Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Terlihat Semakin Akrab


__ADS_3

   Menyadari ucapannya itu salah, Marisha segera meralat ucapannya. Maksud perkataannya melarang Bima bekerja adalah, karena Marisha ingin agar Bima fokus pada penyembuhannya.


   Setelah mendengar penjelasan dari Marisha, Bima mengerti sekarang. “Jadi, gimana? Lo mau nggak gue traktir makan?” Marisha kembali menanyakan tawarannya.


   “Iya, saya mau,” jawab Bima.


   “Nah gitu dong. Kalo mau, ya mau. Kalo enggak, ya enggak. Ya udah, ayo berangkat,” ajak Marisha.


   Bima lantas mengikuti Marisha keluar. Awalnya, Marisha ingin mengajak Bima makan di warung depan langganannya, tetapi niat itu Marisha urungkan karena si pemilik warung, adalah janda tua yang suka sekali menggoda laki-laki tampan.


   Marisha tidak mau kalau janda genit itu sampai menggoda Bima. Bisa-bisa waktu makannya terganggu, gara-gara si janda genit yang bertanya ini-itu dan minta dijodohkan dengan Bima.


   Untuk itu, Marisha akan mengajak Bima makan di tempat lain. “Sha, kamu mau ajak saya makan di mana?” Bima bertanya, saat langkahnya tak kunjung sampai di tempat tujuan.


   “Emm … iya ya? Makan di mana ya?”


   “Kenapa tidak makan di restoran?” Bima mencoba memberi usulan, siapa tau saja Marisha setuju.


   “Di restoran? Lo gila ya? Sekali makan di sana itu, bisa buat gue makan seminggu tau,” omel Marisha.


   “Terus makan di mana?” Bima kembali bertanya dengan polosnya.


   Saat ini, Bima hanya bisa mengikuti ke manapun Marisha akan mengajaknya makan. Bima tidak punya uang sepeser pun. Jadi, tidak ada tempat yang bisa ia kunjungi sesuka hati. Apalagi, usulannya tadi langsung ditolak mentah-mentah oleh gadis itu.


   Bukan hanya ditolak, Marisha bahkan memarahi Bima dan mengatainya gila.


   Namun, Bima sama sekali tidak marah. Ia justru menanyakan lagi tujuan mereka pergi, dengan wajah polos.


   “Aha. Gue tau kita bakal makan di mana,” ucap Marisha, dengan wajah menyeringai.


   “Di mana?” balas Bima, balik bertanya.


   “Di … sana.” Marisha menunjuk ke sebuah gerobak yang letak tidak jauh dari arah mereka berdiri.


   “Yang ada gerobaknya itu?” tanya Bima, juga menunjuk ke arah yang sama.


   Marisha mengangguk. Ia lantas memberitahu Bima, jika tempat itu selalu ramai saat menjelang malam. Marisha sering sekali melihat tempat itu selalu penuh oleh pembeli. 

__ADS_1


   Kadang, ia juga merasa penasaran dengan rasa makanan yang dijual dalam gerobak. Namun, banyaknya pembeli yang mengantri, membuatnya tidak sabar dan akhirnya kembali makan di warung makan langganannya.


   Selain karena sudah langganan, warung makan si janda genit adalah warung makan yang paling dekat dengan rumah. Karena saat sudah malam, Marisha terlalu malas jika harus berjalan jauh hanya sekedar mencari makan.


   Menurutnya, makan di manapun sama saja. Marisha tidak ingin makan di tempat yang rasa dan harganya belum ia ketahui. Ia tidak mau sampai kecolongan lagi. Lagipula, meski si janda pemilik warung genit pada semua laki-laki, rasa masakannya enak dan harganya juga terjangkau.


   Mungkin karena sudah langganan hampir 2 tahun, Marisha kerap kali diberi gorengan atau minuman gratis.


   “Malam, Pak,” sapa Marisha.


   “Malam. Neng sama masnya mau pesan makanan apa?” balas si bapak penjual.


   “Aku baru makan di sini, Pak. Di sini ada makanan apa aja ya?” tanya Marisha.


   Si bapak-bapak penjual, lantas menunjukkan daftar menu yang ada di warungnya kepada Marisha. “Neng sama masnya duduk di dalam saja, sambil lihat-lihat,” ucap si bapak penjual, meminta Marisha juga Bima duduk dalam ruangan berpetak, yang dijadikan tempat makan oleh para pembeli yang ingin makan di sana.


   Tempatnya bersih dan tertata rapi. Pembeli bisa makan di sana dengan duduk lesehan. Setelah melihat-lihat menu, akhirnya pilihan Marisha jatuh pada ayam bakar bumbu rujak dan sambil bawang. Sedangkan Bima, ia sedikit bingung saat ditanya mau makan apa.


   Karena tidak mau membuang waktu lama untuk melihat-lihat lagi, Marisha pun menyamakan pesanan mereka berdua. Bima setuju-setuju saja dengan pilihan gadis itu.


   Tidak lama setelah Marisha memberitahukan pesanannya, aroma bakar pun langsung tercium. Wangi bakarnya begitu menggoda. Marisha sampai tidak berhenti menelan saliva, karena sudah terlalu lapar.


(Plak)


   Marisha memukul tangan Bima yang baru saja akan mengambil makanan. “Ada apa? Saya kan sudah cuci tangan,” ucap Bima, seakan tau alasan gadis itu memukul tangannya.


   “Bukan itu.”


   “Terus?”


   “Do’a dulu kalo mau makan,” jelas Marisha.


   “Do’a?”


   “Iya. Gini-gini kalo kalo mau makan gue selalu do’a. Biar makanan yang gue makan itu, masuk ke perut gue dan bikin gue kenyang … bukan ke perutnya setan.”


   Bima mengernyit mendengar perkataan Marisha. “Maksudnya?” tanyanya.

__ADS_1


   “Sini deh gue kasih tau. Kalo kita mau makan, itu di samping kita pasti ada setan yang siap nampung makanan kita kalo kita nggak baca do’a. Makanya, kadang kan suka ada tuh … orang udah makan banyak, tapi nggak kenyang-kenyang. Nah, itu tuh dimakan setan makanannya,” jelas Marisha.


   “Memang benar seperti itu ya? Zaman sekarang memangnya masih ada setan?” timpal Bima.


   “Ya … gue juga nggak tau pasti sih, tapi pas gue masih kecil ibu gue bilang … ya kayak gitu. Udahlah, nggak usah dipikirin. Yang penting kamu baca do’a dulu sebelum makan, biar makanannya juga jadi berkah,” balas Marisha.


   “O … iya.” Sahut Bima.


   Marisha lantas membimbing Bima, untuk membaca do’a sebelum makan. Setelah itu, mereka berdua menikmati makan malam dengan lahap.



   Dengan makan malam di luar, ternyata membuat Marisha tidak merasa canggung lagi. Apalagi setelah ceritanya tentang hantu yang mengambil makanan tadi, membuat keduanya semakin terlihat akrab.


   “O iya, lo nggak usah ngomong saya kamu gitu dong, aneh tau dengernya. Formal banget jadinya. Ngomongnya biasa aja. Kalo lo nggak terbiasa ngomong lo gue, aku kamu juga nggak apa-apa kok,” saran Marisha, saat keduanya dalam perjalanan pulang.


   “I-iya. Makasih ya buat traktirannya hari ini. Saya … maaf, maksudnya aku … aku besok bakal coba nyari kerja biar … biar nggak ngerepotin kamu terus,” ucap Bima, merasa ada yang aneh dalam dirinya saat mengucapkan kata-kata seperti itu.


(Plak)


   “Nah gitu dong cari kerja, biar ngga numpang gratis di rumah gue,” timpal Marisha, menepuk lengan kiri Bima.


   “Tadi bukannya kamu bilang-”


   “Bercanda, bercanda. Serius amat sih hidup lo.” Sahut Marisha, tersenyum lebar.


   Bima cukup terkejut, saat Marisha mengucapkan hal seperti itu. Ya, walaupun Bima memang benar-benar mempunyai niat untuk mencari pekerjaan. Pandangannya mengarah ke depan, senyum tipis lantas terlukis di wajahnya yang tampan.


   “Eh, tapi … lo nggak usah cari kerja dulu deh. Beneran. Ya … seenggaknya selama beberapa hari ini lo di rumah aja dulu, biar kondisi lo juga bener-bener sembuh. Gue nggak mau ya, lo tiba-tiba pingsan di tempat kerja. Yang ada nanti gue malah tambah repot lagi,” ucap Marisha.


   “Jadi?”


   “Jadi, ya lo di rumah dulu. Ngapain kek, bersih-bersih rumah gue kek, masak kek, atau apalah terserah lo. Cari kesibukan sendiri biar lo juga nggak terlalu bosen.” Saran Marisha.


   “I-iya,” jawab Bima.


   “Lo beneran mau?”

__ADS_1


   Bima dibuat bingung oleh gadis itu. Sebenarnya, apa yang Marisha inginkan?


__ADS_2