Hasrat Mas Duda

Hasrat Mas Duda
Demi buah hati


__ADS_3

Setelah melihat tampilan dirinya di cermin, Keenan siap untuk memulai hari dengan rutinitasnya setiap hari sebagai penjual bakso.



Ia juga cukup keren dengan style kaos dan jaket levisnya. Sebagai penjual bakso, ia juga berusaha menarik perhatian pelanggan dengan bergaya serapi mungkin, supaya warungnya selalu ramai.


Setelah insiden kemarin, ia harap tak ada lagi teman wanitanya yang bikin onar di warungnya. Karena itu sangat mengganggu pelanggannya yang lain. Ia ingin para pelanggan makan dengan nyaman dan damai.


"Wuidih, ganteng amat sih, mas duda satu ini!" ucap Ardi.


"Strategi marketing dong biar ramai, masa' pegawai aku pada rapi, eh akunya malah cuek sama penampilan!' ujar Keenan.


"Kalau dasarnya udah ganteng mah, mau telanjang juga tetap aja ganteng hahah.." kelakar Ivan.


"Dasar otak ngeres, kebanyakan nonton film porno tuh!" ucap Keenan seraya meletakan mie kuning di tempatnya.


"Yee..mas Keenan nggak tau ya manfaatnya nonton itu?" tanya Ivan.


"Bodo amat, nggak mau tau. Udah rapikan warung sebelum pelanggan datang!" titah Keenan dan diangguki oleh keempat karyawannya yang kesemuanya lelaki.


"Shut, aku banyak koleksinya mas, kali aja mas mau minta hihi.." bisik Ivan.


"Ck, gila kamu, udah sana kerja yang benar!" kilah Keenan dan pergi dari hadapan Ivan.


"Dasar Mas Keenan, padahal mau tuh hahah..yuk rapikan warung sebelum pelanggan datang!" monolog Ivan pelan.


Sementara Chelsea pun akhirnya menyanggupi keinginan Keenan untuk bertemu dengan anaknya. Sebelum ke kantor, Keenan juga membawa Kayla bersamanya. Karena Arini tengah sibuk membantu tetangga yang hendak hajatan. Chelsea pun menggendong Kayla dengan penuh kasih dan memberikannya susu.


"Aku nggak bisa lama ya mas, aku ada liputan hari ini!" ujar Chelsea.


"Iya," jawab Keenan kemudian Chelsea memberikan sesuatu untuk Kayla. Chelsea sengaja menyiapkannya agar Kayla senang. Mainan itu berupa sebuah kotak musik berwarna pink dan Kayla terlihat sangat senang meskipun ia belum terlalu memahami namun ia senang karena ada lampu juga yang menyala saat musik dinyalakan.


"Kamu belikan untuk Kayla?" tanya Keenan nampak senang.


"Hum..lucu aja kayaknya, semoga Kayla suka ya! Cantik banget anak mas Keenan." ucap Chelsea.


"Iya, cantik seperti kamu." sahutan Keenan sempat membuat Chelsea mematung sesaat karena dipuji cantik oleh duda beranak satu itu.

__ADS_1


"Gimana-gimana mas?" pertanyaan Chelsea membuat Keenan menghela napas.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Keenan.


"Sebentar lagi. Kayla dede cantik, kalau papa lagi sedih hibur papa ya, bilang sama papa jangan sedih lagi mikirin mama, karena mama Kayla pasti udah bahagia disisi Tuhan." ungkapan itu membuat Keenan tersenyum.


"Pergilah, nanti kamu telat ke kantor!" ujar Keenan.


"Iya mas, Kayla sayang tante Chelsea ke kantor ya, lain kali tante main sama Kayla lagi, deh!" pamit Chelsea.


Sehingga kini Keenan menggendongnya lagi, namun saat berada dalam gendongan Keenan. Kayla malah menangis seperti tak ingin jauh dari Chelsea.


"Kok malah jadi rewel lagi nak, nggak biasanya nih!" keluh Keenan.


Chelsea nampak sedih melihat Keenan yang begitu sabar merawat dan menghadapi bayi mungilnya. Tak ada keluhan dan amarah yang keluar dari mulutnya. Padahal biasanya seorang ayah paling tidak betah dan merasa pusing saat bayi kecilnya mulai merajuk. Keenan pun menggendong Kayla dan membuatkan susu formula. Namun ia seperti minta gendong pada Chelsea.


"Aku tiduri aja sebentar Kayla nya mas," Chelsea merasa iba dan hendak menggendong Kayla lagi dan anehnya Kayla jadi terdiam saat tangan halus Chelsea menggendongnya.


"Tapi kan kamu harus ke kantor Chelsea, maaf ya jadi merepotkan kamu!" ucap Keenan merasa tak enak hati.


"Nggak apa-apa, aku udah bilang ke Aldo akan sedikit telat, mas Keenan bantu anak buahnya aja, nanti kalau Kayla udah tidur aku juga akan ke kantor!" ujar Chelsea sehingga Keenan pun mengangguk dengan perasaan tak enak karena malah merepotkan Chelsea. Padahal dia hendak memperkenalkan anaknya saja pada gadis muda itu.


Saat berbalik Keenan tersenyum, ia merasa Kayla nampak nyaman dalam pelukan Chelsea. Tak lama berselang, Chelsea pun keluar. Kemudian Keenan mengantarnya keluar.


"Sekali lagi maaf ya karena ganggu waktu kamu. Hati-hati dijalan!" ucap Keenan.


"Dih kenapa berulang kali minta maaf mas, santai aja! Salam buat Kayla ya! Aku pergi dulu!" ucap Chelsea dan diangguki oleh Keenan.


Tak lama kemudian, ada seorang pria yang memanggilnya ketika Chelsea sudah pergi. Keenan tak mengenalnya namun pria itu mengenal Keenan. Mereka pun mengobrol seraya Keenan hidangkan semangkuk bakso dan es teh manis. Pria yang tak lain adalah Haris itu meminta maaf atas tindakan adiknya, Felix.


"Jadi anda kakak dari Felix?" tanya Keenan.


"Iya, saya mau minta maaf atas nama Felix. Berapa kerugian yang harus saya bayar untuk ini?" tanya Haris.


"Felix udah membayarnya dengan balasan dia di penjara. Dan aku udah berusaha ikhlas, jadi nggak usah dibahas lagi." ujar Keenan.


"Iya, kamu masih muda dan ganteng. Kalau hanya mencari istri lagi mudah aja buatmu kan, perempuan tadi apa kalian punya hubungan?" tanya Haris.

__ADS_1


"Siapa, maksudnya Chelsea. Anda mengenalnya?" tanya Keenan.


"Hum..dia sempat menjadikan aku narasumber. Aku agak tertarik sama dia, aku minta kamu jauhi dia ya!" jawaban itu membuat Keenan menyunggingkan senyum.


"Terserah Chelsea mau dekat sama siapa kan, apa anda udah menyatakan perasaan dan dia menerimanya hingga anda melarang pria lain untuk mendekatinya?" tanya Keenan dengan santai.


"Ikuti aja keinginan aku! Baksonya enak juga, ini ambil kembaliannya ya!" ujar Haris dan pergi begitu saja dari hadapan Keenan.


"Cih, kakak adik sama aja, selalu mengganggu kesenangan aku." Keluh Keenan kesal seraya menghela napas berat.


Sore ini Keenan membawa Kayla pulang, sekalian ia hendak melaksanakan solat magrib. Setelah itu Keenan mengajak Kayla bercanda serta meletakan Kayla di perutnya sementara Keenan terasa cukup mengantuk karena lelah melayani pelanggan tadi.



Ia menjadikan tangannya bantalan untuk kepalanya sedangkan tangan satunya memegangi Kayla seraya memberikan mainan. Melihat begitu perhatiannya Keenan pada Kayla, Arini pun mengambil Kayla dan Keenan terbangun sesaat.


"Eh ibu, aku ketiduran bu!" ucap Keenan.


"Kalau kamu ngantuk tidur aja sebentar, kan ada pegawai kamu disana, kamu kan juga kurang tidur. Tidur mendekati pagi, bangun pagi lagi." ujar Arini mengkhawatirkan putranya itu.


"Selama masih ada Kayla sama Ibu aku akan tetap semangat kok. Aku udah kehilangan ayah dan Alya, jadi kalian tetaplah bersamaku, karena aku merasa sangat kesepian!" ujar Keenan.


Sehingga Arini membelai rambut Keenan dan Keenan memegang tangan ibunya dan menciumnya.


"Ibu nggak melarang kamu mencari pendamping, supaya kamu nggak merasa kesepian lagi." ujar Arini.


"Untuk saat ini aku masih mau sendiri, bu. Aku nggak mau kecewa untuk kedua kalinya!" jawab Keenan.


"Kamu takut dikhianati lagi?" tanya Arini dan Keenan mengangguk.


"Iya, udah bukan waktunya lagi galau karena patah hati. Sekarang aku adalah seorang ayah, kalau aku sibuk mengurus hatiku gimana sama Kayla. Yaudah, aku mau kembali ke warung bakso lagi, bu." ujar Keenan dan ia mencium tangan Arini dan kedua pipi buah hatinya, kemudian beranjak lagi ke warung baksonya.


"Aku ke warung dulu, bu! Assallamuallaikum!" ucap Keenan.


"Waalaikumsalam, hati-hati Keenan!" ucap Arini.


Keenan pun kembali lagi dengan motor dan memakai helm fullface nya. Seperti itulah rutinitasnya saat ini, menjaga Kayla secara bergantian, dan mencari nafkah lewat berjualan bakso. Ia kembali memacu motornya ke warung baksonya. Motor yang sudah menemaninya dari nol, motor yang ia beli dari hasil jerih payahnya berjualan bakso. Motor yang diinginkan Alya, namun sayang belum lama Keenan bisa menikmati dengannya. Alya sudah pergi menghadap yang kuasa dan meninggalkannya dengan memberi akhir kenangan yang buruk.

__ADS_1


********


__ADS_2