Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Sisi Lain Marisha


__ADS_3

   “Iya ya? Bajunya ke mana ya?” gumam Marisha. Ia sendiri juga bingung, pakaian yang Bima kenakan sewaktu mereka terlibat kecelakaan tadi pagi, sekarang sudah tidak ada.


   Bima memang hanya memakai kemeja dan celana bahan layaknya orang kantoran, tetapi yang Bima pakai sekarang justru berganti kaos polos tanpa gambar ataupun tulisan. Lantas, ke mana kemeja yang Bima pakai sebelumnya? Bukankah ia hanya pingsan, mengapa harus ganti baju segala?


   “Apa mungkin dilepas sama suster kali ya? Tapi buat apa?” gumamnya lagi.


   “Kamu bicara apa sih dari tadi? Tidak jelas,” ucap Bima, karena melihat Marisha terus bergumam sendiri.


   Marisha tampak sedang berpikir. Namun, di detik kemudian tatapannya mengarah tajam pada Bima. “Lo mau coba-coba ngalihin perhatian gue ya?” tukasnya.


   “Hah?”


   “Udah deh. Nggak usah hah-heh-hoh hah-heh-hoh gitu. Sekarang lo punya utang ganti rugi 15 juta ya sama gue. Berhubung lo hilang ingatan dan nggak tau nama apalagi alamat rumah, gue bakal berbaik hati buat nampung lo tinggal di sini, gimana?” simpul Marisha, memberi penawaran.


   “Tinggal di rumah kamu? Di sini? Berdua?” tanya Bima.


   “Ya … mau gimana lagi. Emangnya lo mau tinggal di jalanan yang nggak kenal siapa-siapa?” timpal Marisha.


   Bima menggelengkan kepala. Marisha pun kembali meyakinkan Bima, untuk tinggal sementara di rumahnya selama masa pemulihan. Lagipula, bukankah laki-laki itu yang meminta pertanggungjawaban Marisha?


   Tanpa pikir panjang lagi, Bima setuju dengan tawaran yang Marisha berikan.


   “Tapi saya juga tidak kenal sama kamu,” ucap Bima.


   “Ya … itu kan beda. Lo punya utang ganti rugi sama gue, gue bertanggung jawab sama perawatan lo. Kita berdua punya hubungan timbal balik yang saling menguntungkan,” jelas Marisha.


   “Kalau gitu nama kamu siapa? Apa saya harus terus manggil kamu dengan sebutan mungil?” tanya Bima, karena sejak beberapa jam yang lalu mereka bertemu, Marisha belum memperkenalkan namanya pada laki-laki itu.


   “Sembarangan banget kalo manggil. Marisha. Nama gue Marisha. Lo bisa panggil Marisha atau Risha, terserah,” terangnya, baru memperkenalkan diri. 


   Bima hanya menjawab singkat, sambil menganggukkan kepala beberapa kali.

__ADS_1


   Kesepakatan sudah dibuat. Diskusi juga sudah selesai, tetapi masih ada yang membuat Bima bingung. Mengenai tidur, di mana ia akan tidur selama tinggal di rumah Marisha?


   Kamar tidur hanya ada satu. Tidak mungkin jika mereka tidur bersama, bukan? Tidak mungkin juga jika Marisha harus tidur di sofa. Jadi, satu-satunya jawaban dari kebingungan Bima adalah ia sendiri yang harus tidur di sofa.


   “Apa? Saya tidur di sofa?” ulang Bima, tak percaya.


   Meski hilang ingatan, tetapi semua yang terjadi hari ini membuat Bima merasa aneh seperti ada yang salah. Pertama, Bima harus jalan kaki padahal ia tidak pernah jalan kaki sejauh itu. Tinggal di rumah yang kecil bersama seorang gadis dan sekarang, ia justru harus tidur di sofa? Perasaannya mengatakan, jika semua hal itu tidak pernah sekalipun Bima lakukan.


   “Terus lo mau tidur di mana? Di kamar gue? Enak aja lo. Awas aja kalo lo berani macem-macem. Nih.” Marisha memperlihatkan kepalan tangannya pada Bima.


   Bima membuang nafas kasar. Ia tidak percaya jika seorang gadis mungil seperti Marisha, berani mengancamnya. Bima juga tidak percaya, ia hanya diam saja saat diancam oleh gadis itu.


(Brak-brak-brak)


   Suara gebrakan pintu, membuat keduanya terkejut. Entah siapa yang datang dengan membawa amarah, Marisha belum mengetahuinya.


   “Risha. Keluar lo,” teriak seseorang.


   “Sisi?” lirih Marisha, langsung mengenali suara seseorang itu.


(Brak-brak-brak)


   “Risha. Gue tau lo di dalam. Keluar, nggak?!”


   Marisha merasa sangat lelah. Ia hanya ingin istirahat dan memanfaatkan hari liburnya yang mendadak itu, dengan tidur sepuasnya. Tanpa ada gangguan apa pun. Tanpa masalah apa pun.


   Namun, jika ia terus berada di dalam, mungkin Sisi akan berbuat nekat pada beberapa pot bunga yang ada di luar.


   Dengan terpaksa, Marisha pun memutuskan untuk keluar. Namun, sebelum itu ia harus meminta Bima untuk bersembunyi dulu. Karena seseorang yang berteriak di depan sana, bisa saja menerobos masuk ke rumah untuk mencari sesuatu yang tengah dicarinya.


   “Ngapain lo ke sini? Mau nyari ribut lagi?” Marisha bertanya dengan sinisnya.

__ADS_1


   “Gue kan udah minta lo buat jauhin Putra, kenapa lo masih aja ketemu sama dia, hah?”


   “Masalah itu lagi? Lo nggak ada masalah lain apa selain Putra, Putra, Putra dan Putra. Emang lo nggak bosen ngejar-ngejar dia terus?”


   “Ayolah, Si. Lo itu cantik. Lo bisa dapetin yang lebih dari Putra. Sorry ya, gue ngomong kayak gini bukan berarti gue mau sama tuh cowok makanya minta lo buat menjauh.”


   “Basi tau nggak alesan lo. Lo selalu bilang nggak suka sama dia, tapi tiap hari selalu ngobrol.”


   “Sisi. Gue sama Putra itu kan satu kerjaan. Ya nggak mungkin lah gue nggak ngobrol sama dia, walaupun cuma buat nanya alamat pelanggan, gue pasti ajak dia ngobrol,” jelas Marisha.


   “Hello. Emangnya karyawan di café cuma lo berdua doang apa? Kan lo bisa nanya sama karyawan yang lain,” balas Sisi.


   “Udah deh, Si. Gue capek berdebat terus sama lo cuma gara-gara Putra. Dia itu cuma gue anggep temen, nggak lebih,” jelas Marisha lagi.


   “Basi.”


   Sisi pergi setelah meninggalkan kenang-kenangan pada pot bunga kesayangan Marisha. Bunga yang ditanam oleh ibunya Marisha, sekarang rusak karena tendangan Sisi.


   Sisi adalah salah satu teman Marisha. Mereka sama-sama datang dari kampung, mengadu nasib ke Jakarta dengan harapan bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Jika tidak merantau ke kota, mungkin saat ini mereka sudah menikah.


   Usia 20 tahun, jika hidup di kampung pasti sudah memiliki satu anak. Marisha tidak mau jika kebebasannya hanya sampai di usia 20 tahun. Marisha ingin mencari uang yang banyak. Dua adiknya masih membutuhkan biaya sekolah yang tidak sedikit. Itu juga menjadi alasannya untuk pergi.


   Karena jika sudah menikah, Marisha tidak akan bisa membiayai sekolah adik-adiknya. Ibunya hanya seorang penjahit yang penghasilannya tidak menentu, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.


   “Kenapa diam? Bukankah tadi masih semangat kasih saya kepalan tangan?” ucap Bima, tiba-tiba berdiri di samping gadis itu.


   “Lo mau gue mukulin Sisi?” tebak Marisha.


   “Kenapa tidak?” balas Bima.


   “Lo gila ya? Yang bener aja, masa iya gue mau mukulin dia? Gue nggak sejahat itu. Gue belajar bela diri juga bukan buat kekerasan.” Sahut Marisha.

__ADS_1


   Marisha memang bisa bela diri. Ia sengaja mempelajari seni bela diri, untuk berjaga-jaga selama hidup di kota. Mendengar hal itu, Bima syok bukan main. “Ka-kamu … kamu bisa bela diri?” tanyanya.


   “Iya. Kenapa? Lo mau nyobain?”


__ADS_2