
Eliza mengusap kedua telapak tangannya⸻mencari kehangatan setelah masuk ke dalam apartemen Jonathan. Yeah, gadis itu tidak langsung kembali ke toko bunga Amelia. Setelah kejadian mengharukan tadi, Eliza memutuskan untuk menemani Jonathan, katanya dia mau bicara jujur dengan ibunya dan dia minta ditemani⸻kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi dan dia butuh teman untuk membuatnya merasa lebih nyaman.
Eliza menurutinya, toh Amelia tidak memaksa Eliza untuk bekerja di toko bunga⸻begitu juga dengan Carlos. Jadi Eliza merasa hal tersebut tidak akan membuat dua orang itu perlu mempermasalahkannya. Lagipula, Eliza sudah mengirimkan pesan pada Amelia kalau dia mau menemani Jonathan mencari hadiah natal untuk ibunya.
Yeah, memang benar, tadi Eliza sempat pergi ke salah satu toko pernak-pernik natal untuk membeli hadiah untuk ibu Jonathan. Katanya Jonathan mau memberikan langsung kado pada ibunya untuk pertama kali⸻setelah kabur selama beberapa tahun.
"Maaf, ya, apartemenku berantakan, belum sempat beres-beres." Kata Jonathan, ketika mereka sampai dibagian ruang tamu yang terhubung langsung dengan dapur.
"Tidak apa-apa." Sahut eliza singkat.
Dia memilih untuk duduk di sofa dekat perapian kecil yang baru saja Jonathan nyalakan. Suhu udara saat ini benar-benar membuat Eliza bisa mati kedinginan.
"Kau mau minum minuman hangat?" tanya Jonathan menawarkan.
"Boleh, aku mau teh hangat."
Kemudian Jonathan berlalu menuju dapur kecilnya dan mulai membuatkan teh hangat untuk Eliza⸻bahkan sampai terdengar suara cangkir dan kompor yang dinyalakan.
Mendengar Jonathan yang sibuk di dapur, Eliza pun bangkit dan berjalan menuju jendela didalam apartemen Jonathan. Salju memang belum turun, tapi suhu udara makin hari makin terasa begitu dingin. Eliza pikir, mungkin sebentar lagi salju akan turun.
Sembari memeluk dirinya sendiri, pikiran Eliza mulai melalang buana. Eliza mulai berpikir, apa yang akan dia lakukan setelah ini? Cepat atau lambat semua orang pasti akan tahu, seberapa besar dia menyimpan rahasia gila ini.
Eliza hanya bisa menghitung waktu dan menikmati hari sekarang. Rasanya Eliza tidak ingin hari ini berubah dan berganti. Tetapi, mau tidak mau, Eliza mesti menghadapinya apapun yang terjadi.
Eliza merasa, sebentar lagi pasti orang tuanya akan memanggilnya dan menyuruh Eliza kembali ke rumah.
"Apa salju pertama sudah turun?" tanya Jonathan yang mebuat Eliza terkesiap. Gadis itu langsung berbalik dan menatap Jonathan yang kini tengah meletakkan dua cangkir cokelat hangat diatas meja.
Eliza menggeleng. "Aku sangat menantikan salju pertama datang."
"Biasanya salju pertama turun menjelang hari natal, tapi kemungkinan datang lebih awal, karena suhu udara sekarang lebih dingin dari sebelumnya." Jelas Jonathan setelah duduk di sofa⸻diikuti oleh Eliza.
"Sepertinya menyenangkan merayakan natal ditengah salju." Sahut Eliza sambil menyeruput tehnya.
"Omong-omong Eliza, apa kau keberatan kalau rencana skating kita saat hari natal dimajukan? Hm.. aku pikir saat hari natal aku mau menemui keluargaku, tapi kalau kau tidak⸻"
"Tidak! Aku tidak memaksa. Kita bisa melakukannya kapan saja, kan? Yang penting kau berkumpul dengan keluargamu." Ujar Eliza memotong omongan Jonathan.
__ADS_1
"Kau tidak keberatan?"
Eliza tersenyum simpul, "tentu saja, tidak. Aku malah senang sekarang kau bisa bertemu dengan keluargamu lagi."
Jonathan pun tersenyum, matanya terlihat berbinar. "Terima kasih. Aku tidak tahu mau bicara apalagi." Jonathan begitu terharu.
"Lagipula aku tidak punya hak untuk memaksamu, kita kan cuma teman" sambung Eliza sambil tersenyum tipis. Entah mengapa ada sesak didalam ulu hati Eliza. Mungkin kata-kata Eliza kedengarannya sarkas, tapi itu memang fakta.
Jonathan bungkam sesaat. Jonathan membenarkan apa yang dikatakan oleh Eliza, tapi ia merasa sedikit... kecewa. Jadi selama ini Jonathan dianggap teman? Tapi memang apa lagi yang Jonathan harapkan? Mereka memang berteman.
Ah, Jonathan hampir lupa, kalau dia harus menelepon ibunya sebelum terlambat. Dia harus memberitahu kebenarannya pada sang ibu sebelum hari natal tiba.
Jonathan lantas bangkit dari tempatnya dan menatap Eliza dengan tatapan tidak enak.
"Aku mau menelepon ibuku dulu." Katanya sebelum ia benar-benar memasuki kamarnya.
Eliza sempat beradu pandang sebentar dengan Jonathan dan Eliza bisa melihat kantong mata Jonathan yang menghitam⸻jika dilihat baik-baik. Sepertinya laki-laki itu berpikir keras akhir-akhir ini, karena dia tidak sanggup menyimpan rahasianya seorang diri. Eliza juga menduga, Jonathan pasti punya alasan mengapa dia memberitahukan rahasianya pada Eliza, padahal laki-laki itu bisa cerita pada Carlos⸻teman dekatnya.
Semudah itukah Jonathan Darrel percaya pada orang lain? Padahal mereka baru bertemu beberapa waktu lalu.
Tapi omong-omong soal Jonathan, Eliza lebih penasaran pada sesuatu⸻
...-οΟο-...
Jonathan Darrel menghela napas. Tangan kanannya sudah menggenggam ponsel dengan nama 'ibu' dilayar, tapi dia belum berani menghubungi. Dia masih ragu. Takut jika sang ayah mendengar dan alhasil Jonathan dibuang dari keluarga⸻mengingat keluarga Jonathan memiliki basic bisnis dan bekerja di perusahaan keluarga.
Kembali Jonathan menatap layar ponselnya. Setelah mengumpulkan keberanian, dia pun akhirnya menelepon sang ibu⸻menempelkan ponselnya ke telinga. Beberapa detik kemudian, telepon itu tersambung dan untuk pertama kalinya Jonathan tercekat, tak bisa bicara ketika sang ibu menyapanya.
"Jonathan? Anakku? Kau kah itu?" sapa sang ibu dari seberang sana, suaranya terdengar bergetar. "Sayang, ibu tidak percaya kau akhirnya menghubungi ibu, nak."
Mata Jonathan berkaca-kaca lagi setelah mendengar suara ibunya. Dia masih tidak bicara.
"Jonathan, Bagaimana kabarmu? Oh, iya ibu sedang mencoba menu baru untuk hari natal nanti, kau mau mencoba?"
Jonathan masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, padahal ibunya menunggu jawaban dari Jonathan. Jonathan takut untuk mengungkapkan perasaannya saat ini, belum pernah ibunya bicara sepanjang ini tanpa perlu Jonathan menyela dan memutuskan sambungan. Jonathan merasa menjadi anak durhaka selama ini.
"Jonathan? Kau baik-baik saja?" tanya sang ibu, akhirnya. Tepat pada saat itu, air mata Jonathan mengalir deras. Perasaan yang selama ini dia tahan, bayangan mengenai kekecewaan ibunya, dan rasa bersalah yang terus bergelayut dalam benak.
__ADS_1
Jonathan sudah sampai sejauh ini, dia tidak boleh mundur lagi. Ibunya membesarkannya sebagai laki-laki yang tangguh, bukan laki-laki pengecut.
"I-ibu?" sahut lelaki itu sedikit terbata. Suaranya terdengar sedikit serak, karena menangis.
"Iya, sayang. Ibu disini."
Entah mengapa suara sang ibu, membuat dada Jonathan terasa menghangat. Laki-laki itu langsung mengusap air mata di pipinya, lalu tersenyum tipis⸻meski ibunya diseberang sana tak melihat. Walau begitu, itu cukup meyakinkan bahwa sekarang Jonathan baik-baik saja.
"Ibu, maaf." Ujar Jonathan. "Maaf atas semua kesalahanku. Aku sudah mengecewakan ibu."
"Kau tidak pernah mengecewakan ibu, mengecewakan ayah, dan mengecewakan semuanya." Ucap sang ibu, lembut.
"Ibu, aku membuat kesalahan."
"Tidak, kau tidak salah, nak. Tidak ada yang salah, kau berhak mengatur hidupmu."
Jonathan menanap. Apakah ibunya tahu mengenai masalahnya?
"I-ibu....."
"Ibu sudah tahu semuanya, Jonathan." Terdengar suara isakan diseberang sana, yang membuat Jonathan kaget dan melebarkan mata. "Ibu tahu kau berhenti kuliah untuk meneruskan hobi menyanyimu itu, ibu juga tahu kau menolak beberapa agensi besar demi menjaga perasaan keluarga. Ibu sudah tahu, sayang. Ibu sejak lama ingin mengatakan ini, tapi ibu selalu tak punya kesempatan untuk bicara denganmu."
"Ibu...."
"Tidak apa-apa, sayang. Ayahmu juga sudah mengerti. Kami menunggumu di rumah."
Tanpa terasa, air mata Jonathan meleleh begitu saja. Perasaannya sudah tak bisa dibendung lagi. Hanya didepan ibunya saja, Jonathan bisa bersikap selemah dan secengeng ini. Bahkan sampai terdengar suara isakan kencang, saking tak tertahannya.
"Pulang ya, saat malam natal nanti?" sekali lagi, suara sang ibu terdengar begitu dalam ditengah isakannya.
Siang yang dingin itu mendadak terasa hangat setelah pengakuan tak terduga antara ibu dan anak itu. Selama ini mereka terbelenggu dalam kesalahpahaman yang tak mereka utarakan secara harfiah, terutama bagi Jonathan. Selama ini Jonathan terlalu pengecut untuk mengakui kesalahannya. Padahal sang ayah berulang kali mengajarkannya untuk jadi laki-laki bertanggung jawab. Tapi yang terjadi malah Jonathan⸻merasa terlalu mengecewakan orang tuanya.
Namun yang namanya orang tua, mereka tentunya akan memaafkan sang anak, meski sang anak melakukan kesalahan yang fatal. Kembali lagi pada sang anak, apakah dia mau mengakui kesalahannya dan tak mengulangi kesalahan tersebut.
Setelah merasa tenang, dengan menelan seluruh sesenggukan dalam tangisnya, Jonathan baru bisa menjawab pertanyaan sang ibu.
"Aku akan pulang, bu. Tunggu aku."
__ADS_1
......----------------......