
“Diomongin sama penumpang yang lain? Maksudnya?” tanya Marisha.
Bima membuang nafas kasar. “Saya yakin kamu pasti sudah mendengarnya langsung. Saat saya duduk di depan ruangan, bukankah beberapa suster itu membicarakan ketampanan saya?” balas Bima.
“Dih. Pede banget sih jadi orang? Ganteng dari mananya coba? Ngaca dong, tuh muka udah kayak cucian kotor. Bau, dekil, kusut lagi.” Sahut Marisha, jelas sekali kalimat ejekan yang dilontarkannya.
“Apa kamu bilang?”
“Udahlah udah. Ngapain sih pake berdebat segala? Gue jadi tambah laper tau. Mau naik taksi, kan? Ya udah ayo.”
Kali ini, Marisha membiarkan isi dompetnya terkuras hanya untuk menuruti keinginan Bima untuk naik taksi.
Sayangnya, sebelum menaiki kendaraan tersebut, Marisha sempat berdekat dengan sang supir, saat melakukan negosiasi.
Marisha tidak mau jika harus membayar ongkos taksi sesuai harga argo. Karena jaraknya dekat, Marisha hanya akan membayar per orangnya itu 20 ribu. Jadi, 2 orang 40 ribu.
“Kalau dekat, jalan kaki saja kalau begitu,” balas si supir taksi, langsung melaju pergi.
“Wah, yang bener aja tuh orang. Udah untung gue mau bayar segitu, kan jaraknya deket banget.” Marisha terus saja mengomel, padahal supir taksinya sudah pergi jauh.
“Kamu memang tidak ada kerjaan ya? Supir taksi harus diajak ribut juga? Kan tinggal naik, terus bayar. Selesai, kan?” ucap Bima.
“Emang enak ya kalo cuma ngomong doang mah. Kalo gitu caranya, hidup gue bakalan selesai juga,” balas Marisha.
“Udahlah, jalan kaki aja. Lo yang sakit kan kepala, bukan kaki. Masih bisa jalan, kan? Udah buruan.”
“Apa? Jalan kaki? Tapi kan-”
Protes belum sempat Bima layangkan sepenuhnya pada Marisha, tetapi gadis itu sudah berjalan lebih dulu.
Bima pasti tidak menyangka, jika ia harus berjalan kaki, sedangkan ia adalah seorang pasien yang seharusnya mendapatkan perawatan.
Melihat Marisha sudah berjalan semakin jauh, Bima terpaksa mengikutinya. Dari pada terus berada di sana tanpa adanya arah tujuan, akan lebih baik jika Bima mengikuti apa yang Marisha katakan.
Siang itu, di tengah teriknya sinar mentari, keduanya pun pulang dengan berjalan kaki. Memang tidak terlalu jauh, tetapi rasa lelah tetap mereka rasakan.
__ADS_1
Lelah dan haus yang Bima rasakan, sudah mencapai batasnya. Bahkan, kakinya seperti mati rasa karena sebelumnya ia tidak pernah berjalan kaki sejauh itu.
“Huh. Akhirnya sampai juga, capek banget.” Dengan cepat, Marisha membuka pintu rumah dan berbaring pada satu-satunya sofa yang ia miliki.
“Eh, mungil. Kalau kamu tidur-tiduran di situ, terus saya duduk di mana?” tanya Bima.
“Terserah kamu-lah mau duduk di mana, di bawah juga boleh.” Sahut Marisha, lantas memejamkan mata.
“Saya? Duduk di bawah?” ulang Bima.
“Nggak bisa, nggak bisa. Gue nggak bisa tidur dengan keadaan perut kelaperan kayak gini.” Marisha tiba-tiba bangkit dan langsung pergi ke dapur. Ia mencari sesuatu yang bisa membuat perutnya kenyang.
Bima tidak tertarik dengan apa yang gadis itu lakukan. Bima langsung duduk di sofa dan memperhatikan sekeliling rumah itu.
Memang tidak terlalu besar, tetapi rumah yang Marisha sewa bisa ditempati oleh 2 orang. Kadang, teman dekatnya suka menginap di sana jika suasana hatinya sedang bosan. Mereka akan tidur dalam satu kamar, karena di rumah itu memang hanya ada satu kamar saja.
Kamar mandinya cuma ada satu. Letaknya pun tidak ada dalam kamar, tetapi di sisi kamar. Meski begitu, sofa, TV, meja makan, juga dapur, semuanya lengkap. Walaupun perabotan yang ada hanya ala kadarnya.
Walaupun di rumah itu ada dapur, tetapi Marisha tidak pernah memasak. Ia hanya akan makan roti sebagai sarapan, makan siang di café, sedangkan untuk makan malamnya, Marisha akan membeli di warung nasi langganannya. Telur dadar dan tempe orek saja, sudah membuat perutnya kenyang.
Bima tidak memberi tanggapan. Tampaknya, laki-laki itu sedang fokus memperhatikan sesuatu. “Woy, Bima.” Marisha memanggilnya dengan suara setengah teriak.
“Apa? Kamu bisa manggil baik-baik, kan?” sinis Bima.
“Ya lo duluan yang ditanya diem aja. Makanya, jangan kebanyakan ngelamun. Ngelamunin apa lo? Awas aja kalo ngelamunin yang enggak-enggak,” timpal Marisha.
“Memangnya saya bisa melamunkan apa?”
“Ya … ya mana gue tau. Udah deh, lo mau makan apa enggak? Keburu abis nih airnya.”
“Kamu masak apa?” tanya Bima, beranjak dari sofa dan beralih ke meja makan
“Mie instan. Kebetulan masih ada sayuran yang kemarin gue beli, terus dikasih telur juga. Enak deh pokoknya. Pasti nanti lo bakalan ketagihan,” jelas Marisha.
“Tidak. Terima kasih. Saya tidak lapar.”
__ADS_1
“Ya udah kalo gitu. Mie-nya bisa gue masak besok.”
…
Siang itu, Marisha benar-benar makan sendiri. Ia tidak membuatkan makanan untuk Bima, karena laki-laki itu sendiri yang menolak tawarannya. Selesai makan, Marisha dan Bima melakukan negosiasi mengenai kecelakaan yang mereka alami.
Marisha meminta Bima untuk membayar uang ganti rugi atas kerusakan sepeda motornya. Sedangkan Bima, meminta Marisha bertanggung jawab karena sudah membuatnya hilang ingatan.
“Gini aja. Gue bakalan catet berapa ganti rugi yang harus lo bayar, totalnya ada … emm, tunggu bentar, gue itung-itung dulu.”
Setelah menghitung selama beberapa menit, akhirnya Marisha memberitahu Bima, berapa uang ganti rugi yang harus ia bayar. Total semuanya ada 15 juta. Sudah termasuk biaya perbaikan motor dan uang gaji yang dipotong.
“Kenapa ada banyak sekali?”
“Ya … ya iyalah. Selain buat bayar perbaikan motor sama gaji yang dipotong, lo juga harus bayar ganti rugi buat kesehatan mental gue. Soalnya kan, gue syok waktu lo tiba-tiba mau nabrak gue. Belum lagi yang dimarahi pelanggan gara-gara telat antar makanan terus makanannya malah rusak. Semuanya kan gara-gara lo.”
“Lagian, lo juga kan anak orang kaya. Masa nggak bisa sih bayar ganti rugi 15 juta? Buat orang kaya mah kecil uang segitu.”
“Dari mana kamu tau, kalau saya anak orang kaya?”
“Tau-lah, orang lo bawa-”
“Saya bawa apa?”
“Aduh, pake acara keceplosan ngomong lagi. Untung belum ngomong dia bawa mobil mewah. Kalau dia sampai tau, pasti nih orang bakalan nanya ke mana tuh mobil. Kan bisa tambah gawat nantinya. Bisa-bisa gue yang disuruh bayar ganti rugi karena ngilangin mobilnya,” batin Marisha.
“Kenapa kamu diam? Memangnya saya bawa apa, sampai kamu bisa ambil kesimpulan kalau saya itu orang kaya?” tanya Bima lagi.
“Emm, bawa … bawa baju. Iya, baju. Soalnya kan dari baju aja udah langsung tau kalo lo itu orang kaya,” jelas Marisha.
“Baju?”
“Iya, baju. Baju yang lo pake pas kecelakaan.”
“Terus di mana bajunya sekarang?”
__ADS_1