Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Kemungkinan Jatuh Cinta


__ADS_3

   “Maaf, saya tidak kenal sama kamu.” Bima melepaskan tangan wanita itu dan menjauh darinya.


   “Aku tau kamu marah dan kecewa sama aku, tapi aku bisa jelasin sama kamu. Apa yang kamu lihat itu nggak sepenuhnya benar,” ucap wanita itu.


   “Maaf, tapi kamu salah orang.”


   “Ayo, Sha. Kita pulang,” ajaknya, langsung memegang tangan Marisha dan menyuruh gadis itu untuk duduk di jok belakang.


   Marisha yang masih tidak percaya dengan ucapan Bima saat menolak untuk mengenali wanita itu, hanya menurut saja. Marisha bahkan membiarkan Bima yang mengendarai sepeda motornya.


   Bahkan ketika sepeda motor yang Bima kendarai tiba di depan rumahnya, Marisha masih saja bengong. Padahal, Marisha yakin jika wanita tadi adalah salah satu orang terdekat Bima.


   “Sha. Kita sudah sampai,” ucap Bima, menunggu gadis yang duduk di belakangnya untuk turun lebih dulu.


   “Sha. Kamu belum turun?” tanyanya. Penasaran dengan apa yang Marisha lakukan, Bima mencari tau melalui kaca spion.


   “Sha, kamu melamun?” tanyanya lagi.


   “Hm? Enggak kok. Gue nggak ngelamun, kenapa lo berhenti?” balas Marisha.


   “Katanya nggak melamun, tapi sudah sampai di depan rumah … masa nggak sadar?!”


   “Oh, udah sampai ya? Hee … gue kira masih jauh. Sorry sorry.” Marisha segera turun dari motor dan berniat masuk ke rumah. Namun, Bima memanggilmya sebelum ia melangkah masuk.


   Tidak tau mengapa Bima mencegah Marisha untuk masuk, tetapi ada keraguan yang terlihat di wajahnya.


   Mungkin, ada sesuatu yang ingin Bima tanyakan. Namun, ia ragu untuk menanyakannya. Mungkin juga, sesuatu itu berkaitan dengan wanita yang menemuinya tadi.


   Bima pasti sama penasarannya dengan Marisha. Terlebih lagi, perginya mereka malam ini adalah untuk mencari petunjuk mengenai ingatan Bima yang hilang.


   “Ada apa? Apa ada sesuatu yang mau lo omongin?” tanya Marisha.


   Bima masih tetap diam. “Kalo ada yang mau lo tanyain, tanyain aja. Gue pasti bakal jawab, kalo gue tau jawabannya,” ujarnya.

__ADS_1


   “Apa ini … ada hubungannya sama cewek yang tadi itu?” Akhirnya Marisha menanyakan, apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


   Bima masih saja diam. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda isyarat, jika tebakan yang Marisha tanyakan itu benar.


   Sayangnya, beberapa pertanyaan yang Bima ajukan hari ini, tidak bisa Marisha jawab. Ia juga sama penasarannya dengan laki-laki itu.


   “Apa dia pacarku?” tanya Bima, tiba-tiba.


   Marisha hanya meringis. “Apa mungkin dia itu tunanganku?” tanya Bima lagi.


   “Kenapa lo nggak mikir kalo cewek tadi itu istri lo? Bisa aja kan, kalo lo itu sebenarnya udah nikah dan punya anak?!” Bingung harus menjawab apa, Marisha justru mengatakan kemungkinan itu pada Bima.


   Bima menggelengkan kepala. “Nggak mungkin kalau aku sudah menikah,” ujarnya.


   “Kenapa nggak mungkin?” Entah mengapa, Marisha justru seakan mendesak Bima untuk mengakui kemungkinan tersebut.


   Bima menepis kemungkinan itu dengan mengatakan tidak adanya cincin pernikahan yang ia pakai. Sekalipun tidak ada identitas satu pun yang Bima bawa saat kecelakaan, cincin pernikahan pasti akan tetap ada di jari manisnya. Tidak mungkin hilang begitu saja, apalagi sampai tertinggal.


   Meski jawaban Marisha bisa dijadikan kemungkinan, tetapi Bima tidak percaya jika dirinya sudah menikah. “Ah, aku baru ingat. Cewek yang tadi juga nggak ada pakai cincin di jarinya,” ucap Bima.


   Marisha mengangguk-anggukkan kepala, mendengar jawaban laki-laki itu. Oke, anggap saja Bima memang belum menikah, lantas akan bagaimana Marisha membantu Bima mendapatkan ingatannya kembali?


   Apa mereka akan pergi ke tempat itu lagi? Mungkin saja, wanita itu masih ada di sekitar sana.


   “Loh, kalian udah balik? Kok cepet banget?” Alin yang berniat keluar karena ingin membeli makanan, justru melihat Marisha dan Bima berdiam diri di depan rumah.


   Marisha lantas memberitahu sahabatnya, alasan mereka kembali lebih cepat. “Apa? Tadi ada cewek yang meluk Bima terus manggil dia dengan nama Gala?” ulang Alin.


   “Kalo gitu, gue nggak bisa liat Marisha bareng sama Bima lagi dong?” gumam Alin, lirih.


   “Lo lagi ngomong apaan sih, Lin? Ngedumel nggak jelas. Ngomongin apa hayo?” tuduh Marisha.


   “Enggak kok. Gue nggak ngomongin apa-apa. Karena lo berdua udah balik, gue juga mau balik ya. Dah.” Alin langsung menaiki sepeda motor milik ayahnya dan segera tancap gas.

__ADS_1


   “Itu orang kenapa sih? Aneh banget,” gumam Marisha.


   Malam belum cukup larut, Marisha bingung harus melakukan apa setelah ini. Kalau harus tidur, ia belum mengantuk. Apalagi, rasa penasarannya yang belum terjawabkan, membuatnya semakin terjaga.


   “Sha, kamu belum mau tidur, kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar di sekitar sini?” ajak Bima.


   Pikirannya yang terasa suram, seakan langsung tercerahkan. Ajakan Bima tentu saja langsung ia terima, tanpa perlu pikir panjang.


   Keduanya lantas jalan beriringan. Menikmati indahnya suasana malam yang cerah, dengan banyaknya bintang-bintang di langit.


   “Sha, gimana kalau ingatanku akan memakan waktu yang lama untuk kembali?” tanya Bima.


   “Gimana apanya?”


   “Itu artinya aku akan terus tinggal di rumah kamu.”


   “Ya … emangnya kenapa? Kan gue udah janji buat tanggung jawab sama hidup lo, sampai ingatan lo balik lagi,” jelas Marisha.


   “Kalau misalnya aku keterima buat kerja di café, itu artinya kita berdua akan menghabiskan waktu seharian bersama selama beberapa hari. Bahkan, bisa sampai beberapa minggu atau bulan. Memangnya kamu nggak apa-apa?”


   Marisha tidak mengerti dengan maksud perkataan Bima. Kenapa laki-laki itu bertanya demikian? Memangnya ada yang salah, jika mereka terus bersama-sama selama beberapa waktu?


   Sudah menjadi tanggung jawab Marisha, jika ia harus menanggung hidup Bima setelah kecelakaan itu terjadi. Marisha memang berasal dari keluarga yang tidak punya, tetapi itu bukan berarti ia juga tidak mempunyai perasaan. Marisha tidak mungkin menyuruh Bima tinggal di jalanan, padahal ia sudah berjanji sebelumnya.


   “Maksud aku, bagaimana kalau seandainya kamu tiba-tiba jatuh cinta sama aku dan ternyata, pas ingatan aku kembali … aku sudah mempunyai tunangan atau bahkan istri seperti yang kamu bilang tadi? Mungkin aja, kan?”


   “Apa kamu nggak apa-apa … kalau nantinya kamu akan kecewa dan sakit hati?”


   Marisha sampai menganga tidak percaya, saat Bima mengatakan hal aneh seperti itu. “Weh. Emangnya lo pikir gue bakalan jatuh cinta semudah itu apa?” teriaknya tiba-tiba.


   “Meskipun lo ganteng nih ya, lo itu tuh bukan tipe gue tau. Kalo gue liat-liat nih ya … lo itu tipe cowok yang suka mainin hati cewek. Terus cewek yang tadi itu, pasti salah satu dari cewek yang udah lo tinggalin karena udah bosen,” jelas Marisha, mengambil kesimpulan sendiri.


   “Bagaimana kalau aku adalah cowok yang setia?”

__ADS_1


__ADS_2