Fitri berucap lembut kepada Ratih. Ia sangat tahu seperti apa rasanya kehilangan anak yang begitu diharapkan.
" Tapi buk, Sekarang Ratih tidka lagi memiliki siapapun. Allah sungguh sangat tega terhadap saya. Kedua orang tua saya sudah dipanggil, dan ketika saya bahagia karena saya akan memiliki anak, Dia juga mengambilnya."
Ratih mengatakan hal itu dengan terisak. Fitri sungguh iba melihat wanita itu. Ratih benar-benar sebatang kar. Jika ia masih beruntung karena memiliki orang tua dan kaka, tapi Ratih tak.
Fitri pun kembali memeluk wanita muda itu, ia membiarkan Ratih menangis sepuasnya. Sebuah ide muncul di kepala Fitri. Ia akan sementara tinggal bersama gadis itu untuk beberapa hari.
Fitri membawa Ratih ke kamar dan memintanya untuk beristirahat. Tak berselang lama Ratih pun tertidur Fitri kemudian menghubungi sang suami yang memang tadi sudah pulang duluan.
" Assalamualaikum pak."
" Waalaikumsalam buk, gimana ratih buk?"
" Pak, bolehkah ibuk di sini untuk beberapa hari. Kondisi anak itu sungguh memperihatinkan. Aku kasihan, dan sebenarnya khawatir. Aku khawatir dia nekat melakukan hal yang buruk. Ratih adalah yatim piatu, dia hidup sebatang kara. Apa yang menimpa hidupnya sungguh berat."
" Baiklah buk tidak masalah, nanti bapak akan membawakan beberapa baju ibu. Temani lah anak itu dulu. Bapak juga kasihan."
Fitri bernafas lega, suaminya sungguh pengertian. Melihat bagaiman Ratih diperlakukan oleh Hari membuat Fitri banyak bersyukur mendapatkan suami seperti Barja. Meskipun ia kehilangan hal terpenting bagi seorang ibu yakni rahimnya tapi atas support sang suami, Fitri bisa menerimanya.
" Semoga kebahagiaan segera menghampirimu Ratih," doa Fitri tulus kepada wanita muda yang belum lama ia kenal itu.
 Diseberang sana Barja mulai membereskan beberapa baju dan jilbab milik sang istri. Ia memasukkannya ke sebuh dufle bag. Apa yang dilakukanya tersebut ternyata dilihat oleh Raka.
" Pak, bapak lagi apa. Bapak mau ngusir ibu?"
Plak
__ADS_1
Sebuah keplakan tangan dilayangkan Barja kepada pura tunggalnya itu. Raka terkadang kalau bicara memang suka asal. Di balik sikap wibawanya saat menangani para kliennya dan bertugas di pengadilan sebagai pengacara, pemuda itu memiliki sikap konyol.
" Mbahmu, kalau ngomong sembarangan. Bapak lagi nyiapain baju ibu soalnya ibu mau menemani Ratih untuk beberapa hari. Kasihan dia tidak punya siapa-siapa. Oh oya tadi suaminya sudah menjatuhkan talak padanya."
" Alhamdulillaah,"
Barja mengerutkan keningnya mendengar ucapan sang putra. Raka tampak begitu senang saat Barja mengatakan bahwa Ratih sudah ditalak.
" Kok kamu seneng gitu Ka?"
" Eh, itu pak anu. ya jelas seneng to. kan proses pisahnya lebih cepet. bukan begitu bapak Baja. Pak ada satu hal yang sebenarnya mau Raka katakan."
Barja menjadi penasaran dengan apa yang akan putranya itu sampaikan. Akan tetapi ia harus membereskan baju sang istri dengan cepat. Hari ini juga Barja akan mengantarkan pakaian itu ke rumah Ratih.
Jadi Barja akan menyelesaikan apa yang ia kerjakan saat ini baru mendengarkan ang putra. raka pun mengangguk, ia akan menunggu Barja di ruang depan.
Di sana Raka duduk termangu sambil kembali melihat video yang sudah berhasil ia salin dari ponsel Ratih ke ponsel miliknya. Video tentang Hari dan Cita yang sedang berhubungan badan.
Pemuda itu saat ini tengah dilanda kegamangan. Ini menyangkut kakak sepupunya dan keluarga sang ibu. Ya ayah dari Ridwan adalah kakak ibunya. Sungguh Raka menjadi bingung. Ia sendiri belum memberi lihat Video tersebut kepada Fitri.
Raka tidak menjawab tapi dia langsung memberikan ponselnya dan video itu langsung diputar. Awalnya Barja merasa heran mengapa putranya memberinya video pornoo itu tapi sesaat kemudian keheranan Barja berubah menjadi sebuah keterkejutan.
" Ka, ini?"
Raka mengangguk. ia tahu apa yang bapaknya maksud. Barja langsung menyandarkan tubuhnya di sofa. Ini jelas harus diberitahukan kepada sang istri.
" Ayo ke rumah Ratih dan beritahu ibumu."
Raka langsung berdiri, ia meriah kunci mobil dan langsung amsuk kesana. Barja lebih dulu mengambil tas berisi baju sang istri lalau menyusul putranya.
***
__ADS_1
Sebuah suara mobil berhenti tepat di depan rumah Ratih. Ucapan salam terdengar, Fitri jelas mengenali suara tersebut. Ia pun langsung bergegas berjalan menuju ke pintu rumah untuk membukakan pintu.
" Lho Raka juga ikut.memangnya kamu free Ka?"
" Iya buk, klien terakhir sudah beres juga dari beberapa hati yang lalu. Dimana Ratih buk."
" Tidur, kecapekan nangis. Biarkan saja."
Raka membawa masuk tas berisi pakaian milik ibunya. Ia memindai seisi rumah, sungguh rumah yang nyaman. Tidak banyak perabotan tapi sesuai porsinya. Rumah tersebut juga begitu rapi.
Sebuah foto tertempel di dinding. Foto itu adalah foto Ratih saat masih bersekolah. Seragam abu-abu itu membuat Ratih tampak begitu cantik dna imut. Sepertinya foto itu diambil saat kelulusan, karena Ratih diapit oleh dua orang tua yang Raka yakini adalah ayah dan ibu Ratih.
" Cantik."
" Ekhem, ada apa ikut kemari?"
" Eeh ibuk, itu ada yang mau Raka bicarakan. Ini sungguh penting."
Mereka kemudian berjalan ke luar dan duduk di teras. Fitri tidak mau mengganggu istirahat Ratih sehingga memutuskan untuk berbicara di luar saja. Perlahan Fitri menutup pintu lalu duduk di kursi yang ada di sana.
" Ada apa, sepertinya sangat penting."
Raka langsung memperlihatkan video yang tadi dilihat oleh Barja juga dna ekspresi Fitri persis sama seperti ekspresi sang suami. Fitri lalu menggelengkan kepalanya dna menutup mulutnya sendiri dengan tangan. Dirinya diliputi rasa jijik, marah, kesal dan lainnya.
" Bejat, dua-duanya sama bejatnya. Pria itu bahkan melakukan itu saat masih berstatus suami Ratih dan wanita itu, astaghfirullah, sungguh tidak menyangka. Wanita yang ingin Ridwan nikahi ternyata perilakunya seperti wanita malam."
" Dan kalau Raka tidak salah, dari pengakuan Ratih mereka bukan hanya sekali itu melakukannya. Hari dna Cita sudah berhubungan selama setahun jadi bisa jadi mereka sudah sering melakukan itu."
Fitri jelas tambah syok mengetahui fakta tersebut. Ini sungguh hal besar yang harus diungkap.
" Lalu apa yang akan ibu lakukan," tanya Barja kepada sang istri.
__ADS_1
" Memberitahu ayah dan bunda nya Ridwan. Harus, Ridwan juga harus tahu apa yang diperbuat calon istrinya itu."
TBC