
Malam ini seperti biasanya Keenan pulang, setelah lelah seharian melayani pelanggan. Namun di tengah jalan terlihat tante Alya, istri dari paman Alya, Rina tengah berteriak karena dijambret. Melihat hal itu Keenan pun segera datang menolong dan mengejar jambret itu dengan motornya.
Keenan dengan lekas mengejarnya dan berhasil mendapatkan tas itu kembali. Mereka pun kabur, sementara Hendra pun datang menjemput istrinya. Keenan berhasil mendapatkan tas itu. Dan membawa kembali kepada Rina, istri dari Hendra. Keenan turun dari motornya dan memberikan tas itu.
"Ini Bi Rina tasnya," Rina terkejut karena tas itu bisa ada di tangan Keenan.
"Kamu, apa ini rencana kamu, bajing*an??" tanya Hendra seraya menarik kerah pakaian Keenan.
"Bukan paman, saya," belum selesai Keenan bicara Hendra sudah melayangkan pukulan ke wajah Keenan hingga sudut mulutnya menitik darah. Hendra masih mencengkeram pakaian Keenan dan tak melepasnya.
"Cukup ayah, Keenan cuma mau nolongin ibu, makasih ya Keenan untung ada kamu!" ujar Rina.
"Iya pak, pria ini yang menolong ibu ini, kalau nggak. Udah raib tas dan isinya!" seru warga. Sehingga Hendra melepaskan cengkeramannya
"Maafin Mas Hendra ya Keenan, apa kamu baik-baik aja?" tanya Rina mencemaskan Keenan sehingga Keenan hanya mengangguk.
"Nggak usah sok baik kamu pria payah! Nasib Alya tragis karena menikahi kamu, argh..dasar sialan!!" Sehingga Hendra hendak menyerang Keenan lagi. Rina memberi kode agar Keenan beranjak pergi dan Keenan pun menurut dengan wajah sendu.
Hendra sangat sedih sejak kepergian Alya, Alya adalah amanahnya. Hendra tak menyukai Keenan sedikitpun. Tak lama Keenan tiba di kediamannya dan disambut oleh Arini. Keenan tersenyum namun melihat luka memar di sudut mulutnya membuat Arini kuatir.
"Keenan, kenapa bibir kamu berdarah nak?" tanya Arini.
"Aku nggak sengaja jadi sasaran karena melerai pelanggan bakso yang berkelahi." ujar Keenan.
"Ya ampun kok bisa sih, sini ibu obatin dulu biar nggak infeksi!" Arini pun mengobati luka Keenan.
"Kayla udah tidur bu?" tanya Keenan.
"Baru tidur setelah minum susu, lain kali jangan sembarang melerai. Kalau akhirnya kamu jadi sasaran begini!" ujar Arini.
"Iya, aku cuma nggak bisa diam aja melihat orang yang kesulitan, bu. Nggak peduli meski dia nggak butuh pertolongan aku," ungkap Keenan teringat Hendra malah memukulnya tadi bukannya mengucapkan terima kasih dan menuduh kalau ialah dalangnya.
"Aku ke kamar dulu, bu, sebentar!" ucap Keenan kemudian diangguki oleh Arini. Keenan melihat luka memarnya di cermin. Ia bersyukur karena lukanya hanya kecil saja.
"Apa aku sehina itu hingga perhatianku pun dianggap sampah," Keenan mendongak dan beringsut ke dinding.
********
Pagi ini di warung bakso Keenan.
Ivan terus memperhatikan bekas luka pukul yang sudah lebam itu. Merasa terus diperhatikan Keenan merasa salah tingkah.
"Kenapa sih?" tanya Keenan.
__ADS_1
"Itu kenapa sudut mulut mas Keenan?" tanya Ivan.
"Eh," Keenan tak melanjutkan ucapannya dan tak lama Hendra menghubunginya.
Hendra minta bertemu dengan Keenan di taman, Keenan sebenarnya tak ingin menemuinya lagi. Entah apa yang hendak dilakukan pria itu padanya. Keenan sebenarnya bisa bela diri, hanya saja ia menghormati Hendra sebagai orangtuanya sendiri. Jadi ia berusaha mengalah dan diam, entah apa malah Hendra jadi seenaknya menyakitinya.
Hendra tengah menunggunya di taman, nampak Chelsea melihat kejadian itu. Ia mengamati dari balik pohon. Tak lama Haris melihat tindakan Chelsea dan menegurnya.
"Kalau kamu khawatir sama dia, ikutlah bergabung!" ujar Haris.
"Eh Pak Haris!" kejut Chelsea.
"Pak? Ck, ketuaan banget sih panggilan itu, panggil aja aku Haris!" ujar Haris.
"Maaf, tapi kayaknya anda terlalu tua untuk saya panggil Mas," ujar Chelsea.
"Tua? Hum..usiaku baru 30 tahun, aku belum tua amat." sanggah Haris.
"30 tahun masih melajang? Apa Mas Haris nggak cari istri?" tanya Chelsea.
"Kamu sendiri, apa kamu nggak mau cari pasangan dan menikah?" Haris balik bertanya.
"Hum..." Chelsea hanya mengangkat kedua bahunya dan menatap Keenan.
"Saya mau minta maaf soal semalam, maaf juga saya ganggu kerjaan kamu, saya hanya belum bisa terima kenyataan Alya tiada secepat ini, dia adalah keponakan yang sudah saya anggap anak karena kami nggak dikarunia anak, andai aja kamu mau memberikan Kayla sama kami, kami akan merawatnya dengan baik!" ungkapan itu membuat Keenan terkejut. Kini mereka malah berniat mengambil Kayla dari nya.
"Jangan, tolong jangan ambil Kayla, paman. Dia adalah peninggalan Alya satu-satunya, jangan pisahin kami, saya bisa gila kalau seperti ini!" pinta Keenan.
"Kalau paman dan bibi mau menjenguknya, silakan! Tapi biarkan saya merawat Kayla," pinta Keenan lagi dengan mata berkaca-kaca.
"Ini keinginan bibi kamu, Keenan!" ujar Hendra.
"Maaf saya nggak bisa, Alya meminta saya menjaganya, dia anak saya. Nggak ada yang boleh mengambilnya! Saya rasa, jawaban saya udah jelas, saya permisi dulu!" ucap Keenan pergi begitu saja dari hadapan Hendra sehingga Hendra yang kesal mengepal tangannya.
Namun tak sengaja Keenan berpapasan dengan Chelsea dan Haris. Keenan hanya menundukkan kepalanya seraya tersenyum pada mereka. Kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Kelihatannya kang bakso itu lagi sedih?!" ujar Haris.
"Iya, kasian. Pingin rasanya jadi sandaran dia terus aku pukpuk punggungnya biar dia senyum lagi." imbuh Chelsea.
"Dih, nggak usah!" sergah Haris.
"Kenapa Mas Haris begitu emosi?" tanya Chelsea.
__ADS_1
"Ck, dasar nggak peka. Udahlah aku mau ke pabrik, aku duluan ya!" ucap Haris kemudian masuk lagi ke mobilnya dan mengendarainya.
"Nggak peka? Ck, maksudnya apa sih? Hah..mending aku ke kantor!" ujar Chelsea dan menaiki bus yang tengah berhenti di halte.
Keenan melamun di depan nisan Alya, ketika Alya pergi semua terasa semakin sulit saja. Di awal hubungan mereka memang sudah ditentang, karena bahkan Hendra lebih setuju ketika Alya bersama Felix. Karena Felix adalah orang berada berbeda dengan Keenan yang berjuang setelah kehilangan sang ayah di masa kecil. Ia banting tulang bekerja apapun agar ia dan ibunya bisa makan.
Namun tak akan ada airmata lagi, ia bertekad harus terbiasa meski mendapat tekanan. Ia akan melakukan apapun demi membuat Kayla bahagia dan tetap bersamanya. Tak lama Keenan beranjak lagi. Sementara para karyawan bertanya-tanya karena Keenan tak kunjung kembali.
"Mas Keenan tadi kemana, Van?" tanya Ardi.
"Katanya sih tadi mau ketemu seseorang. Tapi nggak tau siapa orangnya." jawab Ivan.
"Kadang aku kasian lihat dia, Di. Di luar nya aja dia kelihatan baik-baik aja, tapi bisa jadi dia serapuh itu kalau sendirian." ujar Rangga seraya membuatkan bakso pesanan pelanggan.
Ivan jadi merasa khawatir dengan bos plus sahabatnya itu. Keenan selalu memendam masalahnya sendirian. Entah siapa yang ditemuinya tadi. Tak lama kemudian Keenan datang dan membantu Ivan yang tengah kerepotan melayani pelanggan.
"Jangan ngilang mulu kenapa Mas Keenan, jangan karena kamu pemiliknya, kamu bisa seenaknya begitu!" ujar Ivan agar Keenan emosi di akhir ia sedikit tersenyum setelah menggoda Keenan.
"Aku dimarahi anak buahku sekarang. Sini aku yang buatkan pesanan pelanggan. Apa nih, bakso isi telur plus mie kuning nya aja sama kamu buatin es teh manis, ya!" ujar Keenan.
"Aku udah buatin es teh manisnya mas bos, silakan kamu buatin baksonya!" kilah Ivan sehingga Keenan pun mengangguk.
"Oh iya, kalau emang Mas Keenan lagi ada masalah, cerita aja sama aku, kita kan udah temenan dari zaman kuliah." ujar Ivan berusaha mengerti perasaan Keenan.
"Hum..iyalah, brother. Aku bawain pesanan dulu ke pelanggan ya!" ujar Keenan kemudian saat ia meletakan pesanan itu. Laura datang mengunjungi hendak makan bakso.
Keenan meminta izin untuk kembali bekerja setelah memberikan pesanannya namun Laura memaksanya tetap bersamanya.
"Biarin anak buah kamu kan ada, tetaplah disini!" Keenan pun akhirnya menemani Laura.
"Ada apa?" tanya Keenan.
"Temani aku malam ini aja, aku maksa loh! Aku penasaran," pinta Laura.
"Aku nggak mau,"
"Harus mau, aku tunggu kamu nanti malam!"
"Kenapa kamu maksa banget, carilah pria lain, aku tau kamu cuma suka sama tubuhku aja, bukan?" tanya Keenan.
"Banyak omong, awas kalau nanti malam kamu lari!"
Keenan pun beranjak dan kembali melayani pelanggan baksonya lagi. Laura menyunggingkan senyum karena Keenan sudah membuatnya hampir mati penasaran karena terus menundanya ketika mereka hendak melakukan itu.
__ADS_1
*******