Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Minta Maaf


__ADS_3

   Marisha begitu terkejut, saat melihat Bima tiba-tiba ada di hadapannya. Memberi sebotol air mineral, saat ia tengah kelelahan.


   Marisha juga sangat senang, akhirnya ia bisa melihat laki-laki itu lagi. Perasaan bersalahnya langsung hilang, saat  melihat Bima ada di sana.


   “Lo ke mana aja sih? Gue itu udah nyariin lo keliling-keliling tau.”


   “Sabar, Sha. Dia udah di sini masa mau lo marahin lagi,” bujuk Alin.


   “Gue itu bukannya marahin dia, Alin. Gue itu kesel … kenapa sih dia harus pergi dari rumah? Dia pasti sengaja pergi, biar gue ngerasa bersalah. Iya, kan?” Marisha benar-benar meluapkan kekesalannya. Rasa kesalnya, karena tidak mau mendengarkan penjelasan Bima dan selalu menuduh laki-laki itu melakukan hal buruk. Marisha juga membentak Bima, hingga laki-laki itu pergi dari rumah.


   “Sha. Lo mulai lagi, kan?! Katanya lo nggak mau nuduh Bima yang nggak-nggak lagi.” Alin masih berusaha menenangkan teman baiknya.


   Sementara Bima, hanya diam saja melihat dua gadis itu membicarakan dirinya, tanpa berniat untuk ikut campur.


   Sebenarnya Bima tidak berniat untuk pergi, tetapi melihat kemarahan Marisha tadi pagi, membuat Bima harus menjauh untuk sementara.


   Awalnya Bima hanya ingin keluar sebentar, agar amarah Marisha bisa sedikit mereda. Namun, seorang wanita tiba-tiba datang menghampirinya dan menawarkan pekerjaan.


   Semula Bima ragu, untuk mengikuti wanita itu. Namun, ada kata-kata yang membuat Bima yakin untuk mengikuti wanita tersebut.


   “Gue capek, gue mau pulang,” ucap Marisha.


   “Oke. Gue anterin lo sampai rumah ya?” balas Alin, menawarkan.


   Meski sebelumnya belum saling mengenal, tetapi Alin memberi kode pada Bima untuk ikut pulang ke rumah Marisha.


   Bima hanya membalas dengan anggukan. Lantas mengikuti dua gadis itu dari belakang.


   “Lo duduk dulu, gue ambilin minum bentar ya.”


   “Biar aku saja yang ambil minumnya,” seru Bima.


   Alin membiarkan Bima mengambilkan minum untuk Marisha. “Sha. Nanti lo bicarain baik-baik ya sama Bima. Jangan marahin dia terus. Lo dengerin penjelasan dia dulu.”


   Marisha mengangguk. “Sha, minum dulu,” ucap Bima, memberikan segelas air minum.


   Baru saja Marisha mengambil gelas yang Bima berikan, gadis itu tiba-tiba menyerukan sesuatu.

__ADS_1


   “Apaan sih, Sha? Lo bikin gue kaget aja deh.”


   “Tadi kan si Bima kasih gue air mineral. Belum sempet gue minum, terus sekarang botolnya ke mana?” tanya Marisha, membuat teman dekatnya menganga tak percaya.


   “Lo tiba-tiba teriak, bikin gue hampir jantungan … itu cuma karena sebotol air mineral? Astaga, Risha. Rasanya pengin gue pites deh lo.”


   Setelah berhasil membuat temannya kesal, dengan ekspresi tidak bersalah Marisha meringis memperlihatkan deretan giginya.


   “Udah ah, gue mau balik. Gue nggak mau dengerin omelan nyokap, gara-gara pulang telat,” pamit Alin.


   Sebelum pergi, Alin kembali mengingatkan Marisha mengenai apa yang ia katakan sebelumnya. “Iya iya, bawel deh. Udah sana pulang, ntar dimarahin nyokap loh,” balas Marisha.


   Setelah Alin pulang, suasana di rumah Marisha berubah menjadi sunyi. Baik Marisha maupun Bima, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka percakapan.


   Marisha bingung, bagaimana mengolah kata yang baik agar ia tidak sampai memarahi Bima lagi. Begitu pula dengan Bima, ia juga dilanda kebingungan mengenai permintaan maaf atas kesalahan yang dibuatnya tadi pagi.


   Selama beberapa menit keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, suara perut yang kelaparan mampu memecah keheningan di antara mereka.


   “Gue laper, lo laper juga, kan? Sorry ya, gue belum sempet beli makanan. Gue keluar bentar ya,” ucap Marisha.


   “Ada apa? Lo mau request menu?” tanya Marisha.


   “Bukan. Aku cuma mau bilang … kalau di meja makan, sudah ada makanan.”


   “Udah ada makanan?” Saat Marisha melihat ke arah meja makan, di atas sana memang sudah ada kantong plastik. Marisha lantas memeriksa isinya, ternyata ada dua bungkus makanan di dalamnya.


   “Ini … ini kamu yang beli? Kamu beneran nyari kerja?” tanyanya lagi.


   “Iya,” jawab Bima, singkat.


   “Ya … ya udah kalo gitu. Kita langsung makan sekarang aja,” ajak Marisha.


   Lagi lagi, Bima hanya menjawabnya dengan singkat. Suasana di rumah pun kembali sunyi, saat keduanya menikmati makan malam.


   “Bima, gue minta maaf ya soal yang tadi pagi. Nggak cuma yang tadi pagi doang sih, tapi semua yang udah gue ucapin sama lo. Maaf, karena gue udah  marah-marah sama lo. Lo mau kan maafin gue?” ucap Marisha, di tengah acara makan.


   Bima menatap kedua manik Marisha, ada penyesalan yang tergambar di wajah mungil gadis itu. Perasaan ini seperti tidak pernah Bima rasakan sebelumnya. Ia merasa sangat bersalah, hanya dengan melihat ekspresi gadis di depannya.

__ADS_1


   “Bima. Kok lo diem aja sih? Lo nggak mau ya, maafin gue?!” ujarnya lagi.


   “Enggak-enggak, bukan itu kok. Harusnya aku yang minta maaf, karena sudah bikin dapur kamu berantakan,” balas Bima.


   Mendengar kata dapur, Marisha langsung beranjak menuju tempat yang baru saja Bima bicarakan. Keluhan nafas pun terdengar setelahnya.


   “Aku bakal tanggung jawab, buat bersihin semuanya,” ucap Bima.


   Marisha melihat laki-laki yang berdiri di sampingnya. “Kita bersihin sama-sama biar cepet selesai, sekarang udah malem. Cepet selesai, cepet juga tidurnya.”


   Keduanya meninggalkan makan malam, untuk membereskan semua peralatan dapur yang berantakan. Marisha bahkan tidak menghabiskan makanannya, karena pikirannya terus dipenuhi rasa bersalah.


   Malam ini, mereka berdua terlihat kompak saat membersihkan semua peralatan itu. Dengan kejadian ini juga, hubungan mereka berdua mungkin akan semakin dekat.


   “Hhh, akhirnya selesai juga,” ucap Marisha.


   Bima tiba-tiba menahan tawa, saat melihat wajah Marisha.


   “Kok lo malah ketawa sih? Emangnya ada yang aneh ya sama muka gue?”


   Bima tidak bisa terus menahan senyum. Ia pun memberitahu Marisha, jika di wajahnya ada noda hitam. “Hah, mana? Di mana? Kok lo diem aja sih. Di sini ya yang hitam?” Marisha langsung menusap-usap wajahnya yang dibilang hitam oleh Bima.


   “Aku bantuin ya,” tawar Bima, mengusap noda hitam itu dengan jemari tangannya.


   Sesaat, apa yang Bima lakukan membuat keduanya saling menatap. “Ma-makasih ya. Kalo gitu … gue lanjut bersihin di kamar mandi,” pamit Marisha, langsung beranjak pergi sebelum mendapat tanggapan dari laki-laki itu.



   Pagi sebelum Marisha berangkat ke café, ternyata Bima sudah lebih dulu pergi. Marisha memang tau, jika laki-laki itu sudah mendapat pekerjaan. Namun, di mana dan pekerjaan apa yang Bima dapatkan, Marisha belum mengetahuinya.


   Marisha juga tidak bertanya langsung, mengenai pekerjaan Bima. “Dia udah pergi kerja?” gumam Marisha, melihat kertas note yang Bima tinggalkan di atas meja makan. Bukan hanya kertas note saja yang ada di sana, Bima juga sudah membelikan gadis itu sarapan.


   “Gue penasaran deh, itu cowok dapet kerjaan di mana sih? Kok cepet banget bisa langsung dapet kerjaan?” gumamnya lagi.


   Meski penasaran, Marisha tidak ingin bertanya jika Bima tidak memberitahukannya sendiri. Marisha tidak mau jika rasa penasarannya itu, membuat hubungan mereka yang sudah dekat malah menjauh.


   “Bima. Kok lo kerja di sini?” Marisha begitu terkejut, saat melihat tempat di mana laki-laki itu bekerja.

__ADS_1


__ADS_2