
Eliza tampak merentangkan kedua tangannya ke atas, berusaha meluruskan otot-ototnya yang pegal setelah selesai menjadi model lukisan Carlos. Gadis itu tidak langsung naik ke kamarnya, Carlos menyuruh untuk menjaga studio, karena sebentar lagi dia mau keluar menemui seseorang.
Gadis itu pun duduk disalah satu meja dekat pintu masuk, mungkin bisa disebut meja resepsionis. Biasanya Carlos akan duduk disana untuk berdiskusi mengenai pemesanan lukisan.
Eliza kini menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Menjadi model selama kurang lebih satu jam, membuat badanya pegal. Tapi tidak masalah, selama melihat orang lain senang, Eliza akan ikut senang.
Kemudian Eliza melihat Carlos keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Eliza. "Maaf ya membuatmu menjaga studio." katanya dengan menyesal.
"Tidak apa-apa." sahut Eliza.
"Kau mau apa? Aku akan belikan saat pulang." Carlos sambil memasang jam tangan.
Eliza menggeleng. "Kau cepat kembali saja dan jangan pulang terlalu malam." pinta gadis itu.
"Oke." Carlos tersenyum kemudian mengacak rambut Eliza. "Aku pergi dulu, ya?"
Eliza pun mengangguk dan melambaikan tangan pada Carlos. Setelah Carlos menghilang dari balik pintu, gadis itu mulai menghela napas kasar. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Studio ini sekarang sepi tanpa Carlos. Biasanya laki-laki itu ribut sendiri ditengah heningnya studio ini. Gadis itu kini memutar-mutar kursi yang didudukinya sesekali bersenandung.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu berderit, tanda seseorang masuk. Eliza buru-buru bediri saking terkejutnya. Dia bahkan baru sadar kalau tadi dirinya sedikit melamun.
"Selamat da..... tang." ujarnya sedikit ragu setelah melihat siapa yang datang. "Hai!" sapanya dengan riang.
Jonathan Darrel melambaikan tangannya ke arah Eliza. "Carlos ada?"
Gadis itu pun menggeleng. "Dia baru saja keluar."
"Kemana?"
"Bertemu seseorang."
"Siapa?"
"Tidak tahu." gadis itu kembali menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya. Kemudian ia kembali duduk.
Jonathan pun mengikuti dan memilih duduk dihadapan Eliza. "Jadi kau sendirian?"
Eliza mengangguk. "Mm."
Laki-laki itu tersenyum. "Kalau begitu aku temani sampai Carlos datang." katanya.
"Tidak usah repot-repot. Aku sudah besar."
"Tidak apa. Kebetulan ada yang mau aku bicarakan dengan Carlos." sahut Jonathan.
Eliza mengerutkan dahinya. "Apa?"
"Rahasia." cibir Jonathan yang dibalas desisan oleh Eliza. "Omong-omong, kau sudah lihat?"
"Lihat apa?" tanya Eliza penasaran.
"Youtube. Aku baru mengunggah video baru dan kau harus menontonnya."
"Aku sudah melihatnya." jawab Eliza santai.
__ADS_1
"Serius?"
"Iya." gadis itu mengangguk. "Suaramu bagus dan aku baru tahu kau bisa Bahasa Korea."
"Semua keluarga ku berasal dari sana, karena orang tuaku merantau, makanya aku lahir dan besar di Los Angeles." jelas Jonathan. "Kau melihat cover laguku yang lain ya?"
Eliza tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya. "Aku melihatnya sedikit karena penasaran." katanya. "Jadi kau orang Korea?" tanya gadis itu.
"Ya, begitulah." balas Jonathan santai.
"Kalau begitu kita sama!" seru gadis itu senang. "Ayahku orang Jepang dan Ibuku orang Korea." ujarnya.
"Wow, benarkah?" Jonathan agak terkejut mendengarnya. Dia bahkan melupakan fakta kalau Eliza adalah adik sepupu Carlos, sama-sama orang Korea namun telah mengambil kewarganegaraan Amerika sejak lahir. "Bisa Bahasa Korea?"
"Sedikit."
"Bahasa Jepang?"
"Sedikit juga." kemudian Eliza cepat-cepat menambahkan, "jangan tanya hiragana, katakana atau kanji, karena aku buta huruf Jepang." sahut Eliza, membuat Jonathan tertawa.
"Sayang sekali, padahal menyenangkan bisa berbagai macam Bahasa."
"Kau tidak tahu bagaimana kedua orang tuaku menyogokiku dengan ribuan kata, entah dari Bahasa mana itu."
Jonathan kembali tertawa. Eliza Fern semakin terlihat menarik saja.
"Oh iya, kau sudah pernah skating?"
"Kapan-kapan mau pergi skating denganku? Kalau mau kau bisa ajak Carlos juga."
"Kedengarannya menyenangkan. Aku mau." gadis itu tersenyum, semangat.
"Oke." sahut Jonathan sambil mengangguk. "Bagaimana kalau malam natal?"
"Apa?"
"Kita pergi saat malam natal. Skating."
Eliza kembali mengulas senyum lebar diwajah. "Ide yang bagus." sedetik kemudian, senyum Eliza menghilang ketika ia mengingat soal tadi pagi. Gadis itu kembali menatap Jonathan.
"Jonathan?" panggil Eliza.
"Ya?" laki-laki itu kini memandang Eliza. Oh, sekarang mereka tengah bertatapan.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
Jonathan pun mengangguk. "Tentu saja."
"Apa nona musim dingin itu cinta pertama mu?"
Laki-laki itu langsung mengernyitkan alisnya, sedetik kemudian dia tertawa pendek. "Mungkin." jawabnya.
"Aku yakin siapapun dia, pasti dia akan sangat senang mendengar kau menyanyikan lagu untuknya. Apalagi kalau mendengarnya secara langsung." Jonathan memperhatikan gadis itu bicara dengan mata yang berbinar. Dan Jonathan menyadari satu hal dari tatapan gadis itu...
__ADS_1
...... Sinar matanya memancarkan sebuah harapan.
Jonathan tidak mengerti maksud tatapan itu, tapi sebisa mungkin ia akan mengabulkannya untuk Eliza. Apapun itu.
...-οΟο-...
Carlos Vince berdiri didepan toko bunga L'art Deus Fleur, sesekali berjinjit guna melihat seseorang dari balik kaca jendela besar didepan toko. Wajahnya berseri-seri melihat seorang gadis yang kini tengah melayani pelanggan dibalik meja kasir. Hal yang membuatnya rela berdiri didepan toko bunga ditengah musim dingin hanyalah menunggu sosok Amelia Chloe, si pemilik toko bunga.
Beberapa saat setelahnya, Amelia melambaikan tangan pada pelanggannya dan kemudian Carlos melihat pelanggan yang tadi berada dalam toko bunga Amelia keluar melalui pintu kaca. Setelah dirasa toko itu sepi, Carlos segera memasuki toko bunga Amelia hingga menimbulkan suara 'krincing' dari lonceng diatas pintu. Otomatis, Amelia langsung membalikkan tubuhnya, sedetik kemudian dia tersenyum lebar.
"Carlos!" sapanya riang sembari menghampiri laki-laki itu. "Kenapa kau keluar? Diluarkan dingin."
"Aku kan mau mengantarmu pulang." sahut Carlos sambil mengangkat kedua bahu.
"Tapi aku masih lama. Aku juga belum beres-beres toko."
"Aku akan bantu." Carlos tersenyum.
Gadis itu pun mengerling. "Oke." balasnya, kemudian ia berbalik untuk segera membereskan toko bunga, karena sebentar lagi tokonya akan tutup.
Carlos pun mengikuti langkah Amelia yang kini tengah membereskan barang-barang disekitar meja kasir. "Pasti lelah sekali ya?" ujar laki-laki itu.
Amelia mengangguk singkat. "Tapi aku senang." sahutnya. "Kau pasti sibuk sekali ya akhir-akhir ini sampai telat membalas pesanku?"
"Yeah, begitulah. Untungnya saat ini aku ada teman."
Amelia mengernyitkan alisnya. "Teman? Jonathan?"
Carlos dengan cepat menggeleng. "Adik sepupuku. Dia beberapa hari lalu datang menginap."
"Oh? Benarkah?" seru Amelia lagi. "Aku mau bertemu dengannya!" terlihat sekali raut wajah gadis itu senang.
"Kau bisa bertemu dengannya kapan saja." ujar Carlos sambil tersenyum. "Oh iya, kalau kita makan dulu bagaimana? Sekalian mau membelikan makanan untuk adikku."
"Oke!" sahut gadis itu sembari menjentikkan jarinya. "Sudah lama kita tidak jalan berdua karena sama-sama sibuk."
"Mm, kau benar." katanya. "Aku akan mengangkat bunga-bunga diluar."
Setelah mendapat anggukan dari Amelia, Carlos pun pergi keluar toko dan mulai mengangkat beberapa pot bunga yang dipajang diluar toko untuk dimasukkan ke dalam. Sementara Amelia tengah menghitung beberapa nota penjualan. Laki-laki itu juga merapikan letak pot-pot tersebut agar tidak merusak bunga yang lain, kemudian Carlos menurunkan gorden toko yang menutupi kaca jendela. Setelah semuanya selesai, laki-laki itu kembali menghampiri Amelia yang tengah sibuk dengan aktivitasnya.
"Perlu bantuan?"
Gadis itu pun kini menoleh menatap Carlos sambil tersenyum. "Tidak, ini tinggal sedikit lagi. Terima kasih ya sudah membantu."
"Omong-omong, kau punya acara dengan keluargamu saat malam natal nanti?" tanya Carlos.
"Kurasa tidak." gadis itu menggeleng. "Kenapa?" timpalnya.
"Mau pergi kencan denganku? Kita ke Broadway."
Tanpa menunggu lama, Amelia langsung tersenyum lebar dan mengangguk semangat. Carlos sangat tahu apa yang diinginkan Amelia. Siapa juga yang tidak ingin menikmati pertunjukan drama terkenal di Broadway?
...----------------...
__ADS_1