Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 6


__ADS_3

Selepas makan bersama dibawah tadi, Eliza buru-buru naik menuju kamar, dengan alasan harus istirahat. Padahal sebenarnya dia berbohong. Setelah makan tadi, perutnya mual lagi dan dia pun berakhir dikamar mandi. Mengeluarkan isi perutnya, sesekali terbatuk-batuk. Eliza benar-benar tidak sanggup lagi untuk berdiri. Badannya lemas. Dan dia pun jatuh terduduk diatas lantai kamar mandi. Untungnya kamar mandinya berada didalam kamar, jadi setidaknya apapun yang dia lakukan tidak terdengar hingga keluar kamar.


Saat Eliza memutuskan untuk naik ke kamarnya lagi, Jonathan langsung pamit pulang pada Carlos. Mereka juga terdengar membicarakan sesuatu sebelum akhrinya Jonathan pergi. Dan saat ini mungkin Carlos sedang beres-beres di dapur.


Setelah cukup lama terduduk diatas dinginnya lantai kamar mandi, Eliza pun perlahan berdiri sembari memegang tembok. Jalannya sedikit tertatih karena tenaganya belum sepenuhnya pulih. Gadis itu pun akhirnya bisa keluar dari kamar mandi dengan langkah gontainya.


Perlahan ia pun sampai di tempat tidur dan langsung berbaring diatasnya. Ia kini menatap langit-langit kamarnya, mulai mebayangkan sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Mungkinkah ia akan baik-baik saja? Atau malah sebaliknya? Diam-diam Eliza mulai takut jika suatu hari semuanya akan terbongkar. Tetapi itu pasti akan terjadi. Kalau bukan sekarang pasti ada waktu yang tepat untuk Tuhan memberitahukan orang-orang disekitar Eliza.


Kemudian ia mengingat kata-kata Jonathan tadi, serta raut wajahnya yang menyiratkan sesuatu menyedihkan. Eliza pikir Jonathan punya rahasia yang lebih rahasia dibanding dirinya. Dan mungkin saat ini, laki-laki itu sedang berjuang untuk menjadi orang paling bahagia meski hatinya sakit. Dia bahkan bisa menghibur hati Eliza yang saat itu sedang sedih, tanpa mengungkapkan perasaan mengenai dirinya sendiri.


Dan keingintahuan Eliza mengenai Jonathan mulai meningkat. Pertama, dia tahu Jonathan adalah teman kakaknya. Kedua, Jonathan itu seorang artis youtube yang punya banyak penggemar. Ketiga, Eliza tahu ternyata Jonathan adalah orang Korea berkewarganegaraan Amerika. Hanya dalam waktu satu minggu, Eliza mengetahui tiga hal tentang Jonathan. Ia harap setelah ini Jonathan bisa lebih dekat dengannya, setidaknya laki-laki itu bisa berbagi cerita padanya meski hanya sedikit.


Karena Eliza tahu bagaimana rasanya berusaha menjadi kuat sendirian. Karena ia tahu bagaimana rasanya berjuang untuk tersenyum ketika hati merasakan kebalikannya. Karena ia tahu bagaimana rasanya sendiri ketika ia berada disekitar orang-orang yang peduli padanya.


Dan detik ini juga, ia ingin bisa lebih dekat dengan Jonathan Darrel. Apapun yang terjadi.


Ketika Eliza mau menutup mata, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari balik pintu kamarnya. Dia pun langsung membuka mata dan melirik ke arah pintu yang kini terbuka perlahan, menampilkan sosok sang kakak. Sedetik kemudian Carlos menutup pintu kamar Eliza, menghampiri gadis itu dan duduk dipinggir tempat tidur.


"Wajahmu makin pucat." katanya, lantas ia meletakkan punggung tangannya dikening Eliza. "Badanmu demam. Mau dikompres?"


Eliza menghela napas lemas. Dia pun mengangguk. Setelahnya, Eliza melihat Carlos keluar kamar tanpa menutup pintu. Beberapa saat kemudian, laki-laki itu masuk kembali ke kamar Eliza membawa sebuah baskom dan handuk kecil. Carlos duduk lagi dipinggir tempat tidur setelah meletakkan baskom yang dia bawa tadi. Selanjutnya ia memeras handuk sampai airnya keluar dan menempelkannya dikening Eliza.


"Mau aku temani tidurnya?" lagi-lagi Carlos menawarkan diri. Eliza tahu kalau Carlos kadang-kadang suka berlebihan, saking kelewat khawatirnya.


"Tidak usah. Nanti kau ketularan sakit." ujar Eliza sedikit berbohong. Sebenarnya dia tidak ingin Carlos tahu kalau dirinya belakangan ini sering mengalami gangguan pencernaan. Apalagi tadi dia sempat muntah. Bisa saja Carlos benar-benar membawanya ke dokter. Oh, matilah Eliza kalau sampai itu terjadi.


"Ya, sudah. Sekarang istirahat, ya?" katanya sambil mengusap rambut Eliza pelan.


Eliza pun mengangguk, sedetik kemudian ia tersenyum.


Carlos pun bangkit dari tempat tidur Eliza, berniat keluar dari kamar gadis itu. Tapi saat dia akan meraih daun pintu, tiba-tiba dia langsung berbalik menghadap Eliza.

__ADS_1


"Besok Jonathan mau menjengukmu." Setelahnya Carlos benar-benar menghilang dari pandangan Eliza, setelah pintu kamarnya tertutup.


Dan Eliza sadar, bahwa bukan hanya Carlos yang khawatir padanya, tetapi Jonathan Darrel juga.


...-οΟο-...


Hari ini Jonathan Darrel berencana untuk menjenguk Eliza Fern; kemarin dia juga sudah bilang pada Carlos kalau dia akan kembali lagi. Laki-laki itu keluar dari apartemennya membawa gitar dan sekeranjang buah untuk Eliza. Setidaknya hari ini dia perlu menghibur dan menemani Eliza Fern, meski gadis itu sedang sakit. Melihat wajah pucat Eliza kemarin, membuat Jonathan kasihan padanya. Selain butuh istirahat, gadis itu juga butuh orang untuk diajak berbicara. Dia juga pasti bosan kalau tidur lama-lama.


Selama perjalanan, dia sedikit bersenandung sesekali membalas sapaan orang lain padanya dengan senyum ramah; yang bisa membuat para gadis melemah. Kebanyakan yang menyapanya adalah para gadis muda. Terbayang sudah popularitas seorang Jonathan Darrel dikalangan remaja putri.


Setelah sampai di studio Carlos, Jonathan langsung membuka pintu dan mencari keberadaan Carlos ditempat persembunyiannya. Laki-laki itu sedikit mengernyit, karena Carlos tidak berada disana. Ia pun keluar dari tempat tersebut dan berniat naik ke atas. Tahu-tahu, Carlos memunculkan diri dari tangga atas, berniat akan turun. Ia sedikit terkesiap mendapati Jonathan berada di studionya. Laki-laki itu pun menuruni tangga, menghampiri Jonathan.


"Untung saja kau disini." katanya. "Aku mau menyelesaikan salah satu orderan lukisan. Tapi aku khawatir Eliza tidak ada yang menjaga. Bantu aku, ya? Dia ada diatas. Kamarnya disebelah tangga." Carlos menepuk pundak Jonathan pelan, setelahnya ia pun masuk ke tempat persembunyiannya, meninggalkan Jonathan yang terlihat kikuk ditempatnya. Sedetik kemudian, laki-laki itu pun menaiki tangga dan berjalan ke arah kamar; yang dia yakini kamar milik Eliza.


Sebelum masuk, Jonathan mengetuk pintu kamar Eliza terlebih dahulu, kemudian ia membuka knop pintu perlahan dan melihat Eliza Fern sedang bersandar ditempat tidur dengan arah pandang mengarah padanya; bisa dikatakan mereka saling bertatapan.


"Hai!" sapa Jonathan. Lalu laki-laki itu menghampiri Eliza dan meletakkan keranjang buah dimeja samping tempat tidur Eliza. "Sudah merasa baikan?" tanya Jonathan setelah ia duduk dikursi dekat jendela kamar Eliza.


"Lumayan." sahut gadis itu serak, dengan senyum yang mengulas wajah.


"Aku benar-benar merepotkan, ya?" ujar gadis itu.


"Tidak, sama sekali tidak." sahut Jonathan sambil menggeleng. "Kenapa berpikir seperti itu?"


Kali ini, Eliza mengulas senyum getir. "Aku menyusahkan semua orang, padahal mereka punya kesibukan masing-masing. Aku harap aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Makanya jangan sakit dan cepat sembuh." timpal Jonathan dengan santai.


Gadis itu memberikan senyum tipis, sangat tipis. "Kalau saja aku bisa, aku akan sembuhkan penyakitku. Bahkan penyakit semua orang."


Jonathan tidak menanggapi kata-kata Eliza, dia langsung mengambil gitarnya; yang tadi dia letakan disamping. "Katakan padaku, kau mau dengar lagu apa?"

__ADS_1


Tawaran Jonathan itu mampu membuat Eliza tertawa, meski cuma tertawa miris. "Apa saja. Apa saja yang bisa membuatku merasa seperti hidup kembali."


Jonathan tampak mengetuk-ngetuk ujung jari pada gitarnya, memikirkan lagu yang cocok dinyanyikan untuk Eliza dan sesuai dengan keadaan gadis itu.


"Oke." sahutnya. Kemudian Jonathan berdeham sedikit, dan mulai memetikkan gitarnya pelan.


"Feeling like I'm breathing my last breath... Feeling like I'm walking my last steps... Look at all of these tears I've wept... Look at all the promises that I've kept...


I put my heart into your hands... Here's my soul to keep... I let you in with all that I can... You're not hard to reach.... And you bless me with the best gift... That I've ever known... You give me purpose.. Yeah, you've given me purpose...."


Eliza diam-diam menanap memperhatikan Jonathan bernyanyi diiringi petikan gitar. Lagu ini... lagu ini begitu menyentuh. Apalagi yang membawakannya adalah Jonathan, suara laki-laki itu terdengar merdu dan mampu menyentuh bagian terdalam perasaannya.


Mata Eliza berkaca-kaca ketika Jonathan kembali menyanyikan bagian reff dari lagu tersebut. Ah, perasaannya jadi campur aduk sekarang.


"I put my heart into your hands... Here's my soul to keep... I let you in with all that I can... You're not hard to reach.... And you bless me with the best gift... That I've ever known... You give me purpose.. Yeah, you've given me purpose....Oh.. You're my everything...... Oh.. You're my everything.."


Jonathan pun mengakhiri permainan musiknya dan kini beralih menatap Eliza sambil tersenyum. "Sudah merasa baikan, atau mau dengar lagu lainnya?" timpalnya diakhir tawa pendek.


"Apapun itu aku akan dengarkan." sahut Eliza dengan senyum, kali ini senyumnya sangat lebar dan cerah, secerah sinar mentari.


Kembali Jonathan tersenyum, kemudian ia memetik senar gitarnya.


"Now Romeo and Juliet..... They could never felt the way we felt... Bonnie & Clyde, Never had the highlight.... We do.... We do... You and I both know it can't work..... It's all fun and games,'til someone gets hurt,.. And i don't,I won't let that be you... Now you don't wanna let go.... And i don't wanna let you know.... There might be something real between us two, who knew? Now we don't wanna fall but.... We're tripping in our hearts and it's reckless and clumsy,' cause i know you can't love me here...


I wish we had another time... I wish we had another place.... But everything we have is stuck in the moment... And there's nothing my heart can do.... To fight with time and space 'cause, I'm still stuck in the moment with you..."


Katakan pada Jonathan sekarang, kalau saat ini dia berhasil menaikkan mood Eliza yang tadinya memburuk. Gadis itu tersenyum sendiri sekarang dengan tatapan yang fokus pada Jonathan.


Dan Eliza menyadari sesuatu setelah memperhatikan Jonathan. Laki-laki itu ternyata tampan. Pantas saja banyak perempuan jatuh dalam pesonanya. Mungkin saat ini Eliza adalah satu dari ratusan bahkan ribuan orang pengagum Jonathan Darrel.


Ini benar-benar gila. Jonathan Darrel berhasil membuat Eliza Fern jatuh hati. Kalau saja Eliza tidak mengingat dirinya sendiri, pasti ia sudah jatuh lebih dalam pada Jonathan. Hanya dalam waktu satu minggu laki-laki itu berhasil mengisi hati Eliza.

__ADS_1


Berada didekat Jonathan Darrel bukan hal baik, Jonathan sangat berbahaya bagi kesehatan Eliza, terutama untuk kesehatan jantungnya. Dan parahnya lagi, sekarang Eliza tidak dapat membedakan apakah ia masih demam atau tidak.


...----------------...


__ADS_2