
Sepertinya terlalu berlebihan mengatakan tak mau makan bakso di warung bakso Keenan lagi. Karena semakin Chelsea berusaha menghindarinya, semakin ia memikirkan duda tampan itu. Terlebih saat tiba-tiba Keenan berbisik padanya. Baginya itu hal seksi yang membuat Chelsea terngiang selalu.
Malam ini Chelsea pulang dengan busnya. Chelsea gadis cantik berusia 22 tahun. Bekerja sebagai penulis artikel surat kabar. Gayanya sangat cuek dan apa adanya. Ia sangat suka berdandan ala kadarnya bukan yang menor. Ia tinggal di kost seorang diri karena orangtuanya berada di kampung halaman. Malam ini Chelsea makan mie instan dalam cup dan segelas air.
Sepertinya cukup sulit menghindarinya, bahkan besok atasannya meminta laporan penyiaran tentang warung bakso milik Keenan bersama Aldo.
"Kayaknya emang kena nih sama dia, ahh..udahlah tidur aja capek banget lagian." ujar Chelsea kemudian tertidur dengan nyaman di kasur tipisnya.
Sementara Keenan tengah mengganti popok Kayla yang habis poop. Keenan sudah terbiasa melakukan itu, karena sebelumnya ia membagi tugasnya dengan Alya.
"Al, mana popoknya!" panggil Keenan masih merasakan keberadaan Alya.
"Ini popoknya, nak!" namun ia menyadari saat malah Arini yang memberikannya popok bukan Alya.
"Alya, kenapa sulit sekali menghapus dia, rasanya seperti mimpi kehilangan dia secepat ini, Bu!" keluh Keenan seraya menghela nafas berat.
"Yah, kamu harus terbiasa, Keenan. Lama kelamaan juga bisa, kan belum ada sebulan juga Alya pergi ninggalin kita." ujar Arini.
"Ibu buatin susu Kayla dulu ya!" ucap Arini.
"Iya, bu." sahut Keenan.
*********
Sementara Felix malam itu datang ke pemakaman Alya, kenapa harus malam hari. Bukankah seperti uji nyali. Namun ia begitu merindukan Alya. Ia menangis di pusara Alya, tanah yang masih basah.
"Katakan sama aku apa yang harus aku lakukan, Al. Apa aku harus membuat Keenan menyusul kamu juga hah.." Felix pun memeluk nisan Alya. Kemudian ia kembali pergi melangkah pergi meninggalkan pemakaman.
Felix adalah seorang pengusaha, ia bekerja sebagai pemilik pabrik penghasil mie dan pangsit. Dan pagi ini Felix dengan percaya dirinya menampakan diri di hadapan Keenan. Seseorang memberikan sepucuk surat untuk meminta Keenan bertemu. Keenan pikir siapa, namun saat Keenan menghampirinya.
"Maaf, apa kamu mencari ku?" pria itu menghadap kearah lain seraya memakai jaket hitam.
Betapa terkejutnya Keenan ketika melihat pria itu. Mata Keenan terbelalak, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal kuat.
"Serahkan dirimu ke polisi, brengsek!" ucap Keenan dengan perasaan tercekat.
"Sebelum aku melakukan itu, terlebih dulu kamu harus mati, Keenan!" ujar Felix.
"Biadab kamu!" ucap Keenan.
Untunglah karena khawatir dengan keadaan bosnya, Ivan mengikuti Keenan. Sehingga mengetahui Felix ada disana kesempatan Ivan untuk melapor ke polisi.
__ADS_1
"Aku udah kehilangan Alya untuk selamanya karena kamu, Keenan. Harusnya kamu yang mati bukan Alya, kamu adalah penghalang yang harus dimusnahkan!" ucap Felix.
"Kamulah yang harus musnah, pebinor sialan!!" ucap Keenan sehingga terjadilah perkelahian antara Keenan dan Felix. Keduanya sama kuatnya dengan badan mereka yang sama kekarnya.
Melihat perkelahian Keenan dan Felix, segera Ivan meminta bantuan warga sekitar sementara Felix sudah jadi bulan-bulanan Keenan. Wajahnya babak belur jadi sasaran kemarahan Keenan. Gayanya mau menghabisi Keenan tapi malah dia yang terseok-seok melawan Keenan yang bahkan tak mengalami luka sedikitpun.
"Ayo, katanya mau menghabisiku, manusia nggak berguna! Lakukanlah, kalau kamu bisa! Kamu cuma punya dua pilihan, menghabisiku atau kamu habis di tangan ku hari ini!" ucapan Keenan membuat Felix yang sudah babak belur kembali bangkit.
"Apa kamu sedang berkumur, pria patah hati!!" ucapan itu semakin membuat Keenan nelangsa.
"Pria patah hati katamu!!" Baru Keenan hendak memukul Felix namun polisi datang menembakan pelurunya ke udara.
"Felix, serahkan diri kamu! Kamu kami tahan atas pembunuhan dari Alya, istri dari Keenan!" ujar polisi.
"Bukan saya yang membunuhnya Pak! Tapi suaminya yang nggak berguna itu, Alya nggak cinta sama dia, Alya menderita menikahinya, makanya Alya memilih mati daripada harus bersamanya." ujar Felix.
"Diam kamu, selesaikan di kantor polisi!" ujar polisi.
Felix dibawa masuk ke mobil polisi, sementara polisi akan mengusut Felix di kantor polisi.
"Pebinor gila itu!" sungut Keenan merasa kesal namun ia lega karena akhirnya Felix ditangkap polisi.
"Mas Keenan baik-baik aja, kan?" tanya Ivan.
"Iya mas," ucap Ivan.
"Aku mau ke pemakaman. Kamu dan anak-anak bisa kan menghandle warung, sebaiknya kalau ada yang bertanya bilang aja nggak tau. Aku nggak mau masalah ini tersebar kemana-mana!" titah Keenan takutnya ada pelanggan yang kurang nyaman akan berita yang beredar jika sampai tersebar.
"Iya Mas Keenan, hati-hati, tapi apa Mas Keenan nggak terluka?" tanya Ivan.
"Udah aku bilang, aku baik-baik aja. Aku pergi dulu, Van!" pamit Keenan dan diangguki oleh Ivan. Keenan beranjak menaiki motor menuju ke pemakaman.
Namun baru setengah jalan, Chelsea yang sedikit urakan itu malah mencegat Keenan.
"Berhenti!" sehingga Keenan mengerem mendadak.
"Kamu ini, cari mati ya?" tanya Keenan kesal.
"Mas ganteng mau kemana? Kan kita ada rekaman terkait usaha UMKM?" tanya Chelsea.
"Mas ganteng?? Nama aku Keenan. Bukan mas ganteng." tegas Keenan.
__ADS_1
"Oh Mas Keenan ya haha..Oke..Mohon kerjasamanya mas, saya mau mengambil gambar di warungnya mas hari ini, kenapa mas malah mau kemana nih?" tanya Chelsea masih mejeng di depan motor Keenan.
"Aku mau ke makam. Disana ada pekerja aku, mereka juga pada ganteng semua. Ambil gambar aja bersama mereka!" ujar Keenan.
"Tapi mas, pemilik juga akan diambil gambarnya!" kilah Chelsea.
"Aku lagi kangen sama istriku, aku nggak akan fokus shooting." kilah Keenan balik.
"Sebentar aja mas. Maaf kalau kesannya memaksa, tapi nggak maksa juga sih, tapi ini tugas negara, ini penting banget mas. Bisakah mas juga tetap ikut shooting, setelah ini aku akan menemani mas Keenan ke makam!" tawar Chelsea.
"Kamu, mau ke makam?" tanya Keenan.
"Iya, naik motor mas Keenan. Dibonceng mas Keenan haha..iya." jawab Chelsea dengan percaya diri dan tertawa.
"Yaudah kalau begitu, kita shooting sekarang, ya!" ucap Keenan.
"Beneran mas, yeah!" betapa senangnya gadis urakan itu dan dengan segera ia menaiki motor vixion itu seraya memeluk perut roti sobeknya Keenan.
Keenan benar-benar tak menyangka kalau Chelsea sama sekali tak ada manis-manisnya. Ia sengaja melakukan itu demi pekerjaan. Meskipun Keenan rasanya ingin tertawa karena debaran jantungnya terdengar begitu kuat ketika dada itu menempel di punggung Keenan.
"Kamu deg-degan ya?" tanya Keenan sekenanya.
"Aku deg-degan, eng..yaiyalah kalau nggak deg-degan end dong!" kilah Chelsea begitu pintar bicara.
"Ngeles aja kayak bajai." ujar Keenan.
"Dih, emang benar kok!" ucap Chelsea sehingga Keenan tersenyum dan melajukan motornya ke warung baksonya.
"Dasar gadis muda!" ucap Keenan.
"Iya duda tua!" sahut Chelsea.
"Usiaku baru 28 tahun, tua darimana?" tanya Keenan dengan senyuman.
"28 tahun, seriusan?" tanya Chelsea.
"Hum..emang maunya berapa?"
"Nggak kelihatan sih kayak masih 27 tahun haha.." ucap Chelsea.
"Bercanda aja, sih!" ujar Keenan dan Chelsea pun tersenyum.
__ADS_1
Tak lama mereka pun beranjak ke warung bakso Keenan untuk kebutuhan data artikel Chelsea. Dan Keenan melakukan itu dengan baik dan sepenuh hati
*******