Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 5


__ADS_3

Carlos Vince mengeratkan jaketnya ketika angin musim dingin mulai berhembus. Saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh malam dan dia baru saja berjalan menuju studionya setelah mengantar Amelia pulang. Udara musim dingin bulan Desember memang begitu menusuk sampai tulang-tulangnya ikut menggigil. Untungnya, jarak studio dengan tempat tinggal Amelia tidak terlalu jauh, jadi dia cuma perlu berjalan ke ujung jalan sampai menemukan perempatan. Studio Carlos cuma tinggal menyebrang jalan saja.


Ketika Carlos sampai didepan studio, ia langsung membuka pintu kaca tersebut sembari mengusap kedua lengannya saking dingin. Bahkan uap-uap dingin muncul dari mulutnya, mekipun sudah berada didalam ruangan.


Laki-laki itu sedikit terkejut mendapati Jonathan Darrel duduk di meja resepsionis sambil memutar-mutar kursi yang didudukinya. Sepertinya Jonathan tidak menyadari kehadiran Carlos, karena kedua telinga laki-laki itu terpasang earphone dan pandangannya mengarah ke atas, entah menatap apa.


"Hei, Jo!" Carlos menepuk pundak Jonathan sampai laki-laki itu tersentak dan refleks melepaskan earphone ditelinganya.


"Ya ampun, bisa tidak, jangan mengagetkan." prostesnya saking terkejut. Sementara Carlos cuma bisa cekikikan.


"Siapa suruh melamun." ujar Carlos setelah ia mengambil tempat duduk dihadapan Jonathan. "Omong-omong kenapa bisa disini?"


Jonathan tidak langsung menjawab, ia terlebih dahulu memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana. "Awalnya aku memang datang mau mengunjungimu, tetapi saat aku kesini, Eliza bilang kau pergi. Jadi aku mengobrol dengannya."


"Tadi aku bertemu Amelia, sekalian membantunya di toko dan mengantar dia pulang."


"Sudah kuduga." balas Jonathan.


"Oh iya, Eliza mana? Kenapa tidak menemanimu?"


"Tadi sore dia mengeluh pusing dan mual, lalu kusuruh saja dia istirahat. Kasihan wajahnya pucat sekali."


Carlos menghela napas. "Padahal tadi dia sempat baikan."


"Dia sakit?"


Carlos mengangguk. "Wajahnya tadi sempat pucat sedikit, tapi setelah itu hilang. Makanya aku berani meninggalkannya."


"Mau diajak ke dokter? Mumpung kita berdua ada disini." tawar Jonathan.


"Boleh. Tunggu sebentar, aku akan memastikan keadaannya dulu dan menyuruh dia makan." kemudian Carlos bangkit dari duduknya dan berjalan menaiki tangga, menuju ke kamar Eliza.

__ADS_1


Carlos mengetuk pintu kamar Eliza ketika dia sampai didepan kamar gadis itu. Karena tidak ada jawaban dan Carlos juga sudah merasa was-was, laki-laki itu pun membuka pintu kamar si gadis dan mendapati adiknya berada diatas kasur sambil menyandarkan tubuhnya. Mata sayu Eliza menatap Carlos yang kini berada diujung pintu.


"Masih sakit?"


Eliza menggeleng lemah. "Sudah baikan, kok."


"Mau ke dokter?"


Gadis itu kembali menggeleng. "Tidak."


"Makan dulu, ya? Supaya lebih enakan."


"Aku masih mual." sahut Eliza lemas.


"Jangan dibiarkan begitu, nanti semakin parah. Makan ya? Atau mau makan dibawah? Jonathan masih ada dibawah."


"Aku mau istirahat saja." saat Eliza akan merosot masuk ke dalam selimut, Carlos buru-buru menghampiri Eliza dan menarik lengan Eliza pelan.


Mendengar perintah sang kakak, mau tidak mau Eliza menurut pada Carlos. Ia pun menyibak selimutnya dan mulai berjalan keluar kamar dibantu Carlos, karena jalannya masih terhuyung.


"Pelan-pelan." ujar Carlos lagi ketika mereka menuruni tangga. Laki-laki itu menuntun langkah lunglai Eliza, takut jika sewaktu-waktu Eliza bisa pingsan saking lemasnya. Ketika sudah sampai bawah, Carlos langsung membantu Eliza duduk, kemudian dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang tadi dia beli untuk Eliza. Sementara Eliza menelungkupkan kepala saking lemasnya.


Jonathan yang awalnya duduk dibalik meja resepsionis, langsung menghampiri Eliza dan duduk dihadapan gadis itu. Kemudian ia ikut menelungkupkan kepala hingga mata mereka bertemu. Mata sayu milik Eliza dan mata penuh binar kekhawatiran milik Jonathan.


"Sakit sekali, ya?" tanya Jonathan.


"hm." sahut Eliza singkat. Matanya sudah setengah terpejam, seolah menahan sakit.


Lantas tangan Jonathan menyentuh kening Eliza dan dia cukup terkejut karena kening gadis itu terasa panas. Jonathan pun refleks menegakkan tubuhnya. "Eliza sebaiknya kita...."


"Jonathan, kau sudah makan?" sela Carlos dari dapur, memotong ucapan Jonathan pada Eliza.

__ADS_1


"Belum." balas Jonathan. Setelahnya tidak ada jawaban dari Carlos lagi. Kini tatapan Jonathan tertuju pada Eliza yang masih menyandarkan kepalanya diatas meja. "Apa sebaiknya kau ke dokter?" tanya Jonathan, menyambung kata-katanya yang terpotong tadi.


Eliza pun bangkit, menegakan tubuhnya. Meski sedikit pusing, dia menggeleng pelan. "Aku hanya butuh istirahat." katanya. Kemudian dia kembali menelungkupkan kepala.


Beberapa saat setelahnya, Carlos datang dengan dua mangkuk dan dua gelas air putih lantas meletakkannya diatas meja. "Tadi aku beli makanan lebih, kau makan malam disini saja." ujar Carlos pada Jonathan.


"Kau sendiri?" Jonathan sambil memajukan dagunya ke arah Carlos.


"Sudah tadi dengan Amelia." jawabnya sambil mengangkat kedua bahu. Laki-laki itu pun duduk disebelah Eliza. Tanpa memperhatikan cibiran yang Jonathan berikan untuknya. "Eliza, makan dulu." Carlos sedikit mengguncang bahu Eliza, berusaha membangunkan si gadis. "Kau baik-baik saja? Apa kita perlu ke dokter?" sambungnya.


Eliza akhirnya mengulas senyum, mungkin karena bosan sejak tadi ditanya oleh dua laki-laki dihadapannya. "Aku baik-baik saja, hanya perlu istirahat. Besok juga baikan." katanya. Lalu dia meraih mangkuk sup ayam dan mulai menyantapnya.


Mendengar jawaban Eliza, Jonathan maupun Carlos mengangguk, mengerti. Kalau sudah begini mereka tidak bisa memaksa Eliza. Carlos mengusap kepala Eliza sesekali memperhatikan makan gadis itu supaya tidak 'belepotan' sementara Jonathan mulai meraih mangkuk supnya sesekali mencuri pandang pada Eliza. Dia juga melihat bagaimana Carlos begitu perhatian pada adiknya. Eliza beruntung memiliki orang-orang yang bisa memperhatikannya disaat seperti sekarang ini.


Melihat perhatian yang diberikan Carlos pada Eliza, mengingatkan Jonathan pada sosok sang ibu. Dia sangat menyayangi ibunya. Saking sayangnya, ia tidak berani mengecewakan sang ibu. Jonathan mulai berandai-andai, apa yang ibunya lakukan sekarang? Apa ibunya sudah makan? Apakah ibunya baik-baik saja? Mengingat Jonathan sangat jarang menghubungi sang ibu. Paling sebulan sekali, bahkan mungkin tidak sama sekali.


Laki-laki itu menghela napas jengah. Setidaknya disini ia punya teman yang bisa membantunya disaat-saat tersulit.


"Kau kenapa?" tanya Carlos ketika menyadari helaan napas dari temannya.


Jonathan menggeleng. "Tidak apa-apa. Cuma kepikiran sesuatu."


"Kalau ada masalah, ceritakan saja." ujar Carlos.


Jonathan pun tersenyum tipis. "Nanti kalau sudah waktunya aku akan cerita." katanya. Dan kata-kata itu otomatis membuat Eliza mengangkat kepalanya menatap Jonathan. Matanya menyiratkan sebuah tanda tanya, dan Jonathan mengetahui pertanyaan itu. Dia pun tersenyum ke arah Eliza, berusaha meyakinkan gadis itu kalau dirinya baik-baik saja, tanpa perlu Jonathan mengatakannya.


"Oke. Kapan pun itu sebaiknya kau cepat cerita padaku. Jangan dipendam sendiri dan jangan main rahasia-rahasiaan."


Laki-laki itu mengangguk, masih dengan senyum yang sama. "Iya." jawabnya singkat, jelas dan mengandung sebuah penekanan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2