
Eliza duduk sembari menyadarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Hari minggu ini kegiatannya tidak banyak. Setalah bangun tidur, mandi dan makan, ia berakhir duduk di kursi meja belajar dengan pandangan yang menerawang. Tidak tahu akan melakukan apa. Beberapa saat kemudian, Eliza tersadar akan sesuatu. Ah, kenapa baru sadar sekarang? Batinnya.
Gadis itu pun membuka dan mengaktifkan laptop dihadapannya, setelah itu, Eliza mulai sibuk dengan benda tersebut. Entah apa yang dilakukannya. Sedetik kemudian, ia tersenyum dan menekan tombol 'enter' pada laptopnya.
"Hai, lama sekali tidak menyapa. Bagaimana kabar kalian?"
Eliza Fern tersenyum sekilas setelah melihat dan mendengar video Jonathan Darrel yang baru saja ia putar melalui youtube. Laki-laki itu baru dua jam yang lalu mengunggah video. Kali ini apa yang akan laki-laki itu lakukan? Pikirnya.
"Baiklah, kali ini aku akan membawakan lagu One Call Away milik Charlie Puth. Kurasa lagu ini cocok untuknya." kemudian Eliza melihat ekspresi laki-laki itu berubah, terlihat dari caranya mengerutkan dahi. "Untuknya? Untuk siapa? Pasti kalian bertanya-tanya, kan?" Jonathan pun tertawa singkat. "Baru-baru ini aku bertemu dengan seseorang dan kupikir lagu ini cocok untuknya. Cukup panggil aku dan aku akan datang padamu, Nona musim dingin." katanya terakhir, membuat Eliza Fern tersenyum.
Nona musim dingin? Panggilan yang lucu juga menarik. Eliza pun bertanya-tanya, siapa sosok gadis musim dingin itu? Ia tidak percaya kalau Jonathan Darrel bersikap semanis ini pada perempuan.
Sesaat setelahnya, Eliza dapat melihat Jonathan Darrel mulai memainkan jemarinya pada senar gitar dan menyanyikan lagu One Call Away milik Charlie Puth. Sentuhan akustik yang Jonathan berikan pada musik tersebut, juga suaranya yang terdengar merdu, membuat Eliza tanpa sadar terlena. Ia bahkan sampai mengayunkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, sesekali ikut bernyanyi.
Tanpa terasa lagu yang dinyanyikan oleh Jonathan berakhir dan membuat Eliza mencibir, sedikit kecewa.
"Kenapa singkat sekali, sih?" gumamnya tanpa sadar. Padahal ia ingin mendengar suara Jonathan lagi.
"Mungkin kalian bertanya siapa Nona Musim Dingin itu. Tapi, maaf, aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku akan membahasnya di video selanjutnya. Itu pun kalau aku bertemu dengannya lagi." ia sedikit mengerling di video itu, membuat Eliza berdecih tanpa sadar. "Kalau kalian benar-benar ingin tahu, doakan aku supaya aku bisa bertemu dengannya, oke?" selanjutnya Eliza melihat laki-laki itu melambai kearahnya. Tidak. Ke arah kamera. Dan tepat pada saat itu videonya berakhir.
Lagi-lagi Eliza mendesis, sebal karena hal yang paling ingin ia ketahui tidak bisa dia dapatkan. Gadis itu kembali menjelajahi isi playlist video di akun milik Jonathan. Membukanya satu persatu dan mendengar suara Jonathan lagi.
Kali ini dia mendengarkan lagu berjudul Falling For You. Demi apapun ini lagu dalam Bahasa Korea dan Jonathan menyanyikan lagu tersebut. Apa jangan-jangan Jonathan keturunan Korea juga sama sepertinya?
Kalau begini, lama kelamaan Eliza bisa menjadi satu dari ribuan penggemar Jonathan Darrel di akun youtube.
Ini gila. Dia bahkan bisa merebut hati wanita setelah pertama kali mendengar suaranya. Dia pasti punya sihir khusus.
Tapi berkat Jonathan, hari minggu Eliza menjadi sedikit berguna. Waktunya ia habiskan untuk menjelajah internet guna mencari tahu tentang laki-laki itu. Eliza sangat ingin tahu siapa sebenarnya Jonathan Darrel.
Lama berkutat dengan laptopnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Gadis itu pun berbalik seiring dengan suara deritan pintu yang terbuka. Menampilkan sosok Carlos yang menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
"Sedang sibuk?" tanyanya.
Eliza menggeleng. "Tidak, kenapa?"
"Bisa bantu aku? Aku butuh bantuan."
"Tentu."
Gadis itu pun mendorong kursinya ke belakang dan berjalan keluar kamar, mengikuti langkah Carlos menuju lantai bawah. Eliza dituntun masuk ke dalam tempat persembunyian Carlos yang berada tidak jauh dari tangga.
__ADS_1
"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Eliza kemudian. Gadis itu mengerutkan dahinya ketika melihat Carlos sibuk dengan alat-alat lukisnya.
"Jadi model lukisan ku, ya? Sekali saja." ujarnya.
"Kenapa tiba-tiba?" katanya sembari mengernyitkan alis.
"Cuma ingin." jawabnya singkat sambil memberi senyum lebar. "Cepat duduk disana!" laki-laki itu mulai menunjuk kursi dibelakang Eliza.
Eliza menghela napas, kemudian menuruti perintah sang kakak. Hari minggunya sedikit terganggu karena permintaan Carlos. Tapi tak apa, kapan lagi dia bisa dilukis gratis? Anggap saja ini sebagai bentuk rasa terima kasihnya pada Carlos, karena sudah menampungnya selama seminggu.
"Aku harus bergaya seperti apa?" tanya Eliza.
"Bebas. Terserah mau gaya seperti apa." sahut Carlos.
Eliza pun menurut lagi. Ia melipat kaki kirinya diatas kaki kanan, kemudian tangan kanannya menyentuh lutut, sementara lengan kirinya menyentuh sandaran kursi. Pandangannya ia alihkan ke sebelah kiri, tepat ke arah jendela.
"Nah, bagus! Pertahankan posisimu, ya!" seru Carlos. Dia sudah bersiap-siap mengambil tempat untuk melukis.
Eliza mengangguk, paham. Dia berusaha menjaga supaya tubuhnya tetap pada posisi sekarang. Ia berharap hasilnya akan bagus. Supaya Carlos tidak menyesal memintanya untuk jadi model.
Sekitar tiga puluh menit berada dalam posisi sekarang ini, membuat badan Eliza sedikit pegal. Ditambah lagi perutnya yang tiba-tiba mual. Alhasil gadis itu bergerak sedikit dan tak fokus pada posisinya.
Carlos yang melihat itu langsung menghentikan aktivitasnya. Dia melihat kegelisahan dalam diri Eliza.
Eliza kemudian membenarkan posisinya, ia memegang tengkuknya yang sedikit pegal dan memijatnya sedikit.
"Wajahmu pucat, kau sakit?" tanya Carlos setelah melihat perubahan wajah Eliza.
Eliza dengan cepat menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
"Kalau mau kau bisa istirahat di kamar mu." timpal laki-laki itu lagi.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Setelah ini aku akan istirahat." balas gadis itu. Sedetik kemudian, dia mengubah kembali posisinya seperti sedia kala.
Carlos pun menurut. Laki-laki itu melanjutkan lagi kegiatannya, sesekali mengalihkan tatapan ke arah Eliza.
"Kau sudah bertemu dengan Jonathan?" celetuk Carlos, setelah cukup lama terdiam.
Eliza agak tersentak setelah mendengar ucapan Carlos. Sedetik kemudian gadis itu membalas, "iya." masih dengan posisi yang sama, tanpa menatap Carlos.
"Apa yang terjadi sampai dia mengantarmu pulang?"
__ADS_1
"Tidak ada. Dia yang minta." kata Eliza.
"Begitukah?"
"Hm." gumam Eliza. "Dia juga mengajakku pergi ke Brooklyn Bridge Park."
"Serius?'
"Kau yang menyuruhnya pergi menemuiku, kan?"
"Dia bilang padamu?"
"Tidak, aku cuma menebak saja tadi."
Ah, sial ketahuan. Batin Carlos. Dia tidak percaya Eliza secerdik itu. Ketahuan sudah rencana Carlos mau mendekatkan Eliza pada Jonathan.
"Dia orang yang asyik." lanjut Eliza lagi. "Terima kasih sudah mengenalkan ku padanya." Eliza kini menoleh menatap Carlos sambil tersenyum. Senyum yang sangat cerah.
Carlos sejenak menghentikan aktivitas menggambarnya dan menatap Eliza. Dia juga membalas senyum gadis itu. "Jadi, bagaimana kesan pertama bertemu dengannya?"
Eliza memiringkan kepalanya sedikit, kemudian mengetuk-ngetukan jemarinya didagu, pura-pura berpikir. Sedetik kemudian dia membalas, "kalau disuruh bertemu dengannya, kurasa itu tidak buruk." sahutnya, santai.
Carlos pun tertawa singkat. "Sudah kuduga. Semua wanita pasti bilang begitu ketika bertemu dengan Jonathan."
"Benarkah?" Eliza sambil menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya siapa lagi orang yang kau kenal yang sudah bertemu dengan Jonathan?"
Carlos mengangkat bahunya. "Seorang kenalanku."
"Aku tebak dia pacarmu dan kau cemburu pada Jonathan." Eliza sambil menjentikkan jarinya.
"Kau itu cenayang, ya?" sahut Carlos.
"Sayang sekali, bukan."
"Kenapa kau bisa tahu semuanya?"
"Sudah ku bilang, aku hanya menebak." balas Eliza. Entah mengapa perbincangannya jadi makin seru dan melenceng kemana-mana. Carlos pun menyadari sesuatu setelah memperhatikan Eliza. Wajah Eliza yang tadinya pucat, kini berangsur membaik setelah Carlos membuka perbincangan mengenai Jonathan.
Jonathan Darrel membawa pengaruh baik untuk Eliza. Awalnya gadis itu lebih memilih menyendiri ketika sampai ditempat Carlos. Bahkan saat diajak berbicara, gadis itu tidak fokus sama sekali. Carlos harus mengulang perkataan yang sama setidaknya tiga kali. Tapi sekarang?
Carlos tersenyum melihat perubahan dalam diri Eliza. Ia harap setelah ini Jonathan bisa terus membuat Eliza banyak tersenyum seperti sekarang.
__ADS_1
...----------------...