
Setelah jam makan siang usai, Marisha tidak benar-benar membuktikan niatnya yang ingin tidur seharian selama libur mendadaknya itu. Teman dekat Marisha yang bilang ramalan zodiaknya sedang jelek, tiba-tiba menghubungi dan memintanya untuk kembali ke café.
Hari ini benar-benar menjadi hari buruk Marisha. Ia hanya bisa membuang nafas berat, tanpa bisa melayangkan protes. Bosnya yang tua itu, pasti memintanya kembali bekerja dengan alasan yang tidak masuk akal.
“Gue mau balik kerja lagi. Lo diem aja di sini. Inget ya, jangan buat rumah gue jadi kayak kapal pecah. Awas aja kalo lo berani,” ancamnya, sebelum pergi.
“O iya, kalo lo laper … lo boleh masak mie yang satu tadi.”
Siang itu, Marisha benar-benar meninggalkan rumah. Ia menitipkan rumahnya kepada seorang laki-laki yang baru dikenalnya.
Entah kenapa, Marisha percaya begitu saja kepada laki-laki itu. Bagaimana jika Bima tidak benar-benar hilang ingatan? Bagaimana jika setelah Marisha pergi, Bima melakukan sesuatu dengan rumahnya?
Entahlah. Mungkin karena mobil mewah yang sebelumnya Bima pakai, membuat Marisha yakin untuk meninggalkan rumah dengan Bima di dalamnya. Justru yang membuat Marisha khawatir adalah, Bima akan membuat keadaan rumahnya menjadi berantakan.
Beberapa menit setelah Marisha pergi, Bima bingung harus melakukan apa. Ia bosan jika hanya berdiam diri. Akhirnya Bima pun memutuskan untuk menyalakan TV. Berita kecelakaan seorang CEO muda dari perusahaan ternama, menjadi topik utama dari berita tersebut. Dalam berita, dikatakan jika tidak ada tanda-tanda kecelakaan lain di sana.
Sepertinya, pihak kepolisian dan media menduga jika kecelakaan yang dialami oleh CEO muda itu adalah kecelakaan tunggal. Sedang mengenai korbannya sendiri, mereka masih melakukan penyelidikan.
“Tidak ada acara lain apa selain berita? Mana isi beritanya sama semua lagi,” keluh Bima.
Ia baru saja mengganti acara TV yang dilihatnya ke beberapa channel, tetapi isi acaranya hampir sama semua. Yakni berita kecelakaan yang melibatkan CEO muda dari perusahaan terkenal itu.
“Membosankan,” keluhnya lagi.
Karena tidak ada acara film yang menarik, Bima memutuskan untuk mematikannya saja. Bima lantas pergi ke dapur, sebab perutnya mulai keroncongan minta diisi. “Tadi tuh cewek bilang, masak mie-nya ditambah sayuran. Terus mana sayurannya?” Bima mencari sayuran yang dimaksud itu, tetapi tidak ditemukannya di manapun.
“Sepertinya sudah dimasak semua. Ya sudah, tidak usah pakai sayuran kalau gitu,” simpulnya.
__ADS_1
Satu bungkus mie instan dimasaknya tanpa tambahan sayur ataupun telur. Sepertinya, satu bungkus mie instan saja, tidak akan membuat perut Bima kenyang. “Kalau dari baunya, sepertinya enak.” Komentarnya.
Memasak mie instan, tidak membutuhkan waktu lama. Tiga menit saja, kita sudah bisa menikmati kelezatannya. Selesai masak, Bima lantas membawa mie tersebut ke meja makan. Harum kuahnya, membuatnya mengecap beberapa kali.
“Coba kuahnya dulu deh.”
“Slrrup, ah. Enak juga.” Komentarnya lagi.
Sudah mencicipi kuahnya, Bima beralih pada mie kuning bertekstur lembut. Tak butuh waktu lama, makanan instan itu pun telah habis tak bersisa. Bahkan kuahnya pun juga dihabiskan.
Selesai makan, Bima membiarkan mangkuk bekas makannya tetap berada di sana. Ia justru beranjak dari sana dan beralih ke sofa.
Kenyang yang Bima rasakan, membuatnya mengantuk. Sofa sederhana itu pun menjadi alas tidurnya siang itu.
***
“Apa? Lo gila ya, Sha? Ngapain lo bawa tuh cowok ke rumah? Kalo dia macem-macem gimana?” Marisha yang baru saja selesai mengantar pesanan, membagi kisah yang dialaminya hari ini kepada teman dekatnya–Alin.
“Iya deh iya. Sorry. Abisnya gue kaget banget, pas lo bilang bawa tuh cowok ke rumah,” balas Alin.
“Kok bisa sih, lo kepikiran bawa tuh cowok ke rumah lo? Kan lo bisa bawa tuh cowok ke kantor polisi. Biar mereka yang nyari keluarganya, jadi lo nggak perlu repot ngurusin tuh cowok. Gampang, kan?” ujarnya.
“Gampang-gampang. Emang gampang kalo cuma ngomong doang.” Sahut Marisha.
Marisha lantas memberitahu Alin, mengenai semua alasannya tidak melapor pada polisi. Karena jika polisi sampai tau, Marisha bukan hanya tidak mendapatkan uang ganti rugi, tetapi ia bisa saja dijebloskan ke dalam penjara.
Itu sebabnya Marisha membawa Bima pulang ke rumah. Karena hanya itu satu-satunya tempat yang Marisha punya.
__ADS_1
Mendengar cerita teman baiknya, Alin hanya mengangguk-anggukan kepala. Karena Alin sendiri juga pasti bingung jika berada di posisi Marisha. “Berarti lo bakal tinggal serumah dong sama tuh cowok?” tanya Alin.
“Ya … mau gimana lagi? Masa iya gue nginep di rumah lo? Nggak mungkin banget, kan?” balas Marisha.
“Mungkin aja sih. Nanti biar gue yang ngomong sama bokap nyokap gue, kalo lo mau nginep di sana.” Sahut Alin.
Marisha menolak tawaran Alin. Kalaupun malam ini atau beberapa malam selanjutnya, Marisha bisa saja menginap di rumah orang tua Alin, Marisha akan tetap tinggal satu rumah dengan Bima. Entah itu kapan, tetapi itu sudah pasti.
Hilang ingatan yang Bima alami, bukan seperti luka goresan yang beberapa hari saja sudah sembuh. Bima akan membutuhkan waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan untuk mendapatkan ingatannya kembali.
Jadi, Marisha akan tetap pulang ke rumah dan tidur di sana. Lagipula, mereka juga tidak akan tidur dalam satu kamar. Marisha bisa mengunci pintu kamarnya saat malam tiba.
“Terserah lo deh. Gimana baiknya aja,” ucap Alin, menanggapi semua alasan yang Marisha katakan.
“O iya, ngomong-ngomong … nama tuh cowok siapa? Dia ganteng nggak sih? Jangan-jangan dia bapak-bapak yang udah punya banyak anak lagi,” tanya Alin, penasaran akan sosok laki-laki yang dibawa pulang teman dekatnya itu.
“Kalo bapak-bapak sih bukan. Terus kayaknya dia juga belum nikah apalagi sampai punya anak. Mungkin masih jomblo, atau … malah udah punya pacar. Nggak tau deh, tapi kalo dari tampang sih lumayan lah, daripada tuh aki-aki tua,” jelas Marisha, lantas berbisik saat membicarakan laki-laki tua yang dimaksud baru saja lewat.
Saat melihat ke belakang, mereka cekikikan karena membayangkan wajah Bima seperti bos mereka yang tua itu. “Emangnya lo tetep mau bawa pulang tuh cowok kalo tampangnya kaya dia?” goda Alin.
“Dih, amit-amit. Kalo mukanya kayak tuh orang, boro-boro dibawa pulang … gue tinggalin aja dia di jalanan,” jawab Marisha. Setelahnya, mereka berdua tertawa lagi.
“Eh. Siapa nama tuh cowok? Lo kasih dia nama siapa?” Alin kembali bertanya, karena masih penasaran.
Marisha memberithau Alin jika ingin melihat seperti apa wajah laki-laki itu, Alin harus pergi ke rumah Marisha untuk melihat sendiri seperti apa orangnya.
“Namanya Bima. Gue kasih dia nama Bima.”
__ADS_1
“Kok Bima. Alasannya?”
“Karena dia emang Bima … alias biang masalah.”