
“Bima, ngapain sih lo pake deket-deket segala?”
“Kenapa? Aku kan cuma mau tau alasan kamu aja.”
Dengan ekspresi polosnya, Bima menjawab omelan Marisha. Bima tidak tau, karena gerakannya yang tiba-tiba itu, ada perasaan aneh yang Marisha rasakan. Membuat gadis itu jadi merasa canggung.
“Nggak apa-apa. Udah selesai kan ngomongnya? Gue mau mandi.” Marisha berusaha menghindari percakapan dengan pergi ke kamar mandi.
Bima yang merasa tidak bersalah, dengan santainya langsung berbaring di sofa. Cukup lama menunggu gilirannya untuk mandi, Bima sampai tertidur karena lelah yang dirasakannya setelah seharian bekerja.
“Gala, pliss … dengerin dulu penjelasan aku.”
“Tidak ada yang perlu dijelaskan, semuanya sudah jelas. Saya sudah melihatnya sendiri. Sekarang, hubungan kita sudah berakhir. Silakan pergi dari kehidupan saya.”
“Gala.”
“E-e-eh.”
(Brug)
“Bima. Bim, Bima.”
Bima membuka mata. “Lo kenapa? Lo mimpi buruk ya?” tanya Marisha, melihat banyaknya keringat di area wajah laki-laki itu.
Bima bangun dari posisi berbaring, lantas menjawab pertanyaan Marisha dengan gelengan kepala.
“Lo nggak mimpi buruk? Terus lo mimpi apaan? Kenapa sampai keringetan gitu?” tanya Marisha lagi.
“Nggak tau. Mimpinya nggak jelas.”
“Ko lo bisa tau kalo itu bukan mimpi buruk?” Marisha terus bertanya, karena penasaran.
Bima memberi Marisha tatapan tajam, seakan meminta gadis itu untuk diam. Bima sendiri tidak tau mimpi apa yang baru saja dialaminya itu. Selama 3 hari 2 malam, Bima tinggal di rumah Marisha, baru kali ini ia memimpikan hal aneh seperti tadi.
“Siapa namaku yang sebenarnya?” gumam Bima.
“Gue juga nggak tau siapa nama lo yang sebenarnya. Lo kan hilang ingatan, nggak ada identitas apa pun yang lo bawa waktu itu,” jelas Marisha.
“Apa ingatanku bisa kembali lagi seperti dulu?” Mengenai pertanyaan Bima yang satu itu, Marisha tidak bisa menjawabnya. Marisha tidak bisa menjamin, kapan ingatan Bima akan kembali. Bisa dalam waktu dekat, bisa juga memakan waktu yang cukup lama.
“Besok, selesai kerja gue bakal ajak lo buat keliling-keliling. Siapa tau aja, ada tempat yang lo pernah datengin, terus ingatan lo bakal balik lagi,” ucap Marisha, memberi saran.
__ADS_1
“Kenapa nggak sekarang aja? Lebih cepat, bukannya lebih baik?! Kalau gitu aku mandi dulu,” balas Bima.
“I-iya.”
Mendengar Bima begitu bersemangat, Marisha ragu jika mereka harus pergi malam ini. Sebenarnya, Marisha tidak yakin jika cara ini bisa berhasil. Marisha tidak mau jika saran yang ia berikan itu, justru membuat Bima kecewa.
Marisha takut, jika nanti ingatan Bima kembali, Bima akan melaporkannya ke polisi. Karena ia, Bima sampai hilang ingatan. Apalagi, mobil yang Bima kendarai waktu itu, sekarang sudah hilang entah ke mana.
Meski semua itu bukan salahnya, Marisha tetap merasa takut. Takut jika seandainya keluarga Bima yang menuntut keadilan untuk anak mereka. Marisha takut, karena jika begitu bagaimana nasib ibu dan kedua adiknya di kampung?
“Risha.”
Marisha terkejut, saat Bima memanggil namanya cukup keras. “Ayo pergi. Kenapa malah bengong?”
Bima yang sudah selesai mandi, langsung mengajak Marisha untuk keluar. Bima berharap, kepergian mereka malam ini, bisa mengembalikan sedikit ingatannya.
“Kita mau keliling-keliling naik apa? Gue kan nggak punya motor,” ucap Marisha. Ia yang mengajak Bima untuk berkeliling, ia juga yang bingung.
Bima berpikir sesaat, lantas menyarankan Marisha untuk meminjam sepeda motor temannya. “Alin maksud kamu?” tanya Marisha dan Bima langsung menjawabnya dengan anggukan kepala.
Marisha memberitahu Bima jika Alin tidak mempunyai sepeda motor, tetapi mereka bisa meminjam sepeda motor milik orang tuanya Alin.
“Iya iya, sama-sama, tapi awas lo ya … kalo motor bokap gue sampai kenapa-kenapa, hubungan persahabatan kita putus.”
“Astaga, Alin. Lo gitu banget sih sama gue. Iya iya, gue bakal hati-hati. Lagian kan yang waktu itu nabrak gue-”
“Ssstt.” Alin langsung membungkam mulut Marisha, agar tidak sampai keceplosan mengenai kecelakaan yang terjadi waktu itu.
“Apaan sih, Lin? Pake bekap-bekap mulut gue? Bima juga udah tau kali soal kecelakaan itu,” omel Marisha.
“Lo udah tau, Bim?” tanya Alin.
“Ya taulah, Alin. Kalo dia nggak tau, kenapa dia minta gue buat tanggung jawab? Aneh deh lo,” timpal Marisha.
Alin hanya bisa meringis. “O iya ya.”
“O iya ya, o iya ya. Udah ah, gue jalan dulu.” Sahut Marisha.
“Bima, lo bisa naik motor, kan?” tanyanya.
Bima tidak yakin, apakah ia bisa naik sepeda motor. Ingatannya saja hilang. Bagaimana kalau sebelumnya Bima belum pernah naik sepeda motor?
__ADS_1
Melihat keraguan di wajah Bima, Marisha langsung bersiap menjadi joki. Tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki yang kehilangan ingatan. Namanya saja ia lupa, bagaimana dengan yang lainnya?
“Risha, aku-”
“Udah naik aja, gue yang bakal bawa motornya,” balas Marisha, cepat. Ia sudah siap dengan helm warna hitam milik Alin.
“Iya.” Dengan perasaan aneh, Bima duduk sebagai penumpang. Entah karena baru kali ini Bima menaiki sepeda motor, atau karena dibonceng oleh seorang wanita. Namun, perasaan aneh itu seakan hilang, saat Bima melingkarkan tangannya ke perut Marisha.
(Plak)
“Jangan coba-coba ambil kesempatan dalam kesempitan lo ya? Gue jitak nanti,” omel Marisha.
“Maaf. Aku nggak sengaja.”
“Nggak sengaja, nggak sengaja.”
Melihat pertengkaran kecil antara Marisha dan Bima, Alin tersenyum lebar. Baru kali ini Alin melihat Marisha begitu dekat dengan seorang laki-laki. Padahal, dengan Putra yang satu tempat kerja saja, Marisha tidak terlalu dekat.
“Hati-hati, Sha. Pulangnya jangan malem-malem ya,” teriak Alin, saat Marisha melaju dengan cukup kencang.
“Kok gue seneng ya, liat Risha sama Bima kayak gitu? Kayaknya … mereka berdua cocok kalo jadi pasangan.” Alin kembali tersenyum, membayangkan jika Marisha, benar-benar bersama dengan Bima.
Beberapa menit berkeliling, Marisha bingung apakah ia harus membawa Bima, untuk melewati tempat di mana mereka mengalami kecelakaan atau tidak.
“Enggak. Seharusnya gue nggak boleh ragu. Mungkin kalo gue ajak Bima lewatin tempat itu, ingatannya bakal balik lagi. Dengan begitu kan dia bisa balik ke keluarganya lagi. Orang tuanya pasti khawatir, karena Bima udah hilang selama 3 hari,” batin Marisha.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Marisha memutuskan untuk mengajak Bima melewati tempat itu.
“Kenapa berhenti?” tanya Bima.
“Lo inget nggak sama tempat ini?” balas Marisha, balik bertanya.
Bima mengernyitkan kening. “Memangnya ini tempat apa?” tanyanya lagi.
Marisha menghembuskan nafas kasar. “Lo beneran nggak inget sama tempat ini? Ini kan-”
“Gala. Ini benar kamu, kan? Syukurlah kalau kamu masih hidup, aku senang sekali.”
Marisha dan Bima dikejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang memangil Bima dengan nama Gala. Wanita itu bahkan langsung memeluk Bima dengan erat.
“Siapa cewek ini? Apa dia pacarnya Bima? Tunangan? Atau jangan-jangan … cewek ini istrinya Bima? Kenapa gue ngerasa sakit, liat nih cewek meluk Bima?”
__ADS_1