Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 8


__ADS_3

Eliza Fern menelusuri seluruh galeri guna mencari sosok sang kakak. Sejak turun dari kamarnya, Eliza tidak menemukan Carlos dimanapun, bahkan dia juga tidak ada ditempat persembunyian laki-laki itu. Terlintas dipikiran Eliza kalau kakaknya itu sedang pergi mengantar lukisan pada pelanggan, yeah, akhir-akhir ini Carlos memang sibuk sekali. Orderan lukisannya mulai padat menjelang natal.


Omong-omong hari ini Eliza akan berkunjung ke tempat Amelia, makanya dia mau minta ijin untuk pergi. Kemarin sebelum Amelia pulang, Eliza diminta untuk datang berkunjung ke toko bunga Amelia, supaya ia punya teman ngobrol; menjaga toko sendirian terkadang sangat membosankan katanya.


Tepat pada saat Eliza melangkahkan kaki ke ruangan depan, Carlos memasuki Studio. Eliza pun langsung menghampiri Carlos yang sudah duduk dibalik meja resepsionis.


"Hai, Carlos!" Sapa Eliza dengan senyum sumringah, "darimana?" tanyanya.


Carlos ikut tersenyum menatap Eliza. "Yeah, biasa... habis dari klien." Katanya. Dugaan Eliza memang benar.


"Sibuk sekali akhir-akhir ini." Gumam Eliza.


"Begitulah." Carlos menjawab sambil mengangkat kedua bahu, kemudian dia melanjutkan, "sebentar lagi kan hari natal. Oh, ya omong-omong kau ada janji saat malam natal atau dihari natal?"


"Hm.. kemarin Jonathan mengajakku main ice skating. Dia juga mengajakmu dan Amelia ikut."


"Sayang sekali aku punya acara dengan Amelia. Kami akan ke Broadway." Terlihat raut menyesal diwajah Carlos.


Mendengar kata Broadway, Eliza Fern langsung bungkam. Sudah lama sekali ia tidak mendengar nama daerah itu. Rindu kini menjalar dalam diri Eliza, tapi ia tidak memungkiri kalau tidak ada alasan baginya untuk kembali ke kehidupan lamanya. Sejak memutuskan untuk pergi ke New York, Eliza Fern tidak mau mengingat lagi kenangan lamanya. Bukan apa-apa, hanya saja, keadaan memaksanya untuk menelan dalam-dalam impiannya.


"Kau mau ikut?" Pertanyaan dari Carlos membuat Eliza mendongak, dia tanpa sadar menundukkan kepala. "Aku yakin kau pasti merindukan teman-temanmu." Timpal Carlos.


Eliza menggeleng. "Tidak, mereka pasti tidak akan ingat padaku. Aku sudah lama berhenti menari."


"Kau adalah penari dan penyanyi yang hebat, mana mungkin mereka lupa padamu." Jawab Carlos dengan enteng.


Bukan. Bukan masalah lupa, tapi ini masalah 'masih sanggupkah Eliza bertemu dengan teman-temannya itu?' Mendengar Carlos membicarakan tentang Broadway membuat Eliza kembali memikirkan tentang hal mengejutkan yang ia katakan waktu itu. Hal yang membuatnya harus rela pergi sejauh-jauhnya dari San Fransisco dan melanjutkan hidupnya di New York. Sayangnya, New York bukanlah tempat pelarian yang bagus untuk Eliza, Eliza lupa kalau di New York dekat dengan Broadway.


"Kurasa aku akan memikirkannya." Gumam Eliza pelan.


Well, Carlos tahu kalau Eliza Fern berhenti bermain teater di San Fransisco, tapi Carlos tidak tahu apa yang menjadi penyebab adiknya berhenti. Carlos tahu sejak kecil adiknya sangat menyukai dunia seni, karena keluarga mereka memang keturunan keluarga seni. Berhentinya Eliza dari dunia teater dan memutuskan untuk tinggal di New York, menjadi tanda tanya besar bagi seluruh keluarga. Bahkan sampai sekarang pun Carlos tidak tahu alasan Eliza meninggalkan teater dan pergi ke New York.


Carlos mengangguk pelan menangapi gumaman Eliza sembari menghembuskan napas pasrah. "Oke, itu keputusanmu, kalau mau kau bisa datang dengan Jonathan. Aku tetap akan carikan tiket, lumayan kau bisa kencan dengan Jonathan." Katanya sedikit berseloroh.


"Aku tidak berkencan!" Protes Eliza.


"Sekarang tidak, mungkin nanti."


"Carlos!"


Carlos pun menanggapinya dengan tertawa.

__ADS_1


"Omong-omong Carlos, aku mau ke tempat Amelia, mau membantunya." Ujar Eliza mengalihkan pembicaraan.


"Ke tempat Amelia?"


"Iya."


"Tumben sekali."


Eliza menaikkan kedua bahunya. "Hanya ingin."


"Oh ya, aku dengar dari Amelia, kau pernah berkunjung ke toko bunganya, kapan?"


Eliza menggigit bibir bawahnya. Keraguan kini muncul menghantuinya. "Aku lupa." Katanya.


"Aneh sekali, kenapa kau pergi membeli bunga." Eliza menanggapi gumaman Carlos dengan tawa kikuk, dia pun mengalihkan tatapan ke arah lain, guna menghindari tatapan Carlos. "Apa kau mengunjungi seseorang?"


Eliza membelalakan mata. "Tidak!"


"Lalu?"


Eliza mengangkat kedua bahunya. "Yeah, aku membeli bunga karena ingin."


"Apa kau membelinya karena tidak ada orang yang bisa memberikannya padamu?" Cibir Carlos.


"Carlos!" Protes Eliza lagi.


"Kenapa?"


"Kau menyebalkan!"


"Menyebalkan bagaimana?"


Eliza langsung bangkit dari duduknya. "Aku mau pergi saja ke tempat Amelia." Cebiknya. Carlos tahu kalau saat ini Eliza sedang kesal. Laki-laki itu pun hanya bisa terkekeh.


"Ya, sudah, hati-hati ya. Titip salam pada Amelia juga." Kemudian Carlos ikut bangkit lalu menghampiri Eliza dan mengacak rambut adik kesayangannya.


...-οΟο-...


"Amelia, ini diletakkan dimana?" Tanya Eliza yang sudah menenteng pot bunga kecil. Matanya terarah pada Amelia yang sedang sibuk menata letak pot ditembok.


"Taruh saja potnya di jendela." Eliza menuruti suruhan Amelia, kemudian gadis itu menghampiri Amelia dan membantunya.

__ADS_1


"Bagaimana caramu membuka toko bunga sendirian?" tanya Eliza sambil membantu Amelia mengangkat pot besar untuk diletakkan didekat pintu masuk.


Amelia tertawa pendek. "Itu karena aku sudah terbiasa. Awalnya aku melakukan dengan ibuku, setelah ibuku benar-benar pensiun mengurus toko ini, aku harus mengerjakannya sendiri" Sahut Amelia sambil tersenyum.


"Kau benar-benar perempuan hebat." Sahut Eliza sambil tersenyum lebar.


"Semua orang pasti bisa melakukannya kalau mereka berusaha." Gumam Amelia. "Nah letakkan disini." Timpal Amelia dengan menurunkan pot besar tadi.


"Ah, melelahkan sekali." Eliza langsung meregangkan pinggangnya.


"Memang begitu kalau tidak terbiasa. Padahal tadi aku menyuruhmu untuk duduk dulu."


Tadi saat Eliza baru datang, Amelia menyuruh Eliza untuk duduk sembari menunggunya menata toko. Tapi yang terjadi Eliza malah ikut membantu Amelia Chloe.


"Oh ya, Eliza?"


"Hm?"


"Nanti ikut makan malam bersamaku ya di apartemen. Ibuku sangat ingin bertemu denganmu setelah aku cerita tentang dirimu."


"Wah, serius?"


"Iya." Amelia mengangguk.


Eliza senang sekali bisa mengenal Amelia, dia sejenak dapat membuat Eliza melupakan masa lalunya. Dia sempat ragu untuk memulai semuanya di New York, tetapi semua berubah ketika ia memilih untuk tinggal bersama Carlos. Dengan Carlos, Eliza dapat mengenal dua orang sekaligus dalam hidupnya. Jonathan yang mampu menghibur hati Eliza disela-sela kekalutan serta Amelia yang memberikannya motivasi. Serta Carlos yang senantiasa berada disisi Eliza. Eliza tidak tahu bagaimana jadinya kalau mereka tahu soal rahasia Eliza, dia tidak siap meninggalkan mereka semua.


"Eliza?" Panggil Amelia dengan suara pelan.


"Ya?" Eliza baru sadar kalau dirinya melamun, gadis itu langsung menoleh menatap Amelia.


"Kau melamun?"


Eliza tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. "Tidak."


"Sepertinya kau sedang ada masalah." Gumam Amelia menyimpulkan dari raut muka Eliza.


"Aku baik-baik saja." Eliza pun tersenyum tipis, berusaha meyakinkan kalau ia baik-baik saja.


"Kalau ada apa-apa kau bisa cerita padaku, walaupun kita baru kenal, tapi kau bisa mempercayakan semuanya padaku."


Entah mengapa, hati Eliza merasa lega setelah mendengar Amelia mengucapkan hal tersebut. Gadis itu merasa bahwa saat ini ia tidak kesepian lagi. Seolah dia memiliki harapan dalam menjejaki kerasnya kehidupan. Seperti yang Eliza bayangkan, Amelia benar-benar memotivasinya untuk terus berjuang.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah Amelia yang khawatir, cepat-cepat Eliza tersenyum dan mengatakan, "tentu saja."


...----------------...


__ADS_2