
Dengan mata sembab dan penuh linangan air mata Cita menuju ke rumah Hari. Mau tidak mau dia harus meminta Hari untuk menikahinya jika tidak segera, perutnya akan semakin membesar.
" Mas ... Mas Hari!"
Cita berteriak-teriak sambil membuka paksa pintu rumah Hari. Ia benar-benar tidak sabar untuk berbicara kepada pria yang sudah menjadi partner ranjangnya selama setahun lebih itu.
" Apa an sih Cita, berisik. Ini masih pagi. Kamu jangan memancing keributan."
Hari langsung menarik tangan Cita dan membawanya ke dalam. Di rumah itu hanya ada Hari. Watik ada di rumah sakit dan Sarti sedang menemani. Hari ini rencana Hari adalah ke bank untuk mengajukan pinjaman yang nantinya uang tersebut akan diberikan kepada Danu untuk mengembalikan uang seratus juta yang sudah diberikan.
" Kamu harus segera menikahi aku mas?"
" Kenapa begitu terburu-buru?"
" Aku hamil mas. Aku hamil!"
Cita kembali berteriak tepat di depan wajah Hari. Hari terkejut, pria itu bahkan sampai memundurkan kakinya. Hamil, kata itu mengingatkannya kepada mantan istrinya Ratih.
" A-apa kamu yakin kalau kamu hamil?"
__ADS_1
Cita mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto testpack yang ia pakai semalam. Hari tertegun, ia bahkan menjatuhkan tubuhnya hingga ke lantai.
" Jadi, apa sudah yakin? Trus kapan kamu mau menikahi aku."
Sekarang hari bingung. Keadaannya sedang tidak baik-baik saja.kondisi keluarga nya berada dalam fase mengkhawatirkan. Saat ini Watik butuh penanganan khusus, dia harus mengembalikan uang milik Danu lalu bagaiman dia bisa menikahi Cita.
" Aku bisa menikahinya tapi hanya di KUA. Tidak ada pesta tidak ada resepsi."
" Apa? Gila kau Mas. Aku ini anak satu-satu nya. Kau tidak akan membuat acara di pernikahan kita. Bukankah dulu kau begitu menggebu untuk menikahi aku!"
" Terserah, mau atau tidak aku kembalikan lagi padamu. Jika mau, hari ini juga aku akan mengurusnya ke KUA. Aku akan pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
Hari langsung melenggang pergi. Ia menyalakan motornya dna menuju ke tempat tujuan utamanya yakni bank. Sedangkan Cita menghempaskan tubuhnya di kursi. Perutnya mendadak mual ia pun bangkit dan berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.
🍀🍀🍀
Raka mengantarkan Ratih pulang. Awalnya Raka ingin mengantarkan Ratih langsung ke toko tapi oleh Ratih di tolak. Ia harus pulang dulu untuk mengambil motor soalnya.
" Terimakasih ya mas, maaf sudah banyak merepotkan mas dan bapak ibu. Saya tidak tahu bagaimana cara membalasnya."
__ADS_1
Ratih tulus mengucapkan hal tersebut. Ia benar-benar merasa banyak berhutang budi kepada Raka dan kedua orang tuanya.
" Jangan dipikirkan. Kami ikhlas membantu kamu. Tapi jika kamu ingin membalasnya dengan senang hati kok aku terima. Aku punya caranya."
" Bagaimana mas caranya?"
" Hahaha, serius bener. Aku cuma bercanda kok. Ya sudah aku pamit dulu ya."
Ratih mengeritkan keningnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang Raka ucapkan. Ia yakin Raka ingin mengatakan sesuatu, tapi entah mengapa tidak jadi.
Drtzzz
Ponsel Ratih berbunyi. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal menghubunginya.
" Ya selamat siang. Aah begitu, baik-baik. Tentu bisa. Besok jam 9 pagi ya. Baik satu jam sebelumnya saya yakin sudah sampai. Ya, terimakasih banyak, sama-sama."
Ratih tersenyum, rupanya itu adalah seorang konsumen yang memesan snack ditempatnya untuk acara besok pagi. Totalnya 50 dus.
" Alhamdulillaah, berarti harus belanja hari ini juga. Dan pastinya minta Nia menginap di rumah untuk membantu menyiapkan semuanya."
__ADS_1
Ratih tersenyum. Bisa dilihat semangatnya kembali lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit dan sementara ini dia tidak akan memikirkan soal cinta.
TBC