
Ridwan yang berada di kantornya benar-benar acuh dnegan pesan yang dia dapat dari Cita. Ia bahkan mengarsipkan kontak Cita dan membisukan notifikasinya sehingga saat Cita mengirimkan pesan tidak pernah muncul pemberitahuan.
Satu hal yang Ridwan syukuri, rencana pernikahan yang akan dilakukan itu belum ia beritahukan kepada rekan-rekan kerjanya sehingga saat keputusannya ingin membatalkan pernikahan tidak menimbulkan huru-hara.
Jam makan siang, Ridwan izin untuk keluar kantor untuk menuju ke suatu tempat. KUA, dia harus kesana untuk membatalkan pernikahan yang sudah ia ajukan jadwalnya.
" Apa yakin untuk mencabut pendaftarannya mas?" tanya seorang petugas KUA.
" Iya pak, ada hal yang memang saya tidka bisa melanjutkan acara pernikahan ini."
Ridwan tentu tidak mengatakan alasan sebenarnya. Itu sungguh sebuah aib.
Urusan pembatalan pun berjalan lancar. Ridwan merasa semuanya seperti dipermudah. Saat berada di tempat parkir sebuah panggilan masuk. Rupanya itu dari Cita.
" Ya, ada apa Ta?"
" Abang lagi beneran sibuk? Kom setiap aku chat nggak pernah di balas."
" Maaf ya. Di kantor lagi banyak banget kerjaan. Atasan ada yang pindah tugas, jadi banyak yang harus dibereskan."
__ADS_1
Ridwan tidaklah bohong. Memang saat ini pekerjaannya banyak. Selain enggan menanggapi pesan Cita, dia benar-benar sedang disibukkan dnegan pekerjaan.
" Apakah bisa bertemu nanti malam. Aku kangen bang."
" Ehmmm,maaf. Malam ini pun kami harus lembur."
Nah, kali ini barulah Ridwan bohong. Ia tidka ada pekerjaan tambahan untuk malam ini. Tapi ada hak lain yang harus ia lakukan. Malam ini dia sudah janji dnegan bunda nya untuk mengunjungi Ratih.
Kabar Ratih dibawa ke rumah sakit beberapa haru yang lalu membuat Farah khawatir. Tapi mereka belum juga bisa menjenguk. Maka dari itu malam ini Ridwan berencana untuk mengunjungi Ratih.
" Baiklah kalau begitu bang. Semangat kerjanya."
" Ya."
" Ada apa dengan Bang Ridwan? Mengapa dia sekarang berubah? Apakah aku harus mempertimbangkan keputusanku untuk menikah dengannya? Tapi inu hanya tinggal menghitung hari menuju acara pernikahan."
Cita bergumam lirih di kamar kost nya. Setelah mengambil keputusan untuk menikah, Cita memang langsung resign dari pekerjaannya. Tapi sepertinya dia menyesali hal itu, pasalnya dia menjadi merasa sepi di kost an sendirian. Anehnya Cita belum punya keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
" Mas Hari, ini jadwal Mas Hari shift malam. Berarti sekarang pasti dia ada di rumah."
__ADS_1
Sebuah ide masuk ke kepala wanita itu. Lagi-lagi Hari yang jadi sasarannya. Padahal sebelumnya Cita sudah bertekad untuk menghindari Hari saat ia melihat kekasih gelap nya itu di datangi polisi. Tapi mungkin keterikatan Cita kepada Hari tidak bisa diputus begitu saja.
Cita bergegas keluar dari kamar kost nya dan langsung mengendari motornya menuju rumah Hari. Tapi ia tiba-tiba mengubah arah motornya dan melipir ke rumah Ratih. Ia penasaran dengan wanita yang sekarang jadi mantan istri Hari tersebut.
Cita memarkirkan motornya sedikit lebih jauh dari rumah Ratih. Ia mengamati dulu adakah orang yang waktu itu di sana. Merasa tidak ada siapa pun Cita berjalan mendekat ke arah rumah Ratih.
" Wohooo, nyonya sedang begitu santai ya rupanya. Bagaimana rasanya menyandang status janda sekarang hmmm?"
Ratih sedikit terkejut saat melihat Cita berdiri di depan rumahnya. Tapi saat selanjutnya Ratih tersenyum ke arah wanita tersebut.
" I feel good, jauh lebih baik saat bersama pria itu. Dan yeaah i'm happy. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari apa yang aku alami sekarang."
Ekspresi wajah Cita memperlihatkan ketidaksukaannya dengan jawaban Ratih. Harapannya adalah Ratih saat ini menangis tersedu-sedu dna menderita karena di talak oleh Hari.
" Bagaimana, apakah tidak sesuai harapan. Tck tck tck ... Jangan berharap terlalu tinggi. Kalau jatuh sungguh sakit rasanya. Bagaimana, jadi menikah dengan Hari? Lakukanlah, ambil lah pria itu untukmu sepenuhnya. Aku tidak membutuhkannya. Aaah, maaf ya aku harus masuk rumah. Rasanya tidak begitu penting untuk banyak bicara hal yang tidak bermanfaat."
Brakkkk
Ratih melenggang masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah itu dengan sedikit lebih keras. Sedangkan Cita, ia semakin kesal. Wanita itu membalikkan tubuhnya sambil menghentakkan kakinya pergi dari rumah Ratih.
__ADS_1
Di dalam rumah Ratih membuang nafasnya kasar. Satu hal yang ia ketahui, dia sama sekali tidak ada rasa marah dengan Cita. Hal itu semakin meyakinkan dirinya bahwa ia sudah ikhlas dengan perpisahan yang terjadi dalam pernikahannya.
TBC