Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Salah Tingkah


__ADS_3

   Karena kesalahan yang Marisha buat, ia harus bekerja lembur. Bosnya yang tua itu, memintanya untuk mengganti hari kerjanya selama meninggalkan café.


   Pukul 9 malam, Marisha baru kembali ke rumah. Ini pertama kalinya Marisha bekerja hingga malam. Pertama kalinya juga, hidupnya yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Luar biasa sialnya.


   “Hhh, capek banget,” keluhnya.


   Marisha memang tidak melakukan pekerjaannya mengantar pesanan makanan. Ia hanya bekerja di café. Menjadi pelayan, tukang cuci piring, kasir juga, semuanya harus Marisha kerjakan.


   Untungnya, jarak dari café ke rumah yang disewanya tidak begitu jauh. Hanya sekitar 2 blok, ia sudah bisa sampai ke rumah.


   Itu juga yang menjadi alasan Marisha menyewa rumah tersebut. Dekat dengan tempat kerja, adalah poin penting yang harus dilakukan oleh setiap pekerja.


   Meski harganya sedikit lebih mahal, tetapi tempatnya bisa membuat Marisha nyaman. Ia bisa merasakan suasana rumah keluarga, meskipun hanya tinggal sendiri.


   Harganya memang sedikit lebih mahal, tetapi semua fasilitas rumah bisa Marisha dapatkan. Selain itu, lingkungan sekitar dan kondisi rumah di dalamnya, juga tampak bersih. Karena saat kita merasa lelah setelah seharian bekerja, rumah adalah satu-satunya tempat untuk kita kembali.


   Jadi, Marisha ingin jika rumah sewa yang ia tinggali, juga senyaman rumah orang tuanya di desa. Meski tidak besar dan mewah, tetapi rasa nyamanlah yang membuat kita betah tinggal di rumah.


   “Astaga.” Marisha terkejut, saat melihat seorang laki-laki tengah tertidur di sofa miliknya.


   “Hampir aja gue jantungan. Gue lupa, kalo gue baru aja bawa pulang anak orang,” batinnya.


   Marisha berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sedang terlelap itu. Ia memperhatikan wajah Bima yang ternyata cukup tampan.


   “Kamu baru pulang?”


   “Astaga.” Marisha kembali terlonjak kaget.


   Pertanyaan Bima yang tiba-tiba itu, membuat Marisha terkejut untuk kedua kalinya. Ia masih berusaha menenangkan diri, saat Bima mengganti posisi berbaring menjadi duduk. Memberi ruang, untuk gadis itu duduk.


   “Kamu selesai kerja jam 9 malam?” Bima kembali bertanya, saat melihat jam dinding di ruang TV memberitahunya jika hari sudah berganti malam.


   Pertama kalinya mendapat pertanyaan seperti itu, saat Marisha pulang terlambat untuk yang pertama kalinya, ia lantas membuang nafas kasar.


   “Iya,” jawabnya singkat.

__ADS_1


   “Setiap hari kamu pulang kerja jam segini?” tanya Bima lagi.


   Marisha menggelengkan kepala. Ia lantas menjelaskan, alasannya sampai pulang malam. “Maaf,” ucap Bima, tiba-tiba.


   “Kenapa lo tiba-tiba minta maaf?” Selidik Marisha, merasa ada yang aneh.


   “Wah. Jangan-jangan lo ada buat sesuatu lagi sama rumah gue. Ngaku, nggak?! Kesalahan apa yang udah lo buat sampai tiba-tiba bilang maaf? Lo hancurin dapur gue ya? Apa lo rusakin kran di kamar mandi? Acak-acak kamar gue, nyari barang yang berharga? Wah, nggak nyangka. Gue kira lo orang baik,” cecarnya, menuduh Bima melakukan sesuatu.


   Mendapat rentetan tuduhan seperti itu, Bima langsung memberi tatapan tajam pada Marisha.


   Ekspresi Bima yang semula merasa bersalah, karena sudah membuat Marisha bekerja lembur, berubah saat tuduhan itu dilontarkan Marisha kepadanya.


   “Kamu memang selalu seperti ini ya?” tanya Bima, masih dengan tatapan tajamnya. 


   “Maksud lo? Kayak gini gimana?” balas Marisha, bingung.


   “Selalu saja berpikiran negatif dan menuduh orang tanpa bukti.”


   Marisha semakin bingung. Keningnya berkerut, karena tidak mengerti dengan maksud dari perkataan laki-laki yang duduk di sampingnya.


   Bima membuang nafas kasar. Ia lantas menjelaskan maksud perkataannya tadi. Marisha menuduhnya melakukan banyak hal, hanya karena perkataan maaf yang ia katakan.


   Bima juga menjelaskan, maksud dari perkataan maafnya itu. Bukan karena telah merusak perabotan atau isi rumah Marisha, tetapi karena sudah membuat gadis itu harus bekerja lembur.


   “Bukan salah lo kok, tapi salah si aki-aki tua itu. Dia nggak bisa ngeliat karyawannya tenang sedikit di rumah. Libur setengah hari doang padahal kan nggak apa-apa. Kalo tuh orang keberatan, kan tinggal masukin ke daftar hutang karyawan, terus potong gaji. Udah, selesai,” jelas Marisha.


   “Eh, tapi emang salah lo juga sih. Kan gara-gara lo, gue jatuh dari motor. Gara-gara lo juga gue dimarahin sama pelanggan. Terus gara-gara lo juga, gue harus bayar ganti rugi buat perbaikan motor. Ah, padahal kan harusnya gue bisa nikmatin uang gajian,” keluhnya.


   “Maaf, karena sudah buat kamu susah,” ucap Bima.


   Hanya mendengar kalimat itu, Marisha jadi merasa bersalah, karena membahas masalah itu lagi. “Lupain aja soal itu. Gue juga minta maaf, karena udah limpahin semuanya sama lo. Nggak ada gunanya juga kita menyesal. Gue yakin, di balik kesialan ini … ada hikmah yang bisa gue ambil. Mungkin nggak sekarang, tapi nanti,” balasnya.


   Mendengar apa yang baru saja Marisha katakan, Bima mengukir senyum tipis. “Eh, busyet. Nih cowok baru aja senyum ya tadi? Kok jadi tambah ganteng sih?” batin Marisha.


   “Lagian nih mulut, tumben banget sih ngomong bener? Jadi, kesemsem gitu kan nih cowok,” batinnya lagi.

__ADS_1


   “Sudah malam, kamu tidak mau mandi dulu sebelum tidur?” tanya Bima, menyadarkan Marisha dari lamunan.


   “Mandi? Oh … iya. Mandi. Gue mandi dulu kalo gitu,” ucap Marisha.


   Perasaan aneh saat berinteraksi dengan Bima, membuatnya merasa canggung. Marisha bahkan langsung setuju, saat laki-laki itu menyuruhnya untuk mandi. Padahal, biasanya ia jarang mandi jika hari sudah malam.


   Marisha langsung berlari ke kamar mandi, setelah mengambil pakaian. Di dalam ruangan itu, ia terus memarahi dirinya sendiri, karena membuat Bima sempat mengukir senyum tipis.


   Selesai mandi, Marisha langsung masuk ke kamar. “Udah deh, Sha. Jangan kayak orang aneh gitu? Lo kayak yang nggak pernah liat cowok senyum aja sih?!” gumamnya, berguling di atas tempat tidur.


   “Udah ya. Sekarang tidur, besok lo masih harus kerja keras, buat lunasin semua hutang-hutang lo sama tuh aki-aki tua,” gumamnya, menasehati diri sendiri.


(Kruuuk)


   Marisha tidak bisa tidur. Perutnya terus mengeluarkan suara, karena belum makan malam.


   Setelah berguling ke sana kemari, akhirnya Marisha memutuskan untuk keluar kamar. Ia tidak bisa tidur dalam kondisi lapar.


   Saat membuka pintu kamar, Marisha melihat Bima tengah berbaring di sofa tanpa bantal dan juga selimut. Marisha pun kembali memarahi dirinya, karena dengan tega membiarkan laki-laki itu tidur tanpa sehelas selimut.


   “Bima. Lo laper, nggak?” tanya Marisha.


   “Saya tidak punya uang untuk beli makan. Jadi, malam ini saya harus menahan lapar. Besok saya akan coba buat cari kerja,” jawab Bima.


   Mendengar jawaban itu keluar dari mulut Bima, untuk sesaat Marisha merasa hidupnya jauh lebih beruntung. Meski tidak mempunyai uang banyak, setidaknya ia bisa tetap makan.


   Marisha bahkan membayangkan, jika seandainya Bima tidak ia ajak pulang, entah bagaimana nasib Bima selanjutnya.


   Laki-laki itu mungkin akan berkeliaran di jalanan, setelah keluar dari rumah sakit. Tidak memiliki uang sepeser pun, juga tidak ada ingatan sedikit pun.


   “Lo nggak perlu cari kerja, biar gue aja yang kerja,” gumam Marisha.


   “Apa? Kamu mau tanggung hidup … saya?”


   Marisha langsung salah tingkah. Ia tidak percaya, jika ia baru saja mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2