
Namun karena penasaran dengan warung bakso milik Keenan. Laura mendatangi Keenan ke warung bakso, disaat yang bersamaan Sheila juga kembali datang. Mata Keenan terbelalak saat kedua wanita itu datang hendak melihat pria incarannya. Dan lagi Chelsea juga masih duduk manis makan baksonya disana.
"Hai Keenan!" sapa Sheila dan Laura bersamaan. Sehingga mereka saling bertatapan sinis.
Keenan pun memelas melihat kedua wanita yang sempat bercumbu dengannya itu.
"Penggemar Mas Keenan, nih!" ungkap Ivan.
"Kamu siapa?" tanya Laura sinis pada Sheila.
"Kamu siapa, aku mau ketemu Keenan!" ujar Laura.
"Jangan dekati Keenan ya, dia punyaku!" ucap Sheila.
Sehingga dua wanita itu membuat keributan di depan warung bakso. Keenan mengusap wajahnya kasar dengan hadirnya mereka, Keenan memberi kode agar Ivan dan Rangga mengusir mereka. Karena mereka sudah jambak-jambakan kali ini.
"Kalian lerai mereka tuh!" titah Keenan.
"Iya mas." Rangga membantu Keenan melerai mereka, sehingga Keenan pun membawa mereka masuk ke kamar khusus dan meminta mereka untuk pergi. Chelsea yang melihat kejadian itu, merasa seru melihat kerusuhan yang terjadi. Ia pun hendak pergi dan kembali ke kantornya.
Sedangkan kini Laura dan Sheila keduanya mencekal tangan Keenan. Mereka menarik ulur tangan Keenan dan melanjutkan keributan itu didalam.
"Stop! Lepasin tangan aku!" pinta Keenan.
"Tapi kamu milikku Keenan, aku nggak akan biarin dia ngambil kamu dari aku!" ujar Sheila kekeh pada keinginannya.
"Nggak akan ada yang ngambil aku, baik kamu maupun kamu! Aku cuma menganggap kalian teman, jadi bisa nggak kalian bersikap biasa aja!" pinta Keenan dengan lembut.
"Nggak!" jawab mereka bersamaan.
"Kalian ini udah tua nggak malu gitu berantem gara-gara lelaki, kalian berdua sebaiknya tinggalin warung aku sekarang!" titah Keenan.
"Tapi aku mau makan disini, Keenan!" sanggah Laura.
"Kamu nggak usah makan disini, dasar Lont*..." ucap Sheila.
"Eh jaga ya omongan kamu, dasar cupu!" timpal Laura dan kembali melanjutkan perselisihan itu sehingga Keenan kini berada di tengah mereka.
"Ini seporsi bakso untuk kalian, sekarang kalian pulanglah, kalau mau bertemu kita bisa melakukan itu diluar,"
"Apa-apaan ini, aku mau makan disini, Keenan. Bukan dibungkus!" kilah Sheila.
"Pulanglah Sheila, please! Kamu juga Laura," pinta Keenan.
__ADS_1
"Baiklah demi kamu, lain kali kita main lagi ya, sayang! Makasih baksonya!" Laura pun mengalah karena melihat wajah memelas Keenan.
"Aku nggak mau pulang, aku mau makan disini." tegas Sheila kemudian Keenan membawakan mangkuk dan membuka baksonya menyajikan di mangkuk lalu memberikan es jeruk.
"Makanlah baksonya! Aku mau melayani pelanggan dulu, tolong jangan buat rusuh lagi, ya!" pinta Keenan.
"Yang penting jangan buat aku cemburu!" kilah Sheila dan diangguki oleh Keenan sehingga lagi Sheila berjinjit dan melayangkan kecupan di pipi Keenan.
"Aku sayang kamu, Keenan!" ucap Sheila. Namun Keenan hanya menimpali dengan senyuman dan menemani Sheila makan bakso hingga dia selesai menghabiskannya. Setelah itu mengantar Sheila menuju keluar.
Keenan pun kembali melayani pelanggannya lagi dan Ivan memintanya bersabar.
"Sabar ya Mas! Kalau emang mas nggak menginginkan mereka, mas bisa menolak dengan tegas. Biar mas nggak pusing memilih mereka! Mas pernah gagal dan harus bisa memetik pelajaran itu, jangan sampai kecewa lagi, sakit hati lagi, carilah wanita yang bukan cuma menyukai mas Keenan tapi juga bisa jadi ibu yang baik untuk Kayla." ujar Ivan seraya mengusap punggung Keenan.
"Iya, makasih ya Van." ucap Keenan dengan senyuman.
"Iya mas." sehingga setelah itu mereka kembali melayani pelanggannya lagi.
******
Teringat akan dua wanita yang gelut tadi karena rebutan Keenan. Membuat Chelsea tak habis pikir, mereka benar-benar memalukan menurutnya. Disaat banyaknya perjaka tong-tong yang masih singel dan bisa mereka jadikan kekasih, kenapa malah memilih duda. Apa karena mereka lebih berpengalaman dan menggoda iman. Terlebih paras Keenan yang membuat wanita merasa terangsang hendak memilikinya.
"Apa sih yang dilihat dari duda itu, tapi kalau dilihat dia emang menggoda sih, eh..kok aku ikutan kesihir sama dia nih, tapi nggak pakelah berantem segala gara-gara ngerebutin tuh duda." monolog Chelsea yang akhirnya tiba juga di kantornya.
"Eh ngapain kamu ngomong sendiri bahas duda, siapa Mas Keenan lagi, kang bakso itu?" tanya Aldo.
"Hey, sembarangan aja kalau bicara!" ucap Aldo kemudian merangkul Chelsea sehingga Chelsea tertawa.
*******
Seharian ini Keenan pun melayani semua pelanggannya dengan lancar. Ia pun hendak pulang dan tak lama ia tiba di kediamannya. Sepertinya ia mulai dilanda rasa jenuh karena hidupnya yang menduda saat ini. Masih sulit rasanya menerima kenyataan kalau Alya sudah tiada.
Namun setiap melihat Kayla perasaannya sedikit terobati. Keenan tengah menggodanya dan Kayla sudah lebih baik sekarang.
"Keenan, makan dulu yuk!" ajak Arini.
"Aku udah makan bakso tadi, Bu. Dan aku masih kenyang, apa Kayla makan dengan baik hari ini, bu?" tanya Keenan seraya menggendong anak sematawayangnya itu.
"Dia selalu makan dengan baik, nak." jawab Keenan.
Namun seseorang menggedor pintu. Entah siapa malam-malam tidak sopan menggedor pintu tanpa mengucap salam. Namun ternyata itu adalah paman Alya, wali pengganti orangtuanya yang datang hendak menanyakan warisan.
"Dimana kamu letakan surat wasiat Alya, aku adalah wali nya jadi karena kamu udah lalai dalam menjaganya biar saya yang mengelola warisan itu!" ujar Hendra.
__ADS_1
"Warisan itu untuk Kayla, Paman. Paman nggak berhak mengelolanya!" ujar Keenan.
"Pernikahan kalian masih seumur jagung. Alangkah baiknya jika harta yang ada dijaga oleh orang yang tepat. Berikan surat wasiat itu!" titah Hendra seraya menarik kerah pakaian Keenan.
"Iya, biar saya ambilkan!" Keenan pun memberikan surat itu dan direbutnya begitu saja oleh Hendra.
"Saya akan menyimpannya, kalau begitu saya pergi!"
Bahkan hingga kini Hendra tak pernah bersikap baik padanya. Selalu Keenan yang harus mengalah, datang juga tanpa basa-basi malah mengancam minta surat wasiat. Keenan seperti tak dianggap, dia tak pernah dianggap.
"Bahkan ketika kamu udah nggak ada, ada aja keluarga kamu yang bersikap seenaknya sama aku, Alya. Biarlah mereka memakan harta yang bukan menjadi haknya, biar Tuhan saja yang membalasnya." harap Keenan. Sementara Arini hanya bisa menghela napas dengan kesedihan karena Keenan selalu diperlakukan semena-mena oleh keluarga Alya.
Keenan masih berduka, kenapa baru terasa ketika hampir sebulan berlalu. Di awal rasanya tidak sesedih sekarang, tapi belakangan Keenan justru makin merindukan almarhumah. Ia membaca kitab suci Al quran berharap Alya tenang di alam sana.
"Apakah kamu rindu sama Mas, Alya? Meskipun dunia kita udah berbeda saat ini, maafin mas Al, mas belum ikhlas dan rela kehilangan kamu, kasih tau Mas gimana caranya Al, gimana caranya untuk bangkit. Mas mau Tuhan memberikan pengganti yang seperti kamu, Alya. Meskipun kamu udah mengkhianati mas, mas tetap nggak bisa menghapus kamu dari hati mas, sayang!" Keenan memeluk Al Quran dan menitihkan air mata nya lagi.
Entah sampai kapan, ia bisa move on dari keadaan yang ia bahkan tak menduganya. Ia tidak siap kehilangan Alya. Benar-benar tak siap, namun seseorang nampak menelponnya.
"Halo!" sapa Keenan.
"Halo mas ganteng, suaranya beda. Mas abis nangis ya?" tanya Chelsea.
"Ini siapa?" tanya Keenan.
"Chelsea, aku minta nomor mas sama pegawai mas tadi," jawab Chelsea.
"Oh, ada apa?" tanya Keenan seraya menghapus jejak airmata di pipinya.
"Soal tawaran itu, aku boleh ketemu Kayla, anak mas Keenan?" tanya Chelsea.
"Hum..kamu mau aku kenalin sama Kayla, anakku?" tanya Keenan sumringah.
"Em..aku rasa nggak ada salahnya," jawab Chelsea.
"Makasih ya Alya, em..maksud aku. Maaf aku teringat almarhum istriku, Chelsea!" ungkap Keenan.
"Sabar ya mas, pasti rasanya sulit, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk kalian!" ucap Chelsea.
"Tumben omongan kamu bener hahah..yaudah, sampai ketemu besok ya!" ucap Keenan.
"Siap bang bakso ganteng!" sahut Chelsea kemudian mematikan sambungan telponnya.
Setelah itu entah kenapa Chelsea merasa berbunga-bunga setelah mendengar suara **** Keenan dari ponsel. Rasanya ia akan mimpi indah malam ini. Padahal Keenan masih ingin bicara tapi yasudahlah karena Chelsea sudah mematikannya.
__ADS_1
Kemudian Keenan memandangi Kayla dan menciumnya. Setelah itu beranjak membuat bakso seperti rutinitasnya menjelang larut malam. Meski sempat kurang percaya diri mencari pendamping karena status dudanya, Keenan berharap ia akan tetap bisa menemukan ibu sambung yang baik, ibu tiri yang baik bukan kejam seperti di sinetron yang sering ditontonnya Sehingga ia bisa menyayangi Kayla dengan tulus dan membesarkan malaikat kecilnya itu.
******