
Marisha dibuat bungkam seketika. “Bagaimana kalau misalnya aku adalah tipe cowok setia dan ternyata … aku belum punya pasangan?”
“Ya … tetep aja lo itu bukan tipe cowok idaman gue,” ujar Marisha.
“Memangnya tipe cowok kamu yang seperti apa?”
“Ti-tipe cowok idaman gue itu … ” Marisha bingung harus menjawab apa. Sebenarnya ia tidak mempunyai kriteria khusus, Marisha hanya asal bicara saja. Ia hanya tidak mau merasa canggung, jika tiba-tiba mengakui tebakan Bima soal kemungkinannya jatuh cinta pada laki-laki itu.
Jujur. Entah sejak kapan perasaan aneh itu mulai muncul. Marisha tidak tau, apakah itu perasaan cinta atau hanya rasa suka sesaat.
“Sha. Kenapa diam? Jangan bilang, kalau tipe cowok idaman kamu itu … yang seperti aku?!” terka Bima.
“Dih, pede banget sih lo. Tipe cowok idaman gue itu yang ganteng, kaya, cuek. Terus ada cool-coolnya gitu. Lagian, kenapa juga sih lo pake nanya-nanya? Udah gue bilang kan, lo itu bukan tipe cowok idaman gue.” Marisha mempertegas setiap kalimatnya.
“Ya nggak apa-apa. Cuma pengin tau aja,” balas Bima.
Setelah percakapan aneh itu, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Marisha berpikir, jika selama ia dan Bima bersama, kemudian muncul benih-benih cinta di antara mereka, apa itu tidak apa-apa? Bagaimana jika Bima benar-benar sudah menikah? Bagaimana jika wanita yang sebelumnya memeluk Bima, adalah istrinya? Bukankah itu artinya Marisha akan menjadi seorang pelakor?
Tidak tidak tidak. Marisha menggeleng beberapa kali, mencoba menepis pikiran buruk itu dalam benaknya. Ia tidak boleh jatuh cinta. Lagipula, Bima itu bukan tipe laki-laki idamannya.
“Sha, pulang aja yuk. Aku ngantuk. Besok kan aku harus bangun lebih pagi,” ujar Bima.
“Apa? Pulang?” tanya Marisha, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala dan ekspresi memelas dari laki-laki itu.
“Lo aneh deh. Tadi kan yang ngajak buat jalan-jalan itu lo, kenapa sekarang malah minta pulang? Kayak anak kecil tau,” sindir Marisha.
“Ya, tadi kan belum ngantuk. Baru jalan sebentar, ternyata malah ngantuk.” Sahut Bima.
“Ya udah kita balik, gue juga udah capek. Kita ambil jalan muter aja ya, kalo harus balik lagi lumayan jauh.”
Mendengar jawaban Marisha, senyum tipis langsung terukir di wajah Bima. Mereka berdua lantas mengambil jalan memutar, di mana jalan yang akan mereka lewati terdapat warung mpok Lela yang berada di sisi kanan jalan.
Marisha tidak sadar, jika keputusannya untuk mengambil jalan memutar akan membuat mereka melewati warung mpok Lela. Meski sebelumnya ia akan biasa-biasa saja melewati tempat itu, tetapi sekarang Bima bersamanya. Tidak tau apa yang akan dilakukan oleh janda genit itu, jika melihat Bima lewat depan warung makan tersebut.
__ADS_1
Baik Marisha maupun Bima, mereka berdua sama-sama belum sadar. Jika saat ini, beberapa langkah lagi, keduanya akan sampai di depan warung makan si janda genit yang seharusnya Bima hindari. Sampai suara seorang wanita mengejutkan keduanya, karena menyerukan nama Bima.
“Astaga. Mpok Lela?” Marisha semakin terkejut, saat melihat janda genit itu melambai ke arahnya.
“Lari, Sha,” teriak Bima, tiba-tiba. Ia langsung menggandeng tangan Marisha dan mengajak gadis itu berlari.
“Bima. Iiigh, kok malah lari sih?” Suara mpok Lela yang dibuat manja, tetapi malah terdengar menggelikan itu, sayup terdengar di telinga Bima dan membuatnya merinding.
Marisha melihat punggung laki-laki yang berlari di depannya. Tangan mungilnya, masih digandeng oleh Bima. Senyum lebar langsung terlukis di kedua sudut bibirnya.
“Hh… hhh. Untung aja … kita berhasil kabur ya, Sha?” Bima sampai ngos-ngosan, meski jarak tempuh yang mereka lewati tidak terlalu jauh.
“Lo … lo kenapa ngajak gue lari sih? Jadi tambah capek tau, hh… hhh,” keluh Marisha, sama ngos-ngosannya dengan Bima.
“Loh, memangnya tadi kamu nggak lihat … kalau mpok Lela manggil kita?” tanya Bima, tampak heran.
Marisha mengangguk. “Liat kok, tapi kenapa harus lari coba?” tanyanya.
“Aku juga nggak tau, soalnya pas lihat siapa yang manggil … aku jadi takut. Apalagi tadi waktu mpok Lela manggil pas kita lari, aku malah sampai merinding dengar suaranya,” jelas Bima.
(Bruk)
Marisha menjatuhkan diri di tempat tidur berjenis single bed miliknya. Meski berjenis single bed, tetapi tempat tidur tersebut cukup jika ditempati oleh 2 gadis bertubuh ramping, seperti Marisha dan juga Alin.
Memang sama-sama ramping, tetapi tinggi badan keduanya tidak sama. Alin jauh lebih tinggi beberapa senti. Sayangnya, Alin tidak pandai bela diri seperti Marisha.
“Gue jadi makin penasaran deh, sama cewek yang meluk Bima tadi. Kira-kira dia siapa ya? Tapi, kalo tuh cewek emang benar pacar Bima atau tunangannya, pasti ada masalah yang terjadi di antara mereka sebelum kecelakaan,” terka Marisha, mengaitkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Eh, pas sebelum kecelakaan … Bima bawa mobilnya kan kenceng banget. Apa jangan-jangan, dia baru aja berantem sama ceweknya? Tadi tuh cewek juga bilang salah paham, kan? Terus mau ngejelasin kejadian yang sebenarnya. Kalo cewek tadi emang punya hubungan spesial sama Bima, kira-kira masalah apa ya … yang buat Bima kayak marah banget sampai bawa mobilnya ngebut gitu?” gumamnya, semakin penasaran.
(Tok-tok-tok)
“Sha,” panggil Bima.
__ADS_1
Entah ada urusan apa, hingga laki-laki itu menganggu Marisha yang sedang enak-enaknya berbaring. “Ada apa?” Tanpa membuka pintu kamar, Marisha bertanya alasan Bima mengetuk pintu kamarnya.
“Kamu nggak laper?” tanya laki-laki itu.
(Kruuuk)
Baru saja Bima selesai menanyakannya, perut Marisha dengan cepat langsung merespon.
(Ceklek)
“Laper, tapi males keluar,” ujar Marisha.
“Kalau gitu biar aku aja yang keluar. Kamu mau makan apa?” balas Bima, menawarkan diri untuk keluar membeli makanan.
“Gue mau … ” Marisha belum sempat memberitahu laki-laki itu, makanan apa yang ingin ia makan malam ini. Namun, bayangan Bima yang tengah digoda oleh mpok Lela–si janda genit, tiba-tiba saja memenuhi pikirannya.
“Jangan deh. Lo jangan keluar,” larangnya langsung.
Bima merasa heran, kenapa gadis itu tiba-tiba melarangnya keluar. “Kalau aku nggak keluar buat beli makanan, terus kita mau makan apa?” tanyanya.
Marisha diam sesaat. Tampaknya, gadis itu tengah memikirkan cara supaya mereka berdua bisa tetap makan, tanpa harus keluar membeli makanan.
Bima semakin dibuat bingung sekaligus heran, dengan apa yang Marisha lakukan. Gadis itu pergi ke dapur dan membuka beberapa pintu lemari kecil di sana.
“Kamu lagi nyari apa sih, Sha?” Bima berjalan mendekat, menghampiri gadis itu.
“Yah, kok nggak ada sih. Kayaknya gue inget di sini masih ada beberapa deh.” Tidak menjawab pertanyaan Bima, Marisha malah bergumam sendiri.
Bima melihat raut wajah kecewa pada gadis itu. “Bagaimana kalau kita pesan makanan dari luar?” tanyanya.
“Apa lo bilang? Pesan makanan dari luar? Bima. Lo itu hilang ingatan apa gila sih? Kan udah gue bilang … gue itu nggak punya uang sebanyak itu. Kenapa lo malah nyaranin buat delivery order?”
“Marisha. Kamu lupa ya … apa yang aku bilang waktu itu?”
__ADS_1
“Hah? Emangnya lo ngomong apaan?”