
“Ini kan pesanannya? Oke, gue anterin ini dulu ya.”
“Eh, tunggu, Sha. Lo pelan-pelan aja ya naik motornya, ramalan zodiak Aries hari ini … katanya lagi jelek loh. Pokoknya lo hati-hati deh di jalan, terus jangan berurusan sama orang aneh. Oke?!”
“Dih, hari gini masih percaya yang begituan. Udah ah, gue jalan dulu.”
Pagi itu, Marisha mengantar pesanan pelanggan seperti biasa. Tidak ada perasaan aneh, seperti kata ramalan yang disampaikan oleh temannya. Suasana hati Marisha, bahkan secerah langit biru yang indah.
Marisha memang selalu senang di saat akhir bulan. Karena di saat itu, ia akan mendapat gaji atas kerja kerasnya selama satu bulan.
Ya. Siapa sih yang tidak senang di hari gajian? Semua orang pasti menantikannya. Berharap hari itu akan segera datang.
Setengah perjalanan, Marisha masih baik-baik saja. Suasana hatinya yang cerah, masih terlihat jelas di raut wajahnya.
Sejak meninggalkan cafe, senyum terus saja terlukis di wajah mungilnya. Selama di perjalanan, Marisha berusaha untuk tidak tersenyum, tetapi apa daya, karena baginya pesona gaji bahkan mampu mengalahkan perasaan cinta yang berbalas.
“Baru jam 8, masih lama dong sorenya. Kira-kira bulan ini bisa dapet bonus lagi nggak ya?” gumamnya, saat berhenti di lampu merah.
Berbicara soal bonus, Marisha jadi melamun. Ia membayangkan, jika bosnya yang tua itu mendapat keberuntungan lagi, agar para karyawan di cafe mendapatkan bonus seperti bulan lalu.
(Tin-tin-tin)
Karena sibuk melamun, Marisha tidak sadar jika rambu lalu lintas sudah berganti ke warna hijau.
Beberapa pengendara di belakangnya, terus saja membunyikan klakson.
“Oh, udah ijo ya?!” Marisha pun segera tancap gas.
Setelah melewati satu lampu merah, keadaan masih baik-baik saja. Marisha bahkan sempat bernyanyi, karena terlalu senang.
Yang terjadi selanjutnya, Marisha tidak bisa mengendalikan sepeda motor yang ia kendarai, setelah berpapasan dengan mobil yang melaju kencang.
“E-e-eh eh.”
(Brug)
“Aduh. Gila ya tuh orang? Bawa mobil kayak orang kesetanan.”
Marisha masih belum sadar, tidak jauh dari tempatnya jatuh, ternyata mobil yang sempat berpapasan dengannya tadi, menabrak pohon besar yang ada di sisi jalan.
“Moga aja pesanan pelanggan nggak ada yang rusak.” Harapnya.
“Astaga. Itu kan … ” Marisha langsung berlari menghampiri mobil tersebut.
Marisha mengetuk kaca mobil berulang kali, tetapi pengemudi mobil itu tampaknya tidak sadarkan diri.
“Orangnya pingsan ya?” Marisha lantas mengintip ke dalam mobil, dengan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
“Itu orang, pingsan apa udah mati ya?” gumamnya.
“Aduh, gimana dong ini? Kalo tuh orang beneran udah mati, gimana?” gumamnya lagi.
Marisha celingak-celinguk melihat sekeliling. Suasana jalan, kebetulan sedang sepi.
“Apa gue kabur aja kali ya?”
Marisha berjalan mondar-mandir. Ia bingung harus melakukan apa.
Kalau misalnya Marisha kabur, orang yang di dalam mobil jelas bukan orang biasa, jika dilihat dari mobil yang dipakai.
Orang itu pasti akan melaporkan Marisha ke polisi. CCTV jalanan, pasti merekam kejadian tersebut. Bagaimana kalau Marisha sampai di penjara? Bagaimana nasib ibu dan kedua adiknya di kampung?
“Enggak, gue nggak boleh kabur gitu aja. Gue harus bawa tuh orang ke rumah sakit, terus minta ganti rugi sama dia,” simpulnya, kemudian.
Saat Marisha berbalik, seorang laki-laki muda berwajah tampan, berdiri tepat di hadapannya.
“Lo udah … E-e-eh.” Marisha terkejut, karena laki-laki itu kembali pingsan.
Alih-alih jatuh ke tanah, laki-laki itu justru bersandar ke pundak Marisha.
“Yah, kok pingsan lagi sih?” protesnya.
Meski kembali pingsan, setidaknya Marisha bisa membawa laki-laki itu ke rumah sakit.
Tanpa pikir panjang lagi, Marisha langsung menelpon jasa taksi online untuk mengantarnya ke rumah sakit.
…
“Dokter, gimana keadaannya, Dok? Dia baik-baik aja kan, Dok? Nggak ada luka yang parah kan? Terus dia nggak bakal mati dalam waktu dekat kan, Dok?” cecar Marisha, setelah laki-laki itu selesai diperiksa.
“Pasien tidak apa-apa. Tidak ada luka yang serius. Kita akan tunggu hingga pasien sadar, untuk memastikan lagi kondisinya,” jelas dokter.
Mendengar penjelasan dokter, akhirnya Marisha bisa bernafas lega.
Sepertinya, uang ganti rugi bisa segera Marisha dapatkan. Setelah laki-laki itu sadar, Marisha akan langsung minta pertanggungjawabannya.
Setelah dokter jaga itu pergi, Marisha duduk di samping ranjang pasien. “Astaga. Pesanan pelanggan,” serunya, teringat sesuatu.
Marisha bergegas keluar meninggalkan ruangan. Ia harus kembali ke tempat di mana motornya berada.
“Semoga aja pelanggannya baik hati, jujur dan tidak sombong,” ujarnya.
Untung saja, jarak antara rumah sakit dan tempat kecelakaan cukup dekat. Jadi, Marisha bisa sampai lebih cepat.
Marisha kembali bernafas lega. Motornya masih berada di sana, begitu pun mobil yang dikendarai oleh laki-laki itu.
__ADS_1
“Saya minta maaf, Bu. Soalnya tadi ada-”
“Tidak usah banyak alasan. Saya kecewa dengan pelayanan kalian. Mulai sekarang, saya tidak mau berlangganan di cafe kalian lagi.”
Karena terjatuh tadi, semua makanan pelanggan rusak. Marisha gagal mendapat bintang 5, atas jasa layanan antarnya.
Sudah dimarahi pelanggan, Marisha juga dimarahi oleh bosnya yang tua setelah diminta kembali ke cafe.
Selain pesanan telat dan makanan yang dipesan pelanggan rusak, ternyata sepeda motor yang biasa Marisha pakai rusak di beberapa bagian.
Hal itu jelas membuat bosnya marah besar. Kalau tidak melihat kinerja baik Marisha selama 2 tahun ini, mungkin ia sudah dipecat.
Kesalahan Marisha memang cukup fatal. Kerugian besar baru saja dialami oleh bosnya. Namun, dengan memecat Marisha, ia akan terbebas dari tanggung jawab.
Untuk itu, Marisha tidak jadi dipecat. Gajinya akan dipotong sebagian setiap kali gajian, untuk membayar ganti rugi perbaikan motor.
Di tengah frustasi, panggilan telepon yang Marisha terima, seakan membuat harinya semakin bertambah buruk.
“Baik, Sus. Saya ke sana sekarang,” balasnya.
Salah. Seharusnya Marisha tidak menuliskan nomor teleponnya, sebagai wali dari laki-laki itu.
Sekarang, Marisha diminta ke rumah sakit karena laki-laki itu baru saja sadar.
Terdengar keluhan nafas, saat Marisha tiba di ruang pasien. “Itu orang beneran udah sadar ternyata?” batinnya.
“Lo … udah nggak apa-apa, kan?” tanyanya, kemudian.
Laki-laki itu hanya diam menatap Marisha, tanpa mengatakan apa pun.
“Ini orang kenapa diem aja sih? Kecelakaan tadi, nggak mungkin buat dia jadi bodoh, kan?” batinnya lagi.
“Tulis alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Gue harus minta keluarga lo buat ke sini,” ucapnya, menyodorkan buku note kecil beserta bolpoin kepada laki-laki itu.
Marisha dibuat geram, karena laki-laki itu hanya melihat apa yang ia berikan, tanpa mengambilnya sama sekali.
Keluhan nafas kembali terdengar. “Ya udah, kalo lo nggak mau nulis biar gue aja yang nulis. Sekarang sebutin berapa nomor teleponnya.”
Laki-laki itu masih diam saja. Marisha melihat ke arahnya dan memberikan tatapan tajam kepadanya.
“Kenapa saya harus kasih nomor telepon?” Setelah pertarungan adu pandang, akhirnya laki-laki itu mengeluarkan suara.
“Suruh bayar biaya rumah sakit, sama ganti rugi karena lo udah buat gue hampir dipecat dari kerjaan,” tukas Marisha.
“Salah. Seharusnya saya yang minta kamu tanggung jawab, karena sudah membuat saya kehilangan ingatan.”
“Apa? Hilang ingatan?”
__ADS_1