Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Larangan Kerja


__ADS_3

   Saat melihat Bima bekerja di tempat yang tidak seharusnya, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Marisha tanyakan pada laki-laki itu. Namun, Marisha sudah hampir terlambat bekerja, ia tidak mungkin menginterogasi Bima saat ini.


   “Bima. Tunggu gue pulang kerja ya, ada yang mau gue omongin sama lo. Sekarang gue udah hampir telat, pergi dulu,” pamit Marisha.


   “I-iya, hati-hati,” balas Bima.


   Agar bisa sampai tepat waktu di tempat kerja, Marisha harus berlari. Ia tidak boleh sampai terlambat, minggu ini sudah ada banyak hal yang mengurangi kinerja baiknya sebagai karyawan teladan.


   Marisha memang karyawan lama yang mempunyai kinerja baik dalam bekerja, tetapi jika terus menerus melakukan kesalahan, tidak menuntut kemungkinan jika posisinya sebagai karyawan akan diganti oleh pencari kerja di luar sana.


   Untuk itu, sebisa mungkin Marisha berusaha untuk tidak terlambat bekerja.


   “Lo kenapa sih, Sha? Kenapa lari-larian gitu?” tanya Alin, saat melihat Marisha yang datang terengah-engah.


   “Tu-tunggu, gue … gue mau isi daftar absen dulu.” Dengan nafas yang terengah-engah, Marisha memberitahu Alin tujuannya saat ini.


   Pagi itu, seperti biasa Marisha mengantarkan makanan pesanan pelanggan. Sepeda motor yang sebelumnya rusak karena kecelakaan, kini sudah diperbaiki dan bisa dipakai lagi.


   Meski sudah pernah mengalami kecelakaan, Marisha tidak kapok mengendarai sepeda motor. Karena hanya itu pekerjaan yang bisa Marisha lakukan. Dengan menjadi pengantar pesanan, membuatnya tidak merasa bosan.


   “Gue balik duluan ya.” Setelah jam kerjanya selesai, Marisha harus langsung pulang. Ada hal penting yang harus dipastikan.


   Sepertinya Bima sudah pulang lebih dulu, karena laki-laki itu tidak terlihat lagi di tempat kerja. Setidaknya Marisha lega, karena Bima tidak harus bekerja sampai malam.


   “Sha, kamu sudah pulang?” tanya Bima, saat Marisha muncul dari balik pintu.


   “Iya. Kamu tunggu bentar ya, gue ke kamar dulu.”


   “Tapi, Sha. Aku mau-”


   “Bentar doang kok, nggak sampai 5 menit.”


   Entah apa yang akan Marisha tanyakan dan apa yang sedang Marisha lakukan di kamar, Bima tidak tau. Bima harus menunggu, meski ada hal lain yang harus dilakukannya.


   Memang tidak lama, belum sempat Bima duduk gadis itu ternyata sudah keluar dari kamar. “Kenapa bengong? Udah sini duduk,” pinta Marisha.


   “Tapi, Sha. Aku mau berangkat kerja lagi,” ucap Bima.

__ADS_1


   “Apa? Berangkat lagi? Ke tempat itu lagi?” Marisha terkejut, mendengar Bima yang harus kembali bekerja. Marisha kira, Bima hanya akan bekerja hingga sore saja.


   Marisha bahkan belum mendengar penjelasan dari laki-laki itu, sekarang malah harus pergi lagi.


   Tidak bisa. Marisha harus mencegah Bima pergi. Marisha tidak bisa membiarkan Bima bekerja di sana. Ada banyak tempat kerja yang bisa Bima datangi, kenapa harus tempat itu yang Bima pilih?  


   “Aku nggak boleh kerja d warungnya mpok Lela? Kenapa?”


   “Pokoknya jangan di sana deh. Lo boleh kerja di mana aja, tapi jangan di warung itu ya. Pliss.” Marisha bahkan sampai memohon agar Bima mau mendengarkan ucapannya.


   Bima masih tidak mengerti, kenapa Marisha melarangnya bekerja di warung tersebut. “Tapi di sana bukannya warung makan langganan kamu itu ya?! Kenapa nggak boleh?”


   “Ya … ya pokoknya nggak boleh.”


   “Kasih aku satu alasan dulu. Setelah itu, aku nggak akan kerja di sana lagi,” ucap Bima.


   Marisha harus memberitahu Bima, jika pemilik warung tempat laki-laki itu bekerja–mpok Lela, adalah janda genit yang suka menggoda laki-laki tampan. Jika pembeli saja mpok Lela goda, bagaimana dengan Bima yang setiap hari bahkan setiap jam berada di sana?


   Membayangkannya saja, Marisha tidak ingin.


   Setelah mendengar alasan Marisha, Bima sedikit tidak percaya. Karena selama satu hari ini, mpok Lela tidak menunjukkan sisi genit yang Marisha bicarakan.


   “Kalau aku nggak boleh kerja di sana, terus aku harus kerja di mana?” tanya Bima.


   Marisha diam sejenak, lantas mengatakan pada Bima, jika laki-laki itu bisa bekerja di mana saja asalkan tidak di warung makan itu.


   “Aku beneran bisa kerja di mana saja?” tanya Bima lagi.


   Marisha menjawab dengan anggukan. “Ya sudah. Kalau begitu, aku mau kerja di café tempat kamu bekerja.” Permintaan Bima membuat Marisha langsung geleng-geleng kepala. “Enggak enggak enggak. Lo juga nggak boleh kerja di sana,” larangnya lagi.


   “Katanya tadi aku boleh kerja di mana saja.” Sahut Bima, mengingatkan Marisha mengenai ucapannya.


   “Ya … emang boleh, tapi kan-”


   “Gimana kalau sekarang kamu pilih, aku kerja di warung makannya mpok Lela … apa di café bareng sama kamu? Soalnya kalau aku nggak boleh kerja di café, aku mau langsung pergi ke warungnya mpok Lela.” Bima memberi saran yang harus Marisha pilih saat ini juga.


   Daripada harus melihat Bima bekerja di tempat janda genit itu, akan lebih baik jika Bima bekerja di café. Namun, Marisha tidak bisa menjamin Bima akan diterima bekerja di sana.

__ADS_1


   Setelah mendengar jawaban yang Marisha pilih, Bima tersenyum tipis. “E-e-eh, lo mau ke mana?” seru Marisha, saat Bima keluar dari rumah.


   “Emang dasar biang masalah ya, ditanya bukannya jawab malah main pergi gitu aja.”


   Lima menit kemudian, Bima kembali dengan wajah berkeringat setelah berlarian.


   “Lo dari mana aja sih? Gue tanyain juga, malah langsung pergi,” protes Marisha.


   “Kamu kan tadi sudah izinin aku buat kerja di café, jadi … aku tadi habis dari warungnya mpok Lela-”


   “Ngapain lagi lo ke warungnya mpok Lela? Kan udah gue bilang, jangan pergi ke sana.” Mendengar nama janda genit itu Bima sebut, Marisha langsung memarahi laki-laki itu karena tidak mau mendengarkan ucapannya.


   “Sha. Coba deh kamu biasain buat dengerin penjelasan orang lain dulu, sebelum ambil kesimpulan seperti itu,” tegur Bima, secara halus.


   Mendapat teguran dari Bima, Marisha lantas menepuk mulutnya sendiri beberapa kali. Memarahi kebiasaannya yang memang suka memotong penjelasan orang lain.


   Bima langsung memegang tangan Marisha yang terus saja menepuk-nepuk mulut. “Aku ke sana itu cuma buat kasih tau mpok Lela, kalau percobaan kerjanya itu gagal,” jelas Bima, kemudian.


   “Percobaan kerja? Maksudnya?”


   Bima mengangguk. Lantas memberitahu Marisha jika satu hari ini, Bima menjalani tes percobaan kerja. Jika janda genit itu puas dengan kinerja Bima, maka gaji yang akan Bima dapatkan bisa mendapat tambahan bonus.


   Namun, Bima juga bisa menentukan. Jika dalam satu hari itu ia tidak merasa cocok dengan pekerjaan tersebut, maka Bima bisa mengatakan ada kegagalan dalam percobaan kerjanya.


   Marisha mengernyitkan kening. “Emangnya ada ya yang kayak gitu? Pake percobaan kerja segala, aneh deh.” Komentarnya.


   “Tapi masih ada satu hal yang buat aku bingung,” ucap Bima.


   “Apa?”


   “Kenapa kamu harus ngelarang aku kerja di sana, cuma karena pemilik warungnya genit?” tanya Bima.


   “Ya, itu karena-”


   “Kamu nggak mau ya … aku digodain sama mpok Lela?” Sambungnya.


   “Ya nggak maulah. Liat pembeli yang digodain aja aku enek liatnya, apalagi kalo kamu yang digodain. Dih, jangan sampe deh.”

__ADS_1


   “Kenapa?” Marisha dibuat terkejut, saat Bima mendekat ke arahnya.


__ADS_2