Hasrat Cinta Tuan Gala

Hasrat Cinta Tuan Gala
Bima Pergi dari Rumah


__ADS_3

   Malam sudah semakin larut, saat keduanya tiba di rumah. Marisha langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Bima, juga langsung berbaring di sofa. Lelah juga berjalan cukup jauh.


   Sebelum Bima menutup mata, pintu kamar Marisha kembali terbuka yang memunculkan seorang gadis tengah membawa sesuatu di kedua tangannya.


   “Bima,” panggilnya.


   “Iya.” Sahut Bima, segera duduk.


   “Ini ada bantal sama selimut. Sorry ya, gue baru kasih bantal sama selimutnya sekarang,” ucap Marisha, memberikan apa yang dibawanya.


   “Nggak apa-apa. Maaf, sudah bikin kamu repot,” balas Bima.


   “Ya udah. Gue masuk dulu ya.”


   Hari ini, adalah pertama kalinya ada seorang laki-laki yang tinggal di rumah Marisha. Untuk pertama kalinya juga, ada laki-laki yang menemani tidur malamnya. Ya, walaupun berbeda ruangan.


   Setidaknya, Marisha merasa ada seseorang yang menjaganya. Sama seperti yang ayahnya lakukan dulu. Dengan adanya Bima di rumah itu, seakan menghadirkan kembali sosok penjaga dalam hidup Marisha.


   Sementara Marisha dan Bima tidur dengan tenang dan nyaman, di lain tempat seorang wanita paruh baya bahkan tidak bisa memejamkan matanya.


   Kecelakaan dan hilangnya sang putra, membuat wanita paruh baya itu gelisah dan khawatir sepanjang hari. Semua rumah sakit ternama di Jakarta sudah beliau datangi, tetapi tidak ada pasien dengan nama Gala Fernando di sana.


   Ditemukannya ponsel juga dompet Gala, membuat wanita paruh baya itu semakin khawatir. Karena itu artinya, tidak ada uang ataupun alat komunikasi yang dimiliki oleh Gala saat ini.


   “Ma. Mama istirahat dulu ya. Sudah malam, besok kita cari kak Gala lagi.”


   “Bagaimana mama bisa istirahat, kalau kakak kamu saja kita tidak tau bagaimana keadaannya. Dia baik-baik saja atau tidak, sudah makan atau belum, bisa tidur nyenyak atau tidak. Mama khawatir sekali, Lala.”


   “Apa nggak sebaiknya kita kasih tau kak Mala juga, Ma?” ucap gadis yang dipanggil Lala, memberi saran.


   “Jangan. Kakak kamu yang satu itu kan sudah menikah. Dia juga baru dua minggu ikut suaminya tinggal di Surabaya. Tidak baik kalau kita tiba-tiba minta dia untuk kembali ke Jakarta. Lagipula, Mala sekarang sedang hamil. Tidak baik kalau berita seperti ini, didengar sama wanita yang sedang hamil muda.”


   “Terus sekarang kita harus gimana, Ma?”


   “Kamu istirahat saja. Besok kita cari kak Gala lagi.”



   Bukan suara kicauan burung atau hembusan angin yang membangunkannya. Melainkan suara gaduh, juga bau gosong yang membuatnya langsung tersadar dan berlari keluar.


   Tanpa mempedulikan rambut dan penampilannya yang acak-acakan, Marisha berlari keluar dari kamar. “Bima,” teriakannya sontak mengejutkan si pemilik nama.

__ADS_1


   “Apa yang udah lo lakuin, hah? Kenapa lo buat dapur gue kayak kapal pecah gini sih?” omelnya, langsung.


   “Maaf,” ucap Bima, menunduk.


   “Lo itu sebenernya mau ngapain sih pagi-pagi gini udah buat kekacauan?”


   “A-aku … aku cuma pengin-”


   “Pengin apa? Pengin buat rumah gue ancur? Iya, gitu?” Lagi lagi Marisha menuduh Bima tanpa bukti. Memarahi laki-laki itu, juga sudah Marisha lakukan sejak tadi.


   “Cuma pengin buatin kamu sarapan,” jelas Bima.


(Deg)


   Marisha langsung tersentak.


   Jadi itu alasan Bima membuat kekacauan di pagi hari?


   Setelah memberitahu alasannya, Bima langsung pergi keluar. Entah ke mana laki-laki itu pergi, yang pasti membuat Marisha menyesal karena sudah memarahinya.


   “Aaah, kenapa gue nggak bisa ngendaliin emosi gue sih?”


   “Emang bener ya yang Bima omongin kemarin?! Kalo gue itu selalu aja mikir negatif dan suka menuduh orang tanpa bukti.”


   Karena hari sudah mulai siang, Marisha memutuskan untuk mandi dan bersiap, alih-alih mencari Bima.


   Lima belas menit kemudian, Marisha keluar dari rumahnya untuk pergi bekerja.


   Di luar sana, Marisha tidak melihat sosok Bima di manapun. Entah ke mana laki-laki itu pergi. Padahal, Marisha sudah menelusuri jalan mulai dari rumah hingga ke tempat kerjanya.


   “Sha. Lo kenapa sih? Dari pagi gue perhatiin kayak gelisah gitu. Ada apa? Lo lagi mikirin ibu sama ade-ade lo di kampung?”


   “Enggak. Bukan itu yang lagi gue pikirin sekarang.”


   “Terus apa? Nggak biasanya loh lo gelisah kayak gini.”


   “Bima, Lin. Bima pergi dari rumah,” terang Marisha.


   “Hah? Kabur maksud lo? Kok bisa? Ada berapa banyak duit lo yang dibawa kabur sama tuh cowok?”


   Sama seperti Marisha, Alin juga langsung menuduh Bima melakukan hal buruk, hanya dengan mendengar satu kalimat saja.

__ADS_1


   “Bukan itu maksud gue, Alin.”


   Marisha menceritakan apa yang terjadi di rumahnya pagi ini. Setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, kini Alin balik memarahi teman baiknya itu.


   Alin bahkan menakut-nakuti Marisha, dengan mengatakan kalau saat ini Bima mungkin ada di kantor polisi dan sudah melaporkan perbuatan Marisha.


   Memang bukan kekerasan fisik yang Marisha lakukan, tetapi psikis Bima yang Marisha sakiti.


   Apalagi, Bima masih seorang pasien yang membutuhkan perawatan. “Lo nggak usah nakut-nakutin gue deh. Nggak mungkinlah Bima ngelaporin gue ke polisi,” omel Marisha.


   “Apanya yang nggak mungkin sih, Sha? Kan lo sendiri yang bilang … kalo Bima minta lo buat tanggung jawab karena udah buat dia hilang ingatan. Secara nggak langsung, lo yang bikin dia celaka, kan?!”


   “Ah, rese lo. Bukannya bantuin, malah mojok-mojokin gue,” keluh Marisha.


   “Ya udah, ya udah. Nanti sore gue bantuin deh … buat nyari tuh cowok.”


   “Kok nanti sore sih? Kelamaan dong. Nanti kalo dia keburu ilang gimana?” tukas Marisha.


   “Ya terus … lo mau nyari dia sekarang, gitu? Ini masih siang, Sha. Lo nggak mau kan kalo tuh aki-aki tua makin marah?”


   Benar juga yang Alin katakan. Kalau sampai bosnya marah karena Marisha meninggalkan jam kerja lagi, bukan uang ganti rugi yang harus ia bayar, tetapi statusnya sebagai karyawan cafe bisa saja melayang.


   Meski khawatir, Marisha harus bersabar hingga jam kerjanya usai. Setelah itu, ia bisa mencari Bima.


   Beberapa jam kemudian, Marisha tidak perlu bersabar lagi. Jam kerjanya telah habis. Marisha dan Alin meninggalkan cafe dan langsung mencari Bima.


   Karena belum mengetahui seperti apa wajah laki-laki yang tinggal di rumah Marisha, membuat Alin kesulitan untuk mencari laki-laki itu.


   “Maaf, Bu. Apa ibu liat laki-laki yang kira-kira tingginya segini, cakep, terus pake kaos warna coklat?” Marisha bertanya pada tiap-tiap orang yang ditemuinya sepanjang jalan.


   Sayangnya Nihil. Tidak ada satu pun dari mereka yang pernah melihat laki-laki dengan ciri yang Marisha jelaskan.


   “Gimana dong, Lin? Hari udah mulai gelap, ke mana lagi kita harus nyari Bima?” tanya Marisha, merasa frustasi.


   “Sabar ya, Sha. Kita coba cari di sebelah sana. Mungkin, kita bisa nemuin dia.” Saran Alin.


   “Tapi gue capek, Lin. Izinin gue istirahat bentar ya,” pinta Marisha, lantas duduk di sisi jalan.


   Marisha sangat menyesal. Tidak seharusnya ia menuduh Bima seperti itu. Padahal, niat Bima itu baik.


   Namun, apa pun yang Bima katakan dan lakukan, tampak salah di mata Marisha.

__ADS_1


   “Ini, minum dulu.” Marisha seakan mengenali suara laki-laki itu.


   “Bima?”


__ADS_2