Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 2


__ADS_3

Entah mengapa Jonathan merasa bahwa pemintaan Carlos terdengar seperti sebuah misi baginya. Padahal cuma masalah kecil, menggunakan jaket dan syal. Anak kecil pun tahu kalau di musim dingin bulan Desember seperti ini, semua orang pasti merasa kedinginan dan butuh kehangatan. Laki-laki itu sepertinya memberikan lampu hijau bagi Jonathan untuk mendekati Eliza. Padahal tadi itu cuma ketidaksengajaan. Wajar saja kan kalau kau heran melihat sesuatu yang muncul secara tiba-tiba hingga membuatmu kehilangan kesadaran?


Carlos menanggapinya sedikit berlebihan.


Jonathan bahkan tidak tahu harus bagaimana sekarang. Daritadi dia hanya mengikuti Eliza Fern dari belakang, seperti mata-mata. Entah gadis itu menyadarinya atau tidak, tapi sepertinya tidak, karena Jonathan berada jauh dibelakang Eliza.


Yang Jonathan lihat saat ini, Eliza berhenti didepan toko bunga. Laki-laki itu mengerutkan dahi, dia mau kemana sampai membeli bunga segala. Padahal Carlos menyuruh Jonathan untuk memastikan gadis itu menggunakan mantel dan syalnya, tapi pada akhirnya, Jonathan malah mengikuti kemana gadis itu pergi.


Entah siapa yang berlebihan disini.


Tidak lama setelah itu, Jonathan melihat Eliza keluar dengan membawa sebuah bunga ditangannya. Entah bunga apa yang jelas warnanya putih. Kembali laki-laki itu mengikuti langkah Eliza yang tidak jelas kemana. Jonathan tahu kalau dirinya memang bodoh, ini jelas-jelas diluar logikanya, tapi tetap saja kakinya menyuruhnya mengikuti Eliza.


Hingga pada akhirnya, gadis itu berhenti tepat didepan sebuah toko pernak-pernik natal. Tidak, bukan didepan toko, tapi pada sebuah bangku didepan toko. Eliza memilih duduk dibangku itu, sedetik kemudian ia membuka isi tasnya dan mengambil ponsel. Memainkannya sebentar kemudian memasang earphone ke telinga. Gadis itu tampak termenung ditengah musim dingin sendirian.


Jonathan memandang gerak-gerik Eliza dari kejauhan, ia mengernyitkan alisnya, bingung. Biasanya orang-orang akan menikmati waktu musim dingin ini, entah itu pergi dengan pacar, teman atau orang-orang terdekat.


Tapi Eliza?


Gadis itu seperti orang putus asa. Terlihat dari caranya beberapa kali membuang napas pasrah.


Jonathan merasa sedikit iba melihat Eliza. Gadis itu seperti menyembunyikan sesuatu dari orang terdekatnya dan lebih memilih melarikan diri. Jonathan tidak tahu pasti apa masalah gadis itu, tapi yang gadis itu butuhkan adalah seorang teman. Teman untuk mengobrol, teman untuk berbagi cerita, teman untuk membuatnya tertawa.


Dan Jonathan menyadari bahwa senyum yang gadis itu berikan tadi, seperti dipaksakan. Pasti gadis itu punya masalah yang berat sampai dia bertingkah seperti itu. Meski Jonathan baru mengenal Eliza, tapi ia tahu melalui sorot mata si gadis.


Laki-laki itu akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Eliza yang tengah melamun menatap jalanan. Mungkin saat ini jalanan sedang ramai oleh para pejalan kaki, tapi tidak untuk hati Eliza. Dan Jonathan paham betul kalau saat ini yang Eliza butuhkan adalah seorang teman.


Jonathan pun duduk sebelah Eliza, menatap gadis itu sekilas, lantas mengarahkan fokusnya ke jalan raya. Eliza pun melepas kedua earphone ditelinganya, ketika melihat orang duduk disebelahnya. Awalnya Eliza pikir orang yang duduk disampingnya adalah orang jahat, tapi setelah melihat perawakan Jonathan, ia pun bisa bernapas lega.


"Sedang apa disini sendirian?" tanya Jonathan, ketika tahu Eliza sudah tidak menggunakan earphone lagi.


Eliza tidak langsung menjawab, dia memasukkan ponsel dan earphonenya ke dalam tas. "Hanya menikmati musim dingin di bulan Desember."


Jonathan tersenyum. "Padahal musim dingin selalu datang tiap tahun dan kau masih bisa menikmatinya besok, juga tahun depan." ujarnya sambil menoleh menatap Eliza.


Eliza tampak tersenyum miris mendengar ucapan Jonathan. Musim dingin memang datang tiap tahun, ini hanya masalah waktu. Dan Eliza paham maksud laki-laki itu. Ia hanya membalas kata-kata Jonathan dengan tawa. Tawa yang sedikit dipaksakan.


"Omong-omong, kita belum berkenalan. Masih ingat padaku kan? Kita baru bertemu beberapa menit lalu." timpal Jonathan.


Eliza mengangguk, masih dengan senyum diwajahnya. "Masih. Teman Carlos, kan?"


"Aku Jo..."


"Jonathan Darrel, benar?" belum selesai Jonathan memperkenalkan diri, Eliza sudah lebih dulu menyela. Dan sayangnya itu benar. "Aku tahu dari temanku, dia penggemarmu. Omong-omong aku Eliza Fern."


Jonathan bahkan baru sadar siapa dirinya, tidak disangka ia akan melupakan kenyataan bahwa dia seorang artis youtube yang populer dikalangan anak muda. Rasanya sedikit menggelitik begitu mendengar reaksi orang-orang yang mengetahui namanya lebih dulu tanpa perlu ia memperkenalkan diri.


"Aku ingin menemui temanmu itu." seloroh Jonathan.

__ADS_1


"Kalau aku kembali ke rumah, aku akan kenalkan padanya." sahut Eliza.


"Rumah?"


"Aku tinggal di San Fransisco. Aku cuma mau mengunjungi Carlos disini, sekalian menikmati musim dingin bersalju." katanya.


"Oh, pantas kau mau menikmati musim dingin." Jonathan mulai paham mengapa gadis disebelahnya ini memilih pergi ditengah musim dingin seperti sekarang ini. Ternyata gadis itu mau menikmati musim dingin bersalju, mengingat musim dingin di California tidak pernah diiringi salju.


Eliza tersenyum tipis, kemudian memasukkan tangannya ke dalam kantong mantel sembari menghela napas, hingga uap-uap putih muncul. "Aku tidak percaya saat ini aku mengobrol dengan seorang artis." katanya.


Jonathan tersenyum lebar menanggapi kata-kata Eliza. "Memang bagaimana rasanya?"


Eliza menaikkan kedua bahunya. "Seperti bicara dengan orang biasa."


"Aku ini memang orang, Nona." jawab Jonathan disertai tawa singkatnya. "Memangnya kau berharap yang bagaimana?"


"Entah." sahut Eliza asal. "Omong-omong, kau tinggal dimana?"


"Didekat sini. Dari jalan diujung sana, tinggal belok sedikit ke kiri." Jonathan sambil menunjuk jalan.


Eliza pun mengangguk. Setelahnya, ia mengerutkan dahi. "Lalu, kenapa kau kemari? Ini kan bukan jalan menuju rumahmu."


Sial. Ketahuan sudah Jonathan mengikuti Eliza. Ia tidak mengira kejadiannya akan begini.


Eliza berusaha menahan tawa melihat ekspresi Jonathan. Ya ampun, padahal baru bertemu tapi dia sudah bisa membuat Eliza tersenyum bahkan tertawa. Sejenak dia bisa melupakan sesuatu yang saat ini mengganggu pikirannya.


Jonathan langsung membulatkan matanya, bagaimana gadis ini bisa tahu? Diam-diam Jonathan bergidik pada gadis disebelahnya ini, jangan-jangan dia bisa membaca pikiran orang lain.


"Dia memang kadang suka berlebihan. Tapi, kalau boleh jujur, dia sudah aku anggap seperti kakak kandungku." timpalnya.


Jonathan mengangguk, membenarkan kalau Carlos itu orangnya memang sedikit berlebihan. Untung saja dia berlebihan disituasi yang benar. Misalnya saat ini, dia membuat skenario singkat pertemuan pertamanya dengan Eliza Fern.


"Omong-omong, mau menikmati musim dingin bersama?"


...-οΟο-...


"Oh my god! Itu Jonathan Darrel!" Beberapa gadis terdengar berseru ketika melihat Jonathan melintasi jalanan pinggir kota New York. Jonathan berulang kali melemparkan senyum menyapa gadis-gadis yang memanggil namanya. Sementara Eliza yang berada disebelahnya mengelengkan kepala.


"Apa mungkin mereka akan mengira kalau aku ini pacarmu?" gurau Eliza.


"Mungkin." timpal Jonathan sambil tertawa. "Kurasa komentar di youtube ku akan penuh nanti karena berita itu."


"Astaga, pasti sulit jadi orang terkenal, ya?" timpal Eliza ikut tertawa. "Omong-omong mau mengajakku kemana?"


"Ke suatu tempat. Aku adalah pemandu wisatanya."


Eliza tertawa pendek. Ya ampun, baru pertama kali bertemu sudah bisa membuat Eliza tertawa. Mengesankan sekali. Dan yang gadis itu lakukan adalah mengikuti Jonathan Darrel sementara tangannya dia masukkan dalam kantong mantel.

__ADS_1


"Aku dulu pernah tinggal di Los Angeles." celetuk Jonathan tiba-tiba. Hingga membuat Eliza mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Jonathan.


"Benarkah?"


Jonathan mengangguk. "Waktu delapan belas tahun aku pindah kesini."


"Lumayan lama juga."


"Dulu waktu musim panas, kami selalu liburan ke Pantai Santa Monica."


"Menyenangkan sekali." gumam Eliza. "Kalau boleh tahu, kenapa kau pindah?"


Jonathan menghela napasnya. "Soal itu... aku tidak bisa memberitahumu."


Eliza mengangguk, mengerti. Tidak semua orang akan berbagi cerita, apalagi pada orang yang baru dikenal. "Tidak apa-apa. Aku mengerti." katanya. "Oh, iya Jonathan. Omong-omong, kau kenal Carlos sejak kapan?"


"Dia dulu tetangga sebelah apartemenku sebelum pindah dan menyewa studionya sekarang."


"Berati sudah lumayan lama, ya? Pantas saja akrab."


"Ya, begitulah." sahut Jonathan seadanya.


Setelahnya mereka mulai mengobrol santai, membicarakan musim dingin dan natal yang sebentar lagi akan datang. Jonathan bilang kalau natal di New York benar-benar ramai, jalanan kota akan dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang. Kota New York bisa dikatakan kota yang tidak pernah tidur, bahkan di hari natal pun, kota itu malah makin menjadi-jadi.


Selama mengobrol dengan Jonathan, Eliza tidak bertanya kemana laki-laki itu akan membawanya. Dia hanya mengikuti langkah Jonathan. Hingga pada akhirnya, Jonathan menghentikan langkahnya dan membuat Eliza ikut berhenti sembari mengerutkan dahi.


"Kenapa?" tanya Eliza.


"Kita sudah sampai."


"Hm?"


Eliza lantas melihat sekelilingnya. Ia tidak tahu ini dimana, tapi tempatnya sangat indah. Tanpa sadar gadis itu memajukan langkahnya perlahan dan berhenti lagi. Ia melepas pandangan ke arah sungai besar didepannya. Angin musim dingin kini menerbangkan anak rambutnya. Sejenak Eliza melupakan keberadaan Jonathan dibelakangnya, gadis itu perlahan menutup matanya perlahan. Ia berusaha membuang segala pikiran yang menjadi beban belakangan ini. Semuanya terasa begitu berat, sampai ia ingin menangis.


Meski ada banyak orang ditempat ini, entah mengapa hati Eliza terasa sepi. Seolah hanya ada dirinya disini.


Perlahan Jonathan mendekati Eliza. Sedari tadi ia memperhatikan gadis itu dan ia tahu ada sesuatu dalam diri Eliza yang tidak ia ketahui. Bahkan mungkin Carlos, orang yang paling dekat dengannya tidak mengetahui hal tersebut. Terlihat dari raut wajah gadis itu seolah menyembunyikan beban sendirian.


"Kalau mau, tiap sore aku temani pergi kesini." celetukkan Jonathan membuat Eliza tersentak dan refleks membuka mata.


Eliza tersenyum getir. Sedetik kemudian dia menoleh, menatap Jonathan. "Tidak apa-apa." katanya.


Dari situ Jonathan menyadari bahwa dia bukan satu-satunya orang yang menyimpan banyak rahasia. Setelah dia berkenalan dengan Eliza, dia menyadari kalau orang yang kelihatannya baik-baik saja, bisa saja dia adalah orang yang rapuh.


Dan Jonathan pun sadar, kalau selama ini dia bukan satu-satunya orang yang punya cerita menyedihkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2