Hard But Easy

Hard But Easy
Bab 13


__ADS_3

Eliza Fern tidak terlalu mendengar jelas pembicaraan Jonathan dengan ibunya dari luar, tapi Eliza mendengar sesenggukan tangis yang keluar⸻sepertinya suasana didalam begitu dramatis. Eliza sampai meneguk ludahnya saking gugupnya. Disituasi seperti sekarang, apalagi nanti saat Jonathan keluar dari kamarnya, Eliza tidak tahu apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan Jonathan nanti.


Ketika Eliza ingin menikmati teh hangatnya lagi, tiba-tiba perutnya mual, ingin muntah. Buru-buru Eliza pergi ke toilet yang berada didekat dapur. Belakangan ini rasa mualnya semakin parah. Ini bahaya, orang-orang tentunya bisa curiga dan akan membawanya ke dokter, itu adalah sesuatu yang paling dihindari Eliza.


Sampai di toilet, gadis itu langsung jatuh terduduk dan memuntahkan isi perutnya dalam closet. Tubuhnya sangat lemas, lebih lemas dari sebelumnya. Rasanya semua energi dalam tubuhnya terkuras habis. Dia harus minum obat. Sialnya tas Eliza ada diluar, dia tidak bisa bergerak sekarang. Terlalu lemah untuk menyeret tubuhnya keluar, bahkan untuk membuka mata saja rasanya begitu berat.


Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Eliza bisa mendengar suara Jonathan yang khawatir. Beberapa kali laki-laki itu memanggil nama Eliza. Mungkin sebentar lagi Jonathan akan bersiap untuk mendobrak pintu.


Setelah mengumpulkan tenaga, Eliza pelan-pelan berdiri sambil memegang pembatas wastafel, lalu dia berjalan terseok-seok. Ketika suara ketukan pintu itu bertambah kencang, Eliza buru-buru membuka pintu dan melihat sosok Jonathan yang menatapnya khawatir dengan napas yang tersenggal-senggal.


"Wajahmu pucat. Ayo aku antar pulang." Jonathan menarik tangan Eliza, tapi gadis itu langsung menepisnya.


"Tidak, Jonathan. Aku hanya perlu minum obat." Katanya. Lalu Eliza berjalan mengambil tasnya yang berada di sofa, dibantu oleh Jonathan.


"Kau yakin? Aku jadi tidak enak." Jonathan menatap Eliza khawatir, mata gadis itu terlihat sayu.


Eliza menggeleng. "Kau sudah selesai telepon?" tanya gadis itu mengalihkan.


Jonathan mengangguk. "sudah."


Eliza tetap tersenyum, meskipun bibirnya terlihat pucat. "Bagaimana ibumu?"


"Ibuku ingin aku datang saat malam natal nanti."


"Itu bagus."


"Dan dia ingin bertemu denganmu."


Eliza membelalak. "Apa?"


"Aku menceritakan semuanya, Carlos, Amelia, ibu Amelia, dan kau. Ibuku sangat ingin bertemu denganmu."


"K-kenapa tiba-tiba?"

__ADS_1


"Aku bilang sesuatu padanya dan ibuku langsung ingin bertemu dengamu." Kata Jonathan dengan sebuah senyum.


"Sesuatu?"


"Sudahlah lupakan saja. Ayo sekarang minum obatmu sebelum aku antar pulang."


Eliza baru ingat kalau dia harus minum obat sebelum penyakitnya benar-benar parah. Bisa gawat.


Jonathan pun langsung beranjak dari duduknya dan mengambilkan segelas air putih untuk Eliza. Tidak lama kemudian, dia kembali lagi dan menyerahkan air tersebut pada Eliza. Jonathan sedikit kaget melihat obat-obatan yang dibawa oleh Eliza. Dia pun menatap Eliza dengan tatapan mengintrogasi.


"Eliza?"


"Hm?" gumam gadis itu setelah meminum obatnya.


"Ini obat apa?" tanya Jonathan pelan-pelan.


Eliza buru-buru merebut obat itu dari tangan Jonathan dan memasukkannya kembali ke dalam tas. "hanya obat mual."


Jonathan mulai curiga. Eliza Fern yang dia kenal tidak mungkinkan kalau gadis itu...


Eliza langsung menengok kaget. "S-siapa bilang aku hamil?"


"Kalau tidak hamil kenapa kau muntah-muntah dari kemarin?"


Eliza mulai berdecak sebal. "Ck, Jonathan jangan aneh-aneh."


Jonathan menatap Eliza kecewa. "Lalu kenapa kau tidak mau dibawa ke dokter?"


Tenggorokan Eliza langsung tercekat begitu Jonathan menanyakan hal tersebut. Entah mengapa Eliza mendadak jadi bisu. Eliza lalu menghela napas.


"B-bukan apa-apa." Eliza buru-buru menyampirkan tasnya. "Aku mau pulang."


Gadis itu pun beranjak dari duduknya, namun tangannya ditahan oleh Jonathan. Membuat gadis itu menoleh.

__ADS_1


"Ayo, aku antar."


Laki-laki itu pun langsung beranjak dan mengambil jaketnya yang tersampir didekat pintu masuk.


"Maaf, aku sudah keterlaluan." Katanya, kemudian dia keluar lebih dahulu dari apartemennya, meninggalkan Eliza yang tidak mengerti dengan situasi semacam ini.


...-οΟο-...


Eliza tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Saat Jonathan mengantarnya pulang, mereka sama sekali tidak bicara. Padahal setelah berhasil berbaikan dengan orang tuanya, Jonathan pasti punya banyak hal yang ingin dibicarakan.


Sampai di rumah, Eliza langsung berbaring di tempat tidur. Tubuhnya benar-benar lemas. Setelah mengantar Eliza tadi, Jonathan tidak bilang apa-apa lagi selain menyuruh Eliza istirahat. Eliza jadi bertanya-tanya kenapa lelaki itu tiba-tiba berubah.


Apa laki-laki itu mengira Eliza benar-benar hamil?


Eliza pun berdecak, dia lantas memalingkan tubuhnya kesamping kiri, menghadap jendela kamar. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamarnya. Tanpa Eliza lihat pun, dia sudah tahu kalau itu Carlos. Dia juga merasa tepian tempat tidurnya bergetar, dan Eliza merasa Carlos sedang duduk disampingnya.


"Maaf aku sudah keterlaluan. Aku tidak bermaksud bilang begitu."


Eliza mendadak bangkit dari tempat tidurnya dan melihat sosok Jonathan yang duduk sambil menatapnya penuh penyesalan.


"J-Jonathan?"


Jonathan tersenyum kecil. "Sepertinya aku terbawa suasana sehabis mengobrol dengan ibuku. Maaf ya." Jonathan mengelus rambut Eliza, membuat gadis itu lupa cara napas selama beberapa detik.


Eliza langsung meraih tangan Jonathan yang berada disamping kepalanya. "Aku memakluminya, itu wajar. Tapi aku tidak bisa mengatakan alasannya padamu, maaf."


"Apapun alasannya, itu pasti demi kebaikanmu." Laki-laki itu tersenyum tulus, tapi dibalas gelengan oleh Eliza.


"Bukan kebaikanku, tapi kebaikan semua orang."


Lagi-lagi Jonathan tersenyum, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.


"Aku harus pulang, Carlos memberiku waktu sebentar bertemu denganmu." Katanya.

__ADS_1


Laki-laki itu lalu bangkit dan mengacak rambut Eliza. "Cepat sembuh, ya. Minggu depan kita ice skating."


...----------------...


__ADS_2