
Setiap magrib, Keenan selalu pulang. Kalau biasanya ia berganti jaga dengan Alya sekarang dengan ibunya. Namun ia masih penasaran dengan keberadaan Felix. Entah dimana pria yang menyebabkan kemalangan akan nasib Alya itu.
"Makan dulu nak!" ucap Arini.
"Iya bu."
Setelah melakukan sholat magrib, Keenan dan Arini makan malam. Arini senang karena setelah seminggu Keenan bisa ceria lagi meski berbeda.
"Gimana hari ini, ramai?" tanya Arini dengan senyuman.
"Alhamdulillah bu, makin ramai. Tapi rasanya hampa." jawab Keenan seraya merunduk teringat kembali pada Alya.
"Semua sudah jalannya, Keenan. Si Felix itu apa kamu nggak melaporkan dia?" tanya Arini.
"Entah gimana cara dia menghilangkan jejaknya, polisi menganggap ini kecelakaan tunggal." jawab Keenan.
"Tapi!"
"Aku yang akan mencarinya sendiri, bu. Aku mau balik ke warung lagi, aku mau ke kamar Kayla dulu." Keenan masuk ke kamar melihat putrinya.
Setelah melihat keadaan Kayla, Keenan kembali lagi ke warung baksonya dan kembali melayani para pelanggannya. Hingga malam menjelang dan para anak buahnya sudah pulang tapi rasanya Keenan enggan untuk pulang. Ia memilih ke club memesan satu gelas bir. Ia merasa kacau, sulit melupakan Alya, terlebih Felix menghilang tanpa jejak.
Seorang wanita datang menghampiri kesendiriannya. Mengajaknya bersenang-senang, ia menyanggupinya. Setelah puas bermain, Keenan keluar. Namun si wanita kecewa karena Keenan hanya menikmati ciuman saja dengan gadis itu. Keenan tak melakukan hingga ke akarnya.
Saat keluar dari hotel, Keenan berpapasan dengan Chelsea.
"Abang bakso ganteng!" sapaan itu selalu pelanggannya sematkan untuknya.
Keenan membalik badannya dan memberikan senyuman yang meresahkan pada Chelsea. Chelsea selalu dibuat berdebar tak karuan ketika berhadapan dengan Keenan. Seolah ia jatuh cinta pada penjual bakso itu.
"Mas Keenan!" sapa Chelsea.
"Mba Chelsea." sahut Keenan seraya tersenyum simpul.
Mereka memandangi langit malam di bangku taman. Sambil menikmati minuman kaleng.
"Jadi kamu ini seorang duda, istrimu baru meninggal seminggu yang lalu. Terus ngapain kamu keluar hotel itu, apa kamu?" tanya Chelsea ingin tau.
"Katakan aja!" Keenan memandang Chelsea.
"Nggak, tapi ini baru seminggu bukan? Apa kamu udah mencari pelampiasan?" tanya Chelsea begitu berani.
"Aku nggak melakukan apapun, aku cuma menciumnya. Aku butuh kehangatan dari seorang wanita, itu aja." ulas Keenan seraya meneguk minuman kaleng itu hingga tandas.
"Apa kelakuanku juga akan kamu jadikan artikel. Kalau iya, aku nggak akan memaafkan kamu, meskipun kamu makan setiap hari di warungku!" ujar Keenan.
__ADS_1
"Aku nggak mengangkat berita seperti itu. Dasar lelaki, setidaknya kamu tahan dulu! Aku pikir kamu pria yang alim dan baik, cih!" Chelsea mendecih dan hendak beranjak meninggalkan Keenan.
"Apa peduli kamu, mau aku main dengan siapa pun itu bukan urusanmu!" gumam Keenan seraya terus memandang Chelsea hingga hilang dalam pandangannya.
Keenan melangkah lagi, ia teringat akan kejadian barusan ketika ia sudah membuka pakaiannya menyisakan celana levisnya. Setelah main atas, Keenan sebenarnya hendak membuka kancing baju dari wanita malam itu. Namun, ia malah beranjak dan mengenakan pakaiannya lagi.
"Apa yang kamu lakukan, aku sudah siap, belum waktunya untuk berpakaian!" seru wanita malam itu.
"Maaf tapi aku lagi nggak mood saat ini." jawab Keenan seraya membenahi pakaiannya.
"Kita akan melakukan itu lain kali, sayang?" tanya wanita malam itu.
"Maaf aku harus pergi!" Keenan yang sudah berpakaian segera keluar dari kamar hotel dan setelah itu barulah tadi ia bertemu dengan Chelsea.
Jika mengingat hal itu Keenan merasa tak akan ada masalah. Sebelum menikah dengan Alya, Keenan beberapa kali main dengan mantan kekasihnya. Lantas apa masalahnya, ia hanya butuh angin segar. Namun apakah tidak terlalu cepat mengingat Alya baru seminggu berpulang.
Bahkan Arini mengingatkan supaya Keenan tidak main perempuan untuk melampiaskan hasratnya itu.
"Aku hampir melakukan itu, Bu. Maafin aku!" Keenan bermonolog dan melangkah dengan gontai menuju pulang.
Apakah memang tidak adil bagi Alya jika ia melakukan itu disaat Alya baru seminggu tiada. Lantas dia sendiri, karena ketahuan telah melakukan itu Alya juga tega meninggalkannya. Ia lebih memilih pergi bersama Felix daripada tetap tinggal dengannya. Ia merasa tak berharga, karena bahkan Alya pun tak ingin bersamanya.
*******
"Nggak usah memuat berita tentangku lagi, aku nggak pantas jadi teladan!" ucap Keenan seraya meletakan semangkok bakso dan segelas teh manis hangat.
"Aku cuma mau makan dan melupakan kejadian malam itu. Anggap aja aku nggak tau apapun!" sanggah Chelsea lalu mengambil garpu dan sendok untuk menikmati bakso urat dengan asap yang masih mengepul.
Keenan hanya menghela napas kemudian beranjak membantu karyawannya lagi.
"Kejadian apa, Chel?" tanya Aldo tiba-tiba sehingga Chelsea kelolotan bakso.
"Tepuk punggungku!" Aldo pun menepuk punggung Chelsea sehingga bakso yang tersangkut di tenggorokan itu keluar lagi.
Aldo pun duduk di hadapan Chelsea seraya tertawa melihat Chelsea tersedak bakso.
"Kampret kamu, untung nggak nyangkut di tembolok aku, nih bakso!" ujar Chelsea.
"Dih, makanya kalau makan baca bismillah!" ucap Aldo.
"Gara-gara kamu muncul kayak tuyul." keluh Chelsea.
Aldo pun memperhatikan Keenan yang tengah meracik bakso-bakso buatannya.
"Chel!" ucap Aldo.
__ADS_1
"Hum.."
"Kalau kamu suka sama Mas Keenan, tembak aja!" ucapan Aldo membuat Chelsea tersedak lagi.
Uhuk..uhuk..
"Astaga nenek-nenek, keselek melulu!" ucap Aldo.
"Gile kamu, Do! Ngapain tiba-tiba nyaranin usul konyol kayak gitu?" tanya Chelsea.
"Lah kan kenyataannya bukan, kamu falling in love sama kang bakso itu!" ucap Aldo.
"Shut, bisa nggak kecilin suara kamu. 'Kan malu kalau si empunya denger!" Chelsea masih merahasiakan perasaannya terlebih ia harus tahu pasti siapa itu Keenan.
"Hah..jangan lama-lama nanti diembat yang lain, kamu nangis guling-guling di tanah hahaha..." kelakar Aldo.
Keenan tak menyangka kalau ternyata Chelsea memiliki perasaan padanya. Ia hanya tersenyum akan hal itu seraya membuatkan pesanan bakso dan mie ayam untuk pada pelanggannya.
Kekaguman yang demikian sudah sering Keenan dengar dari para pelanggannya yang masih remaja. Hanya saja Keenan sedang tak mood, ia takut malah cuma jadi mainannya saja. Karena untuk kembali serius sepertinya Keenan belum bisa, terlebih ia juga dikhianati oleh istrinya. Entah, luka itu membuat ia sulit percaya pada wanita dan hendak menjadikannya mainan sesaat saja jika memang ada yang mau mendekatinya.
"Mas, kayaknya mba itu ngomongin mas sejak tadi." ucap Ivan.
"Kamu nggak tau, penulis artikel itu kesemsem sama Mas Keenan, makanya dia makan tiap hari disini!" seru Ardi.
"Sok tau kalian, udah kerja dulu. Jangan gosipin aku di depanku!" seru Keenan sehingga mengantar bakso pada pelanggan. Sementara para anak buahnya cekikikan saja setelah ditegur.
Saat Keenan lewat di hadapan Chelsea. Keenan melemparkan senyumannya sehingga lagi-lagi rasanya jantung Chelsea akan lepas dari peredaran. Padahal Chelsea sudah tau siapa Keenan. Terkadang pria tampan suka susah untuk setia, memiliki pria tampan pun bikin was-was karena banyak yang mengangumi. Tapi wajah tampan itu selalu sukses mengalihkan dunianya.
"Sadar Chel, ini kepala nggak bisa apa liat yang bening dikit. Kenapa sih ikut nengok aja bawaannya!" monolog Chelsea sehingga terdengar oleh Keenan.
"Kondisikan dong!" seru Keenan lalu pergi begitu saja.
"Cieee..yang ketauan kagum, uhuy..." kelakar Aldo yang tak henti menggodanya.
"Ck," sehingga Chelsea pun memelototinya dan Aldo terkekeh pelan.
"Aish!!" keluh Chelsea sedikit tersipu.
Keenan menatap Chelsea sekilas dan tersenyum. Chelsea berusaha mengatur perasaannya yang kacau balau karena makhluk bernama Keenan. Bahkan disaat berada di ruang kerjanya di komputer itu terbayang senyuman Keenan.
Ingin rasanya Chelsea mencuci otaknya yang isinya tentang penjual bakso itu. Sehingga Chelsea sepertinya akan mengurangi makan bakso agar dirinya bisa tak terus-terusan memikirkannya.
"Mulai besok, aku nggak mau makan bakso disana lagi, abis itu duda ampun dah bikin aku klepek-klepek, kayak dicuci nih otakku sama dia, fiuh!" keluh Chelsea dimana perasaannya mulai tak karuan karena terkagum-kagum dengan mas duda kang bakso.
********
__ADS_1