Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 11


__ADS_3

"Sebenarnya, aku memang sengaja mengajakmu pergi makan dan untungnya kau mau." Ujar Jonathan memulai pembicaraan setelah mendapatkan dua fish and chips. Sekarang mereka sedang menuju ke Brooklyn Bridge Park untuk makan disana. Bisa dikatakan mereka akan piknik, piknik ditengah musim dingin.


Eliza Fern mengeratkan mantelnya. Cuaca hari ini begitu dingin, uap-uap putih bahkan mengepul ketika Eliza menghembuskan napas. Bisa diperkirakan dalam waktu dekat salju kemungkinan akan turun. Eliza mengangkat kepalanya, kemudian menoleh pada Jonathan. Ternyata laki-laki itu memperhatikan Eliza.


"Kedinginan?" tanyanya.


Eliza mengangguk kemudian Jonathan menghentikan langkahnya⸻diikuti oleh Eliza. Jonathan mengambil kedua tangan Eliza dan menggenggam kedua tangan gadis itu dengan kedua tangannya sesekali menggosok-gosokkannya.


Jonathan tidak tahu kalau perlakuannya membuat wajah Eliza memanas, bahkan jantungnya berdetak tak karuan. Mendadak Eliza menahan napas selama beberapa saat.


"Sekarang masih?"


Tidak, ini jauh lebih hangat. Bicara Eliza dalam hati, tak sanggup ia mengeluarkan kata-kata. Dia hanya fokus menatap Jonathan, menatap iris hitam itu.


"Eliza?" Panggil Jonathan sekali lagi.


"Hm?" Eliza langsung menarik tangannya dan berdeham, "aku sudah merasa lebih baik, terima kasih." Lantas gadis itu berjalan mendahului Jonathan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Jonathan ketika sudah berada disamping Eliza, "mau kuantar ke pulang?"


Eliza menggeleng, "tidak apa."


"Serius?"


"Iya." Jawabnya sembari tersenyum.


"Wajahmu agak merah, kupikir kau benar-benar kedinginan." Kata Jonathan.


Oh, God! Jonathan melihatnya. Betapa malunya Eliza sekarang.


"Aku baik-baik saja. Wajahku memang kadang seperti ini." Jelas Eliza, menyembunyikan rasa malu.


"Oh oke."

__ADS_1


Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan tanpa bersuara. Jonathan tengah fokus pada sekelilingnya, pemandangan kota agak buram lantaran munculnya kabut, ditambah lagi udaranya semakin dingin. Sebenarnya dia agak menyesal mengajak Eliza pergi ke luar saat cuaca sedang dingin seperti ini. Kemudian laki-laki itu kembali menoleh kesamping dan tanpa diduga Jonathan langsung menggenggam tangan kanan Eliza, sampai gadis itu menoleh kaget dengan perlakuan Jonathan.


"Tidak apa-apa, kan?" tanyanya. Padahal dia tidak perlu bertanya karena sudah lebih melakukannya.


"Hm." Jawab Eliza sekenanya. Dia masih mengontrol detak jantungnya. Eliza tidak ingin Jonathan dengar detak jantungnya yang berisik ini. Mungkin wajah Eliza sudah seperti kepiting rebus.


Jonathan sangat berbahaya bagi Eliza, terutama bagi jantung Eliza yang lemah.


Ketika sudah sampai di tempat tujuan, Jonathan langsung mengajak Eliza duduk disebuah bangku panjang dekat sungai. Cuacanya agak berkabut, jadi pemandangan diseberang sungai tidak terlalu jelas, padahal biasanya pemandangan bangunan-bangunan tinggi diujung sana akan terlihat indah, apalagi ditambah dengan jembatan Broklyn yang membentang diantara gedung-gedung itu.


"Sepertinya salju sebentar lagi datang." Ujar Jonathan sambil membuka fish and chips yang tadi dia beli, kemudian menyerahkannya pada Eliza.


"T-terima kasih." Jawab Eliza gagap, lalu dia berdeham sedikit. "sebentar lagi hari natal, jadi kemungkinan salju datang cepat itu wajar."


"Aku harap bisa melihat salju pertama dengan orang yang spesial." Kata Jonathan sambil manatap Eliza.


Demi apapun, Eliza jadi salah tingkah dibuat Jonathan. Apa maksud Jonathan itu?


Eliza tidak mau berharap, tapi melihat tatapan itu dari mata Jonathan membuatnya melemah. Orang spesial yang dimaksud Jonathan itu...


Sebenanrya, kalau Eliza langsung pulang ke rumah setelah ini tidak masalah. Toh, Eliza tidak benar-benar bekerja untuk Amelia. Eliza cuma mengisi waktu luang disana, apalagi dengan sesama perempuan. Quality time itu pentng baginya.


Tapi Eliza baru menyadari, entah ini memang aneh atau bagaimana, tapi... Jonathan Darrel hari ini terdengar begitu cerewet. Daritadi dia yang banyak mengoceh, sementara Eliza hanya memilih diam. Apa mungkin suasana hati Jonathan sedang baik?


Bahkan Jonathan beberapa kali melakukan sesuatu yang membuat Eliza berdebar⸻well, okay, ini mungkin Eliza saja yang merasa berlebihan. Tapi, masalahnya.... Perlakuannya itu... tiba-tiba..


Siapa yang tidak akan terkejut dan berdebar ketika seseorang terutama laki-laki melakukan hal yang tidak terduga, misalnya menggenggam tangan⸻oh my god, Eliza berdebar lagi, mungkin sekarang wajahnya merah lagi.


"Kenapa tidak dimakan?"


Pertanyaan itu membuat Eliza membuyarkan lamunannya, kemudian menoleh kesamping⸻kearah Jonathan.


"I-iya, ini mau makan." Lalu Eliza mulai memakan makanannya.

__ADS_1


"Kau tahu kan? Aku pernah bilang ingin mengutarakan rahasia yang ku punya pada seseorang?" Ucap Jonathan tanpa menatap Eliza. Dia hanya fokus pada pemandangan didepannya. Kabut tebal yang menutupi gedung-gedung pencakar langit juga jembatan Brooklyn.


Eliza mengernyitkan alis. Kapan Joanathan bilang begitu? Oh, maaf saja, ingatan Eliza memang buruk. Jadi apa yang orang-orang pernah bilang padanya, kadang-kadang dia sendiri tidak ingat.


"Alasan kenapa aku ingin bertemu denganmu karena aku mau mengatakannya sekarang, mungkin ini agak memalukan. Terserah setelah ini kau mau menjauhiku, aku cuma ingin jujur." Jonathan menghela napas.


"Kalau kau ingat, aku pernah bilang kalau aku sebelumnya tinggal di Los Angeles dan pindah kesini saat umur 18 tahun. Tanpa orang tua." Terdengar penekanan diakhir kalimat, dan Eliza duga, pasti Jonathan ingin memberitahu sesuatu yang sangat, sangat penting.


"Aku kabur dari rumah. Sebenarnya tidak bisa dikatakan kabur, sih. Aku bilang aku kuliah di New York, karena waktu itu memang aku diterima disalah satu Universitas. Tapi ditengah jalan aku berhenti karena menurutku itu bukan passion-ku dan memilih untuk bernyanyi. Awalnya aku cuma kerja sambilan di kafe⸻yeah, kau tahu jadi penyanyi disana. Dan kau tahu apa yang jadi penyesalah terbesarku?"


Jonathan menelan ludah, sebelum akhirnya berbicara. "Aku berbohong pada ibuku. Setiap kali dia menelepon, aku selalu bilang kalau aku baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan kuliahku. Awalnya aku merasa lega karena terbebas dari sesuatu yang buruk. Tapi lama kelamaan, rasa bersalah mulai muncul, ketakutanku mulai meradang. Aku takut, aku ketahuan berbohong. Aku takut mengecewakan orang tuaku. Aku takut jadi anak durhaka."


"... dan mungkin Carlos atau Amelia sudah cerita soal aku yang pernah diterima di salah satu agensi besar, tapi kutolak. Alasan aku menolak tawaran itu, karena aku tidak ingin ibuku kecewa padaku. Aku tidak ingin ibuku tahu kalau aku berhenti kuliah dan jadi penyanyi. Aku takut apa yang aku takutkan jadi kenyataan dan itu membuatku depresi."


Eliza terkejut mendengar pengakuan Jonathan. Dibalik cerianya dia⸻seolah tak punya masalah, ternyata laki-laki itu menyimpan masalahnya sendiri. Dia baru saja mengaku kalau dia.... Depresi?


"Hah.. aku gila, kan? Menghindari masalah dan memilih untuk lari. Kedengarannya sangat gila. Inilah alasan aku malu cerita pada orang lain, karena aku tidak mau dianggap gil⸻"


Well. Kata-kata Jonathan terpotong ketika ia merasakan sebuah dekapan hangat disampingnya. Ternyata Eliza memeluknya. Gadis itu sama sekali tidak berkomentar, tapi dia langsung memberikan apa yang dibutuhkan Jonathan. Hal itu membuat Jonathan merasa lapang, lega, dan menghangat.


Dia tidak butuh saran, dia tidak butuh suara, dia hanya membutuhkan sebuah perlakuan. Seperti hal yang diberikan Eliza.


"You did well. Jangan malu pada dirimu sendiri. Jangan takut untuk melakukan sesuatu yang salah, kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencoba. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri." Eliza menggigit bibir bawahnya, ragu. "Kalau butuh teman untuk cerita, kau bisa datang padaku. Apapun itu, walau bukan cerita. Kau bisa datang padaku."


Jonathan tersenyum. Lega mendengar kalau ternyata ada yang peduli padanya. Meski dia punya Carlos untuk menceritakan masalahnya, tapi tentunya rasanya akan berbeda.


Sekarang, Jonathan tahu kemana dia harus melangkah.


Dia sekarang punya rumah tempat dia bisa mengadu.


Dia juga tidak perlu takut menghadapi dunia.


Karena dia punya Eliza.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2