
Sementara di mobil Alya justru ribut dengan Felix. Felix kesal karena Alya harus mengajak Kayla. Felix tak menginginkan Kayla dan hanya dirinya saja. Sehingga Felix berniat membuang Kayla. Alya yang merasa menyesal tidak terima dan terjadilah keributan di dalam mobil sehingga tak sengaja melintas truk di hadapan mereka.
Felix banting stir namun mobil itu terus berjalan tak tentu arah hingga masuk ke jurang. Ketika mobil itu terguling, Alya memeluk Kayla dengan erat agar tak terkena benturan. Sehingga Alya yang merasakan benturan demi benturan itu.
Mobil berakhir di dasar jurang, melihat Alya yang tak sadarkan diri Felix memilih kabur, meski sulit ia meninggalkan Alya yang terluka dan Kayla yang menangis dalam pelukan Alya.
Disela sisa nafas yang terengah, Alya berusaha mengambil ponselnya untuk menghubungi Keenan. Keenan segera mengangkatnya.
"Halo sayang, kemana mereka membawa kamu, pulanglah sayang!" pinta Keenan.
"Aku udah nggak kuat lagi mas." ucap Alya.
"Apa yang terjadi sama kamu sayang, kamu dimana sekarang? Katakan sama mas!" pinta Keenan.
"Mobil yang kami tumpangi jatuh di dasar jurang jalan x mas. Tolong Kayla mas, aku udah nggak kuat, tolong Kayla, akh.."
"Jurang, bertahanlah sayang. Mas akan segera menolong kalian!"
Keenan segera menyambar jaketnya dengan membawa serta tim sar. Keenan hendak ikut ke tkp hanya saja tim sar melarangnya karena kondisi jurang yang curam. Saat tim sar mengangkat tubuh Alya, Keenan berhambur memeluk Alya dengan menangis tersedu-sedu. Sementara syukurlah Kayla masih selamat tanpa terluka sedikitpun.
"Alya, bangun sayang. Ini mas udah datang sayang, buka mata kamu, sayang!"
Alya masih berusaha bertahan hidup hingga menemui sang suami.
"Maafin aku mas, jagalah Kayla! Aku udah nggak kuat mas,"
"Jangan katakan itu sayang, mas udah maafin kamu. Asal kamu jangan pergi dari mas!" pinta Keenan dengan berlinang airmata.
"Ayo, kita harus segera ke rumah sakit. Jangan buang-buang waktu lagi, pak!" pekik Keenan.
Mereka mengangkat Alya ke ambulance namun Alya mengalami sesak. Sementara Keenan terus menggenggam tangannya erat. Keenan tak ingin kehilangan istri yang begitu dicintainya. Di ambulance Alya sudah tersengal,
"Mas, berjanjilah sama aku untuk menjaga Kayla. Aku pergi mas, maafin aku, laailahaillalloh!" dan Alya pun menghembuskan napas terakhirnya sebelum mereka tiba di rumah sakit.
"Alya, jangan tinggalin mas, sayang! Bangun sayang!" Keenan terus mengguncangkan tubuh Alya namun ketika petugas kesehatan memeriksanya.
"Sabar ya, pak! Istri anda sudah tiada." ucap petugas ambulance itu.
"Alya!!!!!"
Pagi ini adalah pemakaman Alya, semua pelayat datang melayat. Sementara sang ibu dari Keenan membujuk Keenan untuk beranjak disaat semua pelayat sudah melangkah pergi dari pemakaman. Bukan hanya Keenan yang terluka akan kepergian Alya, tapi juga Arini. Kini Alya telah menyusul kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Sabar ya Keenan, ayo kita pulang nak! Kasian anak kamu!" ajak Arini.
"Bisakah ibu dan Kayla pulang duluan, aku mau disini sejenak." pinta Keenan.
"Baiklah, hujan akan turun nak! Jangan biarkan diri kamu sakit. Cuma kamu yang Kayla miliki saat ini!" Keenan pun mengangguk mengerti kemudian Arini pergi membawa cucu satu-satunya itu.
Keenan menangis ditengah derasnya hujan seraya memandangi pusara sang istri yang sudah pergi selamanya. Ingin rasanya ia ikut menyusul Alya pergi, hanya saja sudah ada Kayla yang masih membutuhkannya.
Sementara dari sudut lain, ada Felix yang melihat di balik pohon. Kemudian ia pergi lagi.
********
Seminggu setelah kepergian Alya, Keenan sudah mulai aktif berjualan lagi. Sebelumnya ia tak ingin keluar rumah tapi ia harus terus melanjutkan hidup. Karena masih ada Alya yang harus ia bahagiakan. Satu-satunya peninggalan Alya yang paling berharga.
Sementara, para anak buah memberikan hiburan pada Keenan. Keenan kini tak membawa Kayla lagi. Karena Keenan meminta Arini untuk tinggal bersama mereka dan merawat Kayla.
"Buat mas Keenan." Ivan memberikan semangkuk bakso untuk Keenan.
"Makasih ya, Ivan." ucap Keenan.
"Sabar ya mas, pelan-pelan bukan melupakan. Tapi mencoba ikhlas, supaya luka kita segera terobati." ucap Ivan.
"Makasih ya anak muda hehe.." dan Keenan pun tertawa.
"Benar, kita nggak usah bahas itu ya. Toh, Alya udah nggak ada. Biar aku bantu kalian melayani pembeli." ucap Keenan berusaha memberikan senyuman itu.
"Kamu ini kenapa bahas soal perselingkuhan itu. Nggak enaklah sama Mas Keenan." ujar Ardi.
"Aku kan cuma mau tanya kebenarannya dari Mas Keenan langsung. Iya yaudah, ayo layani pembeli dulu, rame banget tuh di depan!" ajak Ivan.
Mereka kembali melayani pembeli yang datang tiada henti. Melihat Keenan yang selama ini tak nampak, membuat mata sayu Chelsea berbinar.
"Eh kang bakso ganteng baru kelihatan tuh!" ucap Chelsea sumringah. Ia mengambil kaca bulat dari sakunya dan melihat tampilan wajahnya di cermin.
"Gimana jadi wawancara nggak?" tanya Aldo.
"Jadiin aja, dandan dulu, kapan lagi wawancara kang bakso ganteng!" ujar Chelsea.
"Ganjen kamu!" ucap Aldo.
"Yee biarin sirik aja sih!" ujar Chelsea.
__ADS_1
Tak lama Keenan datang meletakan semangkuk bakso dan es teh manis di hadapan Chelsea.
"Silakan mba!" ucap Keenan.
"Sebentar mas, bisa wawancara sebentar?" tanya Chelsea.
"Wawancara untuk apa ya mba?" tanya Keenan dan duduk di dekat Chelsea sehingga membuat Chelsea berdebar.
Eh jantungku kenapa nih, kok nggak bisa di kondisikan ya, kenapa berdetak nggak beraturan kayak gini gara-gara abang bakso ganteng ini duduk di dekatku, ahh..dasar!!!
"Ah anu, kita mau mengambil informasi terkait latar belakang UMKM, dan kalau mas Keenan bersedia. Kita mau jadikan mas Keenan narasumber." jawab Chelsea.
"Oh, bersedia kok." sahut Keenan dengan ramahnya.
Keenan pun mulai diwawancara. Setelah selesai Chelsea pun membuat artikelnya di kantor dan akan dimuat di seluruh media massa maupun internet. Sehingga warung bakso Keenan semakin dikenal. Namun beritanya sungguh membuat wajah Keenan memerah.
Setelah berita itu dimuat, Keenan malah sedikit malu membacanya.
"Apa aku ganteng, kenapa harus bawa-bawa ganteng segala?" tanya Keenan seraya membuatkan semangkuk bakso untuk pelanggan.
"Lah emang Mas Keenan itu ganteng kok." sahut Ivan.
"Mas Keenan tuh sadar nggak, apa yang bikin ciwi-ciwi pada ngantri setiap harinya?" tanya Ardi.
"Nggak." jawab Keenan singkat.
"Karena kegantengan paripurna dari Mas Keenan tau haha.." kelakar Amir.
"Lebay, apapun itu. Yang penting warung bakso kita ramai terus ya, kita juga bikin bakso pakai bahan berkualitas. Bukan bakso tikus atau bakso celeng. Apalagi pakai acara dikencingi tuyul segala. Jimat aku cuma Tuhan." ujar Keenan.
"Hum..itulah yang aku suka dari mas Keenan nih haha.."ucap Ivan.
POV Keenan.
Sejak kepergian Alya seminggu yang lalu. Aku tetap berusaha ceria. Menjalani hari-hariku sebagai seorang duda. Dan berita ini entah kenapa cepat sekali menyebar pada kalangan mantanku. Beberapa dari mereka menawarkan diri untuk menjadi ibu sambung dari Kayla, anakku.
Namun aku belum kepikiran untuk mencari istri lagi. Aku takut khilaf, aku takut berbuat diluar batasku. Aku takut hasratku menghancurkanku. Ya, hasrat seorang duda muda yang masih menggelora. Yang masih butuh sentuhan cinta dari istriku, namun secepat itu dia meninggalkanku.
Setelah ini aku ingin sendiri dulu. Entah sampai aku benar-benar kelelahan atau terpuruk??
******
__ADS_1
Makasih yang udah mampir mohon dukungannya untuk novel baruku ini ya, dan juga karya temanku yang keren di bawah ini, makasih 😍