Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 10


__ADS_3

Jonathan Darrel memasuki studio lukis milik Carlos dengan tas gitar dipunggungnya. Udara yang dingin tak menutupi langkahnya untuk bertemu dengan Eliza. Setelah kunjungan terakhir Eliza yang tak terduga, Jonathan mulai menaruh kepercayaan pada Eliza. Dia ingin mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan seorang diri. Jonathan yakin, mungkin dengan memberitahu Eliza soal rahasianya, gadis itu bisa percaya padanya. Setidaknya sama-sama saling mempercayai sebagai seorang teman.


Jonathan tidak melihat siapapun didalam studio. Tempatnya terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Lantas ia pun masuk lebih dalam lagi⸻saking seringnya kesini, dia sudah menganggap studio tersebut seperti rumah sendiri.


"Carlos?" Sapa Jonathan ketika dia melihat Carlos keluar dari tempat persembunyian. Tampak Carlos terkejut dengan kehadiran Jonathan yang tiba-tiba.


"Sejak kapan disini?" tanya Carlos.


"Baru sampai." Katanya, "Eliza ada?"


Carlos membuka celemek dan meletakkannya dikursi. "Dia pergi ke tempat Amelia."


"Amelia?"


Carlos mengangguk. "Um-hm, kenapa?"


Awalnya Jonathan heran, kenapa Eliza bisa pergi ke tempat Amelia, kemudian dia ingat kalau Eliza dan Amelia belum lama ini bertemu bahkan sampai bekunjung ke tempat Amelia.


Jonathan buru-buru menggeleng. "Tidak."


"Omong-omong, kenapa mencari Eliza?"


"Cuma mau mengobrol."


"Mengobrol atau pdkt?" Goda Carlos. Ya ampun, Carlos terkadang suka benar kalau bicara.


"Dasar tukang ikut campur!" Ledek Jonathan.


Carlos menanggapinya dengan tawa, lantas ia menggiring temannya ke depan, dekat meja resepsionis.


"Kenapa bawa gitar segala? Jangan-jangan kau buat lagu untuk Eliza, ya?"


"Huh, aku malas bicara denganmu." Keluh Jonathan, tak menanggapi candaan Carlos. Ia memang malas kalau sudah ditanya-tanyai begini.


"Sensi sekali, padahal cuma bercanda." Cibir Carlos. "Mau menunggu Eliza atau menyusul dia ke tempat Amelia? Sebentar lagi jam makan siang, rencananya aku mau kesana mengajak mereka makan."


"Boleh." Joshua berujar dengan cepat. "Kalian makan dimana?"


"Diujung jalan dekat toko bunga Amelia, masakan Italia." Kata Carlos.


"Hm.. aku sedang tidak ingin makan masakan Italia. Apa Eliza punya masalah soal makanan?"


Carlos menggeleng. "Tidak. Justru dia orangnya sulit diajak makan. Dia akan makan apapun, tapi sulit untuk disuruh makan."


"Hah? Memang dia begitu?"

__ADS_1


"Iya!" Seru Carlos. "Makanya dia sangat kurus, aku jadi khawatir pada kondisi kesehatannya."


"Pantas dia sakit kemarin." Kata Jonathan.


"Oh iya, omong-omong, kau mengajak Eliza ice skating ya saat malam natal?" Carlos mengalihkan pembicaraan sambil memainkan ponselnya⸻mengirim pesan pada Amelia.


"Um, iya. Kau mau ikut?"


"Sayang sekali, aku ada janji lain dengan Amelia. Kami akan pergi ke Broadway."


"Wah, sepertinya menyenangkan. Apa aku perlu ajak Eliza juga kesana?"


Carlos menaikkan bahunya, sedikit ragu. "Aku tidak yakin, tapi Eliza pasti tidak mau."


"Kenapa? Pasti karena membosankan."


"Tidak. Dia tidak mau bertemu dengan teman-temannya. Dia dulu anak teater dan memutuskan keluar dari sanggar, sebelum pergi ke New York. Aku tidak tahu alasan dia keluar, padahal dia adalah kandidat pemeran utama untuk pementasan malam natal nanti."


Dari cerita Carlos saja, semua orang bisa menduga, Eliza Fern menyembunyikan sesuatu dari orang terdekatnya. Gadis yang misterius. Jonathan penasaran, apa yang membuat Eliza Fern menolak tawaran pemeran utama⸻dan tunggu, Eliza anak teater? Wah, Jonathan baru tahu. Pantas saja gadis itu punya suara yang bagus.


"Dia punya masalah?"


"Mungkin. Dia tidak pernah cerita lebih jauh, aku juga tidak berani memaksa. Aku hanya bilang kalau dia bisa cerita apapun padaku kapan saja." Kata Carlos, "hm.. omong-omong, Amelia bilang kita bisa ke tempatnya sekarang, jadi mau ikut?"


"Tentu saja!" Seru Jonathan, "berangkat sekarang?"


Selepas ditinggal Carlos, Jonathan mulai memikirkna tentang Eliza. Kira-kira apa yang terjadi pada gadis itu sampai dia harus keluar dari sanggar teater?


Eliza juga tidak pernah bilang apapun soal teater pada Jonathan. Jonathan bisa membaca bahwa ada yang disembunyikan oleh Eliza, mungkin ada hubungannya dengan kepergiannya ke New York.


Beberapa saat berlalu, Carlos kembali dari tempat persembunyiannya dan sudah ganti baju. Dia kaget melihat Jonathan yang termenung sendiri, seolah memikirkan sesuatu. Carlos pun memutuskan untuk menghampiri temannya.


"Hoi!" Carlos menepuk bahu Jonathan, otomatis laki-laki itu terlonjak, membuat Carlos tertawa. "Apa yang kau pikirkan, huh?" tanyanya masih sambil tertawa.


"Tidak ada yang lucu. Kau terlalu lama, tahu!?" Sungut Jonathan.


"Ya, maaf saja, kan aku mau kencan." Carlos masih terkikik. "Ayo, berangkat! Amelia sudah menunggu."


...-οΟο-...


Eliza Fern meletakkan pot bunga anturium didekat jendela toko, setelah melayani pelanggan terakhir. Hari ini toko cukup ramai, untung saja Eliza datang dan membantu Amelia. Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya jadi Amelia yang harus melayani para pelanggan dari mulai mencarikan bunga yang diinginkan pelanggan sampai mengepaknya menjadi buket.


Eliza sempat bertanya mengapa Amelia tidak mencari orang saja untuk membantu di tokonya, dan Amelia bilang kalau dia tidak terlalu percaya pada orang lain, kecuali orang dekat yang dia kenal.


Tapi jujur, selama beberapa hari bekerja⸻membantu di toko Amelia, Eliza merasa nyaman, dia lebih senang berada dalam toko bunga ini ketimbang hanya diam seharian didalam kamar atau kadang-kadang membantu Carlos. Gadis itu lebih leluasa berbicara dengan orang lain, berbagi senyum dan tawa.

__ADS_1


Eliza punya mood yang naik turun, terkadang dia juga merasa sendirian. Untungnya, Eliza cepat bertemu dengan Jonathan. Kehadiran Jonathan membuat Eliza merasa punya teman lagi.


"Terima kasih, Eliza." Selalu kata itu yang diucapkan oleh Amelia, ketika toko sudah sepi. "Omong-omong Carlos mengajak makan siang dan dia sedang dalam perjalan kemari."


"Eh? Yang benar?"


Amelia mengangguk senang. "Omong-omong kau suka makanan Italia?"


"Pasta?"


"More than pasta."


"Tapi sepertinya aku tidak ingin makan makanan berat sekarang."


"Lalu kau mau makan apa?"


Eliza menggeleng. "Pencernaan ku sedang tidak bagus belakangan ini."


Tepat pada saat itu, suara lonceng di pintu berbunyi, tanda orang masuk. Kedua gadis tadi otomatis menoleh ke arah pintu secara bersamaan. Ternyata itu Carlos dan....


"Jonathan?" itu Eliza. Dia agak kaget melihat Jonathan tiba-tiba muncul dibalik punggung Carlos.


"Hai!" Sapa Jonathan sambil mengangkat tangannya singkat.


Amelia yang tadinya ada dibalik meja kasir, langsung berjalan ke arah Carlos. "Sayang, sepertinya kita punya masalah. Eliza bilang dia sakit."


"Serius?" Carlos menatap Eliza khawatir, begitu juga dengan Jonathan.


Eliza langsung melambaikan tangannya dan menggeleng. "Tidak, tidak. Cuma sedang tidak nafsu makan saja. Aku akan cicipi makanan kalian saja nanti."


"Aku akan pergi dengan Eliza." Sahut Jonathan menyela pembicaraan mereka bertiga. "Aku yang akan ajak Eliza makan." Katanya.


Eliza menatap Jonathan dengan tatapan bertanya, dan Jonathan menanggapinya dengan senyuman. "Kita pergi kemana pun kau mau. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu juga." Ujar Jonathan lagi.


"O-oke." Jawab Eliza bingung. Meskipun dia tak mengerti, tetapi Eliza akan mengikuti Jonathan. Sepertinya laki-laki itu ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Eliza.


Eliza menatap Carlos, seolah memberitahu kalau dia ingin pergi dengan Jonathan. Mengerti dengan tatapan sang adik Carlos pun menghela napas.


"Oke, aku tidak akan memaksa." Lantas Carlos menatap Jonathan, "aku titip Eliza, ya." Setelahnya Carlos dan Amelia siap-siap untuk pergi.


Ketika Carlos dan Amelia sudah keluar dari toko, Jonathan mendekati Eliza sambil tersenyum. "Kau lapar?" tanyanya.


"Tidak juga." Sahut Eliza sambil menggeleng.


"Fish and chips?"

__ADS_1


Eliza tidak menjawab, dia hanya tersenyum. Dan Jonathan paham maksud senyum itu.


...----------------...


__ADS_2