
Sudah lima hari ini Eliza berdiam diri dalam kamar tanpa melakukan aktivitas apapun, selain tidur dan pergi ke kamar mandi. Pencernaan Eliza masih kurang bagus, dia bolak balik kamar mandi, ketika merasa mual. Beberapa kali gadis itu menolak makan ketika Carlos membawa makanan ke dalam kamar, tapi Carlos memaksanya. Sampai akhirnya Eliza menyerah dan menuruti keinginan kakaknya.
Eliza sekarang sudah merasa lebih baik dari sebelumnya, namun dia masih harus tetap beristirahat. Saat ini fokusnya terarah pada laptop yang kini ada didepannya. Gadis itu meluruskan kaki, menyederkan tubuh pada headboard, dengan laptop yang berada diatas paha dan bantal sebagai alasnya.
Gadis itu tengah menjelajah isi internet, membuka youtube dan mulai mengetikkan sesuatu pada pencarian. Sesaat setelahnya, Elizatersenyum, diikuti oleh suara yang begitu familiar ditelinganya.
"Hai, semua! Jonathan Darrel disini!" Sapa laki-laki itu ramah. Jonathan baru saja mengunggah video baru.
"Cepat sekali mengunggah video." Gumam Eliza. Tanpa sadar dia tersenyum malu-malu.
"Kalian pasti menungguku, kan?" dia tertawa kecil, kemudian dia mendekatkan diri pada kamera sambil mengangkat sebelah tangan dekat mulut, seolah mau membisikan sesuatu. "Menunggu aku bernyanyi atau menunggu ceritaku?" Kelakarnya.
Eliza menghembuskan napas, kemudian dia tertawa pendek. "Ya ampun, Jonathan!" katanya lagi sedikit gemas.
"Oke, sebaiknya aku akan simpan ceritaku diakhir, karena kali ini aku akan membawakan sebuah lagu yang sengaja kutujukan untuk nona musim dingin."
Selanjutnya Eliza mendengar suara petikan gitar dari jemari Jonathan. Dari alunannya saja sudah membuat Eliza terhipnotis. Sedetik kemudian laki-laki itu mulai bersenandung panjang, suaranya benar-benar menghanyutkan. Siapapun nona musim dingin itu, dia pasti orang yang spesial untuk Jonathan. Mungkin ketika menonton video ini, dia akan tersenyum sendiri, seperti yang Eliza lakukan.
"From the way you smile... to the way you look, you capture me.... Unlike no other... from the first hello...yeah, that's all it took.... And certainly... we had each other..... And I wont leave you... always be true... one plus one, two for life.... Over and over again."
"So don't ever think I need more, I've got the one to live for.... No one else will do.... Yeah, I'm telling you.... Just put your heart in my hands...."
Jonathan Darrel. Laki-laki itu baru saja membuat Eliza Fern jatuh cinta pada cara laki-laki itu memainkan gitar dan bernyanyi. Manis sekali. Tidak heran kalau penggemarnya banyak dikalangan remaja perempuan.
"Promise it won't get broken... well never forget this moment... yeah, we'll stay brand new, cause I'll love you... Over and over again..... over and over again..."
"Over and over again..... over and over again...."
Jonathan mengakhiri lagunya, membuat Eliza bertepuk tangan. Sedetik kemudian, gadis itu pun tersadar dan menurunkan kedua tangannya. Kembali ia fokus pada Jonathan Darrel.
"Omong-omong... aku tidak cuma menyanyikan ini untuk nona musim dingin, tapi juga untuk kalian yang sedang jatuh cinta. Jadi, nikmati waktu kalian dengan orang-orang yang kalian sayangi dan cintai."
Eliza terus memperhatikan Jonathan berbicara. Laki-laki itu bercerita mengenai makna dibalik lagu itu dan hubunganya dengan nona musim dingin. Eliza Fern sangat yakin bahwa nona musim dingin ini adalah cinta pertama Jonathan Darrel. Entah mengapa mengetahui kenyataan itu, membuat hati Eliza sedikit sesak. Gadis itu segera menggelengkan kepala, menepis pikiran buruk dalam kepalanya.
"Well, apa kalian masih bertanya-tanya mengenai nona musim dingin?" Katanya, kemudian dia kembali melanjutkan.
"Oke, sepertinya doa kalian terkabul, karena aku bertemu lagi dengannya baru-baru ini. Kami ternyata memiliki beberapa kesamaan. Aku juga mengetahui beberapa fakta tentangnya dan kupikir dia ada disini, karena suatu hal. Meski aku tak yakin apa itu, tapi kurasa dia memiliki rahasia yang tak dapat ia ungkap, sama seperti aku atau mungkin kalian diluar sana yang memiliki rahasia besar.
Dan... mungkin ini kedengarannya aneh, tapi.. aku ingin menngutarakan rahasiaku padanya, rahasia besar yang sama sekali tidak diketahui oleh orang-orang terdekatku, bahkan orang tuaku sendiri. Aku punya alasan kenapa aku percayakan rahasia ini padanya. Bukan karena aku buta terhadap cinta... tapi, karena kurasa kami memang memiliki kesamaan dan aku ingin kami saling terbuka untuk ke depannya, apapun itu."
Mendengar kata-kata Jonathan tersebut, seketika Eliza merasa terenyuh. Jonathan benar sekali, setidaknya ia harus jujur pada orang terdekatnya mengenai rahasia yang ia punya. Daripada mengkhawatirkan dirinya sendiri, Eliza lebih mengkhawatirkan Jonathan. Memang apa rahasia yang laki-laki itu punya sampai ia menyimpan rahasia itu sendirian?
Jonathan Darrel berubah menjadi sosok misterius dimata Eliza.
"Well, mungkin aku sudah banyak bicara, pasti kalian bosan, kan? Sebaiknya aku sudahi saja. Sampai jumpa divideo selanjutnya, terima kasih." Laki-laki itu terlihat melambaikan tangannya, sebelum video tersebut berhenti.
Eliza menghembuskan napasnya pelan, lalu meletakkan laptop disebelahnya. Gadis itu mulai termenung, entah mengapa dadanya terasa sesak. Kenapa Joanthan Darrel tiba-tiba membuat Eliza merasa gelisah begini?
...-οΟο-...
Eliza Fern menuruni satu persatu anak tangga di studio. Dia berniat menemani Carlos dibawah, berhubung dia sangat bosan diam didalam kamar. Kondisi tubuhnya juga sudah lumayan membaik, apalagi setelah melihat dan mendengar Jonathan bernyanyi. Kedengarannya memang konyol, tapi Eliza merasa lebih baik setelah melihat wajah Jonathan. Laki-laki itu mampu menghipnotis para wanita untuk jatuh dalam pesonannya.
Bisa dikatakan Eliza Fern adalah orang paling beruntung karena bisa bertemu dengan Jonathan, bahkan bisa bicara dengan laki-laki itu. Tetapi, Eliza juga tidak bisa menutupi rasa sesak dalam dirinya ketika mendengar Jonathan bercerita mengenai Nona Musim Dingin. Dalam kepala, Eliza terus memikirkan siapa sebenarnya si Nona Musim Dingin itu. Alasan itulah yang membuat Eliza turun sekarang. Dibalik niatnya yang ingin menemani Carlos, dia juga ingin bertanya lebih dalam mengenai Jonathan.
Eliza kini tiba dilantai bawah, gadis itu langsung masuk ke dalam tempat persembunyian Carlos sembari memanggil laki-laki itu. Namun, bukannya muncul, orang yang sejak tadi dipanggil-panggil tak kunjung memperlihatkan diri. Eliza mengerutkan dahi, kemana Carlos pergi? Tumben sekali tidak bilang pada Eliza.
Gadis itu pun akhirnya keluar dari tempat persembunyian Carlos dan pergi ke bagian depan studio, mungkin saja Carlos ada disana. Namun ketika dia pergi kesana, Eliza juga tidak mendapati Carlos. Kakak sepupunya memang benar-benar pergi. Gadis itu pun memilih duduk dibalik meja resepsionis, sambil menopang dagu memperhatikan seisi studio. Meskipun Carlos tinggal sendiri, tapi dia mampu menjaga studionya agar tetap bersih. Betapa telitinya dia membersihkan lukisan-lukisan yang dipajang pada dinding studio.
Tidak berselang lama, Eliza mendengar seseorang membuka pintu studio, dia pun refleks menoleh sambil berseru, "Carlos, kemana.... Eh?" Dia agak sedikit terkejut karena mendapati seorang gadis berdiri didepan pintu dan menatap Eliza bingung. Awalnya ia kira yang membuka pintu adalah Carlos. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Ujar Eliza sembari bangkit dari kursinya.
Gadis itu menghampiri Eliza sembari tersenyum. "Halo, kau Eliza, ya? Aku mau mencari Carlos, apa dia ada?"
__ADS_1
Eliza sedikit mengernyitkan alis, siapa gadis ini? Pikirnya. "Sepertinya Carlos sedang pergi, daritadi aku mencarinya juga. Dia tidak bilang mau pergi kemana. Kalau boleh tahu, Anda siapa?"
"Oh, aku Amelia Chloe, pacar Carlos. Carlos sudah cerita kalau dia tinggal denganmu." Katanya masih dengan senyum yang mengembang. "Aku juga kenal dengan Jonathan, kami tinggal bersebelahan." Sambung Amelia.
"Berarti, kau dulu pernah bertetangga juga dengan Carlos?"
"Yeah, begitulah." Jawabnya. "Omong-omong, aku akan menunggu Carlos disini. Tidak keberatan kalau aku tinggal sebentar disini? Sekalian kita berkenalan."
"Tentu saja, tidak masalah. Aku sangat senang bisa punya teman baru lagi."
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu, kuharap kita bisa berteman dengan baik." Sahut Amelia. "Omong-omong, apa kita pernah bertemu? Wajahmu seperti tidak asing."
Eliza pun mengerutkan dahinya. "Benarkah?"
"Yeah, atau mungkin ini perasaanku saja." Sahut Amelia, masih menatap wajah Eliza.
Mereka terdiam sesaat, sama-sama berpikir, dimana keduanya pernah bertemu. Sedetik kemudian, Amelia menjetikkan jarinya, hingga Eliza tersentak.
"Aku ingat! kau pernah beli bunga di toko bungaku, kan?"
"Eh?"
"Kau membeli bunga lily putih." Ujar Amelia meyakinkan. Tetapi melihat keheranan diraut wajah Eliza, Amelia kembali berkata, "tokoku berada diujung jalan, tidak begitu jauh dari studio Carlos."
"Oh, aku ingat sekarang! Ternyata itu kau." Seru Eliza sembari tertawa. "Ya, ampun, dunia sangat sempit." Ujarnya.
"Aku memang tidak begitu yakin, tapi aku bisa mengenali orang walaupun bertemu satu kali. Mungkin karena aku sering bertatap muka dengan para pembeli." Timpal Amelia.
"Senang bertemu denganmu lagi, Amelia."
"Aku juga senang bertemu denganmu, dan aku baru tahu ternyata kau itu adik sepupunya Carlos." Kata Amelia. "Oh iya, apa kau akan pulang ke rumahmu dalam waktu dekat?"
"Bagus! aku ingin mengajakmu jalan-jalan, sejenis girls time?" Amelia tertawa pendek. "Yeah, aku tidak punya teman untuk diajak main. Aku terlalu sibuk mengurus toko bunga milik ibuku, aku juga tidak enak mengganggu Carlos yang akhir-akhir ini sibuk." Timpal gadis itu.
"Itu bagus, aku mau! Aku sangat ingin menikmati musim dingin di New York." Seru Eliza. "Disini aku tidak kenal siapapun kecuali Carlos dan Jonathan."
Amelia tertawa pendek. "Kau berasal darimana omong-omong?"
"Aku tinggal di San Fransisco."
"Wow, jauh sekali, sampai kemari."
Eliza mengangguk. "Begitulah, aku sangat ingin menikmati musim dingin ter⸻ah, tidak." Buru-buru Eliza menggelengkan kepala.
Amelia sebenarnya tidak mengerti ucapan terakhir Eliza, tetapi ia tetap tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Oh iya, mau aku buatkan sesuatu? Teh? Sirup? Kopi? Atau...."
"Aku mau teh, ayo kita buat bersama-sama." Sela Amelia dengan senyum yang menempel diwajah.
...-οΟο-...
Amelia Chloe adalah orang yang baik, manis dan perhatian. Begitulah Eliza menandai si gadis yang berstatus sebagai pacar Carlos. Tidak salah Carlos mengenal Amelia. Dari yang Eliza dengar, awal mereka berkenalan ketika Amelia yang tinggal dengan ibunya⸻karena telah bercerai dari sang ayah⸻memberikan makanan untuk Carlos dan Jonathan yang saat itu kebetulan tinggal bersebelahan dengan Amelia. Saat itu, Carlos berstatus sebagai mahasiswa dan Jonathan yang tidak jelas pekerjaannya.
Dulu, kata Amelia, Jonathan tidak seperti sekarang. Laki-laki itu hidupnya lumayan melarat dan dia melakukan kerja paruh waktu untuk menyambung hidup. Eliza sedikit tersentak mendengarnya. Ternyata Jonathan Darrel yang ia kenal, pernah merasakan sulitnya hidup. Tetapi seberapa sulit penderitaan yang dia alami, tentunya tidak lebih buruk dari Eliza.
Gadis itu menghela napas. Satu fakta lagi yang Eliza tahu mengenai Jonathan. Fakta yang begitu mencengangkan, untungnya hidup ini punya roda yang selalu berputar, sehingga manusia tidak melulu ada diatas dan dibawah.
"Jonathan punya suara yang bagus. Dia bahkan ditawari untuk memulai rekaman untuk debutnya sebagai artis, tapi dia menolak Aku tidak tahu kenapa dia menolak tawaran bagus itu." Ujar Amelia.
"Mungkin dia tidak terlalu suka diekspos oleh paparazzi." Sahut Eliza.
__ADS_1
"Tapi melihat kepopulerannya sekarang, membuatku merasa lega, karena Jonathan telah melewati kerasnya hidup."
"Itu benar. Apalagi dia punya kau dan Carlos. Dia pasti sangat terbantu atas dorongan yang kalian berikan."
"Aku senang melihat orang lain senang. Hanya prinsip itu yang aku pegang. Ibuku selalu mengatakan hal itu padaku."
"Aku mau bertemu ibumu kapan-kapan."
"Boleh, ibuku pasti sangat senang bertemu denganmu. Kau orang yang baik dan menyenangkan, punya banyak topik untuk diperbincangkan."
"Kau terlalu berlebihan." Sahut Eliza sembari tertawa kecil. Sedetik kemudian, tawanya memudar, tergantikan oleh kernyitan didahi, "Mm, Amelia..."
"Iya?"
"Sebenarnya aku ragu mau mengatakan ini, tapi.... Apa kau pernah dengar Jonathan punya pacar atau dia sedang suka pada seseorang atau......?" Oke, Eliza mulai berpikir kalau cinta pertama Jonathan Darrel adalah Amelia Chloe, pacar Carlos. Tapi, apa mungkin Jonathan itu orang yang makan teman sendiri?
"Aku tidak pernah dengar soal itu. Jonathan tidak pernah menceritakan apapun. Yang aku tahu, dia itu sibuk bekerja, tidak mungkin memikirkan soal perempuan." Jawab Amelia, kemudian gadis itu tersenyum. "Aku tahu, kau pasti penasaran tentang orang diceritakan Jonathan di videonya. Bukan kau saja, aku pun penasaran. Selama aku mengenal Jonathan, dia tidak pernah sekalipun membicarakan soal perempuan yang dia sukai. Sepertinya Jonathan baru bertemu dengan gadis itu baru-baru ini. Yang jelas gadis itu bukan aku." Katanya diakhiri sebuah selorohan, seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Eliza.
Meski hanya selorohan, tetapi dalam hati Eliza merasa tenang dan lega disaat bersamaan, karena pertanyaannya sudah terjawab. Namun Eliza masih penasaran siapa gadis yang sudah membuat seorang Jonathan Darrel jatuh cinta untuk pertama kalinya? Benar-benar gadis yang luar biasa.
Amelia meneguk tehnya, kemudian berkata lagi, "Carlos banyak cerita padaku mengenai dirimu. Carlos juga bilang kalau dia sengaja mengenalkanmu pada Jonathan." Kali ini Amelia terkekeh.
"Ya, dia memang suka berlebihan. Tapi aku senang mengenal Jonathan, aku jadi banyak belajar darinya mengenai kehidupan." Jawab Eliza.
"Sebenarnya didunia ini, kau bisa belajar banyak hal mengenai kehidupan dari beberapa orang disekitarmu, karena setiap orang tentunya memiliki masalah mereka sendiri."
Eliza mengangguk. "Kau benar." Kemudian dia tersenyum. "Aku senang bisa mengenalmu."
"Kalau kau butuh teman untuk cerita, kau bisa cerita padaku, Eliza."
"Terima kasih." Eliza kembali mengulas senyum, sedetik kemudian ia kembali meminum tehnya. "Kau sangat baik."
"Aku hanya ingin membantumu, sepertinya aku memang butuh teman perempuan untuk cerita masalah perempuan." Amelia pun terkekeh.
Yeah, tanpa terasa obrolan mereka jadi kemana-mana, entah itu membahas soal Carlos, Jonathan, kesukaan mereka, dan masih banyak lagi yang lain. Obrolan wanita memang tidak bisa ditebak, selalu mengalir bak air dan berakhir menjadi akrab.
Dari situ Eliza merasa benar-benar nyaman dengan Amelia. Meski baru pertama bertemu, tetapi Eliza bisa menganggap Amelia sebagai orang terdekatnya, selain Carlos dan Jonathan.
Tidak berselang lama, terdengar suara pintu terbuka, membuat Eliza dan Amelia langsung menengok ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Ternyata orang yang baru saja membuka pintu adalah Carlos.
"O, Carlos!" Seru Eliza.
Carlos langsung menoleh ke arah Eliza dan Amelia, dia baru menyadari kalau pacarnya ada di Studio.
"Amelia? Sudah lama disini?" Bukannya menyapa sang adik, Carlos malah berjalan menghampiri Amelia. Sementara Eliza sudah menahan senyum, melihat betapa kakaknya sangat mencintai Amelia, sampai lupa menyapa dirinya.
"Lumayan. Omong-omong, aku sudah banyak mengobrol dengan adikmu."
Laki-laki itu menatap sang adik, kemudian dia mengampiri Eliza, seolah tersadar bahwa Eliza juga ada disana. "Eliza." Gumamnya sembari mengelus rambut sang adik. "Sudah merasa baikan? Sudah makan?"
Eliza mengangguk, kepalanya mendongak menatap sang kakak. "Aku baik-baik saja."
"Aku sudah membeli makan, kau bisa memakannya. Maaf tadi aku pergi bertemu dengan pelangganku." Katanya sambil mengerahkan tas karton berisi kotak makanan.
Eliza mengambilnya, kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya menuju ke kamar. Katanya tidak mau mengganggu waktu pacaran Carlos dan Amelia. Sesampainya di kamar, Eliza tidak langsung membuka makanan dari Carlos. Gadis itu memilih mendudukkan diri diatas tempat tidur dengan kepala yang memandang langit-langit kamar. Entah mengapa hari ini ia merasa lega, tenang, dan... yeah, rasanya ringan sekali. Rasa sakitnya mendadak hilang.
Tetapi Eliza tidak mau terus terusan seperti ini, karena dia yakin, pasti rasa ini hanya bertahan sementara. Di masa depan, pasti ada sesuatu yang buruk datang menimpanya. Itu pasti. Eliza hanya menunggu waktunya tiba. Entah sampai kapan dia bisa menyembunyikan rahasia ini dari orang-orang terdekatnya, terutama pada kedua orang tuanya dan Carlos.
Eliza tidak mau memikirkan hal itu, biarkan saja waktu mengalir, pasti suatu saat mereka semua akan tahu tanpa Eliza beritahu.
...----------------...
__ADS_1