
“Gimana, Dok? Kenapa dia bisa hilang ingatan?”
“Karena benturan yang keras, pasien mengalami luka yang menyebabkan beberapa fungsi dalamnya menjadi terganggu. Itu yang menyebabkan pasien kehilangan ingatannya.”
“Terus gimana cara balikin ingatannya, Dok?”
Dokter memberitahu hal-hal apa saja yang bisa membantu mengembalikan ingatan pasien.
Melakukannya dengan sabar dan rutin, bisa mempercepat proses penyembuhan.
“Kira-kira sampai berapa lama dia seperti itu, Dok? Dia nggak mungkin amnesia selamanya kan, Dok?”
“Jika ingin ingatannya cepat kembali, lakukan saran yang saya katakan tadi.”
Marisha meringis. “Baik, Dok.”
Marisha sangat kesal. Hari baiknya karena turunnya gaji bulan ini, sepertinya menjadi hari terburuknya sepanjang sejarah.
Apa yang Marisha alami hari ini, jelas membenarkan kata pepatah, di mana 'sudah jatuh tertimpa tangga pula'.
Marisha benar-benar sial hari ini. Sudah jatuh dari motor, dimaki-maki pelanggan juga bos, hampir dipecat dan disuruh ganti rugi. Sekarang, di saat ia ingin meminta tanggung jawab dari laki-laki itu untuk membayar semua kerugian yang dialaminya, justru Marisha yang harus bertanggung jawab untuk merawat dan membantu laki-laki itu sembuh dari amnesia.
Lengkap sudah deritanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya laki-laki itu, melihat tingkah Marisha yang tampak mencurigakan.
Marisha baru ingat, jika laki-laki itu adalah orang kaya, pasti di dalam dompetnya ada banyak sekali uang dan juga atm.
Yang harus Marisha lakukan sekarang, adalah menemukan dompet tersebut.
Karena selain bisa mendapatkan uang, Marisha juga bisa tau di mana laki-laki itu tinggal.
“Di mana ya? Kok nggak ada sih?” tanyanya, bergumam sendiri.
“Kamu lagi ngapain sih?”
“Ah, iya. Gue coba tanya suster aja deh,” simpul Marisha, tidak peduli pada laki-laki itu.
“Maaf, Bu, tapi kami tidak menemukan apa pun di saku celana dan juga pakaiannya. Tidak ada dompet ataupun kartu identitas diri pasien,” jelas suster kala itu.
Walaupun tidak menemukannya di rumah sakit, Marisha tidak kehabisan akal. Ia kembali ke tempat kejadian.
Tempat terjadinya kecelakaan, di mana mobil dari laki-laki itu masih berada di sana.
Marisha bisa memecahkan kacanya dan mengambil dompet atau apa pun yang ada di dalamnya.
Semua itu harus Marisha lakukan, untuk mengetahui identitas dari laki-laki itu, juga mendapat biaya ganti rugi atas kecelakaan yang ia alami.
__ADS_1
Sayangnya, ketika Marisha tiba di tempat kejadian, mobil yang sebelumnya dikendarai oleh laki-laki itu sekarang sudah tidak ada lagi.
Benar-benar sial. Hari ini adalah hari terburuk Marisha. Apalagi yang harus ia lakukan sekarang?
…
Karena apa yang dicarinya tidak ada, Marisha kembali ke rumah sakit. Ia bingung, kenapa mobil laki-laki itu tidak ada di sana?
“Kenapa mobilnya nggak ada ya? Apa jangan-jangan … mobilnya udah dibawa sama pak polisi lagi, bisa gawat ini,” tebak Marisha.
“Tapi … gimana kalo misalnya itu mobil diambil pencuri? Bisa tambah gawat dong?!”
Marisha baru saja tiba di rumah sakit, tetapi suara gaduh di dalam sana langsung menyita perhatiannya.
“Wah, ganteng banget ya? Aku baru lihat ada cowok seganteng dia.”
“Iya, kalau tau ada pasien ganteng di sini, aku pasti berangkat lebih pagi lagi.”
“Hust. Memangnya kamu mau ngapain? Jangan macam-macam ya, kamu kan sudah punya suami.”
Marisha dibuat bingung oleh beberapa suster itu. Mereka seperti melihat artis tampan saja.
Meski begitu, ia sedikit penasaran dengan laki-laki yang sedang dibicarakan oleh para suster itu.
Marisha pun berjalan mendekat, menuju ke arah di mana laki-laki itu berada.
Laki-laki yang membuat hari gajian Marisha, berubah menjadi hari yang terburuk.
“Eh, mungil. Sini kamu.”
Entah siapa yang dipanggil oleh laki-laki itu, tetapi pandangan matanya mengarah pada Marisha.
Karena namanya tidak dipanggil, Marisha celingukan untuk mencari seseorang yang dimaksudkan oleh laki-laki itu.
“Ngapain celingak-celinguk? Kamu yang saya panggil,” ujar laki-laki itu.
“Gue?” ucap Marisha, menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, siapa lagi yang saya kenal di sini selain kamu?” Sahut laki-laki itu.
Marisha berjalan mendekat. Sebenarnya, tujuan Marisha kembali ke rumah sakit yaitu untuk memastikan lagi kondisi laki-laki itu.
Jika tidak ada luka lain yang serius, ia akan membawa pergi laki-laki itu. Ke mana saja, asal tidak rumah sakit.
Karena jika terus berada di rumah sakit, akan dikenakan biaya perawatan.
Marisha tidak punya uang sebanyak itu, untuk biaya rumah sakit. Biaya pemeriksaan dan obatnya saja, sudah menguras isi dompetnya.
__ADS_1
“Ada apa? Kok lo malah di sini sih? Bukannya istirahat di dalam. Masuk ke dalam, gue mau ngomong sama dokternya dulu,” ucap Marisha, lantas meninggalkan laki-laki itu sendirian lagi.
Ucapan lirih yang para suster itu katakan, semakin terdengar keras hingga orang yang mereka bicarakan, tampaknya merasa risih dan memutuskan untuk masuk ke ruangan.
Tidak lama setelah itu, Marisha kembali. Ia mengajak laki-laki itu untuk meninggalkan rumah sakit.
“Tunggu. Kamu mau ajak saya ke mana?” tanya si laki-laki.
Marisha berpikir sejenak. Ia bingung harus membawa ke mana laki-laki itu pergi.
“Hotel. Antar saya ke hotel,” pinta laki-laki itu.
“Apa? Lo gila ya? Mana bisa gue bayar biaya nginep di hotel. Kalau mau ke sana, pergi sendiri, bayar sendiri. Anggep aja kita nggak pernah ketemu. Gue anggep lunas, semua hutang ganti ruginya. Gue juga nggak bakal bertanggung jawab sama kesembuhan lo,” cecar Marisha.
“Saya akan laporkan kamu ke polisi,” ancam laki-laki itu.
“Silakan. Lo kan lagi hilang ingatan, paling yang ada … lo bakal dikira orang gila. Silakan kalo mau pergi.” Sahut Marisha, sama sekali tidak terpancing dengan ancaman laki-laki itu.
Mendengar jawaban Marisha yang tidak terpancing oleh ancamannya, laki-laki itu pun kembali diam.
“Siapa nama saya?”
Beberapa saat tidak ada percakapan, laki-laki itu bertanya mengenai namanya.
“Nama? Nama lo … Bima. Iya, Bima. Nama lo Bima.” Sahut Marisha.
“Bima?” ulang si laki-laki.
“Iya. Lo nggak mau dikasih nama Bima? Nama Bima malah terlalu bagus buat tampang lo yang biasa,” ujar Marisha.
Laki-laki itu tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyetujui nama pemberian Marisha.
Hari semakin terasa terik, saat keduanya meninggalkan rumah sakit. Jam di pergelangan tangan Marisha, juga sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang.
Perutnya yang belum diisi sejak pagi tadi, sudah keroncongan karena biasanya, Marisha memakan roti setiap kali selesai mengantar pesanan.
Untuk makan, para karyawan hanya akan mendapat jatah makan siang saja. Sedangkan untuk sarapan dan makan malam, mereka harus modal sendiri.
Meski begitu, gaji yang dibayarkan jauh lebih besar daripada tempat lain.
“Cari taksi di depan. Di sini panas,” ucap Bima.
“Taksi? Enggak enggak enggak. Enak aja naik taksi, naik angkot,” balas Marisha.
“Angkot?” ulang Bima, Marisha pun langsung menganggukkan kepala.
“Memangnya kamu mau … kalau kita jadi bahan perbincangan penumpang yang lain?” tanya Bima.
__ADS_1